Di Lengkung Alis Matamu

Vera Ernawati – Jakarta

 

Kamis siang. Hujan. Perempuan tak tenang, menunggu lelakinya datang. Tak lama, hujan reda. Angin berhembus perlahan. Daun pun tak lagi  riuh bergoyang. Mendung berganti cerah. Hangat.

Akhir bulan Mei dan mereka bertemu untuk yang ketiga kali.

“Apa yang kamu bawa hari ini?” tanya perempuan.

“Coba tebak?”

Perempuan tersenyum. Ia terpesona menatap sesuatu yang dibawa oleh lelakinya.

“Aih, indah sekali.”

Garis yang indah. Tertata rapi. Hitam pekat, dengan ketebalan yang alami. Melengkung sempurna seperti jemari penari. Benar-benar lengkung alis yang menarik hati.

“Lalu, apa yang kamu bawa untukku?” tanya si lelaki.

Si perempuan mengambil sesuatu, dan menyerahkannya dengan agak ragu.

“Semoga kamu suka.”

Tentang dunia yang belum pernah perempuan lihat. Tentang tempat-tempat yang indah. Jauh. Tak terjangkau. Tentang gunung, kota dan penghuninya yang beragam. Tentang museum, bangunan tua dengan sisa-sisa kecantikannya.

“Bacalah,” pinta si perempuan.

Dan si lelaki menerimanya dengan penuh guratan tanda tanya.

“Wow!” si lelaki takjub, setelah tahu apa yang ia dapat.

Akhir Mei yang menyenangkan. Mereka berbincang. Tersenyum. Tertawa. Ada rindu yang tertabur. Ada rasa yang mulai melebur.

“Senang bertemu denganmu,” ucap perempuan.

“Kenapa?” tanya lelaki.

“Begitu nyaman dan menenangkan.”

Mereka berpisah dengan jabatan tangan yang kian erat, dan diiringi oleh hujan yang kembali melebat. Kisah ini akan terus bergulir. Tak pernah usai. Percayalah!*

 

About Vera Ernawati

tiga satu perempuan senang mengikat kenangan dengan cara menuliskannya

Arsip Artikel

12 Comments to "Di Lengkung Alis Matamu"

  1. J C  20 September, 2011 at 09:25

    Hhhmmm…perhatiin fotonya saja, ada tulisan “Kompas” di situ…

  2. [email protected]  19 September, 2011 at 09:16

    nggak mudeng….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.