Sou

Avianti Armand

 

“Saya ingin membuat arsitektur yang lemah,” kata Sou Fujimoto. Berdiri di tepi jendela, kemeja putihnya merefleksikan sinar matahari yang sayu. Musim semi memang manja. Bahkan di jam 11 siang, cahaya masih saja malu-malu.

Arsitektur yang lemah, lanjutnya, adalah arsitektur yang tidak dimulai dari aturan-aturan konvensional, melainkan dari  apa saja yang ada dalam hubungan-hubungan antara masing-masing bagian. Jadi ada unsur ketidakpastian dan hal-hal yang tak beraturan.

Ini, tentunya, adalah antitesis untuk aturan komposisi yang dengan serta merta menentukan keseluruhan, seperti sebuah grid atau aksis yang sudah siap memberi bentuk. Dalam “arsitektur yang lemah”, unsur-unsur arsitektur secara keseluruhan diletakkan atau disusun hanya dengan “relasi-relasi sederhana dan secukupnya.”

Tapi, bahkan bila sebuah aksis atau sebuah grid bisa diabaikan, apakah “relasi-relasi sederhana dan secukupnya” itu? Apakah ada semacam aturan yang lepas atau longgar di sini?

Sou diam sejenak. Lalu dengan sederhana dia membandingkan relasi-relasi itu dengan hubungan antara hal-hal di dalam alam – hubungan yang bersifat tidak pasti dan, pada saat yang sama, saling tergantung satu sama lain. Mereka lepas tapi secara subtil dan halus saling terhubung. Karya arsitek ini memang menunjukkan bahwa dengan kepekaannya dia seperti bisa merasakan hubungan-hubungan yang subtil itu dan menerjemahkannya ke dalam diagram-diagram arsitektural.

Meski mengangguk-angguk, wajahku pasti tampak tolol, karena dia kemudian menjelaskan lebih jauh dengan sedikit geli.

Bayangkan lima titi nada yang diletakkan dalam jarak yang sama, katanya. Dalam notasi musik, waktu bergerak satu arah. Di dalamnya, kita timpakan suara-suara dan aktivitas-aktivitas kita. “Tapi cobalah gambar nada-nada tersebut tanpa titinya,” Sou mengeluarkan selembar kertas dan mulai mencoret-coret di atasnya.

Nada-nada akan muncul seolah seperti satu sistem dengan kompleksitas yang tak terbayangkan, yang dibebaskan dari aturan-aturan yang berkaitan dengan manusia. Di sini, interaksi antar nada mengaktifkan arus-arus yang saling bersilangan yang tidak tergantung pada ukuran waktu – bebas dari waktu sebagai yang tampak dalam titi nada.

Ketika bunyi dan waktu lahir secara sinkronik, maka ruang dan obyek-obyek beresonansi dengan serempak. Bukankah musik dan ruang selalu seperti itu? Waktu, demikian juga ruang, dipampatkan dalam berbagai bentuk hubungan.

Ini seperti arsitektur sebelum arsitektur, kataku. Bahkan sebelum kita belajar tentang arsitektur.

Kini giliran Sou yang mengangguk-angguk, meski tidak dengan wajah tolol.

“Benar,” katanya, “memikirkan tentang arsitektur inovatif untuk masa depan, ternyata sama dengan merenungkan arsitektur primitif. “

Sambil menyilangkan kaki, ia mulai mengawang-awang.

Mari kembali ke satu masa ketika arsitektur belum jadi arsitektur, ajaknya, dan berdiri tepat di saat ketika arsitektur mulai. Bukan ke sejarah kuno dari Romawi atau Yunani, melainkan ketika arsitektur muncul akibat gejolak-gejolak yang samar dari tapak manusia yang beragam. Semuanya adalah jejak yang masih sangat embrional dalam pemukiman manusia. Tapi dari situ, setiap titik mulai melahirkan kemungkinan arsitektur yang tak terhingga.

Permulaan ini adalah intuisi bahwa ada titik-titik keberangkatan yang tidak terbatas, dan bukan hanya satu awal yang benar. Dengan demikian, dari posisi seperti itu, berspekulasi tentang masa depan arsitektur memang adalah satu hal yang primordial. Bayangkan berbagai macam tempat yang dapat dihuni oleh manusia, dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada arsitektur.

Sou menyebutnya sebagai “masa depan yang primitif penuh dengan proyeksi-proyeksi yang menjanjikan”. Ia menjadi bersemangat. Mukanya bersemu merah.

“Sekarang kita bicara tentang sebuah sarang dan sebuah gua.”

Gua – seperti lubang-lubang di gunung? Ia mengangguk kencang.

Sebuah sarang disiapkan mengikuti kebutuhan kenyamanan dari penghuninya sementara sebauh gua hadir begitu saja tanpa peduli pada kenyamanan penghuni, bahkan pada ada atau tidaknya penghuni. Memasuki sebuah gua, manusia dengan serta merta menyatu dengan lansekapnya dengan cara menginterpretasi berbagai isyarat yang disugestikan atau diberikan oleh permukaan-permukaan yang cembung-cekung dan berbagai skala. Ini adalah arsitektur yang terbebas dari faktor-faktor eksternal. Ini tentunya berbeda dari karya-karya Le Corbusiere yang memproklamirkan “Machine for Living”. Le Corbusiere merencanakan sebuah sarang, bukan gua,  untuk manusia.

“Melihat jauh ke belakang, saya membayangkan arsitektur sebagai sebuah gua –  tepat sebelum menjadi sebuah sarang,” kata Sou. Organisasinya tidak didasarkan pada fungsi, melainkan dengan place-making yang mendorong orang untuk menemukan spectrum kesempatan yang luas. Alih-alih memaksakan fungsi-fungsi, sebuah gua adalah sebuah milieu yang profokatif dan tidak terbatas.

“Meski begitu, arsitektur tidak pernah bisa benar-benar natural, bukan?” tanyaku.

“Tentu”, jawabnya, “saya mencari sebuah kondisi ideal dari arsitektur baru yang berada di antara yang natural dan artifisial.”

Ia berhenti bicara. Di atas meja, bayangan-bayangan bergerak pelan. Sesekali di luar terdengar gagak yang berteriak-teriak parau. Di pohon-pohon yang mulai hijau, ada bajing-bajing kecil yang sibuk. Mereka meloncat dari satu dahan ke dahan lain. Salah satunya menyelinap ke lubang yang ada di pokok pohon. Sebuah gua.

Tapi siapakah Sou Fujimoto, yang berbicara lebih seperti seorang phenomenologist  ketimbang seorang arsitek?

Lelaki kelahiran tahun 1971 lulusan Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tokyo angkatan ’94. Tahun 2000, ia mendirikan Sou Fujimoto Architects. Hanya dalam tempo singkat, ia memperoleh berbagai macam penghargaan tingkat nasional dan internasional. Yang bergengsi tentu adalah AR (Architectural Record) Awards 2006 “Grand Prize” untuk proyeknya Children’s Center for Psychiatric Rehabilitation, serta World Architectural Festival – Private House Category Winner 2008 dan Wallpaper Design Awards 2009 – Best New Private House, keduanya untuk Final Wooden House.

“Apakah kita sedang bicara soal arsitektur?” tanyaku.

Kali ini Sou bingung sejenak, memainkan pinsilnya di antara jari-jari, lalu jawabnya, “Entahlah”.

 

(Sebuah wawancara fiktif)

 

9 Comments to "Sou"

  1. Juwita  15 September, 2011 at 05:05

    @JC, design sepanjang masa tuh model apa tho?

  2. J C  14 September, 2011 at 11:47

    Saya coba ubek-ubek info mengenai arsitek satu ini, design’nya apartment di Tokyo seperti rumah ditumpuk-tumpuk…unik dan menarik. Tapi saya bertanya-tanya apakah design seperti ini bukannya design “kontemporer” yang jika masanya lewat, jadi kelihatan “jelek” dan biasa saja, dibanding dengan design yang “sepanjang masa”? Ah, entahlah, saya bukan arsitek, hanya penikmat keindahan bangunan saja.

  3. atite  13 September, 2011 at 17:18

    kembali ke sel… awal mula kehidupan… dimana sang nukleus hanya berenang2 saja dalam ruang plasma… hmm, seseorg yg terlalu ‘hitam-putih’ hanya akan stress utk menjadi arsitek dlm mencari kebenaran di dalamnya… mungkin jg itu kenapa byk arsitek2 besar mati dlm ‘penasaran’…? (untunglah sy hanya arsitek dan ‘tidak besar’, ha3x…
    “entahlah” adalah kata yg tepat & terhormat utk menjelaskan semua ini…

    salam…

  4. Linda Cheang  13 September, 2011 at 12:33

    lebih minimalis daripada minimalis, nih?

  5. awesome  13 September, 2011 at 12:06

    hmmm menarik

    thanks for sharing

  6. [email protected]  13 September, 2011 at 11:30

    hmmm…. jadi bingung….

  7. Sumonggo  13 September, 2011 at 11:12

    Entahlah? Saya juga bingung

  8. Dj.  13 September, 2011 at 11:12

    Nr. 2
    Keduluan mas Handoko….
    Salam

  9. Handoko Widagdo  13 September, 2011 at 11:07

    Ternyata orang Asia lebih kreatif dari orang barat yang terkungkung ‘metode ilmiah’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.