Drongo (2)

Night – Sydney

 

Terkisahlah namaku Drongo, kisahku yang gundah gulana sudah tertutur rapi dalam:

http://baltyra.com/2010/08/05/drongo/

Bertahun-tahun silam aku hanyalah seorang kere yang mengais rezeki masuk ke kampung, merangkak dari nol. Ah…, tidak nol sih, aku masih punya warisan warung kok.

Waktu berlalu, Dill kembali ke tanah air, liburan sih katanya. Seniman jalanan itu tidak berubah, hanya rambutnya yang memanjang! Tampangnya tetap hancur, slengean…, ah uda keluar negri kok gaya tetap kampung! Rasa kangenku akan sobat akrabku tak tertahan, entah apa aku sudah menjadi homo akibat kangenku!!

Dill, anak yang keras dalam tekad. Tak ada yang bisa menebak jalan pikirannya, manusia yang aku tau persis memiliki emosi kemarahan sejak dulu. Jika bukan karena mengenalnya terlalu lama, aku yakin pasti bisa salah menilai sikapnya. Dia selalu diam, tak banyak bicara, namun kata-katanya selalu konyol! Sok cool tapi konyol…

Tiga tahun sejak dia pergi, aku tau dia bahagia dari ketawanya yang lepas, aku tak ingat dia pernah tertawa lepas… Entah apa alasannya, dia tak pernah tampak secerah itu, biasanya selalu kusam dan asam itu muka. Apa karena dia sudah menjadi tokoh utama dalam ceritanya..? Dia selalu bilang ingin jadi tokoh utama dalam kisahnya, omong kosong apa itu?

Kami ketemu dalam sebuah mall paling mentereng di Khuntien. Tiga tahun berlalu, rasa pahit kehidupan kami…., setiap getir dan emosi yang menyerang, aku khawatir melihat cara dia yang sinis memandang hidup. Aku ingat kata-katanya dulu:

–        Apa menikah menjamin kamu bahagia? Coba kamu tanya sama mereka yang bercerai?
–        Kamu yakin setiap anak yang tidak memilih dilahirkan akan menyukai kehidupan mereka?
–        Ada jaminan kalau saya tidak akan bersikap sama seperti mereka? Saya tidak pernah tau bagaimana rasanya dan mungkin akan bersikap sama seperti mereka…

Itulah penggalan skeptisnya dan kata “saya” yang paten! Entah dari kampung mana dia itu. Ngomong selalu sopan, memaki aja sopan dan halus!  Aku heran dia telah berubah! Berubah makin tidak benar dalam hidup! Tak paham aku…

Aku bukannya tak tau banyak cewek naksir dia saat dulu, tau persis dari dulu. Aku kecewa dia masih jomblo, aku saja uda punya momongan, dia kapan! Parah…, tiga tahun tapi makin sesat itu jalan pikiran! Aku nasehati, dan dia tepuk pundakku dengan senyum sinis. Dia selalu tau saat tepat untuk diam dan membuatku males komat kamit lagi…

Aku kira dia bahagia dengan hidupnya, ah cuma kira-kira. Aku tau dia baik-baik saja. Aku kenal dia…., dia yang sejak SMA tak banyak berubah! Seorang cewek pernah menghancurkan dia, dia berubah sejak itu tapi kini dia geli sendiri mengingatnya dan mengolok masa lalunya! Ah, bagian positif ini aku salut! Ah…, negara maju merusak otaknya, sungguh kasian orang tuanya!

Di Mall Khuntien, dia tampak gerah… Dill, ah anak kampung ini tetap kampung… Dia pesan the botol, ah apa pula itu? Aku pesan jus. Dia bayar tentunya…, meski tampak tidak ikhlas… Kami mulai berkisah akan hidup, akan impian di depan… Impian yang ingin diraih… Impian saat SMA. Kenangan bersama… Ah tak terasa waktu berlalu, sudah sepuluh tahun kami berteman… Kisah itu masih terasa manis, indah!

Aku bisa melihat ada beban di matanya, apa itu aku tak pernah tanya. Bukan tak mau tanya, tapi tau tak ada gunanya! Dia memang begitu, tak bisa nikmati hidup! Bodoh dan goblok, idiot bila perlu! Tak seperti aku, hidupku bahagia. Aku punya rumah, punya keluarga, punya kehidupan, punya anak, punya materi!

Apa coba yang dia punya?! Impian dan cita-cita sejak SMAnya, hmmm…, gigih dan bodoh! Berapa banyak waktu yang telah dikorbankannya! Apa hasil dari semua ini? Entahlah…., dia selalu bilang tidak semua orang termotivasi karena materi! Ah dia pasti masuk kelompok orang susah…

Apa maunya? Bedebah, dia tak tau aku susah payah meraih materi, dia sama sekali tak peduli! Apa yang dia peduli? Apa dia bahagia setelah mengejar mimpinya? Apa dia senang sekarang dengan hidupnya? Apa setiap helaan nafasnya menunjukkan dia baik-baik saja?

Aku tak bilang hidupku baik, tapi kapan anak itu tau bahwa hidup yang diimpikannya tuh tak akan kupahami! Ah aku ingat kata dia, “Saya ngga ingin hidup yang datar, punya keluarga, kerja, pulang main sama anak. Ada hal yang kuinginkan, dan bukan itu….”.

Ah Dill, apa kamu sudah bahagia sekarang? Apa definisi bahagia kamu ha? Aku tak paham, terus beban apa yang kau pikul? Aku kenal kau bertahun-tahun, aku lihat beban itu. Tak perlulah kau pakai topeng, wajah asli kau tak bisa sembunyi dari aku…

 

9 Comments to "Drongo (2)"

  1. Night  16 September, 2011 at 18:46

    Hi DJ, maaf saya sendiri ngga punya pesan moral atau pesan tersembunyi sih haha…
    Pak Handoko, ckckckck….., ternyata…… Saya sebenarnya tipikal yang percaya tidak ada yang bisa membuat saya bahagia selain saya haha….

  2. Handoko Widagdo  15 September, 2011 at 07:23

    Apa arti bahagia? Saya bahagia karena ketemu Night disini.

  3. Dj.  14 September, 2011 at 22:34

    Night….
    Terimakasih untuk ceritanya yang bikin Dj. ikutan bingung….
    hahahahahahahaha….!!!
    Salam,

  4. [email protected]  14 September, 2011 at 18:08

    segera dilanjutkan…. ihik….
    tak sabar menanti

  5. Night  14 September, 2011 at 17:07

    Dear JC, sebenarnya ada kelanjutannya, banyak malah haha…

    Dan Lembayung, entahlah, apa pertanyaan itu masih membutuhkan jawaban….

    Henni, mewakili Dill (saya rasa bisa ditebak tentang Dill), saya ragu hidupmu membosankan, setiap orang punya jalan pikiran yang berbeda, hanya itu opiniku haha….

    Hai [email protected], mengenai babak selanjutnya, itu sangat tergantung dari kondisi cerita itu sendiri….

  6. [email protected]  14 September, 2011 at 14:25

    ……………… waduh……..
    lanjutannya nunggu sekitar bulan September 2012
    hehehehehehe….
    babak pertamnaya tahun 2010
    babak kedua tahun 2011
    babak selanjutnya tahun depan

  7. HennieTriana Oberst  14 September, 2011 at 13:39

    Night, masih ada kelanjutannya? Kisah kehidupan yang banyak terjadi. Aku suka ceritanya.

    “Saya ngga ingin hidup yang datar, punya keluarga, kerja, pulang main sama anak. Ada hal yang kuinginkan, dan bukan itu….”.

    Jadi hidupku datar dong, Dill?
    Memang tiap orang punya pilihan hidup masing-masing.

  8. lembayung  14 September, 2011 at 12:32

    inget pertanyaan2 itu pernah ditanyakan pula padaku. dan aku pun tak punya jawabannya.

  9. J C  14 September, 2011 at 11:56

    Night, terus? Kelanjutannya gimana tuh?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.