Lebaran dan Kumpul Bersama di Brussels (2)

Nunuk Pulandari

 

*Cerita bagian dua ini berlangsung di tempat dan kesempatan yang berbeda.*

a.Hari Lebaran kedua, di rumah jeng Heidy  dan bapak  Iman. Beberapa bulan yang lalu saya hadir dalam salah satu ceramah tentang “Siapa Menjiplak Siapa” yang diberikan oleh  Dubes RI di Brussel, bapak Havas Oegroseno. Hal ini diberikan oleh bapak Dubes dalam bentuk Dialog Interaktif Warisan Budaya Indonesia. Dengan pemandu dialoog ibu Ibu Mira  Hartulistyoso yang juga bertindak sekaligus sebagai moderator (ketua Bidang Sosial Budaya DWP Brussel) dan Ibu Heidy Sulaiman (Wakil Ketua DWP Brussel) sebagai notulennya, terasa dialoog itu berjalan dengan sangat hidup.

Awal dialog diberikan dengan tayangan Pemutaran lagu Rasa Sayang-Sayange versi India yang didokumentasikan pada tahun 1960an. Satu lagu yang sampai saat kini tetap menjadi persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia karena diakuinya  lagu ini  sebagai milik Malaysia.  Kemudian beberapa lagu lainnya juga diperdengarkan dalam tayangan (Video?) sebagai illustrasi dialog yang ada. Lagu tradisionil, Panon Hideung yang kita kenal sebagai lagu dari daerah Jawa Barat, Sunda, boleh dikatakan sangat amat memiliki ritme yang “senada” dengan lagu tradisional Rusia berjudul Black Eyes. Lalu disajikan tayangan lagu Kopi Dangdut yang dinyanyikan oleh Fahmi Shahab. Sebuah lagu yang sangat merakyat dan digemari oleh seluruh rakyat Indonesia. Sebuah lagu yang kalau kita melihat tahun diterbitkannya boleh dikatakan merupakan suatu hasil  “jiplakan” dari lagu Moliendo Café yang diciptakan oleh Hugo Blanco tahun 1958….O o oooooo…

Dialoog itu sesungguhnya diberikan sehubungan dengan adanya kesimpang siuran dalam pengertian antara Hak Cipta dan Hak Patent. Menurut bapak Oegroseno, dalam kedua pengertian tersebut di atas terdapat perbedaan yang besar. Secara singkat , suatu  Hak Cipta adalah suatu perlindungan yang diberikan pada seorang pencipta terhadap  hasil karyanya dalam bidang kesenian. Sedang Hak Patent adalah suatu perlindungan yang diberikan pada para pencipta suatu hasil karya di bidang Teknologi. Suatu bagian yang termasuk dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual.

Foto 1. Acara makan siang bersama yang dilanjutkan dengan berkaraoke. Tuan rumah, bersedeku memegang Mic. di sebelah kiri.

Teman-teman, tetaapi dalam tayangan ini saya tidak akan membicarakan lebih luas lagi tentang kedua hal di atas. Saya hanya ingin menceritakan saat pertemuan kami terjadi. Ketika saya memasuki aula tempat diselenggarakannya dialoog itu, tiba-tiba  terdengar dari sebelah kanan saya seseorang memanggil nama saya:”Mbak Nuk, mbak Nuk”. Ketika mendengar suara panggilannya, seolah hati kecil saya mengatakan:”Hai, rasanya saya kenal suaranya. Tapi siapa ya?”. Saya mencari dan melihat ke arah asal usul suara itu.

Foto 2. Nyonya rumah, diajeng Heidy, memangku anak agak di belakang sang misua. Posisi yang memudahkan untuk setiap saat bolak balik melihat keadaan meja makan.

 Dan ketika saya menoleh, ternyata saya melihat seraut wajah yang sudah saya kenal cukup akrab. Tetapi sudah plus minus  tiga tahunan tidak pernah berjumpa… Saya masih mengenalinya dan masih ingat namanya. “ Hallo, jeng Heidy”: Seru saya terdengar sedikit surprise. Bagaimana saya akan melupakannya. Setelh bercipika cipiki, dan saling bertanya, tahulah saya bahwa ,  rupanya suami jeng Heidy, Dimas Iman untuk beberapa tahun mendatang telah ditempatkan di Brussel.  Sang buntutnya jagoan kecil bahkan sudah masuk Kinder garden. Terakhir bertemu dia masih bayi..…Daaannnn, setelah pertemuan itu, kami beberapa kali dalam kesempatan lainnya masih sempat bertemu dan mengobrol. Dan terakhir kali ketika  kami bertemu dalam acara silahturahmi Lebaran di Brussel,  untuk memenuhi undangannya saya berjanji  akan  mampir sebelum kembali ke Belanda.

Naaah, malam hari setelah Lebaran bersama di KBRI, melalui telefoon saya berjanji akan mampir untuk minum kopi, pada keesokkan harinya, pada jam 11.00 siang. Tetapi dari percakapan  di telefoon selanjutnya terdengar samar-samar suara mas Iman:” Mbak Nuk, datang saja besok siang sekalian makan siang di rumah”. Itulah ungkapan spontaan yang penuh dengan  kehangatan yang sangat sukar ditemukan dalam budaya Belanda. Kita tidak perlu memikirkan terlalu lama untuk mengundang seseorang. Entah hanya untuk sekedar minum teh atau makan… Akan lain halnya bila kita akan mengundang teman (secara umum) di Belanda. Harus menelepon dulu untuk membuat afspraak, lalu mengusahakan agar semua terlaksana tepat pada waktunya, lalu menentukan  dan mempersiapkan apa yang akan disajikan . Dll, dan lain-lain…Semua kita lakukan tanpa bantuan orang lain.  Dan kadang kita menjadi kecewa karena beberapa jam sebelum janji itu,  tiba-tiba telepon berdering  dan dibatalkanlah janji yang ada… “Aduuuuuhhhhh…..Wat moet ik met het  eten doen????”: Bisik hati saya….

Keesokkan harinya, jam 10.00 sebelum berangkat saya masih menelepon untuk menanyakan siapa saja yang akan hadir untuk makan siang. Ternyata ada beberapa teman lain yang juga akan makan siang bersama……Wouuuwwwww….Artinya saya harus berganti pakaian lagi. Saya tentu tidak akan berpakaian terlalu relaks untuk acara makan bersama itu… Biasanya kalau hanya bertemu teman lama saya akan mengenakan celana panjang dan kaos T-shirt Polo dengan blazer… Apalagi di hari yang cukup panas ini…Tapi kali ini tentunya lain…

Foto 3. Ssuasana kehangatan sangat terasa ketika kita dengan relaksnya duduk bersama sambil mendendangkan lagu yang menjadi pilihan para” penyanyinya”….Nyonya (menggendong) dan tuan rumah memegang mic. di sebelah kiri, beristirahat sebentar di antara kesibukan wira wiri meladeni para tamunya…

 

Teman-teman di Baltyra, lagi-lagi dalam kesempatan ini saya tidak siap dengan camera di tangan. Entah bagaimana saya lupa untuk menggapai camera yang sedang di-opladen (di stroom) di bawah meja belajar anak gadis saya,  untuk membawanya serta.

Foto-foto yang saya sertakan di atas, dihasilkan dari jepretan dengan  camera jeng Tanty yang kebetulan datangnya setelah acara makan siang dimulai…..Yang jelas teman-teman, berbagai sajian makan siang bisa dicicipi. Sajian yang terdiri dari misalnya: ketupat yang bisa disantap dengan sayur buncis yang dicampur udang segar (yang rasanya super super enak); bisa dibayangkan betapa enaknya sayur itu khan, kalau tukang masak yang mencicipinya saja  mengatakan super anak;  atau disantap dengan opor ayam (yang irisannya daging ayamnya sedang-sedang saja)…

Rasanya agak geli dan nggak “kolu”menyantapnya  kalau irisan ayamnya terlalu besar;  ada juga sambal goreng, ada kering dan juga gado-gado lengkap. Yang juga sangat enak adalah rasa bumbu gado-gadonya,  selain terasa kesegaran bumbu sausnya juga tercium bau wangi daun jeruk….Hmmmm…Sebagai pelengkapnya tentu saja tersedia  kerupuk dan juga, emping… Teman-teman, di atas meja juga masih tersedia makanan sejenis sasimi dan makanan kecil lainnya. Juga ada asinan, ada es buah dan buah-buahan segar untuk toetjenya..Makanan penutupnya..…..Dan semuanya dapat dicicipi setiap saat sampai kita merasa puas dan “voldaan” (kenyang dalam bentuk halusnya)….

Teman-teman semua, setelah acara makan selesai saya menawarkan untuk mengambil Karaoke yang ada di bagasi mobil… Dan ternyata semua yang hadir menyetujuinya. Siapa siiih yang tidak  menyenangi acara nyanyi- menyanyi…Siapa siiih yang tidak ingin memperdengarkan suaranya.. ha, ha, haaa…Dan hampir semua yang hadir bersedia untuk memperdengarkan suaranya melalui ritme dan syair  lagu yang telah dipilihnya….… Bergantian angka-angka terpampang di layar televise, menyusuli selesainya lagu yang dibawakan…. Tertayang berbagai angka,  bervariasi dari yang agak rendah sampai yang tertinggi…. 98….Bravoooo…

Ketika jarum jam pendek menunjukkan lewat sedikit dari angka 14. 30-an beberapa bapak dari yang hadir terpaksa harus meninggalkan acara, termasuk tuan rumahnya. Sebagian  harus hadir di salah satu pertemuan dengan beberapa anggota MEE di Brussel dan sebagian lainnya harus menghadiri rapat di KBRI. Tentunya teman-teman memakluminya, karena Lebaran di Brussel pada hari itu jatuhnya bukan pada  hari libur…. Jadi tugas negara tetaplah suatu tugas yang harus diemban dan diselesaikan dengan baik. Saluut untuk semua….

Dua jam kemudian dari beberapa teman yang bertugas sudah kembali dan tidak lama kemudian kami berpamitan karena malam harinya masih akan mengunjungi teman lain yang juga mengadakan acara makan dan kumpul bersama…. “Reuze bedankt”, sekali lagi terima kasih yang tak terhingga untuk acara makan siang dan kehangatan dalam kebersamaannya. Semoga dalam kesempatan berikutnya anda semua sudi mampir ke rumah kami… Semoga!

b. Hari kedua Lebaran,  di rumah jeng Umie dan mas Faisal. Teman-teman, acara makan malam di hari Lebaran kedua diadakan di rumah jeng Unie dan mas Faisal. Satu dari keluarga di Brussel yang juga saya kenal dengan baik. Bahkan dulu kadang saya datang menginap, hanya untuk sekedar mengobrol dan bertukar pikiran… Achhhh, kapan lagi ya kita bisa melakukan hal yang sama… Entah sudah berapa lama saya tidak pernah mampir lagi sejak Lei sekolah di Leuven dan pindah ke Brussel.. Achhh, maafkanlah saya…

Dalam foto 2, tampak tuan dan  nyonya tuan rumah bersama satu puteranya, Satrya. Puterinya,  mbak Anuschka tidak ada di tempat karena harus wara wiri membantu menyiapkan segala sesuatunya…

Malam itu, ketika kami masuk melewat pintu rumah segera terlihat bahwa renovasi juga telah merambah ke rumah diajeng Umie. Lantai, dan keadaan di dalam rumah sudah berubah semuanya. Telah berubah dari keadaan yang pernah saya lihat beberapa waktu sebelumnya..Terlihat semuanya begitu bersih dan netjes….Selamat ya jeng Umie.

Foto 4. Beberapa teman yang  juga hadir di rumah jeng Umie dan mas Faisal.

Teman-teman di Baltyra seperti yang kita ketahui, dalam pertemuan semacam ini yang sangat kita nantikan adalah  kehangatan dan kenyamanan suasana. Hal yang lainnya hanyalah tambahan. Bahkan kalau perlu duduk bersilapun OK Ok saja, asal disertai cemilan dan obrolan yang gayeng tidaklah  menjadi masalah…Pepatah yang kita kenal,  “Yang penting mangan ora mangan asal kumpul”,  memang tepat sekali kita terapkan disini .. Dan yang jelas asap nasi dan lauknya tetap mengepul…Ha, ha, haaa..Apalagi kalau menu yang tersaji sangat cocok dengan cita rasa lidah kita..Waaahhh, sambil berdiripun makannya terasa Hmmmm….

Jangan salah prasangka lhoooo dengan tulisan saya di atas… Untuk ukuran Brussel rumah jeng Umie termasuk sudah cukup, cukup besar dan lagi pula berada di tepi jalan yang cukup ramai.. Juga tidak jauh dari pusat pertokoan dan keramaian. Wat wil je nog meer…Hanya seperti yang kita ketahui, budaya kita memang mengutamakan kehangatan dan kenyamanan serta kegayengan dalam kebersamaan…Tentu dengan segala akibatnya… Jadi sebesar apapun rumah yang ada, dalam acara kumpul-kumpul tidak akan pernah ada cukup ruangannya  untuk menampung teman-teman yang datang berkunjung… Ha, ha, haaa….Pasti teman-teman mengenali suasana seperti ini ya…

Foto 5. Mas Faisal dan jeng Umie serta puteranya yang ganteng dan ahli memainkan beberapa alat musik,  mas Satrya.

Ketika kami datang, plus minus jam 19.30 an, tampak sudah hadir beberapa teman yang lain. Mereka sudah ada yang mencicipi betapa enak dan gurihnya masakan yang tersaji.  Saté ayam,  sate kambing, salah satu keahlian tuan /nyonya rumah yang tidak pernah ada saingannya. Dalam acara-acara pertemuan kehadiran sate jeng Umie selalu dinanti-nantikan… Coba anda bayangkan betapa enaknya sate yang sedang dibakar dalam foto 3, di bawah ini. Melihat fotonya saja sudah menetes air liur kita…. Hmmmmm, sudahlah pasti  melihat penampilannya dan baunya yang cukup mengundang rasa,  kita tidak bisa menunda  untuk segera mencicipinya…..

Foto 6. Keahlian nyonya rumah  dalam masak memasak malam itu bisa kita icipi bersama.

Dalam foto di atas hanya dengan melihat warna dan kesegaran serta pantulan cahaya dari daging ayam yang dibakar saja, tentunya teman-teman  bisa  menduga bagaimana enaknya rasa sate yang ada…Apalagi kalau teman-teman menyantapnya dengan bumbu sausnya yang dimasak secara khusus … Hmmmmm….Heerlijk, heerlijk, heerlijk…Saya yakin para Baltyrawan dan / wati tidak akan cukup hanya dengan menyantap tiga atau empat tusuk saja….

Belum lagi kalau teman-teman sudah mencicipi rasa gulai dan sop kambingnya.. Waduuuuhhhhh, empuk dagingnya dan sumsumnya bisa disedot juga (pelan-pelan)… Saya yakin teman-teman pasti akan tambah berkali-kali… Yang jelas semua akan lupa semuanya karena rasanya yang betul-betul waaaahhhhh ueeeenaaaak.  Saya juga yakin bahwa kemungkinan  batasan makan dan dieet-nya entah karena darah tinggi atau karena colesterolnya hari itu akan sedikit diabaikan….Kita juga akan lupa bahwa setiap orang sesungguhnya sudah cukup hanya dengan mengkonsumsi 70 gr daging “Rood vlees dan daging lainnya”, per hari, kecuali daging ayam dan ikan,   untuk dapat memenuhi kebutuhan badan kita.… Secara umum lho ya… Tapi sekali-kali agak banyak makan sate kambing yang seenak olahan jeng Umie, saya kira ya boleh-boleh saja toch.. Asal keesokkan harinya dieetnya agak diperketat sedikit…. Biar balans lagi….

Belum lagi kalau teman-teman sudah mencicipi mie kocok pakai bakso… Waaaaoooooo…Saya sempat mencicipi dua baksonya dari mangkuk diajeng Tanty… Wouuuuwwww… Rasanya mau tambah lagi, tambah lagi dan tambah lagi… Asinannya yang gurih dan agak asam-asam dan manis… Sangat segar untuk obat pencuci mulutttt. Atau kalau teman-teman ingin mencicipi ice cream buatan sendiri yang juga tersedia….Hmmm…bahkan dalam kesibukannya memasak masih sempat menyajikan ice cream sendiri…

Foto 7. Makanan kecil yang tersedia di atas meja tamu sedang menunggu untuk dicicipi..

 

Teman-teman kalau kita perhatikan kue-kue yang tersedia di atas meja, nampak di antara irisan kue Lapis Legit, Nastar, Kaasstengels dll, ada taart coklat dengan hiasan buah cherrie di atasnya… Itu bukan kue  sembarang kue…Kue Ulang Tahun … Begitu penuh perhatiannya sang nyonya rumah pada teman-teman yang diundangnya terdengar  dari “uro-uro’nya yang mengatakan bahwa hari itu di antara yang hadir ada seorang yang berulangtahun…. Dan tanpa menunggu komando lagi semua yang hadir segera menyanyikan lagu:  Lang zal zij leven, lang zal zij leven…… Hup, huuuuuppp Hoera…..   Semoga diberikan kesehatan dan nog vele vele jaren… Amen.

Foto 8. Para bapak berkumpul di kamar belajar / musik mas Satrya

Keceriaan dan kerileksan nampak antara lain pada wajah-wajah para bapak yang hadir yang tentunya juga  menggambarkan kehangatan yang ada.Tidak nampak guratan kelelahan meskipun beberapa saat sebelumnya di antara yang hadir baru selesai dengan tugasnya… Keasyikan bapak Umar Baktir yang sedang menikmati santapan malam di tangannya, tentunya juga mewakili ungkapan semua yang hadir yang telah mencicipi supeeerrr ueeenaaaaknya masakan yang tersedia….. Jeng Umie, sering-sering mbakar saténya dong… Ha, ha, haaaa.. Guyon saja…

Sekali lagi, saya dan juga atas nama teman-teman yang hadir,  setidaknya melalui tayangan ini ingin mengucapkan TERIMA KASIH pada  jeng Umie dan mas Faisal untuk semuanya… Semoga Yang Di Atas akan membalas budi baik anda sekeluarga… Amin…

Pagi ini, hari Minggu matahari bersinar dengan cerahnya. Dengan ramalan temperatur yang berkisar antara 15-20 derajat Celcius, sangat cocok untuk bersepeda.. Salah satu cara termurah untuk mengolah jiwa dan  raga menjadi bugar untuk menyongsong hari-hari mendatang.  Mari kita keluar rumah untuk  mencari dan  menghirup udara segar……. Prettig lezen en gr. Nu2k    

 

115 Comments to "Lebaran dan Kumpul Bersama di Brussels (2)"

  1. nu2k  19 September, 2011 at 10:58

    Mas (?) Diday, rasanya saya pernah baca nama anda di milisnya Iluni FSUI. Betul ya? Hoe dan ook, memang sangat berbeda sekali Lebaran di negeri orang. Bagaimana dengan Lebaran anda? Sempat sungkem ayah dan ibu…(Mau tahu aja?)
    Lebaran di negeri orang Kehilangan kebersamaan dengan keluarga (kakak / adik) , yang selalu travelling bersama keliling Jawa atau kesalah satu Pulau… Achhhh, tinggal tunggu pensiun saja dan setelah itu semoga masih diberi kesempatan olehNYA untuk dapat menikmati Lebaran mendatang bersama keluarga di Indonesia….. Amien.

  2. nu2k  19 September, 2011 at 10:51

    Jeng Lani, hallo, hallo… Goedeavond (mulai sore ya jeng). Ya sudah dibuat potretnya dulu (tidak perlu dipakai- diletakkan dan dipasangkan di tempat tidur) .. Nanti boleh saya pilih????Ha, ha, haaa…Coba rumahnya agak dekat saya… Ada teman yang tinggal di Brussel. Dia juga mau pinjam kebaya saya.. Tapi saya kira terlalu kecil ya.. Lhawong dia LBDnya lebih besar… Tapi dia mau coba dulu..

    Sudah ya hanya, mau siap-siap nggolek berlian…Nu2k

  3. diday  19 September, 2011 at 02:47

    Lebaran di negeri orang memang sangat berkesan…

  4. Lani  18 September, 2011 at 23:41

    MBAK NUK : wadoooh mbak Nuk…….coba nanti aku liat lagi, kayak-e sih coklat soga, mana aku punya selendang, tas, dan sgl tetek bengeknya mbak, ini saja serba mendadak untung dpt kirimana dr NY…… lo..udah rampung lari mbak…….lagek kluyuran di baltyra……..tuh mas DJ baru aja dpt undangan makan diluar kota………enak dan enak……

  5. nu2k  18 September, 2011 at 23:28

    Jeng Lani, kebaya hitam dengan jarik coklat???.. Kalau ada jarik yang kehitaman , coklatnya dengan warna hitam… Saya kira bisa. Tapi kalau hanya coklat saja… Waaahhhh, lebih baik pakai yang kebaya kuningnya.. Terus kalau ada selendang yang agak keemasan dan tas kecilnya jangan lupa… ha, ha, haaa…

    Jeng, sudah sarapan belum??? Atau baru selesai ngukur panjang pantainya? Ha, ha, haaa… Gr. Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.