Balita dan Teknologi

Juwita Setiono – Sydney

 

Ketuk… Serr… Serr…

Minggu lalu saya ada janji dengan teman-teman untuk acara makan malam. Kami janji untuk bertemu di restoran pukul tujuh malam.

Saya sudah pesan tempat karena restoran ini biasanya ramai. Kurang sepuluh menit saya bersama teman-teman  sudah sampai dan siap memesan makanan, tetapi seorang teman bersama keluarganya belum datang. Saya kirim pesan singkat SMS, “Di mana?” tetapi tidak mendapatkan jawaban.

Lewat lima belas menit kemudian teman saya datang bersama suami dan anaknya. Sambil meminta maaf karena terlambat, teman saya langsung duduk di sebelah kursi khusus untuk anak kecil yang sudah disiapkan.

Teman saya ini memang ‘superMum’, dengan gesit tas berisi keperluan anaknya sudah digantung di senderan kursi dan Icha sudah duduk manis di kursinya. Segera saja Icha menjadi pusat perhatian, “Icha lucu… rambutnya ikal”, “Icha pakai baju baru ya?” Sedangkan saya lebih memilih untuk bertanya kepada ibunya, “Kok SMS-ku nggak dibalas?”

Jawaban teman saya singkat, “iPhone-nya dipinjam Icha.”

Saya pikir anaknya sedang akan tumbuh gigi, jadi perlu sesuatu untuk digigit-gigit dan iPhone menjadi salah satu korbannya.

Ternyata saya keliru.

Ketika kami semua sedang sibuk memilih menu makanan,  Icha tetap duduk manis sambil sibuk dengan iPhone milik ibunya. Bukan sedang menggigit iPhone, tetapi sedang asik menekan ‘touch screen’ dan menggesernya, serr… serr…

Technology skills vs Life skills

Menjaga supaya anak-anak  anteng, duduk manis dan tidak cepat bosan memerlukan tak-tik tersendiri.

duduk diam sementara saya mengerjakan pekerjaan rumah.

Jaman sekarang, ibu yang super sibuk mendapat lebih banyak pilihan. Komputer, tablets dan smartphones bisa ‘menjaga dan menemani’ anak-anak.

Mungkin ada sebagian orangtua yang tidak suka melihat anak kecil menggunakan komputer. Alasannya adalah karena membuat anak-anak kehilangan kesempatan berinteraksi dengan orang lain atau tidak ada waktu untuk melakukan aktifitas di luar rumah.

Menurut saya sebaliknya. Di komputer banyak aplikasi yang bersifat mendidik, buku elektronik yang bisa di-download dan program lain yang berguna bagi anak-anak.

Kadang  kita dengan mudahnya menyalahkan Teknologi.

Saya membaca satu hasil riset tentang “Technology Skills vs Life Skills”. Riset ini ditujukan kepada 2200 orangtua yang mempunyai anak berusia 2 – 5 tahun dari berbagai negara, seperti: Amerika, Canada, Inggris, Jerman, Italia, Spanyol, Jepang, Australia dan New Zealand.

Hasil riset tersebut mengatakan bahwa:

  • Lebih banyak anak-anak yang pandai bermain game di komputer(58%) dibandingkan dengan yang pandai bersepeda (43%)·
  • Lebih banyak anak-anak yang pandai bermain dengan aplikasi smartphones (19%) dibandingkan dengan yang pandai mengikat tali sepatunya (9%)·
  • Lebih banyak anak-anak yang pandai membuka ‘web browser’ (25%) dibandingkan dengan yang pandai berenang (20%)

Riset ini mengatakan bahwa teknologi menjadikan anak kurang terampil, membatasi kemampuan anak untuk bersosialisasi dan berkomunikasi.

Jadi bagaimana? Mau disembunyikan saja komputer di rumah?

Menurut saya, balita yang mahir menggunakan komputer, tablets dan smartphones justru sedang berkomunikasi dengan cara yang orangtua tidak mengerti. Seperti saya yang kalah set dengan Icha karena tidak pandai menggunakan iPhone.

Menurut penuturan ibunya, Icha pandai ‘ketuk… serr… serr…’ di iPhone versi terbaru mencari aplikasi yang dia sukai. Foto Album adalah ikon yang paling sering dibuka karena di sini Icha bisa melihat koleksi foto dan videonya. Ikon lain yang disukai adalah Tap Mall, di sini dia bisa gonta-ganti avatar mami, “dari straight hair blonde hingga kulit hitam geseng keriting mata hijauuuu”/quote: Mami-nya Icha.

Games Cooking Mama, Cave Bowling, ABC Kids, Talking Tom, Tiki Totems dan CBeebies adalah aplikasi kesukaannya. Sudah level advance lho… Bahkan Google Earth juga sering diamati. Mungkin mau mencari taman di dekat rumah supaya bisa pergi bermain kejar-kejaran.

Tentu saja orangtua Icha mengerti untuk membatasi waktu. Tidak lebih dari sepuluh menit Icha diijinkan menggunakan iPhone. Tetapi ini pun bisa dinegosiasikan, misalnya kalau sedang bepergian makan malam di restoran, iPhone bisa menemani selama acara makan malam berlangsung. Jadi situasi win-win. Orangtua bisa makan dan mengobrol dengan nyaman dan anak tidak merasa bosan dan lari-lari mengganggu tamu lain.

Teknologi sangat pesat kemajuannya, kenapa mesti ditakuti dan dihindari?

Bagaimana menurut rekan Baltyra?

Salam,

Juwita

 

19 Comments to "Balita dan Teknologi"

  1. Handoko Widagdo  16 September, 2011 at 19:53

    Udah aku email Mbak Juwi ya

  2. rya  16 September, 2011 at 16:15

    Yap kenapa mesti takut dengan teknology pengenalan teknology dini ke anak tidak jadi masalah selama ada kontrol orang tua. Si ray udah bisa buka cetat cetot bb umienya liat gambar n gaya-gayaan nelpon. Tapi tu dia kalau umienya buat dia kesel tu bb dilempar dah….

  3. Juwita  16 September, 2011 at 16:00

    Imeii: iyaa… baru 15 bulan udah pinter iPhone-an
    JC: huahaha…
    JL: kabar apik2 di sini, di sana juga yaa…
    Phie: iya, phie… lumayan buat babysitting sebentaran sementara kita repot ya
    Ibu Nunuk: terima kasih senandungnya. Ada satu versi lagi yang saya suka, yang nyanyi Chrisye. Ohhh, jadi inget jaman ada ‘diskette’ yang cuman 2MB, hahaha…
    Pak Handoko: email me, please ([email protected]) ada yang perlu dibicarakan, halaah.. Teyi bisa terima pesanan lewat iPhone loh, hahah…
    Pak Djoko: cucu pak Djoko suka main game di komputer nggak ya?
    Hennie: ya tergantung keperluan saja…
    Lani: menurutku everything in moderate is okay saja
    Reca: dan perlu dibatasi waktunya yah
    Dewi: wah bagus begitu…
    T.Moken (perempuan): lahh… perlu dituliskan (perempuan), hihihi…
    Imeii: hahaha… sama dong, aku di rumah juga kadang chat online, hehehe….

  4. Imeii  15 September, 2011 at 22:07

    masing2 orang tua punya kebijakan sendiri, kuperhatikan anak2 adikku, satu ponakanku di Indonesia umur 7 tahun sudah main FB (punya akun sp 3 ‘hebat’ ), upload foto, main games di FB, juga fasih ber BB ria (Blackberry), 1 hal yg kuacungin jempol adalah anak itu pinter dan lancar mengenal huruf, sedangkan ponakanku yg di US, umur 7 tahun juga, tidak diijinkan main BB mamanya (kayaknya anaknya juga tidak tertarik untuk main), laptop boleh dipakai hanya utk games yang sudah ditentuin mamanya, itu juga paling lama 30 menit, kegiatan hariannya baca buku, bikin PR, main dengan mainannya, sepedaan kalo cuaca memungkinkan, dance class dan lainnya, sering juga play date ama temen2 seumurnya..

    kalo kulihat anak2/orang2 sekarang, lebih asyik dengan tehnology canggih (phone, tablet, ipad dan lainnya) dari pada bersosialisasi nyata, seperti tenggelam dalam dunia autism, kuakui juga, kami berdua kadang juga diam berjam2 dalam kamar study, masing2 sibuk dengan komputer sendiri, kadang malah saling toel liwat chat box, hehe

  5. T.Moken (perempuan)  15 September, 2011 at 22:01

    Mainan canggih untuk anak-anak balita. Apalagi warna warni berganti gambar , tentunya menyenangkan bagi Balita dan melatih fine motor skills anak-anak.

    Bagus juga seperti Chiara yang mainannya sama seperti anak-anak saya dulu: naik sepeda, main pasir, ayunan dsbnya di taman anak-anak.

    Teman-teman saya begitu ngeri melihat kemajuan teknologi saat ini.

    Thanks Juwi liputannya.

  6. Dewi Aichi  15 September, 2011 at 20:51

    Ngakak dengan komen JC nomer: 2 ha ha….kasihan deh Lani…ditimpuk sana sini ha haa…..

  7. Dewi Aichi  15 September, 2011 at 20:48

    Juwi…..aku setuju dengan inti tulisan ini. kita tidak bisa menghindari perkembangan jaman, dan jaman memang harus berkembang kan…masa mau sama saja kan tidak mungkin, tubuh manusia juga berkembang..entah meninggi atau melebar he he

    Yang penting kan dalam menyikapi perkembangan itu kita yang harus bijak. Dan anak-anakpun demikian, kalau aku sih stel kendo istilahnya…ya dikenalkan, ya diawasi, ya diajari, ya didampingi…

    Anakku seimbang, ngga gagap bergaul, malah gampang sekali beradaptasi, olah raga dan bersepeda juga oke..mau dikampung atau dikota juga oke…main game oke..semua masih dalam batas…..aman terkendali…

    kalau butuh info…sudah bisa cari di inet…kalau ngga bisa paling teriak teriak…mamaaaa….atau papaaaa….

  8. Reca Ence Ar  15 September, 2011 at 19:44

    betul sekali mba Juwita, ga usah di takuti
    mungkin perlu didampingi
    …….
    salam bahagia

  9. Lani  15 September, 2011 at 14:14

    AKI BUTO : woalah…..ketemu suhu ediaaaaaaan…….bayi dibandingkan dgn nenek2…..jelasssss bedaaaaaa. hahahah……tp asli aku gaptek, ora opo2 drpd kakehan macem2 malah tambah stress……

    ttg tehnology mmg ndak bs dihindari, cm hrs dibatasi penggunaannya/dikontrol buat anak2, yg dikuatirkan dampak buruknya……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.