Memberi Tak Pernah Mengurangi

Sokanindya Pratiwi Wening

 

Waktu masih kecil, anakku yang bungsu mempinyai sifat yang membuat kami, orang tuanya, agak khawatir.

Dia pelit dan agak anti sosial.

Setiap selesai mandi sore, kami membebaskan kedua anak kami bermain di luar bersama teman-temannya.

Berbeda dengan si Sulung yang sangat ramah dan cepat bergaul, si Bungsu lebih suka duduk diam di pangkuan ayahnya yang sedang menonton televisi, atau dia akan asyik main sendiri dengan mainan-mainannya.

Terlebih dengan sifat pelitnya, ini membuat kami lebih khawatir. Jika temannya datang, dan dia sedang makan sesuatu, dia tidak akan membagi makanannya itu ke temannya. Jika aku mengetahui temannya ada, biasanya mereka akan kubagi makanan sama banyak. Jika makanan temannya lebih dulu habis, dan meminta lagi padaku, maka si bungsu akan dengan sengitnya berkata, “Enak aja, minta beli sana sama Mamamu.”

Jika kutegur sikapnya itu, dia beralasan bahwa temannya itu juga pelit padanya.

Aku dan ayahnya, pelan-pelan mengajarkan, bahwa pelit itu tidak baik. Apa yang kita punya, sebenarnya juga pemberian. Pemberian Tuhan.Aku dan ayahnya juga sering mencontohkan bahwa kalau memberi itu tak mengurangi. Misalnya, abangnya meminta makanannya, dan meski dengan berat hati, dia memberikannya. Aku dan ayahnya akan berlomba memberi yang kami punya untuknya. Alhasil dia paham, bahwa setelah memberi pada abangnya, dia justru mendapat lebih banyak. Biasanya hal itu disertai ucapan sang Ayah, “Betul, ‘kan? Kalau memberi itu tak mengurangi. Buktinya ini, Adek dapat lebih banyak.”

Sikap pelitnya perlahan berkurang. Jika kepada orang lain dia masih pelit, kepadaku dia sudah tidak pelit lagi, bahkan sudah pandai menawariku.

Hingga suatu sore, sehabis mandi, aku memberinya uang seribu rupiah. Segera dia pergi menuju warung. Di warung, dia ‘ditodong’ temannya yang agak ‘antusias’ pada uang dan makanan temannya.Setengah memaksa dia meminta agar si bungsu membelikannya jajan juga. Bungsuku yang semula ingin jajanan yang seribu rupiah akhirnya mengambil makanan yang harganya setengah dari itu. Ketika dia membuka bungkus jajanannya, dia mendapatkan uang seribu rupiah yang dibungkus plastik kecil di dalam jajanannya itu.

Merasa surprise, dia berlari pulang. Didapatinya aku, dan katanya, “Sekarang Adek makin percaya, kalau memberi itu tak mengurangi.” Diucapkannya itu dengan lafal ‘r’ yang tak sempurna. Aku tersenyum senang saat dia dengan bersemangat menceritakan pengalamannya itu.

Sebenarnya masih banyak pengalaman lain yang kuyakin itu semua berkat campur tangan Tuhan, yang membuat sifat dan sikap bungsuku itu berubah.

Saat ini, bungsuku telah remaja, beberapa hari lagi dia ‘sweet seventeen’. Sikapnya yang anti sosial dan pelit itu, tak lagi membekas. Bahkan dia tumbuh menjadi anak yang pengiba.

Terima kasih Tuhan.

Untuk hal ini, aku lega sekarang.

 

Tj. Morawa, 16/06/2011

(saat listrik padam, dan bercengkerama dengan 2 putraku)

 

60 Comments to "Memberi Tak Pernah Mengurangi"

  1. Sokadindya Pratiwi Wening  30 September, 2011 at 19:11

    @Nevergiveupyo: Terima kasih kembali, ya. Sudah suka dengan tulisan sederhana ini.

    Salam kenal dari Tj Morawa (Sumut).

  2. nevergiveupyo  30 September, 2011 at 14:22

    wow.. terimakasih sekali sharingnya ibu soka….
    saya juga kadang-kadang “ingat” akan hal itu… masih banyak nggak (mau) ingatnya sih… makasih..makasih

  3. Sokadindya Pratiwi Wening  23 September, 2011 at 16:04

    @Mba Lani: Hihihiiii…. Iya, rame Mba. Tapi kalau saat ngumpul aja. Pada saat itu sudah ada beberapa orang kakak yang kuliah di luar kota. Yang paling rame saat Lebaran. Aku lebih enak lagi. Ada bala bantuan dari 6 orang kakak ipar. Aku kebagian ngajak main anak-anak mereka aja. Tapi itu dulu, setelah orag tua ngga ada, kami ngga bisa lagi kumpul lengkap. Apa lagi sekarang, kakakku sudah menghadap Illahi 4 orang. Sunyiiiii…..

  4. Lani  22 September, 2011 at 13:10

    SOKA hah?????? 12 bersodara? sak-dozen???? wadooooooh kayak apa ramenya????? nah tuh, kamu ndak kedapur malah bs mengolah buah2-an…….tp skrng msh mau masuk dapur dan belajar memasak nanti lama2 jg bakal ahli

  5. Sokadindya Pratiwi Wening  22 September, 2011 at 12:50

    @Mba Lani: Hehehee…. Ia, Mba. Mertuaku yang rajin mengajari. Dulu waktu masih sebelum menikah, aku lebih suka ‘dinas luar’. Membersihkan halaman atau membungkus buah tanaman yang akan matang. Sebagai bungsu dari 12 orang bersaudara, aku punya kakak perempuan 5 orang. Kalau aku juga yang ke dapur, mereka ngapai? Hahahaaaa….
    Tapi, biar begitu, bukan berarti aku anti dapur. Aku suka juga memperhatikan mereka memasak (terutama ibu).
    Pun aku suka mengolah buah yang dihalaman untuk aku jadikan sirup atau manisan.

  6. Lani  22 September, 2011 at 01:51

    46 halah ndak perlu meminta maaf, namanya ndak tau……hehehe…….kamu hobby memasak setelah menikah, aku udah belajar sejak usia 9 th dgn mama tiap pagi turun kedapur…….ini mulut nyrocos tiada henti bertanya……dan bertanya sambil dicatet……jd ingat ktk kos ada teman yg ndak tau blas ttg masak memasak dan boro2 masuk dapur…….dia sama sekali ndak ngerti perbedaan, ato nama2 bumbu spt bawang merah, putih, jahe, merica, kencur………kdg sampai ditertawakan oleh teman2 se kost……temanku ini punya prinsip yg penting duwe duit wokeh……..jd bs makan dimana saja, kapan saja, bisa bayar beressssss

  7. Sokadindya Pratiwi Wening  21 September, 2011 at 18:53

    @Mawar: Terima kasih kembali, sudah suka pada tulisan sederhana ini.

    Ya, aku suka masak. Mertuaku yang Tionghoa, rajin mengajariku memasak. Mungkin takut kalau perut anaknya telantar, ya? Hehehee….
    Boleh, dong Mawar, bagi-bagi resep padaku.

    Salam kenal kembali, ya.

  8. Sokadindya Pratiwi Wening  21 September, 2011 at 18:49

    @Hennie: Heheheee…. Mba salah, ya. Mestinya Bibi atau Mba Gober, ya.

  9. Mawar09  21 September, 2011 at 01:11

    Soka: tulisan yang bagus, terima kasih ya sudah berbagi. Suka masak ya rupanya, sama dong dengan saya.
    Salam kenal ya!

  10. HennieTriana Oberst  20 September, 2011 at 20:01

    Mbak Soka, adik saya cewe hehehe… Yuli namanya.
    Setelah kuliah saya pindah ke Jakarta karena kerjaan. Terus menetap di Jerman (alamat tetap di sini), cuma sementara beberapa bulan ini sedang di Beijing (cuma ngikut suami yang tugas aja).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.