Melati Putih Bertahta Embun

Ida Cholisa

 

Hanyut. Itu yang kurasa tiap kali aku menatap melati putih itu. Pada harum baunya aku menemukan cinta. Pada indah rupanya aku tersergap rindu nan menggelora. Dan pada bening embun yang menempel di atasnya, aku tercekik cinta.

Ia memberikan kepadaku, sekuntum melati nan wangi yang tengah mekar berseri, setahun lalu.

“Cinta, ciumlah melati ini.” Ini menyodorkan bunga putih mungil itu kepadaku. Kutangkap tangannya. Kudekatkan hidungku pada tangan kukuhnya, di mana melati putih itu tergenggam di dalamnya.

Ia membuka tangannya. Melati putih cantik tersembul dengan indahnya.

“Harum sekali, Sayang.” aku memandang teduh matanya.

Ia melingkarkan tangan kekarnya di pinggangku. Aku merasakan getar cinta yang mengaduk rasa. Hari masih pagi. Sangat pagi. Di Puncak nan sepi kami terus berbagi. Berbagi hati.

“Cinta,” ia berbisik di telingaku. Desah nafasnya membuatku terbang ke langit biru.

Aku menunggu, sangat tak sabar, pada apa yang akan ia katakan. Lamat kurasakan ujung bulu kumisnya menyentuh daun telinga. Aku sedikit menggelepar karenanya. Sungguh.

“Cinta, terima kasih. Kau telah memberikan yang terindah untukku. Berjanjilah untuk tak meninggalkanku. Aku mencintaimu. Selalu.”

Kubiarkan ia memelukku erat, pelukan hangat penuh hasrat.

***

Hanya sekali kami melewatkan malam yang berakhir pagi nan syahdu di Puncak itu. Selebihnya kami saling tak tahu menahu, tentang diri kami yang dahulu menyatu. Ia suamiku. Dokter Faris. Dokter puskesmas yang baru seminggu menikahiku. Aku, Dania Rahma, perempuan yang sangat beruntung mendapatkannya. Perempuan dusun di mana sang dokter bertugas di desaku. Disebabkan sering bertemu muka, dikarenakan aku sering berobat padanya, hati kami lama-kelamaan dirambati cinta. Hingga benih pun tumbuh dengan suburnya.

Kami menikah tanpa restu orang tua; alasan klasik di mana perbedaan status menjadi batu penghalang. Menikah siri, itu yang kemudian kami lakukan.

Pada indahnya pesta perkawinan yang dipenuhi ratusan undangan, sungguh aku tak pernah merasakannya. Hanya kerabat dekat yang menyaksikan ijab qabul pernikahan kami. Hanya mas kawin seperangkat alat sholat yang ia berikan kepadaku. Tak lebih dari itu.

Tapi aku bahagia. Menjadi istri seorang dokter muda, di mana aku tak pernah membayangkan apalagi memimpikan sebelumnya. Dania Rahma kini telah menjelma menjadi bidadari surga. Hingga tak sedikit mata para gadis mengerling iri karenanya. Ya, aku bunga dusun yang sungguh beruntung, sangat beruntung…

“Cinta, aku harus kembali ke kota. Sebentar saja.”

Aku tak dapat mencegahnya. Berusaha mengikutinya aku pun tak punya keberanian untuk mengatakannya. Aku tahu diri siapa aku. Bukankah ayah bundanya tak pernah merestuiku untuk menjadi menantunya?

Mas Faris pergi, akhirnya, menuju kota. Ia sunggingkan senyum terbaiknya untukku.

“Cintaku, aku pergi dulu. Sebentar saja. Kuharap kau sabar menunggu. Aku akan penuhi janjiku untuk memboyongmu, memperkenalkanmu pada keluarga besarku.”

Ia menciumku, lama sekali. Tangan kukuhnya menyelipkan melati indah di daun telingaku.

“Aku suka melati putih ini. Simpanlah. Hingga ia mengering, jangan pernah kau membuangnya sebelum aku kembali.”

Aku mengangguk. Bibirnya melumatku, hingga perpisahan itu merenggut semua kehangatan itu.

***

Satu tahun berlalu. Tak pernah aku tahu di mana Mas Faris berada. Tapi aku tetap menunggunya, meski kedua orang tuaku bersikukuh bahwa suamiku telah mengkhianati perkawinan itu. Bulan demi bulan tanpa kabar membuat orang-orang terdekatku berang, dan memintaku untuk menyudahi perkawinan seumur jagung itu. Sedikit bimbang hatiku. Terlebih saat beberapa hati mendekatiku, berusaha memetik putik cintaku. Sedapat mungkin aku tak bergeming karenanya, sebab cintaku besar adanya. Tetap aku menunggunya, menunggu kembalinya suami yang tak pernah aku tahu di mana keberadaannya.

Melati putih yang ia selipkan di telingaku kini telah melayu. Mengering. Hingga tak ada jejak indah maupun harumnya. Tapi aku tetap menyimpannya. Dalam sebuah kotak berlapis kaca, aku sesekali menatapnya. Melati itu seakan memiliki jiwa, sebab saat aku memandangnya, kerinduan dan rasa cintaku pada suamiku terus mengharu biru…

Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Senja membayang. Seraut wajah cantik disangga tubuh indah terlihat menatap kami; aku, ayah dan ibuku. Siapa mereka? Kami bertanya-tanya, dalam hati saja.

“Maaf, benar ini rumah Dania?” Ia, sang wanita cantik paruh baya, bertanya pada kami. Di belakangnya lelaki tegap mengiringinya. Entah siapa ia.

“Betul, Nyonya. Saya Dania.” aku mempersilahkannya untuk  memasuki rumahku.

Tubuh rampingnya menempati kursi butut di ruang tamu rumahku.

“Kau istri Dokter Faris?” ia menatapku, sangat tajam.

Aku tergagap.

“Aku ibunya. Kuharap kau mau bersamaku menuju kota. Faris selalu menanyakanmu.”

Belum hilang rasa kagetku, ia memaksaku untuk segera mengikutinya.

“Jangan menunda waktu. Segera kita berangkat.”

Kami menuju kota, sebuah kota yang sama sekali aku tak pernah menginjaknya. Aku sang perempuan dusun yang hanya tamatan SMA, tak pernah sekalipun menginjak kota tanpa kawalan keluarga. Aku perempuan yang hidup dalam pingitan ayah bunda. Sebagai anak perempuan satu-satunya dari keluarga tak begitu mampu, aku tak punya akses untuk mengejar mimpi-mimpiku. Pun sekedar menginjakkan kaki di keramaian kota. Ya, mestinya usai aku bersanding dengan suamiku, aku akan dibawanya berkeliling kota. Tapi semua rencana terbang saat Mas Faris kembali ke kota. Hingga setahun lamanya, tanpa kabar berita…

***

Kami sampai di sebuah rumah mewah. Rumah besar dengan halaman sangat luas. Aku mengikuti langkah sang wanita paruh baya itu yang tak lain adalah ibu Mas Faris, ibu mertuaku.

“Masuk.” suaranya singkat, menyuruhku memasuki rumahnya.

“Ke sini.”

Ia menyuruhku untuk memasuki sebuah kamar. Aku tertegun. Dadaku berdegub sangat kencang, sangat kencang…

“Masuklah.” Ia membuka pintu kamar.

Hatiku berrendam rasa; bingung, ragu, gugup, dan entah bermacam perasaan lainnya…

“Itu Faris.” Ia menunjuk lelaki di atas ranjang. Aku terkesiap.

Oh, tidak!

Aku maju selangkah, dua langkah, tiga langkah, hingga tak ada jarak antara aku dan lelaki itu. Jantungku berdegub kencang.

“Dania…, kaukah Dania?” Ia mengeluarkan suara parau tanpa membuka mata. Aku tak bergeming, Aku telanjangi dirinya. Tiba-tiba aku menangkap keindahan yang tersisa pada kering badannya.

“Mas Faris? Kau Mas Faris? Apa yang terjadi, Mas?” aku memeluknya erat, sangat erat. Pada pelukan itu kurasakan tulang dada suamiku yang sangat keras. Tulang-tulang yang  bertonjolan di sekujur badan kurusnya.

Air mataku menggelontor tiada henti. Kesdihan itu teramat merasuk hati. Suamiku, suamiku telah berubah kini…

Matanya sangat cekung. Bibir indahnya yang dahulu dipayungi kumis tipis, kini kering tanpa bulu-bulu halus di atasnya. Kepalanya botak, tanpa sehelai rambut pun. Kuku-kuku tangannya menghitam. Kulitnya sangat kusam. Aku tersentak, aku terhenyak, aku terpana untuk sekian lama…

Dahulu cintaku bersemi pada seorang pria berkulit putih, berkumis tipis, beramibut lebat, berbadan tegap. Dan ia adalah Dokter Faris, dokter yang menambatkan bunga cinta di hatiku, hingga kemudian ia menikahiku. Tapi pemandangan yang kulihat kini sungguh berbeda, sangat berbeda…

“Dania, jangan pergi. Temani aku.” ia membuka mata. Aku menghapus banjir air mataku. Kudekap ia dalam pelukanku.

“Cinta, masihkah kau simpan melati putih itu?”

Tuhan! Sekali lagi aku tersentak. Ia masih mengingatnya!

“Masih, Sayang. Aku tetap menyimpannya, berharap suatu waktu kau akan kembali datang…”

Ia sesenggukan. Aku menghapus air matanya. Aku memandangnya lekat. Ia benar-benar telah berubah. Hanya sorot cinta saja yang membuatku tetap mengenalnya. Ia suamiku, suami terbaikku…

“Cinta, aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Jangan pergi dariku.”

Aku mengangguk. Hingga kemudian aku mendapatinya mengalami batuk yang sangat hebat. Ia tersedak, ia kejang, hingga kemudian semua terbang…

Ia berpulang, di pangkuanku ia berpulang…

***

Di atas bukit ini, di Puncak di mana setahun lalu kami mereguk manisnya cinta, aku menatap kuntum melati bertahta embun. Telah hilang semua keindahan, telah musnah semua impian. Kekasih hati telah berpulang. Penantianku seakan tak berarti apa-apa. Sebab yang kudapat ternyata duka cita.

Tapi tidak. Aku tetap menyimpan melati itu. Aku tetap menyimpan cinta yang terpenggal itu. Bukan kemauan Mas Faris hingga tak pernah ia kembali padaku. Bukan.

Yang kutahu kemudian, orang tua Mas Faris melarang keras anak lelakinya untuk kembali bertugas di desa. Akses untuk menemuiku diputus oleh mereka. Hingga kemudian ia bertugas di kota, hingga kemudian ia terserang penyakit mematikan; kanker paru-paru.

Ia menjalani kemoterapi hingga puluhan kali. Kemoterapi yang meluluhlantakkan tubuhnya, merontokkan rambutnya, melemahkan keperkasaannya, menghitamkan semua harapan hidupnya. Hingga kemudian ajal menjemputnya karena sel kanker telah menyebar ke sekujur tubuhnya…

Suamiku meninggal dalam kondisi sangat mengenaskan. Ia luruh, seiring luruhnya melati putih yang kusimpan dalam kotak kaca…

Kanker telah merenggutnya. Merenggut semuanya.

Air mataku menetes perlahan. Kerinduan itu begitu dalam. Setiap mataku menatap melati putih bertahta embun, hatiku menangis hingga kesedihan itu terus menimbun…***

 

Bogor, Juni 2011-

 

13 Comments to "Melati Putih Bertahta Embun"

  1. Handoko Widagdo  15 September, 2011 at 07:22

    Satu lagii cerita dari Bu Ida yang luar biasa

  2. Mawar09  15 September, 2011 at 02:28

    Sedih baca ceritanya.

  3. Dj.  14 September, 2011 at 23:08

    Bu Ida….
    Terimakasih untuk ceritanya yang sangat mengharukan….
    Aneh tapi nyata,seperti setiap tahun….. beberapa minggu yang lalu Dj. membersikah pohon melati yang kecil mungil. Entah mimpi apa. kok ternyata Dj. memotong pangkal pohon, hingga Dj. teriak sendiri.
    Kaget, tapi apa daya, sudah terjadi dan istripun turut kaget.
    Tapi dia malah bilang, ya sudah relakan saja…..
    Dalam hati, Dj. harap. semoha masih bisa hidup….
    Setiap hari Dj. sirami dan tetap berharap, semoga tidak mati…
    Orang yang melihat, pasti akan tertawa melihat tingkah Dj.
    Akhirnya Dj. putus asa dan tidak Dj. siram lagi, karena sudah pasti mati….!!!
    Seminggu kemudian ( walau tidak disiram ) taunya tumbuh tunas baru….
    Waaaaaw….!!! Dj. sampai melompat kegirangan dan segera ambil air untuk menyiraminya…
    Sampai sekarang masih hidup, walau tunasnya belum besar….
    Dj. pasti akan rawat lebih lagi….
    Dan ini dia tunas melati yang baru beberapa hari tumbuh..
    HALELUYA….!!!!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.