Satu Bab Yang Hampir Selesai – Hingga Fajar Esok Hari (1)

Leo Sastrawijaya

 

Saat ini jam empat lebih duapuluh lima menit. Aku menemukan sebuah sore nan cerah di kawasan  Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Jalan yang menuju ke arah Mampang, begitu padat dan macet.  Oooh…….akhir pekan saat sore bergegas menuju senja.  Kawasan ini adalah sebuah oase yang tengah ditinggalkan oleh para pendatangnya. Mereka laksana burung-burung kelimis yang setelah lima hari tenggelam dalam hiruk pikuk, maka kali ini kerinduan akan sarang-sarang  penuh damai yang ditinggalkan barangkali membeluncah tiada terkatakan.

Sore ini bagian dari jiwa yang pergi entah kemana, akan kembali pulang, rumah-rumah yang selama ini kosong tanpa jiwa akan terisi lagi oleh roh kehidupan. Pasangan-pasangan yang terpisahkan akan menemukan kembali kekasihnya, anak-anak yang kehilangan satu atau kedua orang tuanya selama lima hari akan kembali menemukan wujud penuh orangtua mereka. Mungkin pada sebagian dari mereka para pekerja, inilah saat untuk kembali menemukan diri mereka sendiri sebagai manusia secara utuh. Di mesin-mesin raksasa penghela laju ekonomi, jiwa raga kita tergadai, menjadi bagian kecil, begitu kecil dari sebuah sistem dan sistem itu menelan kita nyaris tanpa daya tawar……. Tetapi mungkin benar bila ada yang mengatakan bahwa hidup kita ternyata tidak lebih dari keseimbangan antara karunia dan bencana. Dalam keseimbangan itu kita bermain dan tidak boleh merasa lelah karenanya.

Sore akhir pekan adalah sore yang menggairahkan mereka. Tubuh-tubuh kelimis para pekerja kantoran nampak berjejer bahkan berdesakan di halte-halte bis. Lalu sebagian di antaranya nampak berusaha keras membuang semua penat jiwa dalam perjalanan kesepian seorang diri di mobil mereka masing-masing.  Sementara itu pada jam empat lebih tigapuluh sore, matahari tanpa awan masih perkasa membagikan sinarnya bagi kehidupan jagat raya ini tanpa pamrih, tanpa pretensi.

Aku menjadi malu sendiri manakala menyadari, aku tidak pernah sedikitpun mengucapkan terima kasih kepada mereka; Matahari dan bumi yang terus berputar melayani kita semua. Aku selama ini mungkin telah terlalu menyederhanakan semua fenomena alam itu dengan frasa pendek; bahwa mereka harus berputar adalah karena kehendak sang takdir. Aku telah terperangkap dalam visi tanpa sikap rendah hati bahkan terhadap jagat seisinya yang kesetiannya telah menampung hidupku.  Hidup membekaliku dengan sebuah plot cerita, aku diberinya otoritas untuk membangun skenario, memainkannya, maksudku mencoba memainkannya, mengkoreksinya jika salah, kemudian memainkannya lagi dan seterusnya hingga waktu edar kita di alam fana ini usai.

Dari keputusan-keputusan hidup yang aku buat itu aku dievaluasi. Seharusnya aku tidak memilih opsi abstain dalam hidup beserta semua kemungkinannya. Tetapi kini sejak kepergian Ira, aku tidak memiliki keinginan lain selain membiarkan diri terseret  mengikuti arus hidup kemana saja……aku abstain, pilihan-pilihanku telah usai. Inilah kematian dalam hidup.

Entahlah!

Dan sebuah kafe mewah ini adalah entry gate yang akan membawaku entah kemana. Kedunia asing tanpa pernah aku mampu membayangkan akhir perjalananku……. Aku hanya tahu, aku adalah pelacur sesaat setelah ‘klienku’ setuju dan malam ini berakhir.

‘Ini kencan pertamamu, kuharap kamu akan menikmatinya. Dia tigapuluh limaanlah tetapi masih lumayan menawan. Eksekutif yang kesepian. Dia tidak mau dilayani oleh mereka yang tidak memiliki wawasan, bagaimanapun gantengnya. Aku yakin kamu memenuhi semua kriterianya.’

Aku hanya berusaha tersenyum sedikit mendengar cara Irawan menguatkan kepercayaan diriku. Ini adalah hari pertamaku menjadi seorang pria panggilan alias gigolo. Buruk nian. Tapi ah, apa peduliku. Semua sudah tercerabutkan dariku.

“Erwin, eh Roy maksudku. Itu dia datang. Lihat klienmu itu…….aku tidak menjerumuskan sahabatku untuk melakukan tugas yang terlalu berat kan?’

Di ujung sana aku melihat wanita tigapuluhan dalam balutan busana nan chick berjalan penuh percaya diri menghampiri kami dengan senyum lebar. Itu adalah Mbak Asmara seperti yang diceritakan oleh Irawan sahabat, mentor dan sekaligus mucikariku. Dari pandangan sekilasku dia nampak begitu percaya diri. Wanita karir yang kini menduduki puncak piramida organisasi bisnis, wajarlah dia kini berada pada tingkat kepercayaan diri sangat tinggi. Kukira kini dia berada pada titik dimana dia tidak merasa butuh pria pendamping; kecuali untuk bersenang-senang. Dan aku adalah calon merchandise yang tidak memiliki daya tawar, aku sepenuhnya menunggu keputusannya dalam raga tanpa jiwa.

‘Sudah lama menunggu……….?’

‘Belum…….baru saja kami sampai sekitar lima menit lalu. Oh iya ini sahabatku Roy sebagaimana yang aku ceritakan kemarin dan tadi…Roy ini Mbak Asmara.’

‘Ooooh, okey, jadi ini yang namanya Roy…..Asmara.’ Dia mengulurkan tangan dan aku menyambutnya. Saat itu pandangannya menyapu seluruh wajah dan penampilanku. Seolah menguliti inci demi inci kulit tubuhku. Walau sedikit risi tetapi aku bersuaha bersikap sebiasa mungkin. Bagaimanapun aku seorang professional kini, tidak peduli kamu akan mencibiri aku.

The first, yang pertama?’ tanyanya nakal.

Yes mbak, the first…kencan professional pertamaku.’ Kataku mencoba percaya diri walau getir.

‘Profesional? Biar nanti aku nanti yang menilainya. Sudah pesan makanan?’

Kami menggeleng. Ooooh, bahkan ketika menyangkut hubungan antar manusia wanita di depanku ini masih membawa serta obsesi memimpinnya. Mungkinkah tanggung jawab professional bisa memberi pengaruh demikian kuat dan menelan habis seseorang mengubahnya menjadi sejenis mesin baru? Atau justru ma’af, mbak cantik satu ini sesungguhnya belum siap untuk sampai di puncak? Jika seseorang yang di puncak juga terhisap oleh sistim, lalu siapa yang mengendalikan dan memberi warna terhadap sistim itu?

Ah, tapi biarlah. Setiap orang mungkin memang berhak untuk berbahagia dengan dunianya sendiri, setidaknya berhak membangun rasa bangga meski itu harus berpura-pura. Faktanya aku kini berada di bawah ketiaknya, bahkan aku tidak memiliki daya tawar terhadap selera dan hasratnya untuk menilaiku. Kini aku hanyalah merchandise baginya. Dan aku harus bersiap untuk itu.

Mbak Asmara menulis sendiri pesannya setelah dia menanyakan pesanan kami masing – masing. Sejenak dia mengerling angkuh kepadaku, matanya sedikit nanar kini. Rupanya secerdas apapun manusia dia tidak akan kuasa menahan dinamika hormonnya sendiri. Jadi mengapa harus angkuh. Sebagai mantan playboy kampung aku tahu benar gerak hasrat seorang wanita. Di batas ini, aku sudah tahu dia akan segera mengusir Irawan dan menjinjingku entah kemana. Tapi aku berusaha untuk tidak bersikap jumawa. Biar saja segalanya mengalir bagai air. Ketika pesanan tiba, tanpa basa-basi panjang kami segera menyantap makanan tersebut. Ia hanya memesan steak salmon, kentang kukus dan orange juice. Kami memesan steak sapi ukuran sedang, nasi dan minuman ringan.

“Okey Ir, setelah ini selesai kamu boleh meninggalkan kami.”

Irawan menghentikan suapannya, melirik penuh arti ke arahku lalu berkata ; “ Saya tidak terlalu meleset mendeskripsikannya kan?”

“Ehm, sejauh ini tidak. But this is still in the first touch….jadi kita lihat saja nanti.”

Angkuh nian gadis ini. Sial benar kamu. Sialnya lagi aku melihat Irawan tertawa penuh arti dan mengerlingkan mata kearahku. Sungguh saat ini aku melihat Irawan adalah manusia sialan, ia memiliki semua bakat untuk menjadi mucikari rupanya. Senyum menawan penuh artinya mengingatkanku kepada sebuah dealing bisnis yang sukses. Setidaknya Irawan adalah salesman yang jujur dan si  pembeli adalah pembeli berpengalaman yang enggan larut dalam kepuasan transaksinya. Atau inikah ciri khas dari sang eksekutif kesepian itu ? Okeylah kalau begitu, nanti kamu akan melihat apa yang bisa kulakukan terhadap seorang gadis sepertimu, top eksekutif sekalipun.

“Aku sudah selesai kukira, aku pamit dulu. Selamat akhir pekan.” Irawan menghabiskan makanannya begitu cepat, layaknya orang yang sudah tidak makan tiga hari lamanya. Aku tersenyum geli, ia hanya ingin melayani. Sekali lagi, dia sangat berbakat melayani.

Well, kita tidak perlu terburu-buru kan ?  “ Katanya dengan kerling menggoda.

“Aku mematuhi semua perintah paduka.” Kataku mencoba mencairkan suasana.

“Tentu saja, tetapi aku mengharap mendapatkan kejutan. Bukan sesuatu yang ada dalam imajinasiku sendiri.” Ia menatapku tajam, seperti hendak menelanku bulat-bulat.

“Kayaknya aku cukup punya kemampuan untuk itu.”

“Hm, begitukah. Kamu cukup percaya diri rupanya.”

Aku tertawa, melenguh, dan membatin – Terserah apapun pekerjaanmu, berapa besar rentang kendali yang menjadi kekuasaanmu, tetapi sekarang anda masuk fase permainan bebas.  Dan kurasa aku cukup punya bakat untuk menjadi cepat fasih dalam permainan seperti yang mungkin segera menjadi habitat baruku.

“Saya hanya merasa cukup memiliki bakat untuk itu.”

“Saya senang dengan pria yang sadar akan bakatnya……Kadang-kadang ada yang menakar lebih bakatnya, kadang-kadang sebaliknya.” Ia berkata demikian sambil tersenyum penuh arti, sebuah senyum komando. Mbak, memang saat ini aku bahan permainanmu, tetapi aku bukan anak buahmu.

“Bolehkan aku tahu sedikit tentang dirimu? Karena mungkin kita akan menghabiskan akhir pekan yang panjang berdua. Jadi aku perlu tahu siapa dirimu. Sedikit saja.”

“Seperti sebuah preliminary interview?”

“Yah, begitulah. Kamu pernah melakukan interview seperti itu?”

“Tidak.”

“Pekerjaan apa yang pernah kamu lakukan?”

“Berdagang. Aku merasa sebelumnya memiliki kewajiban untuk menjaga diriku sendiri dari intimidasi. Wawancara kerja bagiku merupakan bagian dari intimidasi. Betapapun orang mengatakan sebaliknya.’

‘Menarik. Aku baru pernah mendengar pernyataan seperti itu’

‘Bagian lain yang anda harapkan bukan ?’

‘Yah…..yah benar juga.’

‘Anda datang ke area tourist spot, tidak untuk mengulang pengalaman sama, menghapalkan suasana. Anda datang untuk hal-hal yang baru. Kecuali di sana menyimpan sebuah nilai untuk anda. Begitukan mbak?’

‘Benar. Dari mana sebenarnya kamu datang?’

‘Dari dunia nan terang benderang, kemudian menjadi redup dan gelap.’

Asmara terdiam, aku tahu dia mulai mengambil alat ukur berbeda untuk mengukurku. Ia menatapku dengan senyum tawar, sebuah peralihan kurasa. Bukan hanya kamu boss, akupun tengah mengukurmu. Beda sudut pandang saja. Kamu mengukurku dari sudut pandang manfaatku untukmu, aku mengukurmu supaya tahu bagaimana bisa memuaskanmu. Penilaian untuk  bekal pelayanan profesionalku. Bagaimanapun kemudian kusadari bahwa ini adalah bisnis, lalu apa daganganku? Kehormatan rupanya…..Ah, aku tertampar telak. Lalu kepada siapa kehormatan ini harus kupersembahkan sekarang kalau bukan kepada ekonomi? Murah sekali, tetapi sudahlah ………. apapun yang akan terjadi maka terjadilah.

‘Kamu kuliah di mana dahulu?’

‘Sebuah perguruan tinggi negeri tidak terlalu terkenal.’

‘Rampung?’

‘Tidak. Aku mahasiwa yang kehilangan antusiasme hampir sepanjang masa kuliah.’

‘Aku tidak kaget. Aku bisa melihatnya dari sikapmu.’

‘Sikap yang mana, kalau aku boleh tahu.’

Overall…….’

‘Oh ya.’

‘Yah…..aku yakin. Semoga akan menjadi wisata menarik akhir pekan ini.’

Aku hanya tersenyum kecut. Bagaimanapun mau tidak mau aku harus menerima peran baru dalam hidupku; sebagai objek; merchandise, tentu saja dengan nyaris tanpa posisi tawar. Mulai hari ini, hingga entah sampai kapan. Tetapi apa perduliku? Ibarat seorang pelaut kini aku toh tidak lagi memiliki pelabuhan apapun untuk kutuju. Tidak ada rumah cinta apapun yang membuatku merasa perlu bergegas untuk pulang.

Di tengah samudera raya, diombang ambingkan oleh ombak, mungkin merupakan cara terbaik untuk menikmati kesepian dan rasa kehilangan nan tiada tara ini. Aku harus terus mengembangkan layar dan membiarkan angin menyeretku entah kemana. Ke pantai-pantai paling asing, pulau-pulau paling tersembunyi. Kemana saja angin membawa bidukku. Aku hanya ingin menemui pelabuhan – pelabuhan persinggahan selamanya, hanya menunggu tubuhku susut dan alam menurunkan senja abadi.

Kesenangan-kesenangan kecil dalam pengembaraan ini kucoba nikmati dengan perasaan getir. Bagaimanapun kalau mau jujur, ternyata bahkan di tengah samudera raya saat sendiri dengan hanya ditemani malam gelap dan deburan ombak, kita masih bisa menikmati wajah keindahan. Inikah yang sering disebut para psikolog sebagai daya tahan alamiah manusia ? Entahlah.

Dan aku kini menelisik setiap sudut, mencari udara segar untuk meringankan kerja paru-paruku jiwaku. Pernahkah kalian merasakan saat-saat dimana jiwa dan ragamu terpisah jarak satu sama lain? Jika kalian pernah merasakan itu maka kuharap itu hanyalah masa lalu yang kini tengah kalian perjuangkan untuk dilupakan. Karena keadaan seperti ini sungguh sangat menyiksa bukan? Kini ragaku di sini, di sebuah kafe mewah ditemani alunan musik nan syahdu, dengan semua hasrat badaniahku nan menggejolak. Tetapi jiwaku kini mengambang, terbawa angin ke negeri-negeri sunyi  asing. Aku dihanyutkan oleh benturan rasa antara hasrat dan penolakan sekaligus.

Hari sudah hampir senja saat kami meninggalkan kafe, seperti dalam mimpi aku berjalan dalam gandengan Mbak Asmara, sungguh seperti sebuah mimpi. Inilah kali pertama aku harus berpura-pura jinak dihadapan seorang wanita yang bukan kekasih dan bukan ibu kandungku. Saat meninggalkan kafe, aku merasakan batas-batas keangkuhannya sedikit mulai mencair. Di awal aku sedikit merasa kheqi dengan kelakuan mbak nan charming dan kelihatannya selalu berusaha mati-matian menjaga sikap ini. Tetapi kurasa aku mulai dapat menemukan  betapa dirinya sesungguhnya telah menjalani hidup dengan bekal tidak sempurna. Ada ketidak seimbangan, ada kegagalan untuk memberikan perhatian dalam hidup secara lebih imbang. Kupikir dia sama sakitnya dengan-ku atau mungkin bahkan lebih sakit. Dengan derita yang aku tidak tahu apa, tetapi aku tahu pasti ia sakit…….

Dia langsung mengajakku ke apartemennya, sebuah apartemen modern di selatan Jakarta. Malam ini dia tidak ingin keluar kemana-mana, dia bercerita biasanya dia pergi ke luar kota bila ada yang menemani. Tapi malam ini tidak, ia hanya ingin menikmati akhir pekan berdua denganku saja di kamar apartemennya. Saat kami datang, dua orang pembantunya segera bergegas untuk pulang. Mereka memang para pembantu yang datang pagi dan pulang sore.

Salah seorang dari mereka tersenyum penuh arti kepadaku saat kami bertatapan, senyum dari wanita setengah baya tersebut sungguh membuatku merasa malu. But the show must go on, aku tidak mungkin bisa menarik diri dari permainan yang sudah kumulai  ini. Kemanapun dia akan membawaku, bagaimanapun bentuk akhir dari permainan kehidupan ini aku harus menitinya hingga akhir. Namun dalam hati paling dalam dan sangat lamat-lamat, aku masih berharap jalan yang kini tengah kutiti bukanlah jalan satu arah. Aku masih merindukan Ira, walau aku tidak mungkin sanggup menemukan cara untuk menemuinya. Pada saatnya kuharap aku masih bisa berbelok dan menemukan dia menungguku pada sebuah halte…….

Oooh, ternyata aku memang kehilangan sebagian dari hidupku.

bersambung…

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Leo Sastrawijaya. Make yourself at home. Artikel pertama yang menghanyutkan…ditunggu artikel-artikel berikutnya. Terima kasih Dewi Aichi yang sudah mengenalkan Baltyra kepada Leo…

 

13 Comments to "Satu Bab Yang Hampir Selesai – Hingga Fajar Esok Hari (1)"

  1. J C  29 July, 2013 at 10:21

    Ini ternyata pembuka dari untaian cerita selanjutnya…mantaaaappp…

  2. Leo Sastrawijaya  1 October, 2011 at 00:31

    Terima kasih untuk semua komentarnya, cerita di atas sebenarnya merupakan draft dari salah satu bab dalam novel yang sedianya ingin saya buat, berhubung kelamaan tidak kelar-kelar akhirnya saya post di notes Facebook saya. Tulisan ini dikirim ke redaksi Baltyra oleh teman saya Dewi Murni dengan ijin saya … jika anda merasa terhibur dengan tulisan di atas terima kasih, jika tidak menghibur tentu saja saya tidak mau minta maaf… hehehe.

  3. Dewi Aichi  24 September, 2011 at 07:14

    Selamat datang..Bang Leo..! Sekali datang ceritanya wuihhhhh

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.