Kenangan Terhadap Tiga Mantan Saya

Handoko Widagdo

 

Siti Fathonah

Waktu kecil saya masuk ke TK Masyitoh. TK ini dekat dengan rumah saya. Teman-teman bermain saya juga masuk ke TK ini. Sebenarnya ada TK lain di desa saya, yaitu TK RIMBANI yang berada di komplek Perhutani. Namun karena teman-teman sepermainan saya semua ke TK Masyitoh, maka saya juga masuk ke TK Masyitoh.

Saya senang sekali di sekolah. Ibu Siti Fathonah adalah guru saya. Ibu Siti Fathonah selalu berkerudung dan bergaun panjang. Dia naik sepeda ke sekolah. Sore harinya Bu Fath, begitu kami memanggilnya, juga mengajar di Madrasah Diniyah. Dia mengajari saya menyanyi beberapa lagu. Di antara lagu-lagu yang saya ingat adalah lagu Pelangi-pelangi, Dod do lit dod do lit bret dan Aku Anak Islam. Lagu Aku Anak Islam bahkan masih aku ingat sampai sekarang:

 Islam agamaku
Muhamad nabiku
Alloh Pangeranku
Alquran kitabku

Lagu ini adalah lagu favoritku. Saya sering menyanyikannya ketika di sekolah, saat bermain maupun saat di rumah. Engkong, Emak (yang keduanya tinggal bersama dengan kami), papa dan mama tidak pernah ada yang melarangku saat aku menyanyikan lagu tersebut.

Setiap hari kami bernyanyi dan belajar. Seingatku saat TK saya belajar huruf Arab, belajar mengucapkan kalimat Syahadat dan belajar sholat. Saya bahkan pernah ikut lomba baca Syahadat saat perayaan Maulud Nabi.

Sejak sekolah di TK Masyitoh yang berada di dalam pesantren, teman-teman saya bertambah banyak. Diantara teman-teman itu adalah anak-anak dari para pemilik toko di pasar. Diantara teman-temanku itu adalah Kholig anak Pak Sholekan dan Khusen anak Pak Roekin. Mereka selalu memanggilku saat lewat di depan rumah dan kemudian kami berangkat bersama ke sekolah. Tidak lupa kami juga menyamperi Siti Sholekah.

Melihat teman-teman TK saya berkain sarung dan berpeci pergi ke pengajian saat sore hari, saya ingin ikut mereka. Saya minta dibelikan sarung dan peci juga. Tapi papa dan mama melarang saya ikut mereka. Mama juga tidak meluluskan permintaan saya untuk mempunyai sarung dan peci. Saat itu saya tidak mengerti mengapa saya dilarang. Saya senang menirukan orang sholat. Saat saya mempraktikkan gerakan sholat maka mama akan tertawa-tawa.

 

Suharni

Salah satu kenangan terbaik yang mengubah hidup saya saat SMP adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Adalah Bu Guru Suharni, yang kami panggil Bu Harni yang membimbing saya untuk mengenal novel-novel Balai Pustaka dan Angkatan 66. Bagi saya Bu Harni bukan sekedar guru. Dia adalah orang yang telah membimbing saya untuk menyukai sastra. Saat itu saya sudah suka membaca. Bacaan saya adalah komik-komik seperti Kelelawar, Si Buta Dari Gua Hantu, Gundala Putra Petir, Panji Tengkorak, Jaka Sembung serta serial Kho Ping Ho. Komik dan serial Kho Ping Ho saya sewa dari persewaan buku di Wirosari.

Bu Harni berhasil mengubah saya dari pembaca komik dan serial Kho Ping Ho menjadi pembaca buku-buku Balai Pustaka dan buku-buku cerita serius. Dia menemaniku di perpustakaan sekolah, memilihkan buku, mengajak diskusi tentang buku yang saya baca saat istirahat. Dia juga meminjamkan buku koleksinya. Sering saat pulang sekolah saya diajaknya ke rumah untuk mengambil buku yang dipinjamkannya kepada saya. Saya sudah melahap Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Belenggu, Pagar Kawar Berduri, Pada Sebuah Kapal (yang ini milik Bu Harni) saat saya di SMP. Sejak itu saya menjadi keranjingan membaca novel.

 

Sutartik

Saya juga sangat baik di pelajaran Bahasa Indonesia saat SMA. Kemampuan menulis saya terasah saat saya di SMA. Kemampuan menulis saya berkembang berkat bimbingan yang diberikan oleh guru Bahasa Indonesia, Bu Tartik. Bu Tartik bukan sekedar guru bagi saya. Sebab Bu Tartik dengan sabar memberi masukan kepada karya tulis saya. Beliau tidak segan-segan untuk memanggil saya dan mendiskusikan karya tulis saya setelah selesai mengajar di kelas. Beliaulah yang mengajarkan bagaimana membuat paragraf yang baik. ”Setiap paragraf harus ada ide pokoknya”, demikian beliau selalu mengingatkan saya saat paragraf yang saya buat melantur kemana-mana. Beliau juga melatih saya dengan memberi komentar tertulis dan mendiskusikan paragraf-paragraf yang saya hasilkan.

Terima kasih Bu Fath, Bu Harni dan Bu Tartik. Berkat bimbingan Ibu saya bisa menjadi seperti sekarang.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

37 Comments to "Kenangan Terhadap Tiga Mantan Saya"

  1. Handoko Widagdo  29 January, 2012 at 08:17

    Mbak Tiwik, Khomid adalah abangnya Kholig. Yang satu kelas dengan saya sejak di TK Masyitoh adalah Kholig. Khomid baru jadi teman sekelas di SMP karena dia tidak naik kelas saat kelas 1.

  2. dwi sri sujarwati  28 January, 2012 at 20:31

    Han, anak Pak Solekhan bukan Kholik tapi Khomid. Khusen itu Nurul Khusaeni (Eni) kan. Terus Siti Solekhah itu mungkin maksudnya Laeli Solekhah yg rumahnya depan Bu Fajar kan…???
    Lhah.. cerita tentang guru SD Kradenan 1 mana dong….??? hehehehhe
    Tentang Bu Harni, saya sangat bosan diajar beliau. Monoton.. hehehehh. tapi saya jadi dendam. Sekarang aku jadi guru Bahasa Indonesia yang selalu berusaha agar anak suka pelajaran yang aku ajarkan dengan banyak variasi, karena rata-tara anak gak suka pelajaran Bahasa Indonesia, apa lagi kalau disampaikan dengan cara yang monoton. hehehehhh

  3. Handoko Widagdo  24 September, 2011 at 15:09

    Lida, ada juga kok guru lelaki yang berjasa dalam hidupku. Suatu saat pasti aku tulis

  4. Handoko Widagdo  24 September, 2011 at 15:08

    Mbak Dewi…disambung maneh…aku ora gampang nangis, suk gedhe ora ngemis mergo bojone manis

  5. lida  24 September, 2011 at 09:18

    pak Hand, yang di inggat guru2 cewek saja…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *