Dari Cinta Lokasi Hingga Petisi

Ana Mustamin

 

UNTUK menulis ini, saya harus ekstra keras mengumpulkan serpih ingatan. Memori saya tidak terlalu bagus. Pertautan dengan Surat Kabar Kampus “Identitas” sudah lama sekali. Hampir dua dasawarsa. Saya mulai familiar dengan sudut-sudut Percetakan Sulawesi –tempat Identitas di-lay out dan dicetak, ketika menginjak semester 2 di Universitas Hasanuddin. Saya masuk boks redaksi (kalau tidak salah) di semester 3 – tahun 1987.  Entah tahun berapa terdepak. Mungkin 1990, atau 1991. Tapi, itu tidak terlalu penting. Karena saya – dan mungkin semua yang pernah menjadi bagian dari keluarga kecil (atau besar?) Identitas, selalu merasa namanya abadi tertulis di boks redaksi.

Padahal, kalau mau jujur, saya harus bilang bahwa saya tidak melakukan banyak hal untuk koran kampus yang banyak melahirkan jurnalis dan penulis kawakan dari Indonesia Timur ini. Kontribusi tulisan saya di Identitas bisa dihitung dengan jari. Sepanjang 1986-1990, tahun-tahun dimana saya tercatat sebagai mahasiswa Unhas, saya memang produktif menulis. Tapi tidak untuk konsumsi Identitas. Saya mungkin satu-satunya redaktur yang tidak memiliki tanggung jawab rubrik dan tidak pernah mendapatkan penugasan untuk meliput apa pun. Tulisan saya di Identitas lebih banyak berperan sebagai ‘pelengkap penderita’ – ditulis untuk mengisi halaman yang masih blank – terutama untuk rubrik fiksi, sementara deadline sudah di depan mata!

Apa yang  menarik dari Identitas? Sulit dirumuskan. Identitas adalah magnet. Magnet itu mulai menarik-narik saya saat duduk dibangku kelas 1 SMA. Ketika itu, 1983, Kak Karman (Sukarman Mustamin) – abang sulung saya baru pulang dari diklat jurnalistik yang digagas Identitas bekerjasama dengan Deppen dan PWI. Sebagai seseorang yang mencintai dunia kepenulisan sejak di bangku SD, kompilasi tulisan materi diklat yang dibawanya tampak demikian menawan. Saya melahap buku berwarna daun itu sampai lecek.

Saya akui, saya haus teori. Teori seperti kotak rahasia,  membuncahkan rasa penasaran. Karena saya penulis otodidak. Memang menulis butuh aturan? “Iyalah, menulis ada aturannya!” kata Kak Karman. Saya protes dalam diam. Ketika itu, saya pengidap ‘megalomania anak ingusan’. Saya menulis di koran sejak kelas 4 SD – tidak pake’ teori! Saya pernah mengisi 1 halaman penuh Harian Mimbar Karya dengan artikel dan cerita anak-anak tanpa secuil editing pun – saat masih kelas 5 SD.  Saya mulai menulis di majalah remaja saat duduk di bangku SMP. Saya bahkan sudah memiliki seorang ‘penggemar’ bernama (alm) AR Syam Mattola – seorang wartawan di Harian Fajar, yang dengan telaten bersurat-suratan dengan saya dan mengoleksi semua tulisan saya di media – ketika saya belum lagi berstatus mahasiswa. Memang menulis ada aturannya?

Nyatanya, saya merasa sangat bodoh sekaligus terkagum-kagum membaca buku hijau itu. Buku itu  menjadi semacam ‘kitab suci’ sehingga saya nyaris menghapal semua isinya. Bersamaan dengan itu, nama “Identitas” masuk dalam memori bawah sadar saya. Saya hapal nama Sinansari ecip, Anwar Arifin, Zohra A. Baso, Dahlan Abubakar, Baso Amir,  Rudy Harahap, Iqbal Latief, Tasman Banto, Zakaria Sasilia, Rusdi Maidin, Ruslan Saad, Moelawarman dan sederet nama yang tertera di bagian belakang kompilasi tulisan itu (dan kelak saya pergoki di boks redaksi Identitas), seperti saya menghapal nama-nama teman sekolah saya. Rasa-rasanya, saya mulai terobsesi dengan nama Identitas, dengan para pengelolanya – bahkan sebelum bertemu dengan orang-orangnya.  Sebegitu kuatkah magnet Identitas?

Ya. Karena keinginan pertama saya ketika masuk Unhas, mengekor jejak Kak Karman: mengikuti diklat jurnalistik Identitas. Saya ingat, instukturnya waktu itu Kak Dahlan Abubakar, Kak Rudy Harahap dan Kak Baso Amir.  Dan seperti saya duga, tidak ada yang terlalu istimewa, meski saya dikukuhkan sebagai peserta terbaik. Materi diklat nyaris semuanya di luar kepala saya, sehingga tidak ada kejutan.  Yang mengejutkan justru seusai diklat itu.  Nama saya sudah bertengger di boks redaksi Identitas: sebagai salah satu redaktur – bukan reporter! Satu-satunya cewek pula!

Segera setelah itu, hari-hari merah jambu (ini istilah  Hasymi atau Judy Rahardjo?) mulai membentang di depan mata. Bukan sebagai redaktur yang sibuk. Tapi sebagai seorang ‘perawan di sarang penyamun’ – karena saya satu-satunya makhluk perempuan di Identitas.  Asal tahu aja, saya sempat terlibat ‘cilok’ (cinta lokasi) dengan sesama awak Identitas (haha …, saya rasa sih banyak angkatan berikutnya yang ngekor!)).  Yang manis dari romansa ini, tentu saja, ketika dituntut menjadi istruktur diklat jurnalistik yang ‘profesional’ di depan anak-anak SMA di Pare-pare persis ketika hubungan cinta itu diamuk badai! Saya masih ingat bagaimana galaknya Kak Moel berusaha mendamaikan kami. Wakakak …

Saya – yang masuk ke Identitas tidak serombongan (sehingga tidak memiliki angkatan) juga menjadi saksi bagaimana suksesi berlangsung secara tenang di Identitas – dari angkatan kak Moel dkk, angkatan Asdar-Riri dkk, hingga angkatan Gobel-Lily dkk. Di antara itu, pernah hadir pula seorang srikandi bernama Lia – tidak lama berselang setelah saya direkrut, namun tidak sekalipun saya jumpai sosoknya di rapat redaksi.

Tiga (atau empat?) tahun di Identitas, tidak banyak yang saya kenang jika itu menyangkut kerja redaksi. Paling-paling ‘pertikaian kecil’ dengan Asdar karena si Paman Gembul ini doyan bener mencabut tulisan orang lain yang sudah masuk lay-out. Seperti saya singgung sebelumnya, kontribusi tulisan saya tidak banyak. Yang banyak justru frekuensi berbicara di depan peserta diklat jurnalistik mahasiswa. Dulu, waktu pertama kali menyusun curriculum vitae setamat kuliah, saya sempat me-record diklat jurnalistik di mana saya berbicara dengan hanya 1 topik, “Mengapa dan Bagaimana Saya Menulis!”.  Jumlahnya ternyata tidak kurang dari 50 peristiwa hanya dalam tempo kurang dari 4 tahun!  Terlepas dari kiprah saya menulis jauh sebelum masuk Identitas, harus saya akui bahwa record itu ada lantaran saya menjadi bagian dari keluarga Identitas! Jika tidak, siapa peduli dengan nama “Ryana Mustamin”?

Menjadi kerabat kerja Identitas seumpama pemilik sejumlah passport. Tidak terbatas pada kesempatan jalan-jalan gratis ke berbagai kampus di Indonesia untuk aktivitas berlabel “Temu Aktivis Penerbitan Kampus”. Yang berkesan bagi saya justru ketika akan menyusun tugas akhir kuliah. Saat itu, Prof Anwar Arifin yang menjadi pembimbing skripsi saya menantang agar saya mencari pembimbing II di Fakultas Ekonomi. “Harus lintas fakultas!” ujar si Prof, lantaran usulan skripsi saya menuntut analisis statistik yang lumayan banyak. Jadilah saya menyeberang ke FE.

Apa lacur, ruang tunggu dekan FE (yang saat itu dijabat DR. Karim Saleh – belakangan saya tahu pamannya Lily) sudah dipadati tamu. “Kalau mau tunggu, silakan. Tapi mungkin sangat lama sekali,” kata perempuan yang mungkin sekretarisnya, tanpa menoleh. Duh, sampai kapan?

Tanpa membuang waktu, saya bergegas mencari ruangan terdekat yang memiliki pesawat telepon. Saya bicara langsung dengan Pak Karim. “Maaf, Bapak. Saya Ana, dari Identitas. Saya ingin mewawancarai Bapak terkait dengan rencana FE untuk menyelenggarakan ujian sarjana akuntansi untuk pertama kali.”

“Kapan? Hari ini tamu saya banyak sekali!” suara di seberang terdengar datar.
“Tapi Identitas deadline siang ini!”
“Kalau begitu, sekarang saja. Bilang pada sekretaris di depan!”

Apakah Anda akan mendapatkan privilege ini andai bukan sebagai wartawan Identitas?

Karena Identitas pula, saya memiliki kenangan terkait dengan rencana sidang skripsi saya yang hampir buyar.  Waktu itu awak Identitas ramai-ramai ikut menandatangani petisi wartawan Makassar untuk memboikot pemberitaan tentang Unhas. Masalahnya terkait dengan tindak kekerasan fisik yang dilakukan salah seorang oknum dosen di Fisip terhadap Kak Dahlan Abubakar – wartawan Pedoman Rakyat yang notabene Pemred Identitas. “Selesaikan dulu masalahmu, baru maju ke sidang!” suara Prof Anwar dingin.

“Tapi apa hubungannya?” sergah saya. “Ujian ini dalam kapasitas saya sebagai mahasiswa komunikasi. Petisi itu dalam kapasitas sebagai wartawan!” Tapi Si Prof tak bergeming.

“Kalau begitu, gantian Prof Anwar kita demo!” Kak Moel menyeru lantang.

Oalah. Segenting itukah masalahnya? Tapi saya ‘perayu’ yang baik. Suara saya yang dibayar bertahun-tahun oleh pemilik radio di Makassar, sanggup meluluhkan kebekuan hati Prof Anwar dan mendinginkan kompor Kak Moel. Maka, jadilah sidang skripsi saya berjalan mulus dan bening.

Saat ini, kenangan dengan Identitas mungkin sudah banyak yang lamur. Teman-teman senasib-sepenanggungan saya dulu entah dimana rimbanya kini. Tapi ada yang saya harapkan abadi. Hingga detik ini saya masih mewarisi ilmu dari Identitas dan menurunkannya ke staf saya di kantor tentang bagaimana menulis berita yang baik untuk mengisi majalah korporat kami. Di luar itu, tentu, saya sangat berharap bahwa kerabat kerja Identitas tetap utuh sebagai sebuah keluarga – tidak peduli di mana pun para awaknya kini berkiprah. Identitas akan tetap ada – paling tidak di lanskap memori dan hati kita masing-masing. Sampai kapan pun.

Dirgahayu Identitas. ***

(Untuk menandai HUT ke- 34 Suratkabar Kampus “Identitas”, Universitas Hasanuddin; dan mengenang Almarhum Rudy Harahap, Sakaria Sasilia, dan semua yang pernah dan sedang berkiprah di Identitas.

 

10 Comments to "Dari Cinta Lokasi Hingga Petisi"

  1. ullman imam chudory  12 November, 2011 at 11:32

    Ternyata ada nama yg gag asing buatku dstu. Alm. Sakaria sasilia, beliau adalah ayahku. I miss him so much

  2. ana mustamin  20 September, 2011 at 13:41

    @dewi: mbak dewi, saya juga gak nyangka bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang dulu menggandrungi tulisan saya waktu masih remaja. yang bikin saya gak habis pikir, ada yang bahkan masih menghafal 1 paragraf pembuka cerpen yang saya tulis lebih dari 20 tahun lalu… padahal saya sendiri lupa. hehe. menulis memang menyenangkan. umurnya panjang. lebih panjang dari kisah cinlok saya, bahkan mungkin lebih panjang dari usia saya…

    @all: terima kasih yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. kisah ini ditulis – kalo gak salah – 3 tahun lalu…

  3. Dewi Aichi  17 September, 2011 at 07:10

    mba Ana….menengok kiprah mba Ana di masa lalu, bahkan sejak SD tulisan tulisan mba Ana sudah berkibar…tidak heran jika sekarang mba Ana seperti ini…sungguh ciamik, keren, ibu yang hebat….salut untuk mba Ana…senang bisa berinteraksi dengan mba Ana…yang dulunya hanya selintas mengenal nama lewat Anita Cemerlang….bersama Kurnia Effendi….senang…… bisa berinteraksi, Kurnia Effendi sendiri bilang, ngga nyangka, sekarang bisa bertegur sapa dengan para pembaca tulisannya di Anita Cemerlang dulu….AC memiliki banyak kenangan….saling pinjam teman he he..

  4. J C  17 September, 2011 at 06:05

    Hhhhhmmmm…jauh bener sampai Unhas…hehehe…ikut baca saja dan menyimak…

  5. Dj.  17 September, 2011 at 01:08

    Hhhhhmmmmm….
    Univ. Hasanuddin….
    Jadi ingat 1970 pernah turut meyumbang beberapa lagu dalam koor……
    40 tahun sudah berlalu….
    Ada satu keponakan Dj dan satu cucu yang lulus dari Univ. Hasanuddin jurusan Theolagy….
    Terimakasih untuk ciritanya…
    Salam,

  6. ana mustamin  16 September, 2011 at 16:54

    cinlok-nya ternyata gak sepanjang memori saya. hingga meninggalkan “identitas”, kami gagal didamaikan. hahaha….

  7. HennieTriana Oberst  16 September, 2011 at 14:28

    Sama seperti Pams, aku menunggu kisah cinloknya ya

  8. alfred tuname  16 September, 2011 at 14:19

    koran (kampus) menetaskan identitas dalam proses subjektivikasi individu. identitas itu pun adalah eksesnya dan cinlok adalah residu…. salam…

  9. Handoko Widagdo  16 September, 2011 at 14:04

    Koran Kampus selalu penuh dinamika. Apalagi jaman Orba

  10. [email protected]  16 September, 2011 at 13:44

    terus…. cinlok nya gimana?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.