Bersukses-sukses Dahulu, Kini dan Kemudian

Diday Tea

 

” Bahagia itu adalah ketika bisa menikmati proses dengan cara meluruskan niat dan berikhtiar secara maksimal, sukses itu adalah ketika kita bisa mencapai sukses-sukses kecil dalam perjalanan untuk mencapai sukses- sukses besar, bukan harus bersakit-sakit dahulu, baru bersenang-senang kemudian.”

 

Gabungkanlah antara tingginya mimpi dan cita-cita kita, dengan  berusaha maksimal, disertai niat yang lurus dan ikhlas, sambil menikmati suksesnya setiap langkah yang kita ambil. Nikmati juga keberhasilan kita ketika berhasil belajar dari sebuah kegagalan, karena itu adalah pertanda bahwa kita akan bisa melakukan hal yang gagal itu dengan benar dan lebih baik.

Beberapa tahun ini, saya sangat meminati buku-buku tentang kesuksesan dan motivasi.

Kita harus sukses, bahagia, dunia akherat!

Kita harus menjadi manusia luar biasa!

Kita harus menjadi manusia super!

Kita harus bebas finansial!

Dan puluhan jargon- jargon lainnya, yang hampir selalu ada di setiap buku- buku tersebut.

Di tulisan ini saya lebih sering memakai kita. Mohon maaf yang tidak sependapat dan tidak merasa sebagai bagian dari “kita”.

Tapi, definisi kebahagiaan dan kesuksesan itu, ternyata masih diindetikkan dengan kesenangan karena banyaknya uang, besarnya penghasilan, jumlah aset, banyaknya kendaraan. Pokoknya  bahagia dan sukses itu banyak uang, titik.

Tidak sepenuhnya salah sih.

Karena, jika kita ingin banyak beramal sholeh, salah satu cara yang bisa mengakomodir keinginan kita untuk beramal,  ya dengan cara mencapai kondisi finansial yang cukup. Bagaimana kita bisa bersedekah jika kita saja masih pontang- panting dengan urusan dapur dan SPP sekolah anak kita?

Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang kita bisa melakukan hampir segalanya.

Nahh… Kembali ke topik utama..

Masalah yang terbesar adalah ketika ternyata, setelah bertahun-tahun berusaha, kita hampir tidak merasa bahwa si parameter2 kesuksesan itu ternyata tidak pernah kita capai sepenuhnya. Selalu saja ada yang kurang.

Kalah kita pikir-pikir sih, di dalam setiap tahapan kehidupan kita, sesungguhnya kita tidak pernah benar- benar sukses dan bahagia.

Kita kilas balik saja kehidupan kita ketika masih di kelas enam es de, menjelang ujian.

Kita pasti akan berusaha keras, belajar habis-habisan, ikutan bimbel, menyewa guru privat, minum cerebrovit, mencekoki diri kita dengan susu murni bergelas- gelas, dengan tujuan, agar kita bisa sukses lulus ujian dengan nilai yang tinggi.

Ketika kita ternyata berhasil lulus, dengan nilai yang tinggi, apakah kita bahagia?

Ternyata tidak!

Kebahagiaan kita ternyata hanya berlangsung selama beberapa minggu, karena ternyata, kita sudah dihadapkan lagi dengan masalah baru.

Kita sudah berhadapan lagi dengan tantangan hidup yang baru. Kali ini tantangannya adalah: kita harus bisa menembus SMP favorit.

Segala strategi, daya, dan upaya dikerahkan agar kita bisa masuk ke SMP favorit tersebut. Eh, ternyata setelah masuk SMP favorit tersebut, masalah hidup bukannay berkurang, malah bertambah. Mata pelajaran baru yang lebih sulit, lingkungan baru, dan segudang persoalan lagi yang harus kita hadapi.

Dan paket- paket masalah dalam hidup kita ini tidak  pernah selesai, hal ini ternyata adalah Deja Vu yang terus berulang sepanjang hidup kita.

Tantangan hidup seperti ini akan selalu terulang di dalam setiap tahapan kehidupan kita.

Setiap ujian datang silih berganti.

Setiap tantangan selalu datang menghadang.

Dari SMP ke SMA, hal yang sama terulang kembali.

Dari SMA ke kuliah, lagi-lagi masalah yang sama.

Sudah lulus kuliah, harus dipusingkan lagi dengan masalah mencari pekerjaan.

Ketika sudah mendapat pekerjaan, masalah  mencari jodoh yang datang.

Ketika sudah menikah, keinginan memiliki keturunan yang baik  juga akan menjadi tantangan yang menghadang.

Ketika sudah punya anak, mau disekolahkan di mana?

Dan seterusnya sampai maut menjemput kita, ternyata hidup ini adalah perpindahan antara satu masalah ke masalah lainnya.

Terus, kapan kita bahagianya dong?

Bagi seorang Muslim, kebahagiaan dan kesuksesan bukan hanya semata kesenangan karena telah mencapai hasil akhir. Kebahagiaan tertinggi yang bisa dicapai adalah ketika kita diridhoi oleh Allah. Jika sudah diridhoi Allah, kita pasti akan bahagia dan sukses di dunia dan akherat kelak.

Bagaimana caranya?

Menikmati proses, itu adalah kuncinya.

Bagaimana menikmati proses?

Dengan cara meluruskan niat dan memaksimalkan ikhtiar.

Dengan cara melakukan semua langkah kecil dalam kehidupan kita dengan benar, jauh dari cara yang tidak disukai Allah. Tidak dengan kecurangan, tidak dengan kebohongan, tidak dengan kelicikan.

Ketika kita bisa melalui ujian dengan jujur,tidak ,mencontek, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan.

Ketika kita mendapatkan jodoh kita dengan proses yang baik, itu adalah kebahagiaan dan kesuksesan kita.

Ketika kita bekerja, atau berusaha dengan jujur dan amanah, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan kita, berapapun keuntungan dan penghasilan kita.

Ketika kita bisa mendidik anak kita dengan baik, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan kita, walau kadang selalu ada kerikil kenakalan dan batu perlawanan yang menghalangi jalan kita.

Ketika kita bisa membuat orang-orang di sekitar kita nyaman dan tentram dengan kehadiran kita di dekatnya, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan tak terkira.

Sepertinya kita sedang menuju puncak sebuah gedung yang tidak ada liftnya, setiap langkah kecil yang sukses kita lakkan melalui satu buah anak tangga, akan mengantarkan kita lebih dekat puncak tujuan kita.

Seperti kita akan memindahkan segunung batu bata, maka yang kita lakukan pertama kali adalah memindahkan satu buah bata yang terdekat. Setiap batu bata yang berpindah, itu adalah kesuksesan kecil yang akan mengantarkan kita ke kesuksesan besar.

Perjalanan satu juta kilo meter pun akan selalu dimulai dengan satu langkah kecil.

Kesuksesan akbar, bukan hanya sekedar besar, pasti adalah akumulasi dari kesuksesan- kesuksean kecil.

Mari kita nikmati proses!

 

(sebuah inspirasi dari salah satu kajian Al Hikam Aa Gym, dan kutipan wawancara Mario Teguh dengan Sufinews)
didaytea.com170920111721
Doha-Ras Laffan HighWay, diiringi oleh Canon Acoustic Guitar

 

 

9 Comments to "Bersukses-sukses Dahulu, Kini dan Kemudian"

  1. diday  24 September, 2011 at 11:37

    Salam kenal juga ke semuanya… Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan saya.

  2. Dj.  21 September, 2011 at 02:13

    Kang Diday Tea….
    Terimakasih untuk renungannya….
    Dengan kata lain ( singkat kata ), hidup ini adalah perjuangan…..
    Tanpa perjuangan, maka hidup ini tidak akan maju.
    Kesuksesan bukan sekedar uang saja, tapi tergantung juga dengan cita-cita seseorang….
    Ada yang bercita-cita jadi biara wan / wati, maka jelas, dia tidak akan memiliki uang banyak.
    Namun demikian, dia telah sukses, karena cita-citanya telah tercapai.
    Ada yang bercita-cita jadi dermawan, maka dia akan sangat bahagia, bila dalam hidupnya bisa selalu berbagi….
    Salam Sejahtera dari Mainz

  3. Reca Ence Ar  20 September, 2011 at 22:43

    artikel yg bermanfaat
    mari kita nikmati proses…
    salam kenal mas Diday Tea

  4. Handoko Widagdo  20 September, 2011 at 19:14

    celakalah mereka yang lahir di balikpapan, kecil di palu, besar di malang tua di sukabumi

  5. alfred tuname  20 September, 2011 at 18:47

    the problem is how you measure your success. dalam menikmati prosesnya, sukses hanyalah kejadian fantasmatik….

  6. Dewi Aichi  20 September, 2011 at 17:47

    Setuju….kita terlahir di dunia juga melalui proses..

  7. rya  20 September, 2011 at 16:35

    setuju…….proses itu yang harus dinikmati karena tujuan bukanlah akhir…artikel bagus. tq

  8. [email protected]  20 September, 2011 at 10:04

    Betul sekali…the process that matters…

  9. J C  20 September, 2011 at 09:44

    Betul sekali…the process that matters…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.