Seni dan Budaya Tenun Ikat di Flores (2)

Dwi Setijo Widodo

 

SENI & BUDAYA TENUN IKAT BAGI MASYARAKAT WATUBLAPI

Gempuran pewarnaan dengan menggunakan warna kimia dalam pembuatan tenun ikat saat ini memang tidak terelakkan. Simpel itu menjadi alasan utama karena semuanya dengan mudah didapatkan di toko-toko. Hal ini yang dulu juga dilakukan oleh para perempuan penenun di Watublapi, sebuah desa yang terletak sekitar 21 km dari ibukota Kabupaten Sikka, Maumere.

Namun, melalui Sanggar Budaya Bliran Sina, salah satu sanggar yang hingga saat ini masih aktif dan berkomitmen dalam pelestarian seni dan budaya tradisional Flores yang diprakarsai oleh Daniel David sejak tahun 2004, para perempuan penenun di Desa Watublapi, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur ini perlahan-lahan beralih dan memilih mengerjakan tenun ikatnya dengan warna organik yang bahan-bahannya adalah dari tumbuh-tumbuhan lokal yang sejak dulu sebenarnya telah digunakan secara turun-temurun oleh para leluhur mereka.

Komitmen tersebut dijalankan bersama dengan dilatarbelakangi oleh  beberapa hal, yakni:

Pelestarian warisan budaya bangsa: tenun ikat merupakan suatu warisan budaya bangsa yang dapat kita jumpai dari Sabang hingga Merauke. Kekayaan intelektual dan kearifan lokal masyarakat adat  ini perlu dilestarikan dan dijaga. Sanggar Budaya Bliran Sina selalu terus menggali motif-motif dan teknik-teknik tenun ikat tradisional dalam pembuatan karyanya.

 

Berwawasan lingkungan: dengan mengerjakan tenun ikat tradisional warna organik, berarti turut melestarikan lingkungan hidup. Dengan menjaga dan menanam kembali tanaman pewarna lokal seperti di yang ada di Flores ini akan cukup membantu penghijauan dan juga menjaga tingkat kesuburan tanah serta persedian air tanah. Juga limbah dari bahan pewarnaan alam/organik ini tidak berbahaya bagi lingkungan, bahkan ampasnya dapat menjadi pupuk bagi  tanaman.

Tarian menggarap ladang dari Sanggar Bliran Sina

 

Kesehatan ibu dan anak: penggunaan bahan pewarna organik, berbeda dengan bahan kimia, tidak berbahaya bagi kesehatan, baik si penenun itu sendiri (ibu) dan anaknya (terutama bagi yang sedang hamil dan menyusui).

 

Kesetaraan gender: dengan kembali melestarikan tenun ikat tradisional berarti turut menbantu kaum ibu untuk memiliki penghasilan sendiri untuk membantu dalam pemenuhan kebutuhan pangan serta nutrisi bagi keluarganya. Juga, dengan adanya pendapatan tambahan dari kaum ibu ini, maka hasilnya akan cukup membantu ekonomi keluarga dan pada akhirnya pasti akan mengangkat status sosial kaum ibu di dalam keluarga.

 

Mengangkat ekonomi kerakyatan: dengan mengerjakan Tenun ikat tradisional adalah merupakan salah satu cara membantu masyarakat dalam menambah pendapatan perkapita keluarga. Tenun ikat tradisional tidak membutuhkan padat modal hanya dengan mengunakan peralatan lokal, pemanfaatan lingkungan, serta adanya kemauan. Pelestarian kerajinan tenun ikat tradisional adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat itu sendiri.

 

Mama-mama dari Watublapi

 

 

Berbagai kerajinan tangan dari Sanggar Bliran Sina

 

 

20 Comments to "Seni dan Budaya Tenun Ikat di Flores (2)"

  1. Dwi Setijo Widodo  22 September, 2011 at 07:08

    Mbak Mawar09,
    Siapppp!
    Btw, kain2 itu memakai warna alam. Dominan warna biru indigo.

  2. Mawar09  22 September, 2011 at 06:26

    DSW: kain yang dipakai para penari itu bagus2 ya! terima kasih ya sudah berbagi infonya disini …. ditunggu artikel lainnya.

  3. Dwi Setijo Widodo  20 September, 2011 at 12:25

    JC,
    Selamat datang kembali di Flores!

  4. Dwi Setijo Widodo  20 September, 2011 at 12:22

    Mbak Alvina,
    Untuk harga kain dalam bentuk sarung, baik yang belum dijahit maupun sudah, harganya bervariasi. Paling murah adalah Rp350,000 di pasar lokal. Buat saya, selalu menarik untuk mengunjungi pasar lokal untuk mendapatkan kain-kain tenun tersebut. Seni menawar untuk mendapatkan kain tenun idaman lebih menarik daripada mendapatkannya di galeri atau art shop.

  5. J C  20 September, 2011 at 09:40

    DSW, luar biasaaaaaaaa…kain yang di artikel bagian 2 ini warna-warnya lebih menarik buat aku, corak dan motifnya juga sangat unik dan asik sekali. Asesoris gelang-gelang itupun tak kalah memikat…luar biasa, luar biasa…muanteeeeepppp…

  6. Alvina VB  20 September, 2011 at 04:17

    Terima kasih sudah berbagi informasi ttg tenun ikat di Flores.
    Kl boleh saya tahu, kira-kira satu kain tenun ikat itu harganya berapa saat ini (kurang lebih saja)?
    Terima kasih…

  7. Dwi Setijo Widodo  19 September, 2011 at 14:26

    Mbak Hilda,
    Saya melihat secara teknik pembuatan tenun ikat di Flores/NTT mempunyai kesamaan satu sama lain. Motif, warna, teknik penyelesaian untuk sebuah kain menjadi pembeda antara satu suku dengan yang lain. Alor memang juga mempunyai kain tenun yang tidak kalah unik dengan milik saudaranya yang lain di NTT. Makanya mempunyai satu kain tenun sebagai koleksi tidak akan pernah cukup…. Hehe.

  8. Dwi Setijo Widodo  19 September, 2011 at 14:17

    Mbak Hennie (6),
    Gelangnya perpaduan bahan daun lontar dan benang katun dengan warna organik. Hehe.

  9. Dwi Setijo Widodo  19 September, 2011 at 14:15

    Dj,
    Selamat sore dari Flores. Ya, semoga informasi ini menggugah kita semua untuk mengetahui kayanya adat, budaya kita semua. Semakin menghargai dan melestarikan apa yang kita punyai selama ini. Terima kasih banyak untuk komentar-komentarnya yang positif.

  10. Hilda  19 September, 2011 at 14:10

    wah mirip2 yg di Alor ya? tenun ikatnya bagus2, wkt kami pindah, banyak dikasih sebagai oleh2 hehehe….
    memang NTT penuh dng kekayaan motif tenun yg indah dan menarik…
    jadi kangen Alor hehehe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *