[Cinta di Atas Awan] Alberta

Hennie Triana Oberst – Jerman

 

Aku mengucapkan kata perpisahan kepada Marc sambil melambaikan tangan. Ia masih mengingatkanku untuk tidak segan menghubunginya nanti ketika kembali dari liburan di Edmonton. Jawabanku mengiyakan dengan anggukan kepala.

Ini kali ketiga aku berada di bandara Vancouver. Pesawat yang akan membawaku ke Edmonton mengalami keterlambatan satu jam dari jadwal, jadi kuputuskan menuju satu café untuk sedikit bersantai sembari menanti penerbangan selanjutnya.

Setelah mendarat di bandara Edmonton kuterima pesan tertulis dari temanku melalui petugas bagian informasi. Sarannya agar aku menggunakan taxi menuju tempat tinggalnya, ia tak bisa menjemputku karena di luar cuaca sangat jelek, badai salju dan jalanan sangat licin.

Menuju pangkalan taxi ditemani udara dingin dan hari yang masih gelap, dinihari yang menyambutku. Walaupun begitu aku tetap merasa nyaman berada di negeri Winnie the Pooh ini. Sambil mengucapkan salam kuangsurkan secarik kertas yang tertulis alamat temanku kepada supir taxi, ia kemudian membacanya. Lelaki yang kemudian kutahu berasal dari Pakistan tersebut berkata dengan sopan bahwa ia akan menyetir mobilnya sangat lambat karena kondisi jalan yang licin dilapisi es. Aku mengiyakan dan mencoba mengerti situasinya.

Beberapa menit berlalu setelah kami meninggalkan bandara tiba-tiba taxi berputar seperti gasing, tanpa arah. Entah perasaan seperti apa yang kurasakan saat itu, tak bisa kugambarkan. Mobil tak terkendali, hanya bisa pasrah dan menunggu kapan taxi berhenti. Sampai akhirnya bagian belakang taxi meluncur menuju satu bangunan dan berhenti tepat sebelum menerjang sebuah tiang jalan. Syukurlah, kami berdua selamat tanpa cedera, dan taxi tak menyentuh bangunan ataupun tiang.

“Are you ok?”, tanyanya sambil menoleh ke arahku dan menghela nafas panjang. Pasti ia lega tak ada kejadian yang lebih buruk lagi. Seperti baru saja bangun dari mimpi buruk.

Aku hanya bisa mengangguk, mulutku seperti terkunci, sangat terkejut dengan peristiwa yang baru itu kualami seumur hidupku.

Ia kemudian meminta maaf. Aku berkata bahwa hal tersebut bukan kesalahannya. Dengan kondisi cuaca jelek seperti ini, kadang bisa terjadi hal-hal yang tak diharapkan.

~~ooo~~

Kulihat Michele, temanku, telah menunggu di ruang tamunya yang terlihat diterangi lampu. Ia membuka pintu rumahnya ketika melihat ada mobil berhenti di depan kediamannya. Ternyata ia telah menelfon petugas bandara untuk memastikan apakah pesawat dengan nomor penerbangan yang kutumpangi telah mendarat atau belum. Setelah saling berpelukan melepas kangen dan membereskan barang bawaan, kemudian aku menuju kamar mandi, menyegarkan diri dengan siraman air hangat ke sekujur tubuhku.

Kunikmati secangkir teh hangat setelah itu sambil sedikit mengobrol di ruang tamu. Namu rasa kantuk yang hebat mendera tak sanggup membuatku berlama-lama, akupun pamit untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan untukku selama liburan di sana. Penerbangan panjang yang melelahkan ini serasa membuat tulang-tulangku remuk redam.

~~ooo~~

Selesai sarapan bersama kami putuskan untuk melihat-lihat kota Edmonton, yang merupakan ibukota dari provinsi Alberta. Masih sangat dingin walaupun sekarang sudah di penghujung April, di mana-mana masih terlihat salju menumpuk, ditambah jalanan yang sedikit licin. Tak terlalu mudah dan nyaman bagiku untuk melangkahkan kaki di jalanan licin berlapis salju yang telah memadat karena terinjak oleh pejalan kaki ataupun terlindas roda kendaraaan yang melintas.

Sangat kunikmati suasana sekitar kampus University of Alberta, hanya sayangnya tak banyak waktu yang tersedia untuk menghabiskan siang di sana. Sebelum kembali ke kediaman temanku petang itu kami sempatkan menikmati hidangan di salah satu restoran yang menyediakan makanan daerah setempat.

Sebenarnya rencana liburanku di kota ini selama empat hari tetapi aku putuskan hanya melewatinya cukup dua hari saja. Walaupun dua hari lebih awal tak terlalu banyak perbedaannya, tetapi aku fikir akan membuat temanku sedikit bisa bernafas lega, karena ia tak perlu sibuk untuk segera kembali dari pekerjaannya menemaniku yang sedang berlibur. Cuti yang telah disesuaikan dengan rencana liburanku jauh-jauh hari sebelumnya ternyata tak terlaksana. Bukan kesengajaannya kalau akhirnya ada tawaran kerja baru yang terbentang, dan rutinitasnya di kota ini harus segera dituntaskan. Aku juga tak ingin berpetualang sendiri di kota yang dingin ini. Masa cutiku yang hanya dua minggu ini harus tepat kubagi-bagi ke beberapa tempat dan kunikmati semaksimal mungkin.

~~ooo~~

Tak ada salahnya menerima tawaran dari satu temanku di Vancouver untuk lebih lama menghabiskan waktu bersamanya. Hazel, seorang wanita muda asal Philipina yang kukenal dalam perjalanan sebelumnya. Ia dan keluarganya telah lama menetap di Vancouver. Toh Michele tak keberatan ketika jadwal keberangkatanku berubah lebih awal, hanya sedikit kecewa dan menyesali kondisinya saat ini. Tetapi juga mengerti keadaanku yang tak ingin sendiri di kotanya.

Aku kemudian pamit dan berterima kasih atas kebaikannya telah menerimaku beberapa hari, menghabiskan waktu bersama. Ada kesedihan yang hadir saat berpamitan itu. Entah kapan kami akan bertemu lagi, karena menurutnya tawaran kerja yang akan dijalaninya nanti adalah di salah satu negara di Asia.

~~ooo~~

Kembali ke Vancouver, kota indah yang membuatku nyaman berada di sana. Bukan saja karena pemandangannya yang memang sangat menarik, tetapi juga temperaturnya yang mulai menghangat. Kota ini telah membuatku jatuh cinta saat pertama aku mengunjunginya beberapa tahun yang lalu. Kuhubungi Marc, mengabarkan bahwa aku telah berada kembali di kotanya. Ia mengatakan segera menjemputku di bandara, karena jarak rumahnya tak terlalu jauh.

Seperti janjinya, tak lama aku lihat ia berjalan ke arahku dengan senyum hangatnya. Kami kemudian menuju tempat parkir. Siang yang sangat nyaman, berkendara dengan mobil sportnya menikmati suasana kota. Hingga akhirnya ia mengajakku mampir ke rumah makan kesukaannya, menikmati makan siang dengan menu bebek goreng.

Jadi, aku antar kamu ke rumah temanmu itu ya? Tapi kapan saja kalau mau mengunjungiku, dengan senang hati aku menyediakannya. Siapa tahu kamu tak betah di rumah temanmu”, begitu Marc mengatakan sambil tersenyum.

Memang kukatakan bahwa liburanku salah satunya mengunjungi Hazel. Memenuhi undangannya dan menghabiskan waktu di sana berada di tengah-tengah keluarganya juga.

“Marc, aku masih punya sisa waktu liburan beberapa hari, jadi dengan senang hati aku hubungi kamu nanti, bagaimana?”, tanyaku kemudian.

Ia tersenyum girang dan mengangguk setuju.

Wanita itu juga bekerja di perusahaan yang sama dengan kita?“, begitu tanyanya ingin tahu.

Ya. Satu kebetulan yang nyata bukan“, jawabku mengiyakan sambil tertawa.

Iapun ikut tergelak.

 

~~ to be continued ~~

 

Cerita sebelumnya:

[Cinta di Atas Awan] Suatu Ketika

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

62 Comments to "[Cinta di Atas Awan] Alberta"

  1. HennieTriana Oberst  25 September, 2011 at 17:47

    Lani, belum. Nanti malem ya kalau sudah agak lega kalau Chiara sudah pules.
    Iya baru aja balik seharian pergi rame-rame lagi.
    Ntar kalau sudah dibaca aku bales ya japrinya.
    Mahalo.

  2. Lani  25 September, 2011 at 12:54

    HENNIE : japriku udah dibaca? apa malah lg sibuk berpesta ria…….hippppp….hipppppp huraaaaaa aja ya, ini cm tambahan dipublik area

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *