Tuhan, Engkau di mana?

Wesiati Setyaningsih

 

Saya pernah membaca cerita sufi, tentang seorang  ahli agama yang menyebarkan cara berdoa yang benar. Menurut dia, hanya dengan itulah orang bisa meraih kesempurnaan dalam hubungan manusia dengan TUHAN. Suatu ketika, tibalah dia di sebuah pulau terpencil dimana orang-orangnya sama sekali belum pernah keluar dari pulau itu. Dengan penuh semangat sang ahli agama menyampaikan bagaimana cara berdoa yang benar.

Dengan puas, dia meninggalkan pulau setelah yakin bahwa semua orang di pulau itu tahu cara berdoa yang benar. Saat perahu sudah sampai di tengah samudera, dia melihat ada yang berkecipak mendekati perahunya. Tak percaya pada pandangannya, dia melihat seorang penduduk pulau itu sedang berlari di atas air menuju ke arahnya. Orang itu berteriak-teriak memanggil sang ahli agama. katanya, ” maaf tuan, saya lupa bagaimana bacaan doa yang tuan ajarkan tadi. Bila tidak keberatan, mohon diulang lagi….”

Saya tergelitik membaca cerita ini. ternyata kemudian cerita seperti ini muncul dalam beberapa versi. Dalam buku Anthony de Mello, cerita ini ada. Dalam note bapak Grasius Josef Iskarjanto, saya juga membaca cerita yang kurang lebih sama, namun sang ahli agama dalam note itu adalah seorang pastor. Saya kira intinya sama. Orang sering menganggap Tuhan hanya mau mendengar doa-doa yang disampaikan dengan cara tertentu, dengan lafal tertentu. Entahlah kenyataannya, tapi dalam pemahaman saya, Tuhan tidak seperti itu. apapun lafalnya, apapun caranya, entah lembut atau berteriak-teriak sekalipun, kok saya yakin bahwa Tuhan akan mendengarkan dengan ‘respon’ yang sama : ‘tersenyum’ penuh kasih dan memberikan apapun yang kita minta dalam ‘bentuk’ yang terbaik untuk kita.

Malam ini saya menghadiri acara ‘doa bersama’. Dengan doa-doa yang saya hafal, saya ikut bersama ibu-ibu yang lain membaca doa yang sudah ‘satu paket’ itu pada satu sesi doa, hanya salah satu yang membaca doa, yang lain hanya meng’amin’i. Tiba di sesi ini saya teringat waktu ibu saya membaca doa yang sama di makam ayah saya dan mestinya saya meng’amin’i tapi saya diam saja. Saya berdoa sendiri dalam hati. Dan ibu menyenggol dengan marah, “mbok ‘amin’, gitu..”. Saya agak jengkel tapi juga geli. Tidak bolehkah saya punya doa sendiri? Haruskah saya ikut berdoa sesuai cara ibu saya?

Dan malam ini, kami berdoa bersama. Doa-doa yang kami sepakati bersama untuk dibaca pada saat-saat seperti ini doa satu paket. Semua membaca dengan tertib, juga saya. Saya tidak tahu, apakah ada di antara ibu-ibu itu ada yang memiliki pertanyaan, seperti pertanyaan yang mendengung di kepala saya. Apakah Tuhan lebih menyukai ini daripada doa-doa yang lain? Apakah doa ini paling ‘didengarnya’ dari doa-doa yang lain?

Dalam gerakan mulut yang melafalkan doa yang sama dengan semua ibu di ruangan itu, saya bertanya dalam hati,

“TUHAN, ENGKAU di mana?”

Tuhan seperti menjawab pertanyaan saya, berbisik lembut ke hati saya,

“AKU ada di manapun, di manapun engkau menganggap AKU ada..”

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

36 Comments to "Tuhan, Engkau di mana?"

  1. kita  30 September, 2011 at 16:55

    that’s the problem; dikutip tapi tidak menunjukkan sumbernya … poor Tolstoy

  2. wesiati  28 September, 2011 at 18:44

    kita : oh, itu tulisan leo Tolstoy ya? banyak yang menyadurnya dan memasukkannya dalam buku2. termasuk kisah2 anthony de mello. terima kasih masukannya.
    mas Djohan Kohar : saya nulis pake bahasa inggris kan cuma beberapa mas. lainnya indonesia semua kok. banyak tuh di fesbuk. cuma enggak aku tag ke mas djohan. malu…. heheh…

  3. djohan kohar  27 September, 2011 at 08:03

    keberanian menulis yang dipublikasikan disini adalah langkah pertama luar biasa, selanjutnya pasti lebih luarrr biasa….. (tapi itu kan hanya suatu bentuk “kerendahan hati” karena ibu guru sudah banyak tulisannya bertebaran dimana-mana dan dibaca banyak orang, hanya karena bahasa inggeris…. aku ra’ mudheng he he ) Selamat ya Mba Wesiati…..

  4. kita  25 September, 2011 at 07:48

    “The Three Hermits” by Leo Tolstoy, cerita seorang Pendeta dengar ttg 3 pertapa yang tinggal di sebuah pulau mencari keselamatan diri dgn mengucapkan doa: “Kamu ada tiga, begitupun kami juga bertiga, tolong selamatkan kami”, dan dia membelokkan kapalnya khusus ke pulau itu untuk ngajarin mereka berdoa Bapa Kami, sampe hafal. Pas dia berlayar balik, eh ketiga-tiganya ngejar dia dengan berjalan di atas air dan minta diajarin lagi karena mereka lupa kata2x dalam Doa Bapa Kami itu .
    Dan diriku rasa, si Tolstoy sudah menjawab pertanyaan awal dan akhir: “where is GOD?”, silakan baca cerita pendeknya: “WHERE LOVE IS, THERE GOD IS ALSO”

  5. wesiati  25 September, 2011 at 06:11

    kok malah jadi pada nanya aku dimana… wkwkwk… aku di semarang. tepatnya di meranti raya no. 5 banyumanik. pinggir jalan besar kok (*ya eyalah. kalo di tengah jalan sudah di terjang mobil2). maksudnya bis dan mikrolet lewat depan rumah. mari pada mampir kalo ke semarang.
    terima kasih banyak atas apresiasi teman-teman di sini. saya bahagia. tulisan saya hanya curhatan2 jujur yang akhirnya berani saya tuliskan. dulu-dulu mana berani nulis gitu? takut dikomentarin enggak enak. sekarang sih, sudah kebal. baik buruk komentar orang, itu semua memperkaya saya. terima kasih banyak sekali lagi.

  6. Meitasari S  24 September, 2011 at 13:31

    mb wesiati smg nya dmana? Aku dsmg jg lho! Ayuk ngumpul ,pengin bnget nih ngobrolin tulisan …

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.