Raib

Hennie Triana Oberst

 

Tiap senin pagi rute shuttle bus dari apartemen di mana sementara ini aku tinggal adalah ke salah satu pasar tradisional yang ada di Beijing. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya kadang kalau lalu lintas padat jarak tempuh bisa lebih lama.

Minggu lalu aku berbelanja bersama dengan dua orang kenalanku yang tinggal di apartemen yang sama; Kate, wanita asal Shanghai yang menetap di Australia, dan Xue wanita Swedia-Chinese (lupa dari kota mana) yang menetap di Jepang. Kebetulan Chiara dan kedua putri mereka sama-sama berumur 4 tahun. Jadi hampir setiap petang kami sering bertemu menemani tiga gadis kecil bermain bersama.

Ketika kami selesai berbelanja di pasar tersebut masih tersisa cukup banyak waktu sebelum bus kembali menjemput, maka kami putuskan untuk mengunjungi gedung di depan pasar. Saat itu lumayan terik dan seperti biasa kelembaban udara sangat tinggi, lumayan bisa “ngadem” di sana. Selain supermarket yang cukup besar ada juga beberapa toko pakaian, sepatu, perhiasan dan tentunya warung makan. Agar tak menenteng tas belanjaan yang berat ke sana-sini kami menyewa masing-masing sebuah laci/lemari kecil untuk menitipkan  barang-barang tersebut. Kunci lemari akan ditukar dengan uang sebesar 10,- Yuan sebagai jaminan.

Supermarket depan pasar

 

Salah satu pojok dekat pasar

Beberapa menit sebelum bus datang kami mengambil barang belanjaan masing-masing di lemari penitipan dan mengembalikan kunci ke loket penyewaan. Saat itu Kate tiba-tiba berkata dan sedikit berteriak bahwa kuncinya tidak ada di tangannya. Padahal kami bersamaan ketika membuka lemari masing-masing, aku juga melihat ketika ia mengosongkan lemari dan mencabut kunci yang tergantung. Jarak loket penitipan ke ruang kecil tempat lemari-lemari tersebut hanya beberapa meter. Tapi tak kami temukan ada kunci tercecer. Kunci dan gembok tersebut bukanlah gembok untuk koper yang sangat kecil, tetapi gembok lemari yang tidak bisa dikatakan kecil, ditambah gantungan kunci berbentuk pembuka tutup botol dengan warna hijau terang. Rasanya tak mungkin akan luput dari pandangan mata jika tergeletak di atas ubin putih. Masing-masing kami memeriksa tas dan juga kantong belanjaan, mungkin saja terjatuh atau terselip, tetapi hasilnya nihil. Bukan karena uang 10,- Yuan yang akhirnya “hangus”, tetapi kunci-gembok yang dalam hitungan detik raib tanpa jejak.

Ada beberapa orang ketika kami mengambil barang-barang di ruangan tersebut. Tetapi menuduh dan berprasangka buruk mungkin lebih tak tepat lagi. Lagian ketika kami mencari-cari kunci yang hilang tersebut tak ada orang lain di sekitar kami kecuali para penjual di toko maupun stand masing-masing. Petugas loket mengatakan bahwa nomor kunci yang kami cari itu belum ada yang mengembalikan. Entah tersangkut di mana. Kami kembali memasuki bus yang telah datang dengan pertanyaan yang tak terjawab.

~~ooo~~

Hari ini aku ingin berbelanja buah dan sayuran di pasar seperti minggu lalu. Alasanku selain ragam sayuran yang tersedia lebih banyak juga kelihatan lebih segar dibandingkan dengan yang ada di supermarket di sekitar gedung. Selain itu aku akan membeli beberapa mangkok yang memiliki motif yang sama dengan peralatan yang ada di rumah.

Aku berbelanja sendiri karena kedua kenalanku sedang tidak berada di tempat. Kalau hanya belanja sayur dan buah cukuplah dengan modal bahasa isyarat, menggunakan tangan dan jari, ditambah bantuan kalkulator.

Jalanan depan pasar

 

Pintu gerbang pasar

Memasuki pasar aku langsung menuju ke tempat penjualan sayur mayur, tempat yang aku lewati minggu lalu. Setelah membeli bawang putih aku mampir ke penjual sayur yang menjual kangkung. Banyak sekali jenis sayurannya dan terlihat segar, maka kuputuskan membeli beberapa jenis. Jadi aku tak perlu dua hari ke depan membeli sayuran. Ketika akan membayar dompetku tak ada di dalam tas belanjaan. Padahal baru saja aku masukkan setelah membayar bawang putih. Tas belanja yang berisi bawang putih itu sobek tersayat dari atas sampai ke bawah.

Entah siapa yang melakukannya, mungkin saja pencopet yang memang beroperasi di pasar tersebut. Seingatku ketika aku mendatangi stand sayuran hanya ada dua orang pembeli, seorang nenek di sebelah kananku dan seorang kakek di sebelah kiriku. Mereka berdua terlihat sibuk bertransaksi dengan penjual. Tiba-tiba seperti ada kerumunan di belakangku ketika aku membungkuk mengambil kangkung yang letaknya di rak paling bawah, dan aku terdorong ke depan. Tapi aku tak pernah menyangka akan mengalami hal ini.

~~ooo~~

Aku membawa tas dari plastik sebagai tas belanja di samping tas tangan yang biasa aku sandang. Sengaja aku bawa untuk keperluan berbelanja di supermarket. Kebiasaan di China yang sama seperti di Jerman dan banyak negara lain bahwa tas ataupun kantongan plastik dari supermarket tidak diberikan secara cuma-cuma. Dompet juga aku bawa dua, yang satu hanya berisi uang receh beberapa Yuan. Untungnya (masih tetap untung walaupun kecopetan) dompet recehan inilah yang diambil. Aku ikhlaskan saja, toh uang yang ada tak banyak, tidak ada kartu ataupun dokumen penting seperti KTP, SIM, kartu dari Bank dan kartu lainnya., kecuali fotoku berdua dengan Chiara ikut raib juga. Tetapi yang paling kusyukuri adalah aku selamat dan tak terluka. Orang yang (mungkin) kepepet seperti itu bisa saja melakukan hal nekad lainnya. Dari sobekan tas bisa dilihat bahwa ia memiliki pisau yang sangat tajam.

Walaupun sedikit syok aku tetap melanjutkan belanja, menuju warung seorang wanita penjual buah. Minggu lalu aku membeli di sana, ia mengenaliku (yang tak bisa berbahasa negara setempat), dan menawarkan mangga. Aku kemudian membeli beberapa jenis buah, tapi hari ini tak ada rambutan seperti minggu lalu. Wanita itu membantuku menutup tas belanjaan yang sobek lakban (Klebeband). Walaupun ada beberapa barang yang terlupa aku beli, tetapi tas belanjaanku penuh juga.

Kadang kejadian tak terduga bisa menimpa kita tanpa mengenal waktu dan tempat. Mungkin benar yang dikatakan seorang temanku di negeri Sakura sana, “Situasi yang tak mengenakkan sering terjadi ketika kita sedang bosan, resah, galau, ataupun perasaan tak nyaman lainnya”.

Beijing, 05 September 2011

 

Terima kasih untuk redaksi dan sahabat Baltyra yang telah mampir membaca.

Salam hangat dari negeri yang banyak Apek Latang-nya.

 

 

154 Comments to "Raib"

  1. HennieTriana Oberst  22 September, 2011 at 09:04

    Meita, makasih banyak biar telat tapi sudah mampir.
    Teledor gitu ya? hehehe…banyak harta benda yang raib tapi karena kelupaan ya.
    Ngerti gimana situasinya. Karena kakak iparku sangat teledor sekali, malah pernah keluar rumah nggak bawa kunci, begitu pulang nggak bisa masuk rumah karena terkunci.

  2. Meitasari S  21 September, 2011 at 14:30

    Mb heni, telat baca nih. Ha ha aku sering sleder. Naruh apa2 lupa. Jadi raibnya bukan krn diambl xixi parah dah!

  3. HennieTriana Oberst  20 September, 2011 at 19:43

    Lani, jadi kapan lagi dirimu menjadi patung hidup dan aktiv? [rahasia ya? ]

  4. Lani  20 September, 2011 at 14:14

    ya…..ya……ya……..betooooool banget Hen……bukan patung kaku dingin, tp ini hidup, aktif dan sgt fanasssss…….kkkkkkk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.