Kretek

Amstrong Sembiring

 

Di Amerika Serikat, merokok tidaklah dilarang apalagi diberi label rokok mengganggu kesehatan ini dan itu. Hanya saja penjualan rokok diletakkan di tempat tertutup dari bagian supermarket. Jadi tidak dijual, secara vulgar terbuka. Pembelipun diminta menunjukkan KTP yang menggambarkan bahwa konsumen sudah berusia lebih dari 17 tahun. Di negara bebas, yang sangat menjunjung hak asasi manusia ini, seorang dewasa tidak dilanggar hak asasinya untuk menikmati rokok

Trend Rokok

Menurut catatan sejarah dari berbagai sumber, merokok pertama kali dilakukan oleh orang Indian penduduk asli Amerika untuk keperluan pemujaan dewa/roh. Setelah Benua Amerika dijelajahi orang Eropa, mereka mencoba menirukan orang indian menghisap tembakau dan membawanya sebagai lifestyle baru di Eropa. sejak saat itu bersamaan dengan penjajahan bangsa-bangsa Eropa ke seluruh dunia, rokok ikut tersebar pula ke seluruh dunia. Warga asli benua Amerika (Maya, Aztec dan Indian) mengisap tembakau pipa atau mengunyah tembakau sejak 1000 sebelum masehi. Kru Columbus membawanya ke “peradaban” di Inggris dan perdagangan tembakau dimulai sejak tahun 1500-an, terutama tembakau Virginia dan masih eksis hingga detik ini.

Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam.

 

Indonesia

Di Indonesia, menurut cerita, rokok kretek ditemukan di Kudus, Jawa Tengah, oleh seseorang yang bernama Djamari menjelang berakhirnya abad ke-19. Pada masa itu sudah menjadi kebiasaan pria ataupun wanita merokok. Tak banyak sumber yang mengatakan bagaimana profil Djamari sang penemu rokok kretek tersebut. Dikisahkan Djamari awalnya mengalami nyeri di dada, kemudian dia mengoleskan minyak cengkeh dan sakit di dadanya tersebut mulai berkurang, dan Djamari akhirnya mulai mencoba mencampurkan cengkeh pada racikan tembakau yang akan dirokok dan sakitnya bisa hilang.

Sembuhnya Djamari menjadi berita yang hangat dari mulut ke mulut, juga tentang resep barunya dengan menambahkan cengkeh pada rokok. akhirnya mereka menyebut resep Djamari dengan rokok kretek, karena ketika dibakar rokok dengan campuran cengkeh berbunyi “kreettekkkkrettteeekkk”. namun sayang penemu rokok kretek ini tidak banyak lagi meninggalkan kisah dan cerita hidupnya.

Selanjutnya dalam perkembangan masa-Nya, industri rokok di Indonesia  berkembang pesat, bahkan diperkirakan pendapatan pemerintah dari cukai rokok mencapai 27 Triliun. Padahal cukai rokok yang diterapkan di Indonesia adalah paling rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Namun tentunya rendahnya nilai cukai rokok tersebut, menyebabkan tingginya angka perokok di Indonesia yang diperkirakan mencapai 69% populasi pria.

Selain laris di pasaran dalam negeri, ternyata Industri rokok Indonesia dengan ciri khas “kretek“nya juga menjadi lahan devisa, karena mencapai pasaran di Eropa dan Amerika. dari tahun ke tahun ekspor rokok kretek ke eropa dan amerika menunjukkan angka yang cukup lumayan. Berapa tahun lalu, bulan Maret 2007 total ekspor rokok dan tembakau olahan Indonesia mencapai sekitar US$ 102 juta atau Rp 958,8 miliar. Sedangkan pada 2006 total ekspor rokok mencapai US$ 282,2 juta atau Rp 2,6 triliun.

Tembakau laksana madu sekaligus racun bagi Indonesia. Maklum, selain memberikan manfaat ekonomi yang tidak kecil, baik dirasakan oleh para petani, maupun kalangan industri rokok maupun penerimaan negara. Bahkan nilai ekonomi tembakau ini tergolong tidak kecil, sebab selain memberikan penerimaan negara dalam bentuk cukai juga mendatangkan devisa dari ekspor.

Rokok dengan segala dilematisnya merupakan pendapatan yang menggiurkan untuk negeri ini. bayangkan saja, di Indonesia, setiap bungkus rokok harus ada peringatan pemerintah akan bahaya kesehatan, kemudian untuk iklan rokokpun ada aturan khususnya, misalkan untuk tayang di televisi harus di atas jam 22.00 WIB, tak sampai di situ, konten iklan rokok tidak boleh menunjukkan seseorang yang sedang menghisap rokok. oleh karena itu banyak sekali iklan rokok di indonesia seperti “gak nyambung” dengan promosi produknya, namun tetap saja tak mengurangi konsumsi rokok oleh masyarakat, bahkan diperkirakan terus meningkat.

 

Ibu Kota

Tak berhenti di situ, Pemprov DKI juga mengeluarkan Perda tentang aturan merokok di ibukota, dengan ancaman hukuman yang lumayan ribet, meskipun pada akhirnya Perda tersebut seperti tak punya daya seiring berjalannya waktu.

Acara musik, Bahkan Acara olahraga  perusahaan rokok selalu menjadi ujung tombak untuk menjadi sponsor dan penyandang dana. Padahal olahraga adalah kegiatan yang kontradiktif dengan “dampak kesehatan” yang diakibatkan rokok itu sendiri.

Tembakau dalam rokok mengandung zat alkaloid nikotin, sejenis neurotoxin yang sangat ampuh jika digunakan pada serangga. Zat ini sering digunakan sebagai bahan utama insektisida. Dalam tubuh manusia,  neurotoxin tersebut memiliki kemampuan karsinogenterbatas yang menjadi penghambat kemampuan tubuh untuk melawan sel-sel kanker, akan tetapi nikotin sendiri meskipun dapat menyebabkan kecanduan sebenarnya tidak menyebabkan perkembangan sel-sel sehat menjadi sel-sel kanker.

Penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa 64,8 persen pria dan 9,8 persen wanita dengan usia di atas 13 tahun adalah perokok. Bahkan, pada kelompok remaja, 49 persen pelajar pria dan 8,8 persen pelajar wanita di Jakarta sudah merokok.

Selain itu, banyak faktor penyebab mengapa jumlah perokok cenderung  meningkat di negara-negara miskin dan di kalangan anak-anak. Promosi rokok di media massa cetak maupun elektronik maupun di luar ruangan dari hari ke hari semakin meningkat. Memang, sudah tidak kelihatan lagi sosok orang menyulut rokok di bibirnya, tetapi pengusaha rokok  tidak kehilangan akal. Mereka menggunakan pakar komunikasi  dan desain-grafis untuk mendesain iklan rokok yang ”aneh-aneh” sehingga hasilnya malah meningkatkan rasa penasaran anak-anak untuk merokok. Mulanya sekadar coba-coba kemudian kecanduan. Disebutkan, saat ini kebanyakan orang sudah mulai merokok sebelum usia mereka genap 18 tahun, bahkan hampir seperempatnya mulai menjadi perokok sebelum berusia 10 tahun.

 

Hasil Penelitian Hal Kesehatan

Merokok mengganggu kesehatan, kenyataan ini tidak dapat kita mungkiri. Banyak penyakit telah terbukti menjadi akibat buruk merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok bukan saja merugikan si perokok, tetapi juga bagi orang di sekitarnya. Asap rokok merupakan polutan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Bukan hanya bagi kesehatan, merokok menimbulkan pula problem di bidang ekonomi. Di negara industri maju, kini terdapat kecenderungan berhenti merokok, sedangkan di negara berkembang, khususnya Indonesia, malah cenderung timbul peningkatan kebiasaan merokok.

Sebenarnya pengaruh buruk dari merokok terhadap kesehatan telah diperkirakan sejak awal abad XVII (Encyclopedia Americana, Smoking and Health, p.70 1989). Namun demikian, rupanya perlu waktu hingga 350 tahun untuk mengumpulkan bukti-bukti ilmiah yang cukup untuk meyakinkan dugaan-dugaan itu.

Kenaikan jumlah kematian akibat kanker paru-paru yang diamati pada awal abad XX telah menggelitik dimulainya penelitian-penelitian ilmiah tentang hubungan antara merkokok dan kesehatan. Sejalan dengan peningkatan pesat penggunaan tembakau, penelitian pun lebih dikembangkan, khususnya pada tahun-tahun 1950-an dan 1960-an.
Laporan penting tentang akibat merokok terhadap kesehatan dikeluarkan oleh The Surgeon General’s Advisory Committee on Smoking and Health di Amerika Serikat pada tahun 1964. Dua tahun sebelumnya The Royal College of Physician of London di Inggris telah pula mengeluarkan suatu laporan penelitian penting yang mengungkapkan bahwa merokok menyebabkan penyakit kanker paru-paru, bronkitis, serta berbagai penyakit lainnya.
Melalui resolusi tahun 1983, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan tanggal 31 Mei sebagai Hari Bebas Tembakau Sedunia setiap tahun.

Laporan WHO tahun 1983 menyebutkan, jumlah perokok meningkat 2,1 persen per tahun di negara berkembang, sedangkan di negara maju angka ini menurun sekitar 1,1 persen per tahun.

Hingga tahun 1985 sudah lebih dari 30.000 paper tentang rokok dan kesehatan dipublikasikan. Sekarang ini tanpa ada keraguan sedikitpun disimpulkan bahwa merokok menyebabkan kanker paru-paru baik pada laki-laki maupun wanita. Diketahui juga bahwa kanker paru-paru adalah penyebab utama kematian akibat kanker pada manusia. Merokok juga dihubungkan dengan kanker mulut, tenggoroka, pankreas, ginjal, dan lain-lain.

Dalam penelitian yang dilakukan Prof Soesmalijah Soewondo dari Fakultas Psikologi UI-yang bertanya kepada sejumlah orang yang tidak berhenti merokok-diperoleh jawaban bahwa bila tidak merokok, akan susah berkonsentrasi, gelisah, bahkan bisa jadi gemuk; sedangkan bila merokok, akan merasa lebih dewasa dan bisa timbul ide-ide atau inspirasi. Faktor-faktor psikologis dan fisiologis inilah yang banyak mempengaruhi kebiasaan merokok di masyarakat.

Asap rokok yang dihirup seorang perokok mengandung komponen gas dan partikel. Partikel yang dibebaskan selama merokok sebanyak 5 x 109 pp. Komponen gas terdiri dari karbon monoksida, karbon dioksida, hidrogen sianida, amoniak, oksida dari nitrogen dan senyawa hidrokarbon. Adapun komponen partikel terdiri dari tar, nikotin, benzopiren, fenol, dan kadmium.

Demikian pula, dalam satu penelitian diungkapkan bahwa pencemaran udara akibat asap rokok sepuluh kali lebih besar dari pencemaran akibat mesin diesel. Salah satu point penting adalah dari asap yang dihasilkan oleh seorang perokok, 15% dihisap oleh perokok (aktif smoker) itu sendiri sedangkan 85% dihisap oleh orang disekitarnya (pasif smoker).

 

Dampak Lain

Dampak ekonomi dari merokok, misalkan jika di analisa dalam satu hari seorang perokok menghabiskan 1 bungkus rokok, anggap saja senilai Rp 10.000,00, maka dalam 30 hari dia menghabiskan Rp 300.000,00, dan dalam setahun bisa dibayangkan berapa yang harus dikeluarkan dan kemudian selanjutnya jika dia diilustrasikan menjadi perokok selama 25 tahun tentunya bisa dihitung dengan secara matematis.

 

Pro-Kontra

Terlepas dari itu semua, anehnya, ada dokter mengatakan bahwa merokok merusak kesehatan, tapi ada juga dokter yang merokok sampai tiga bungkus sehari. Bukankah ini lucu bila dikaitkan dengan hasil semua penelitian yang tidak membantah bahwa rokok membahayakan kesehatan? Berapa waktu lalu, salah satu stasiun televisi Rabu malam lalu menampilkan acara debat tentang masalah rokok, apakah haram, makruh atau halal. Dalam kesempatan itu, antara lain ditampilkan nara sumber dua orang kyai, seorang dari Komisi Fatwa MUI dan seorang lagi disebutkan dari NU. Dalam debat TV itu, mereka yang menolak rokok dinyatakan haram memberi dalih bahwa rokok belum tentu penyebab timbulnya banyak kematian. Dia mencontohkan, kakeknya perokok berat dan baru meninggal pada usia 90an tahun. Kyai dari NU juga menyatakan ketidakyakinannya merokok dapat membahayakan kesehatan semua orang tetapi hanyalah bersifat kasuistis.

Sejak beberapa bulan lalu, masalah fatwa MUI bahwa merokok itu haram sudah menuai kontroversi. Banyak pihak yang mendukung, namun tidak sedikit pula yang menentang, bahkan menghujat. Kak Seto, ketua Komnas Perlindungan Anak sangat mendukung fatwa itu, karena ingin menyelamatkan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dari bahaya racun rokok. Sementara pihak yang menentang, sebenarnya juga mengakui bahwa merokok pada dasarnya memang merugikan terutama buat kesehatan badan. Namun di sisi lain, mereka juga mengakui tidak sedikit sumbangan dari para pengusaha rokok. Beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa, sponsorship program lingkungan hidup, pemberdayaan masyarakat, pembinaan atlet dan kegiatan olahraga, dan lainnya.

Baru-baru ini, Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram merokok. Hal tersebut dinilai sah-sah saja. Tapi pandangan berbeda disampaikan Menag Suryadharma Ali. Bagi dia rokok tetap makruh. “Yang saya tahu adalah merokok itu makhruh. Yang saya tahu ya,” tegas Surya. Pernyataan itu disampaikan Suryadharma kepada wartawan disela-sela acara Haflah Maulud Nabi Besar Muhammad SAW dan Walimatut Tasyakur Lil Ikhtitam, di Pondok Pesantren Darrussalam Desa Watucongol, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah pimpinan KH Ahmad Abdul Hak, Minggu (14/3/10).

Surya menjelaskan, makruh bisa berubah hukumnya pada keadaan tertentu. Misalnya mereka mempunyai penyakit jantung, punya penyakit lain yang apabila merokok bisa memperparah dan merugikan kesehatan. (sumber : detik.com).

 

Masalah Hak Asasi

Ambil contoh saja, ada sebuah cerita, sebagaimana aktivitas rutin anda atau sebagian besar masyarakat kita, yakni ketika anda di pagi, siang, sore atau malam hari masuk naik ke bus angkotan. Sudah pasti seperti biasanya, bus tersebut penuh sesak dengan penumpang hingga anda pun bisa-bisa tidak dapat kebagian tempat duduk, sehingga terpaksa berdikari di lorong bus. Namu, hal itu barangkali tidak masalah bagi anda, jika harus berdiri dalam perjalanan hingga tempat tujuan kira-kira 9-17 km atau setengah jam lamanya. Namun, yang bikin anda marah sudah pasti adalah disaat ada penumpang bus yang sedang asyiknya merokok masa bodoh. Bukan satu atau dua orang saja, namun bisa juga hampir semua penumpang laki-laki paruh baya termasuk pelajar berseragam dengan asyiknya mengepulkan asap rokok, Anda menjadi tidak nyaman dan terusik, di dalam pikiran anda terselip,  ini naik bus atau naik kereta api uap. Hehehehehe……

Memang, persoalan merokok atau tidak saat ini banyak dikaitkan dengan  masalah hak asasi. Dalam alam demokrasi saat ini, kebebasan memang sangat dikedepankan. Persoalannya di Indonesia, selama ini justru yang terjadi, mereka yang tidak merokok ”merasa terjajah” oleh asap rokok dari para perokok. Merokok adalah hak asasi manusia, tetapi harus diingat bahwa “hak asasi” seseorang adalah dibatasi oleh hak asasi orang lain.

Hak kebebasan yang dituntut oleh para perokok memang merupakan bagian dari Hak Asasi individu untuk melakukan tindakan sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi kita harus juga melihat bahwa hak asasi individu ini dalam implementasinya harus menghormati dan menghargai individu-individu yang lain. Artinya dalam mengekspresikan kebebasannya terdapat konvensi untuk tetap pada koridor kebebasan yang terbatas. Dalam satu ruang publik realitas kebebasan yang terbatas ini seharusnya menjadi suatu value tersendiri yang harus dijunjung tinggi oleh individu-individu didalamnya. Di sisi lain, apabila kita melihat dari sisi hak asasi manusia juga maka orang yang tidak merokok pun mempunyai hak untuk menghirup udara segar dilingkungan publik. Secara awam, lalu timbul pertanyaan, apakah Merokok itu Melanggar HAM?

Pemerintah sudah seyogyanya memikirkan ke depan, apakah akan memang membiarkan kondisinya seperti sekarang ini yang memberi ruang terlalu luas atau tidak bagi perokok atau kita memang akan mengikuti kebijakan banyak negara yang sudah kian mempersempit ruang bagi perokok, termasuk industrinya sebagai sumber pendapatan negara.

Selain itu, pemerintah juga jangan sampai membuat kebijakan setelah membiarkan kontroversi terjadi yang bahkan membenturkan masalah agama dan berkembang ke mana-mana. Mudah-mudahan saja kontroversi masalah rokok ini tidak dibiarkan meluas.

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Amstrong Sembiring! Make yourself at home…ditunggu artikel-artikel lainnya…

 

13 Comments to "Kretek"

  1. J C  17 September, 2011 at 06:16

    Bang Amstrong Sembiring, ulasan yang lengkap dan mendalam…

    Kretek memang bisa jadi sangat khas Indonesia, dan sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia. “Modifikasi” rokok yang semula hanya tembakau banyak terjadi di mana-mana, tapi setahu saya memang yang paling “kreatif” di Indonesia. Selain kretek dikenal juga klembak menyan, rokok klobot dan mungkin ada beberapa kreasi lokal yang lain.

    Namun demikian saya memilih untuk berhenti merokok bertahun-tahun lalu.

  2. Dj.  17 September, 2011 at 00:31

    Reca Ence Ar Says:
    September 17th, 2011 at 00:00

    Salam kenal bang Amstrong
    Artikel yang menarik
    Mau berhenti merokok susaaaah bangeeeeettt….
    —————————————————————————
    Bung Reca….
    Kalau mau, pasti bisa….
    Molai dan jangan coba-coba lagi….
    Buang, seperti anda buang bangkai tikus….!!!
    Anda pasti tidak mau ketemu lagi dengan tikus yang mati yang sudah anda buang bukan…???
    Dj. 1981 berhenti merokok, karena kasihan orang-orang yang Dj. kasihi disekeliling Dj.
    Jangankan saat merokok, walau tidak sedang merokok, tapi “abab” ( bau mulut ) sudah langsung tercium.
    Anak Dj. yang mbakreb, saat itu baru umur 4 tahun, sudah bisa bilang, papa bau dan dia tutup hidung.
    Tapi kadang kita egois dan tidak memikirkan orang disekitar kita, apalagi istri, suami dan juga anak-anak yang kita sayangi…
    Semoga berhasil, Dj. yakin semua orang bisa, KALAU MAU….!!!
    Salam,

  3. Dj.  17 September, 2011 at 00:19

    Bung Amstrong…..
    Terimakasih untuk ulasan yang sangat bagus dan komplit…..
    Anda dengan sangat sabar mengulas satu persatu….!!!
    Dj. angkat jempol….!!!
    Kaka Dj. yang tersayang, meninggal karena kanker paru-paru.
    Anehnya, saat dia merasa sakit didada, dari hasil rontgen, dokter menyatakan ada fleck di paru-paru.
    Taunya bukan fleck, tapi satu paru-paru sudah hampir hilang.
    Dj. tidak pusing dengan mereka yang merokok, lha wong uang juga uangnya dia sendiri.
    Tapi….kalau mungkin juga hormati yang tidak merokok.

    Di Mainz atau di jerman pada umumnya, merokok hanya boleh di udara bebas.
    kalau di Cafe, Restaurant, atau toko, sudah tidak boleh, kecuali, ada ruangan tertutup untuk mereka yang ingin merokok.
    Tahun lalu angka üperokok di Jerman molai menurun, terutama malah orang mudanya.
    Mereka molai sadar, disamping mencari pekerjaan sudah cukup sulit dan rokok makin mahal.
    Di Jerman, sementara rokok sudah mencapai € 5.- / bungkus ( -+ Rp. 60.000,- ).
    Kalau sehari 1 bungkus saja, sebulan sudah € 150,- dan 1 tahun sudah € 1800,- ( -+ Rp. 21,6 juta )
    Nah mereka molai mikir dengan uang sebanyak itu, sudah bisa liburan ke Bali selama 2 minggu. Atau liburan di Eropa 2 sampai 3 X

    Dj. kadang mikir, kasihan juga mereka yang merokok, karena banyak dimusui.
    Jelas karena asap rokoknya yang mengganggu…..
    Seandainya…. ya…seandainya, merokok itu sepeprti minum kopi atau makan pisang goreng.
    Semua ditelan dan tidak dikeluarkan lagi, mungkin tidak akan ada yang protest….
    Kalau kalau kita makan pisang goreng, tidak dimuntahkan lagi…
    nah kalau asap rokok ditelan dan tidak dikeluarkan lagi, pasti banyak yang tidak protest…
    Hahahahahahahahahaha…..!!!

    Okay deh ( deh nya ikutan mbak Elnino )…
    Yang mau merokok ya silahkan saja, asal asapnya ditelan dan tidak dikeluarkan lagi ya….

    Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.