Bertanam Bawang Putih

Handoko Widagdo – Solo

 

Mengapa bisnis di sektor pertanian Indonesia tidak terlalu bisa berkembang? Pengalaman nyata saya sebagai petani bawangputih berikut ini bisa menjadi contoh pelajaran mengapa bisnis sektor pertanian kurang berjalan.

Pada akhir tahun 1986 saya menjadi petani. Dengan sisa uang kredit mahasiswa, saya bergabung dengan dua teman untuk bertanam bawangputih di Tawangangu. Saat itu sedang ada kebijakan pelarangan import bawang oleh pemerintah pusat. Pemerintah bahkan membuat proyek percontohan swasembada bawangputih di Gunung Kidul. Program percontohan ini mendapat liputan yang hingar bingar oleh press, terutama Suara Merdeka dan Kedaulatan Rakyat. Keberhasilan semu penanaman bawangputih dataran rendah varietas ’lumbu putih’ demikian gencar diberitakan, sehingga euforia bertanam bawangputih menjadi demikian masif.

Tawangmangu sebagai lokasi tradisional bertanam bawangputih juga menjadi sasaran peminat bisnis baru ini. Sebelum kebijakan swasembada bawangputih dicanangkan, Tawangmangu sudah dikenal sebagai wilayah penanaman bawangputih, yaitu bawangputih lokal yang disebut sebagai Bawang Jawa. Bentuknya kecil-kecil tetapi rasanya lebih pedas daripada bawangputih import.

Saya, bertiga dengan teman-teman fakultas pertanian menghimpun modal sebesar Rp 700.000 dan ikut bertanam bawang. Kami membeli bibit bawangputih varietas lumbu hijau dan bekerjasama dengan petani. Petani menyediakan lahan dan tenaga, kami menyediakan bibit, pupuk, pestisida dan teknologi. Hasilnya 2/3 untuk mai dan 1/3 untuk petani.

Saya mendapat untung luar biasa di musim pertama. Bagaimana tidak, harga bibit hanya Rp 2.000, sementara harga jual sampai Rp 12.000. Sejak itu kami bertiga terus mengembangkan bisnis bertanam bawangputih. Kami sampai harus bergiliran untuk KKN karena mengurus bawangputih. Dalam waktu dua tahun, modal Rp 700.000 menjadi Rp 50 juta. Jumlah Rp 50 juta tersebut bukan dari keuntungan semata, tetapi juga dari modal teman-teman yang tertarik untuk bergabung. Suntikan modal dari kawan-kawan ada sekitar Rp 20 jutaan. Artinya keuntungan kami masih tetap bombastis. Saya bahkan bisa membeli sepeda motor Binter Merzy 200cc dan membayar biaya sekolah adik saya.

Bisnis pun berkembang. Musim berikutnya luasan lahan bawangputih kami mencapai 5 ha. Belum lagi lahan kentang dan cabai. Kami memiliki dua gudang. Satu gudang di Dusun Karang, Desa Karangpandan dan satu lagi ada di Desa Beruk, Kecamatan Jatiyoso. Kedua gudang ini penuh.

Kesuksesan bertanam bawangputih membuat saya tidak tertarik pada tawaran sebagai pegawai negeri. Saat saya lulus dari fakultas pertanian, saya ditawari oleh dosen pembimbing untuk menjadi staf peneliti hama dan penyakit padi di Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi. Pembimbing saya menawarkan beasiswa untuk meneruskan S2 di UGM jika saya mau. Tetapi keuntungan bisnis bawangputih membuat saya sama sekali tidak tertarik untuk menjadi pegawai negeri, apalagi sebagai peneliti.

Keruntuhan itu datangnya tiba-tiba. Ketika pemerintah pusat membuka kran import bawangputih, harga bawangputih langsung anjlog. Pemerintah memang hanya memberikan ijin import kepada satu perusahaan, yaitu Mercu Buana. Namun akibat dibukanya kran import ini membuat bawangputih lokal tidak bisa bersaing. Saat itu saya sedang panen raya dengan hasil yang sangat bagus. Bibit yang saya tanam berharga Rp 12.000 – Rp 14.000.

Dengan bangga saya bawa dua truk bawangputih ke Pasar Legi di Solo. Tapi bawangputih kami hanya ditawar Rp 1.500 per kilinya. Saya putuskan untuk membawanya ke pasar Johar di Semarang. Tapi harga yang kami terima malah lebih rendah, yakni Rp 1.000 per kilonya. Maka hancurlah bisnis kami dalam sekejap. Sisa uang ditangan saat itu tinggal Rp 9 juta. Para pemilik modal segera saja menarik modalnya. Jadilah kas kami hampir kosong. Dalam kondisi yang demikian saya memutuskan untuk mengakhiri kerjasama dengan kawan-kawan dan mencari pekerjaan lain. Hanya satu teman yang melanjutkan bisnis bertanam bawangputih ini.

Dari kasus tersebut saya berkesimpulan bahwa persoalan utama bisnis hortikultura di Indonesia adalah tidak ajegnya kebijakan. Persoalan teknologi budidaya bukanlah masalah utama. Perubahan kebijakan yang tiba-tiba membuat bisnis di sektor ini menjadi penuh ketidak-pastian.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

77 Comments to "Bertanam Bawang Putih"

  1. syam  20 March, 2013 at 09:04

    tanya, om!
    dimana saya bisa dapat benih bawang putih yang diceritakan di artikel ini?
    trims.

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  15 March, 2013 at 13:09

    Saya tidak setuju bawang putih digantikan dengan bumbu dapur lainnya… Bawang putih tetap bawang putih.

    Jadi jelas bahwa ketidakaturan harga komoditi ini lebih disebabkan oleh masalah kebijakan birokrasi dan bukan masalah budidaya atau telnologi holtikuktura. Saya beberapa waktu lalu mendengar wawancara Radio Elshinta dengan mantan Menteri Pertanian era Megawati Pak Apriantoro.

    Intinya, kita tidak bisa menjadi nasionalistik hanya mengaku sebagai negara agraris. Setiap negara membutuhkan kram impor untuk kebutuhannya. Jangan kira Thailand bukan sebagai negeri pengimpor bahan-bahan pertanian..

    Petani kita hanya butuh harga yang wajar. Bila harga komoditi mereka tinggi, akan memacu inflasi. Sebaliknya bika harga mereka ditetapkam sangat rendah, ya kasihan juga.

    Jadi, hargai dan beli produk-produk pertanian kita dan ini yang penting: GANTI SBY DAN JANGAN PILIH PARTAI DAN AFILIASINYA APAPUN UNTUK PILKADA! PILPRES ATAU PILKADUT.

  3. Handoko Widagdo  15 March, 2013 at 12:51

    Yang bisa dilakukan adalah mengganti bawang putih dengan bumbu lainnya.

  4. Dyah  15 March, 2013 at 10:24

    Apa yang bisa kita lakukan????

  5. Handoko Widagdo  14 March, 2013 at 15:42

    DT dan Andi, susahnya menjadi petani hortikultura di Indonesia.

  6. andi  14 March, 2013 at 13:39

    pemerintah kita memang aneh bukannya menggalakan pertanian rakyat malah menggalakan import pengusaha, masa cuma bawang saja kita mesti import seperti kita tidak bisa tanam sendiri. kalo komponen mobil atau pesawat kita import untuk sementara kita orang indonesia bisa maklum, tapi kalo bawang dan produk pertanian yang kita import itu mah kurang ajar.

  7. DT  12 March, 2013 at 22:08

    tetap budidayakan tanaman terutama tanaman pangan agar dapat mengurangi impor… sekarang aja tpatnya maret 2013 harga bawang putih per kg mencapai Rp. 55.000.00 di Semarang…

Terima kasih sudah membaca dan berkomentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)