Fiji: Mencari Rasa Sunda (1)

Cechgentong

 

Kebahagiaan yang luar biasa apabila tinggal di negeri orang adalah bertemu dengan saudara sebangsa dan setanah air karena akan banyak cerita dan kenangan yag dapat mengobati kerinduan pada kampung halaman. Hampir 3 bulan di Suva, Fiji saya hanya bertemu dengan teman-teman sekantor, orang Indonesia yang menikah dengan ekspatriat atau para ABK yang hanya bertemu kalau mereka mempunyai masalah kontrak kerja.

Banyak cerita yang berkembang kalau orang Indonesia yang ada di Fiji secara keseluruhan mencapai 200-an orang tapi jumlah tersebut masih dipertanyakan karena hampir sebagian besar orang Indonesia yang datang ke Fiji hanya sekedar transit karena kapalnya melakukan pemeliharaan di Suva ataupun beberapa orang Indonesia yang hanya mendapatkan kontrak untuk pembangunan gedung, resort atau lapangan golf sehingga belum banyak cerita atau pengalaman selama tinggal lama di Fiji kecuali yang bekerja di KBRI.

Selain kebahagiaan bertemu dengan orang Indonesia maka ada kebahagiaan lain yaitu makanan Indonesia apalagi makanan khas daerah di Indonesia. Sebagai orrang yang telah lama berkumpul dengan orang Sunda maka saya ingin mengetahui juga apakah di Fiji ada kumpulan orang Sunda yang bekerja lama di Fiji karena sebagian besar orang Indonesia yang bekerja sebagai ABK sebagian besar berasal dari daerah Jawa Tengah terutama Brebes, Tegal, Pekalongan dan sekitarnya.

Alhamdulillah dengan sedikit informasi maka saya memperoleh kabar kalau ada kumpulan orang Sunda yang telah tinggal lama di daerah Navua dan Nadi (baca; nan-di). Sebagian besar mereka telah lama tinggal selama 4 tahun ke atas. Pasti akan banyak cerita dan pengalaman yang tidak sedikit dari mereka yang bermanfaat bagi saya. Bermodalkan keberanian dan keterbatasan dana maka saya melakukan perjalanan ke Navua dan Nadi. Kok butuh keberanian ? Memang dari Suva ke Navua membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam dan 3 jam kalau ke Nadi (baca; nan-di) tetapi jangan salah karena banyak rumor yang berkembang kalau perjalanan memakai kendaraan umum di Fiji tidak aman. Tetapi dengan niat dan tekad yang bulat akhirnya saya berangkat sendirian juga layaknya seorang backpacker.

Kebetulan tanggal 22-25 April 2011 di Fiji libur nasional karena ada hari paskah (Good Friday) dan Monday Easter. Jadi panjang sekali hari libur (long weekend) sehingga saya harus memanfaatkan liburan tersebut untuk mengunjungi orang Indonesia rasa Sunda. Dengan berbekal nomor telpon seluler orang Indonesia di Navua dan Nadi maka saya berangkat dari Suva dengan menggunakan bus antarkota Suva-Nadi. Tidak seperti bus kota di kota Suva, kondisi bus antarkota sudah lebih baik karen asudah pakai jendela bahkan ada yang menggunakan air conditioning (ac) walaupun belum banyak dan dijadwal keberangkatannya (tiap 4 jam sekali).

Saya memutuskan untuk menggunakan bus antarkota biasa dengan ac alamnya. Waktu menunjukkan pukul 13.25 LT (local time). Pada saat itu saya diuntungkan oleh cuaca yang tidak terlalu panas karena sebelumnya kota Suva diguyur hujan dengan derasnya sehingga mengurangi rasa kepanasan sepanjang perjalanan. Perlu diketahui perjalanan dari Suva ke Navua membutuhkan biaya FJ$3,7 (sekitar Rp 18500). Saat itu bus penuh penumpang dan saya mendapatkan tempat duduk paling depan (kursi untuk 3 orang). Enakkah ? Hehehe tahu sendirilah sudah badan saya besar dapat di tengah diapit oleh 2 orang Fiji yang besar badannya 2 kali dari badan saya.

Tidak seperti di Indonesia ada sedikit tenggang rasa dalam memberikan ruang atau tempat duduk bagi orang berbadan besar. Orang Fiji seenaknya saja duduk santai tanpa memperdulikan apakah tempat duduknya muat untuk badan penumpang lain atau tidak. Ini lucunya karena saya tidak kalah akal dan diuntungkan oleh kondisi jalan di Fiji yang naik turun dan berkelok-kelok sehingga membantu saya mendapatkan tempat duduk yang nyaman walaupun berada di tengah hehehehe.

Satu jam perjalanan, akhirnya saya sampai di Navua. Sayangnya saya tidak sempat mengambil foto tentang suasana kota Navua karena pada saat itu hujan deras. Sekedar informasi, kota Navua mirip dengan kota kecamatan di Indonesia bahkan kota kecamatan di tanah air lebih besar dan ramai. Tetapi kota Navua dilengkapi oleh transportasi taksi yang selalu stand by untuk mengantarkan penumpang yang turun di terminal. Setelah turun, langsung saya telepon orang Indonesia yang tinggal di Navua. Ada 2 orang Indonesia asal Sunda dan telah lama bekerja di sebuah perusahaan Australia yang bergerak dibidang kontraktor dan pembibitan rumput untuk lapangan golf. Namanya Pak Uche (mekanik) dan Pak Aep (Mandor).

Foto-foto: dok.Cech

Kebetulan yang menerima saat itu adalah Pak Uche. Beliau menyarankan saya untuk menggunakan taksi dan katakan kalau saya mau pergi ke dam. Sesuai informasi yang saya dapat maka saya mengatakan demikian kepada supir taksi. Tetapi apa yang terjadi ? Sudah 5 supir taksi yang saya minta untuk mengantarkan ke dam tidak ada yang mau. Semuanya mengatakan kalau jalannya jelek dan rusak. Akhirnya saya telpon kembali Pak Uche dan mengatakan kalau tidak ada yang mau mengantarkan saya ke dam. Tiba-tiba beliau tertawa ngakak di ujung telpon sana. Kata beliau wajar saja kalau supir taksi tidak ada yang mau mengantarkan ke dam karena memang jalan menuju dam belum beraspal dan berlumpur. Rupanya beliau salah memberitahu saya seharusnya minta diantarkan ke Dahlia Back Road (Heritage Farming). Akhirnya beliau memutuskan untuk menjemput saya di terminal Navua. Dalam waktu 15 menit, sudah datang mobil SUV menjemput saya. Ternyata yang datang menjemput adalah Pak Aep.

Foto-foto: dok.Cech

Ternyata jalan menuju ke kamp Pak Aep dan Pak Uche tidak separah yang dibayangkan walaupun masih belum diaspal tetapi sudah mengalami pengerasan dengan pasir dan batu. Sebuah pemandangan yang menarik dan indah karena dikelilingi oleh bukit dan hamparan rumput liar yang dulunya pernah ditanam padi tetapi gagal karena ada faktor ketidak seriusan orang Fiji asli dalam menanam padi. Padahal di daerah tersebut, irigrasinya sangat bagus ditunjang oleh pembuatan dam yang besar di atas bukit. Akhirnya tidaklah heran kalau tanah produktif yang harusnya bisa ditanam oleh tanaman pangan, banyak dimanfaatkan oleh orang asing terutama Australia untuk dijadikan pembibitan rumput lapangan golf dan tambak udang.

dok.Cech

 

Akhirnya ketemu juga setelah 3 bulan (dok.Cech)

Sesampainya di kamp saya diperbolehkan untuk melihat-lihat pembibitan rumput lapangan golf. Dulunya banyak sekali orang Indonesia yang bekerja di sini tetapi satu per satu pulang ke Indonesia karena masa kontraknya telah selesai. Yang bertahan hanya Pak Uche yang sangat mumpuni dalam hal teknisi mesin-mesin berat dan Pak Aep yang punya pengalaman lama dibidang pembuatan lapangan golf baik di Indonesia, Australia dan Fiji.

Dan tanpa banyak buang waktu, menjelang sore saya minta diajak jalan-jalan ke dam. Akhirnya saya dibawa oleh Pak Aep ke dam yang terletak di atas bukit. Ternyata benar yang dikatakan oleh supir taksi kalau jalan menuju dam belum beraspal dan berlumpur. Kebetulan saat itu hujan turun rintik-rintik tetapi saya memaksakan diri untuk berangkat. Dan benar saja sesampainya di dam hujan turun dengan lebatnya. Walaupun hujan saya tetap semangat dan memanfaatk diri untuk mengambil foto di seputaran dam. Sayangnya foto diambil dengan kamera HP yang terbatas kemampuannya.

dok.Cech

 

Kabut di dam menjelang maghrib (dok.Cech)

 

Dam (dok.Cech)

 

Konon di sini banyak ikan yang jatuh dari dam (dok.Cech)

Setelah puas melihat-lihat areal dam dengan cuaca dingin dan badan masuk angin, Pak Aep mengajak saya kembali ke Kamp. Pada saat itu hari menjelang maghrib dan mereka menyarankan saya untuk menginap dan meneruskan perjalanan ke Nadi bersama mereka keesokan harinya. Akhirnya saya memutuskan untuk menginap di kamp semalam dengan ditemani oleh nyamuk-nyamuk yang berterbangan menyengat seluruh badan. Tetapi dengan fasilitas generator berkapasitas besar, kamp sepi yang hanya dihuni oleh 2 orang cukup terhibur dengan acara TV. Menjelang tengah malam, generator dimatikan dan waktunya untuk tidur. Dengan suara nyamuk yang menggelitik telinga, saya paksakan tidur dan berharap keesokan harinya mendapatkan suasana berkumpul dengan orang-orang Sunda yang ada di Nadi.

 

29 Comments to "Fiji: Mencari Rasa Sunda (1)"

  1. T.Moken (perempuan)  19 September, 2011 at 06:10

    Lani, iyalah udara panas. Pasti banyak pemandangan indah. Pada banyak yang pakai tank top. Di Hawaii, lebih ganas lagi kali. Wakakakak.

  2. cechgentong  17 September, 2011 at 14:42

    iya aja dech, betul ga Lan hahaha

  3. Lani  17 September, 2011 at 14:10

    T. MOKEN : jelassssssss banyak yg hanya berbikini ria……lah kan mirip di Hawaii…….ya kan kang Cech?

  4. cechgentong  17 September, 2011 at 12:31

    Terima kasih mas Handoko

  5. Handoko Widagdo  17 September, 2011 at 09:07

    Alkhamdullilah. Saya bersyukur mendengar bahwa dikau baik-baik saja.

  6. cechgentong  16 September, 2011 at 21:06

    baik, mas handoko. pusat gempanya jauh dari tempat saya.

  7. Handoko Widagdo  16 September, 2011 at 16:10

    Hi Cech, tadi aku lihat di running text TV Indonesia, katanya da gempa besar di Fiji (7,3 skr). Bagaimana khabarmu? Baik-baikkan? Saya berdoa untukmu.

  8. cechgentong  16 September, 2011 at 15:58

    T Moken, ya sih tapi di resortnya kalo di kotanya kebanyakan tank top aja hahahha

  9. T.Moken (perempuan)  16 September, 2011 at 09:41

    Wah, Cech enak ya; udaranya sama dengan di Indonesia. Pasti banyak turis yang seperti di Hawaii, berbikini ria. hahahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.