Menanti Sunrise di Bromo

Adhe Mirza Hakim

 

Temans… my notes kali ini berkisah tentang keindahan Gunung Bromo yang kami kunjungi di awal September yang lalu, rasanya senang sekali bisa berbagi kisah perjalanan kami kali ini, Indonesia memang indah dan aku selalu ingin berbagi dengan temans semua tempat-tempat indah di tanah air yang sempat aku kunjungi, hayuuuu dibaca……

 

Traveling ke Bromo tahun ini benar-benar di luar dugaanku, karena tidak ada perencanaan sama sekali. Semua serba dadakan, bahkan tanpa persiapan apapun, yang penting siap berangkat toh… kalau ada yang ngajak traveling jangan pernah nolak ya (apalagi kalo gratisan).

Sejak beberapa tahun yang lalu sudah buat rencana untuk ke Bromo tapi selalu gagal, nggak jelas juga alasannya, sampai ada kejadian erupsi Bromo di bulan Maret 2011 yang lalu, semakin kecil harapan untuk menjejakkan kaki kembali ke Bromo. Kunjungan pertamaku ke Bromo terjadi 21 tahun yang lalu, hiiii….dah lama banget ya. Pasti tempat wisata Bromo sudah banyak berubah, dulu aku pergi bersama keluarga besarku, kini aku kembali bersama keluarga kecilku plus keluarga bapake.

Kami berangkat melalui Madiun pukul 8 pagi (estimasi waktu perjalanan 9 jam wuiih jauh juga ya), berhubung perginya rombongan ya harap maklum kalau jadwalnya jadi melar, akhirnya kami memutuskan ketemu di meeting point “Probolinggo”.

Perjalanan wisata di musim mudik lebaran ini sempat buat deg-degan, semoga tidak kejebak macet. Syukurlah kami tidak menemui kemacetan, Alhamdulillah… lancar jaya. Kami sempat istirahat di Resto Dewi Sri di kota Mojokerto, makanannya enak dengan harga terjangkau, suasana restonya juga apik, pokoke aku merekomendasikan buat dicoba saat lewat kota Mojokerto.

Berhubung ini liburan dadakan, kami sama sekali belum reservasi hotel di Bromo, hmm…bisa kebayang apa bisa dapat kamar, my Hakim usul “pesan melalui internet bu,” nah…ini dia enaknya traveling saat ini, apa-apa bisa dicari melalui internet, aku buka web browser lalu tanya sama mang Google, “hotel di Bromo” keluar semua nama-nama hotel, berikut nomer telpon dan tarifnya.

Aku pencet nomer telpon dari beberapa hotel di sana, akhirnya kami reserves 2 Family room di Yoschi’s Hotel, katanya sih ini hotelnya para backpackers, aku ngebayangin standart para backpackers itu hotelnya sederhana dan apa adanya, ternyata hotelnya apik dan cozy.

Yoschi’s Hotel

 

Sudut family room yang kami tempati

 

Aksen Bali terasa dalam penataan landscape hotel

Untuk mencapai ke lokasi hotel, kami melalui jalan aspal yang mulus, menanjak dan jurang ada di sisi jalan, rasanya agak menyeramkan kalau jalan malem-malem, kebayang 21 tahun yang lalu saat aku melalui jalan yang sama, bedanya dulu jalan ini masih berbatu-batu dan hanya di aspal kasar. Jalur Cemoro Lawang kami lalui dengan lancar, syukurlah cuaca cerah, coba kalau hujan apa nggak ngeri tuh.

Kami tiba di hotel pukul 19.30 wib, udara diingin langsung menyambut kedatangan kami (namanya juga di gunung pasti dingin, kata pihak hotel udara di subuh hari bisa mencapai 5 C, haiyaa…saat kami tiba suhu di kisaran 12 C, katanya itu suhu normal !) berrrrrrr…. Aku tidak memakai sweater tentu asli kedinginan, aduuh gimana mau menyambut Sunrise kalau harus berdingin-dingin ria kek gini. Kami langsung ke reservasi hotel, untuk ambil kunci kamar, untung banget sudah telpon pihak hotel dari siang hari, coba kalau pesan saat tiba di tempat apalagi ini musim liburan pasti gak dapat kamar, aku lihat ada 1 keluarga yang mencoba untuk pesan 1 kamar tidak bisa dipenuhi karena hotel fully booked.

Selain kamar, pihak hotel juga menawarkan penyewaan mobil untuk ke lokasi wisata  Bromo, 375 rb/mobil, jenis Hartop yang bisa memuat 6 orang penumpang, bisa patungan nie kalau mau ngirit biaya sewa mobil. Sebenarnya kalau mau bawa mobil sendiri sampai ke areal parking Bromo Indah bisa aja, tapi pemda setempat membatasi mobilitas para wisatawan dengan kendaraan pribadinya, demi memajukan pendapatan warga setempat, yang punya jasa sewa mobil dan ojek motor. Kalau pake ojek motor tarifnya 50 rb/motor.

Kamar yang kami tempati lumayan nyaman, ada fasilitas air hangat untuk mandi, nah…ini penting di udara sedingin Bromo, kebayang deh airnya juga sedingin air es. Dulu saat kunjunggan pertama ke Bromo, aku tidak menginap di hotel tetapi menyewa rumah penduduk asli, tidak ada fasilitas mandi air panas, kebayang kan mandi dengan air es.

Bagi yang tidak kebagian kamar hotel, sebenarnya mudah koq dapat penginapan murah meriah di sekitar Bromo, karena saat kita memasuki lokasi wisata Bromo, banyak calo penginapan yang menawarkan rumah penduduk yang bisa disewa lengkap dengan fasilitas air panas juga, tarifnya bervariasi dari 400 rb – 600 rb / malam, tergantung dari jumlah kamar dalam rumahnya, minimal ada 2 kamar dalam 1 rumah.  Buat para temans yang ingin mengirit biaya, lebih nyaman sewa rumah penduduk.

Sudut restorasi di Yoschi’s

Setelah meletakkan barang-barang bawaan kami ke dalam kamar, kami ditawari room service untuk menyewa jacket anti dingin, dipatok harga 25 rb/jacket, daripada kedinginan ya sewa aja. Bapake sekalian membeli topi dan sarung tangan wool sebagai pelengkap, yang ditawarkan oleh pedagang asongan yang mangkal di sekitar hotel, harganya 10 rb – 15 rb.

Kami memilih makan malam di resto hotel, menu yang kami pesan yang sederhana aja, di saat udara dingin menyengat rasanya enak banget makan indomie rebus pedas dan hangat serta secangkir teh manis hangat. Setelah makan malam, kami ke kamar buat istirahat, mengingat kami harus bangun pukul 4 subuh untuk menanti sunrise.

Pukul 3 subuh, aku sudah tidak bisa tidur, selain emang udara dingin yang menusuk, aku agak khawatir sama my Mirza yang masih terlelap nyenyak, hmmm….bisa diajak kompromi nggak ya ini bocah? Bangun subuh-subuh untuk melihat sunrise, setahuku dia suka bad mood jika sedang nyenyak tidur lalu tiba-tiba dibangunkan.

Rasanya sayang banget jika harus melewatkan sunrise di Bromo, yang memang tujuan utama kita berwisata ke Bromo, yaitu menanti sunrise. Aku memandang wajah my Mirza sambil berdo’a…”jangan bête ya dek…bangun yuk buat lihat sunrise”. Syukurlah do’aku terkabul, walau my Mirza agak cemberut saat dibangunkan dari tidurnya, dia nurut untuk ikut menyaksikan sunrise. Tak lupa aku sisipkan sekantong Potatoes Chips dalam pelukannya, anakku yang satu ini tidak bisa lepas dari cemilan dan minuman, kalau dia mendadak cemberut langsung sodori snacks ringan pasti diem, hihi..

Dua mobil hartop yang kami sewa sudah stand by pukul 4 subuh untuk membawa kami ke lokasi “melihat sunrise”. Jalanan yang berkabut gara-gara debu pasir hasil erupsi Maret kemarin masih membekas di jalan-jalan dan bukit-bukit di sekitar Bromo. Dingin dan berdebu…klop sudah, kami menggunakan masker biar tidak terlalu sesak nafas. Aku sempat mengalami mimisan sedikit, jujur sih sebenarnya kondisi tubuhku agak kurang fit, hanya semangat untuk melihat Bromo membuat tubuhku bertahan, obat flu aku tenggak secara teratur, agak mengurangi gejala flu yang kualami.

Mobil yang membawa kami berhenti di sebuah lapangan parkir, kami harus turun dan naik ke satu bukit yang disarankan oleh pak supir, untuk mendapat spot foto sunrise yang apik. Sudah banyak orang-orang yang berkumpul di atas beberapa bukit.

Rombongan kami yang terdiri dari 11 anggota, memilih satu bukit kecil yang berada tidak jauh dari lokasi parkir mobil. Jalanan yang penuh pasir membuat kaki kami agak berat melangkah, bayangin deh, mata masih agak ngantuk, udara dingin menusuk, harus menghisap debu dan mencium aroma belerang, tetapi demi keindahan-NYA, yaitu sunrise di Bromo, semua dilewatin dengan ikhlas.

Kami memilih posisi yang cukup nyaman di atas bukit, sambil mengingatkan anak-anak kami agar tidak terlalu berdiri di pinggir bukit, berasa kuatir aja, takut terperosok karena tampilan pasir yang bisa menipu mata, seolah-olah keras tanahnya nggak taunya jeblos.

Setelah menanti kurang lebih 1 jam…wedeeew…sabar amir yak! Kami melihat sunrise mulai memedar dari langit di bagian timur, Subhanallah….indahnya! Aslii….nggak rugi lho…sudah nungguin selama 1 jam sambil kedinginan. Semua terbayar lunas!!! Malah lebih dari lunas, senang bangets….

Kami membidik dengan camera moment sunrise sebanyak mungkin, pokoke jeprat jepret dulu, soal hasil lihat aja nanti kan bisa dipilih dan edit mana yang bagus. Aku juga mencoba mengabadikan sunrise dengan camera yang ada dalam ponsel BB ku, ternyata jika kita fokus membidiknya, hasil dari camera ponsel ini cukup baik hasilnya. Jadi jangan takut memotret via camera ponsel, asal fokus ya.

Gradasi warna lembayung dan biru so romantic…. pagi menjelang

 

Sunrise mulai tampak di ufuk timur

 

Mulai meninggi membentuk lingkaran yang sempurna..

Matahari mulai meninggi, para “Sunrise’s Hunter” sudah mulai bergerak meninggalkan lokasi perbukitan menuju mobil-mobil dan ojek motor yang akan membawa para wisatawan ke lokasi kawah Bromo. Kami melalui jalan yang agak menurun menuju ke kaldera (lapangan luas yang terbentuk akibat letusan besar di masa lalu), yang lumayan luas, mungkin ukurannya 10x lapangan bola ya? Hehe…tebak-tebak aja.

Misty…. kabut pagi di sekitar Kaldera Bromo

 

Berjalan melalui Kaldera disinari mentari pagi yang hangat

 

Gunung Batok dilihat dari atas bukit

 

Pura suku Tengger berdiri kokoh nun jauh di sana

Hamparan padang pasir yang luas sejauh mata memandang pasir halus lembut bewarna coklat menghiasi alam Bromo. Gunung Batok terlihat berdiri gagah, menjadi pelengkap keindahan alam Bromo, tampak di kejauhan terlihat bangunan Pura suku Tengger untuk beribadah. Mobil hardtop yang kami tumpangi hanya bisa mengantar separuh jalan, kami harus melanjutkannya dengan jalan kaki atau menaiki ojek kuda. Padahal 21 tahun yang lampau, mobil hartop yang pernah kami sewa, bisa masuk sampai ke kaki gunung Bromo, sehingga tidak terlalu melelahkan untuk mendaki anak tangga gunung Bromo.

Lagi-lagi ini taktik dari pihak pemda, untuk menaikkan pendapatan penduduk di sekitar gunung Bromo, para wisatawan diarahkan agar naik  kuda, yang otomatis memberi penghasilan para ojek kuda yang berkumpul di sekitar kaldera dan berusaha keras membujuk kita untuk naik kuda. Kami memutuskan untuk berjalan kaki melintasi padang pasir Bromo, itung-itung olahraga jalan pagi, sehatkan..? Apalagi sinar mentari bersinar lembut menghangatkan tubuh kita.

Kami berjalan beriringan, pelan-pelan saja sambil sesekali memotret pemandangan indah yang sayang kalau dilewatkan. Aku bersyukur bisa menjejakkan kaki kembali ke Bromo, terbayang saat erupsi besar yang terjadi bulan Maret 2011 yang lalu, membuat sebagian orang agak ragu datang ke sini. Ternyata…Bromo sangat ramah pada kami, cuaca yang cerah dan sunrise yang cantik sudah menjadi hadiah terbesar buat kami yang sudah meluangkan waktu mengunjunginya. Alam itu ramah, alam itu bersahabat jika kita juga sayang dan cinta dengan alam.

Bau belerang tercium sangat pekat, ah…ini obat buat nafasku, aku menikmati setiap ayunan langkahku, merekamnya jauh dalam alam pikiranku, ingin kutulis ribuan kata, untuk memuja alam yang indah permai ini, terbayang keindahan alam Indonesia yang tidak semua rakyat di pelosok pulau2 lain bisa menikmatinya. Mungkin sebagian orang bangga bisa terbang jauh melintas ke manca Negara, aku justru lebih bangga sudah merasakan keindahan negeri sendiri.

Sampailah kami di bawah kaki Bromo, lagi-lagi kami diserbu oleh para ojek Kuda, haiyaa…. Teteup kekeuh nawarin kuda mereka. Akhirnya kami mengijinkan anak-anak kami untuk naik kuda, sedang kami yang tua-tua lebih memilih jalan kaki untuk mendaki puncak Bromo. Acara tawar menawar sewa kuda agak alot, mereka menawarkan 100 rb/kuda untuk perjalanan PP (kembali ke parkir mobil hardtop), kami protes karena kami sudah menempuh jalan kaki ke kaki Bromo, tentu minta harga yang lebih murah. Setelah tawar menawar yang agak alot, kami sepakati 75 rb/kuda. Buset dah…mahal juga ya…tapi demi anak-anak yah dibelain deh.

my Mirza naik kuda

 

G Batok diabadikan dr jarak dekat

Aku, bapake dan saudara-saudara kami yang dewasa, memilih jalan kaki pelan-pelan mendaki Bromo. Aku berjalan pelan sambil agak ngos-ngosan…hahaha, ampuun dah dasar ngotot! Aku hanya ingin membuktikan tubuhku masih bisa diajak kompromi dengan alam. Membayangkan adegan dalam film TDL (Tendangan Dari Langit – karya Hanung Bramantyo, sorry ya…janji buat resensi film ini masih ke pending!) yang lokasi syutingnya di Pegunungan Bromo benar-benar keren, termasuk tempat yang sedang aku lalui, membuatku tambah bersemangat untuk mencapai puncak Bromo.

Tanpa melihat ke belakang, aku terus menapaki jalanan mendaki yang berpasir, dengan langkah yang kuatur pelan-pelan, sedikit demi sedikit aku berhasil mendekati kaki Bromo. Aku tidak memperhatikan dimana rombonganku yang lain, aku pikir mereka juga sedang berjalan di belakangku. Saat mendekati 50 meter menuju kaki Bromo, ada ojek kuda yang terus merayuku untuk naik ke kudanya, “Bu..30 ribu aja buat naik ke atas”, aku memandang ke abang ojek kuda itu sambil menggeleng pelan dan terus melangkahkan kaki. Tiba-tiba ada suara yang menyapaku dari arah belakang “naik aja dhe…”, aku menoleh dan melihat mas Pri (kakak iparku) naik kuda sambil tersenyum, “lha….mas Pri naik kuda tho, yang lain-lain pada naik kuda juga kah?”, mas Pri mengangguk sambil tersenyum, haiyaaa…..jadi semua pada naik kuda? Hahaha….jadi aku chulun jalan sendirian.

Melihat kesempatan yang terbuka si abang ojek kuda kembali menawarkan kudanya kali ini turun jadi 20 rb saja, ya terang aja murah…lha wong tinggal 50 meter lagi, kalau jalan rata aja sudah bisa lari sprint, akhirnya aku naik kuda juga, walau hanya tinggal beberapa langkah menuju puncak. Sebenarnya niat naik kuda ini kombinasi antara rasa kasihan sama si ojek kuda yang terus membuntuti ku dari bawah plus bujukan dari mas Pri agar aku naik kuda, padahal sih kalo mau maksa dikit aku bisa aja tetep jalan kaki, tapi effeknya akan buat anggota lain bête nungguin aku sampai, hehehe…

Aku berusaha menaikkan tubuhku ke atas kuda yang sudah berdiri di sampingku, waduuh rasanya koq kaki ku mati rasa, akhirnya abang ojek membantuku naik ke atas tubuh kuda. Haiyaaa….naik kuda itu asli bukannya enak malah bikin aku takut, kebayang kepental dari kuda yang jalannya tidak terkontrol malah berbahaya.

Sampai juga akhirnya di atas, perjalanan ke kawah Bromo tinggal melalui anak tangga, yang kabarnya ada sekitar 200-an anak tangga, aku melihat sepasang turis asing yang dengan santainya bisa naik ke puncak tanpa terlihat kelelahan. Kebayang langkah kaki mereka yang panjang sehingga kecepatan jalan mereka jauh lebih cepat. Padahal dari kaldera, mereka berjalan tidak jauh dariku, eh…tau-tau mereka sudah berdiri dekat kawah Bromo.

Rombonganku sudah tiba lebih awal dariku, harap maklum semua naik kuda, mereka dengan sabar nungguin aku bergabung, kami menaiki anak tangga pelan-pelan, rasanya nafas ini mau putus sangking kecapekan. Nah…lagi-lagi kami ketemu sama tukang ojek di tangga menuju kawah Bromo, yang mereka tawarkan berupa ojek gendong ! Hahaha…gak kebayang deh digendong sama mereka naik ke atas. Saat si pak ojek menawarkan pada seorang wisatawan asing, setengah bergurau si wisatawan asing bertanya apa si Ojek gendong mampu menggendong anaknya yang badannya jauh lebih besar dan tinggi dari badan si ojek gendong tsb. Aku jadi geli melihat wajah si ojek gendong yang mesem-mesem gak bisa jawab.

Di saat aku berusaha keras menapaki anak-anak tangga yang penuh dengan tumpukan pasir erupsi, sehingga membuat langkah kaki agak berat, anak-anakku Hakim dan Mirza justru sudah duluan sampai ke Puncak, hmmm…. Anak-anak selalu memiliki energy lebih daripada orang dewasa, salutnya mereka tidak takut dengan ketinggian pula, berdiri di bibir kawah sambil foto-foto, sedang aku asli agak ngeri saat sudah sampai di atas, buat berfoto dekat kawah saja tidak berani berdiri hanya bisa duduk. Hehehe….halah dasar emak-emak!

Mas Rama Hakim dan adek Mirza jangan terlalu ke pinggir ya…

 

Kawah Bromo

Aku kembali memperhatikan my Mirza, dia tampak cool dengan minuman ringan yang sedang digenggamnya, setelah keripik kentangnya habis, dia memegang sebungkus biscuit buat ngemil selanjutnya, hehehe… sejauh dia nggak bad mood, hayuu aja, pernah dulu saat kami mengajaknya jjs ke suatu tempat, dia ngambek kecapekan, lantas minta gendong, tentu aku nggak kuat buat gendong, alih-alih bapake yang kebagian tugas gendong, hihi… makanya bapake selalu belain beli makanan ringan buat my Mirza daripada disuruh gendong dia.

Ah…yang penting minum fruity tea dulu…..hehe, snacks udah sekarang minum dulu

 

Antri dan bisa macet juga kalo yg di tengah-tengah berhenti buat narik nafas

Setelah kami rasa cukup menikmati pemandangan kawah Bromo, rombongan kami memutuskan turun ke bawah, saat kami naik beberapa saat sebelumnya kondisi anak tangga menuju ke atas tidak begitu ramai, jadi kami bisa meniti tangga lebih cepat, tapi di saat kami turun, orang-orang yang ingin naik ke atas tampak semakin banyak, yang bikin aku senyum…para wisatawan yang menaiki anak tangga tsb tampak terhenti di tengah jalan karena ada beberapa orang yang berada di pertengahan anak tangga tampak kelelahan dan memutuskan beristirahat sejenak, alhasil…terjadi “kemacetan” di jalur naik, sedang di jalur turun tampak lebih lancar, emang jalan aja bisa macet, naik tangga juga bisa macet!.

Para wisatawan asing yang tampak tidak sabar menghadapi kemacetan itu, berusaha menerabas lewat jalur di luar tangga, mereka turun meluncur melalui tumpukan pasir erupsi, tanpa kuatir menggelinding ke bawah, mungkin mereka sudah terbiasa berjalan dalam berbagai kondisi alam.

Aku meneruskan dengan berjalan kaki sedang rombonganku memilih naik kuda, lha aku mending jalan kaki dari pada ajrut-ajrutan di atas kuda, hihi… malah bisa membuat aku sakit perut. Sebenarnya ada alasan penguat kenapa aku tetap memilih jalan kaki, sebagai mantan mahasiswa pecinta alam, cieee…. Rasanya koq lucu aja kalau milih naik kuda selagi fisik masih memungkinkan buat berjalan, hanya aku merasa salah pakai sepatu, yang kupakai bukan standart sepatu gunung tapi sepatu casual yang terbuka atasnya alhasil sepatuku kemasukan pasir cukup banyak (kalau plan ke Bromo tidak dadakan tentu sudah kusiapkan sandal gunungku).

Perjalanan pulang ini terasa lebih ringan, mungkin apa yang ingin dilihat sudah tercapai, aku berjalan dengan santai, biar aja yang lain pasti nungguin aku, saat tiba di areal parkir mobil, aku lupa di mana tepatnya posisi mobil berada, pelan-pelan aku perhatikan nomer plat mobil yang aku ingat, hmm… blum ketemu, tiba-tiba aku mendengar suara ketawa my Hakim, di sana pastinya.

Rombonganku ketawa melihatku jalan sendirian ke arah mereka, Hakim menggodakuk “Ibu ini backpacker low budgets”, lha…tau aja ibu gak punya duit buat naik kuda, hihihi…. Makanya naik kuda juga sebentar itupun cuma bayar 20 rb.

Foto depan Hartop yang kami tumpangi

Sebelum bertolak meninggalkan Bromo, kami berfoto-foto dahulu di depan mobil hardtop yang kami sewa. Perjalanan pulang ke hotel terasa cepat, kami tiba pukul 8 pagi, segera mandi dan menyantap menu breakfast yang disediakan pihak Yoschi’s, tinggal pilih mau menu apa, kami pilih nasi goreng, lumayan buat ganjel perut yang memang sudah keroncongan. Setelah makan pagi, kami segera berkemas dan meninggalkan Bromo dengan berjuta kenangan indah.

Bromo …. I’ll be back !!!

 

AMH, BDL 16092011

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

27 Comments to "Menanti Sunrise di Bromo"

  1. Tia  13 November, 2011 at 00:12

    oke thanks yaa mba..

  2. vhaa  8 November, 2011 at 16:48

    itu brpa harga penginapannya perhari? di daerah cemoro lawang ya?

  3. Adhe  5 October, 2011 at 18:16

    Mba Matahari dan mba Mawar….makasih banget ya comments nya…iya Bromo memang eksotis banget deh.

    Mba Tia….contack person siapa ne? Kalo mau kesana. Bisa hub Pak Purnawan (0341) 5406678 – 08123318551 dan Pak Mulyadi (0341) 9717573 – 085646479409 have a nice trip ya….

  4. tia  5 October, 2011 at 17:52

    mba ada kontak person ga?

  5. Mawar09  22 September, 2011 at 06:18

    Adhe: terima kasih ya sudah diajak jalan-jalan ke Bromo. terakhir kesana thn 2001 dan nginapnya kalau ngga salah di Lava Lodge. Mudik lalu ingin kesana tapi ragu apa sudah reda hujan abunya. Kelihatannya Yoschi Hotel bagus juga ya, next time akan coba kesana. Salam!

  6. matahari  20 September, 2011 at 23:43

    Saya pernah ke Bromo thn 2000 dan stay di guest house yg saya sudah lupa namanya..tau2 mbak Adhe sebut nama guest house itu dan mengingatkan saya akan nama guest house yg kami tempatin….makasih ya mbak Adhe…..Guest house itu memang menarik…setiap kamar..design nya beda…yg paling murah waktu itu bisa bayar extra utk mandi air panas di belakang restaurant…org2 disitu jg sangat ramah dan saya sangat ingat mereka itu punya hot red wine yg sangat enak….apalagi minum nya malam disaat suhu gila2an dingin nya…kalau saya tdk salah ingat..owner nya pintar main musik..org nya nyentrik..ganteng.. dan istrinya org German…saya sempat melihat bapak itu nyanyi malam2 dng main musik..mungkin gitar..saya sudah lupa…dan lokasi guest house udh dekat ke gunung bromo nya…jadi kita bisa bobok lbh lama…dan kalo sore…nunggu malam…asyk juga jalan2 disekitar situ melihat kehidupan suku tengger yang kebanyakan bertani…saya sering ngeri ngeliat kaki kaki petami di sono…nyangkul bukit…persis di lereng nya….gak pegangan apa apa…hanya jari2 kakinya aja di tancapin spy gak nggelinding ke bawah…amazing..Thanks mbak Adhe for the great pictures of Bromo and surroundings…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.