Seni dan Budaya Tenun Ikat di Flores (3)

Dwi Setijo Widodo

 

TENUN IKAT, SEBUAH PROSES MELESTARIKAN KEARIFAN LOKAL

Pembuatan tenun ikat secara tradisional bukan seperti sebuah produk masal buatan pabrik. Dalam sebuah tenun ikat, diibaratkan emosi, hasrat, dan perasaan dari pembuatnya masuk dan terjalin dalam setiap prosesnya. Secara garis besar, proses pengerjaan kain tenun tradisional ini terbagi menjadi empat tahapan, yaitu tahap pembuatan benang pintal tangan, pembuatan atau pengikatan motif, tahap pewarnaan, dan terakhir adalah penenunan. Secara keseluruhan, dibutuhkan paling tidak tiga orang dalam pengerjaan selembar kain tenun ini.

Menyisir tahap awal, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Sanggar Watublapi yang tidak jauh berbeda prosesnya dengan para penenun lain di Flores dan Nusa Tenggara Timur, yaitu pembuatan benang pintal tangan,  terdiri dari pemanenan kapas (pupu kapa), penjemuran (wori kapa), pemisahan kapas dari bijinya dengan menggunakan alat tradisional (ngeung kapa), proses penghalusan kapas (weting kapa), persiapan pemintalan dengan membuat kapas dalam bentuk rol (klepi ogor kapa), kemudian adalah pemintalan dengan alat tradisional (jata kapa).

Pada tahap kedua, yaitu pembuatan motif, akan dilalui tahapan persiapan benang pakan (wolot kapa), perentangan benang di alat pemidang (goan kapa), persiapan tali atau bahan pengikat (lepa ubun/tebuk), hingga tahap pengikatan motif (pete kapa).

Tahap ketiga adalah pembuatan bahan pewarna dan pewarnaan pada benang-benang yang telah diikat sesuai dengan motif yang diinginkan. Tahapan ini berbeda dalam langkah awalnya  tergantung dari masing-masing warna yang diinginkan. Proses terakhir setelah pencelupan adalah penjemuran sebelum benang-benang yang telah memperoleh warna masing-masing tersebut ditenun dengan penuh kesabaran.

Untuk memperoleh warna biru atau hitam, biasanya digunakan daun nila (Indigo sp) yang masih banyak tumbuh liar di penjuru Flores. Daun-daun nila yang telah dipanen ini (reit tarun) lalu direndam (long kapa) dan difermentasikan untuk memperoleh pasta nila (buka tarun). Pasta inilah yang digunakan dalam proses pewarnaan selanjutnya. Jumlah pencelupan (long tarun) memainkan peranan untuk memperoleh warna biru terang hingga pekat atau hitam.

Warna kuning biasanya diperoleh dari pengolahan kunyit dan kulit pohon nangka. Prosesnya dimulai sejak pemanenan bahan yang dalam bahasa lokal disebut „ali nguni-taper nakat olan”. Kemudian penghalusan/penumbukan (wai guni nakat olan), pencelupan (gebor guni nakat olan), lalu penjemuran (woi kapa perun).

Warna merah diperoleh dengan menggunakan kemiri, daun pohon dadap, daun pohon loba, akar pohon mengkudu, dan daun talinbao. Pemanenan bahan-bahan dalam bahasa lokal disebut ”ali buke bur”, ”ou padu roun”, ”talinbao roun”, ”blata roun”.  Setelah diperoleh bahan-bahannya, dimulailah proses pembuatan warna dasar/peminyakan yang disebut ”koja gelo” dengan menggunakan kemiri, daun pepaya, dan daun dadap. Akhir proses tersebut, benang-benang dijemur (wori kapa) untuk kemudian masuk proses pewarnaan tahap kedua. Proses ini mencampurkan akar mengkudu dengan daun loba. Benang-benang tersebut dijemur kembali setelah proses pencelupan.

Untuk warna hijau diperoleh dengan menggunakan daun kacang dan daun nila. Proses yang dilalui kurang lebih sama dengan warna-warna lain. Termasuk dengan warna coklat yang menggunakan akar mengkudu dan pohon bakau.

Setelah benang-benang tersebut dicelup sesuai dengan motif-motif yang sedang dikerjakan, dimulailah tahap terakhir, yaitu penenunan. Prosesnya dimulai dengan membuka ikatan motif, menyusun ulang motif dan merentangkan benang non-ikat di antara benang bermotif, pengerasan benang yang biasanya menggunakan kanji dari biji asam, menyusun benang dan membuat jalur benang pakan, persiapan benang pakan, dan penenunan itu sendiri.

Lamanya proses pembuatan satu kain tergantung ukuran dan bahan dasar benang yang dipakai. Untuk mendapatkan kualitas warna yang bagus (tahan jemur dan cuci), maka harus dilakukan berkali-kali dengan campuran yang tepat. Untuk kain besar biasanya diwarnai selama 3 bulan (pewarnaan dan fermentasi). Untuk warna abadi dari tumbuh-tumbuhan atau warna kekal hanya di dapat dari daun nila (biru dan hitam), juga warna dari akar mengkudu (merah Morinda).

 

 

23 Comments to "Seni dan Budaya Tenun Ikat di Flores (3)"

  1. Dwi Setijo Widodo  27 September, 2011 at 09:51

    Mbak Linda Cheang,
    Saya sangat setuju. Segala sesuatu yang buatan tangan selalu eksotis dan spesial. Karena produk satu dan yang lain selalu tidak sama dan ini yang membuatnya menjadi spesial.

  2. Dwi Setijo Widodo  27 September, 2011 at 09:46

    Dj,
    Kontak-kontak saja bila nanti jadi berkunjung dan membutuhkan informasi lebih banyak. Dengan senang hati saya akan membantu.

    Sekadar informasi tambahan. Silakan juga berkunjung ke situs http://www.florestourism.com untuk info lebih banyak mengenai destinasi wisata Flores.

  3. Dwi Setijo Widodo  27 September, 2011 at 09:35

    JC,
    Itu yang membuat saya makin mengagumi seni dari karya tenun ikat ini. Begitu detil dikerjakan dari sejak awal hingga akhir. Motif-motif yang beragam dan begitu detil dan semuanya dikerjakan langsung berdasarkan hitungan dengan mengikat di benangnya tanpa coretan pola sebelumnya. Luar biasa buat saya.
    Kalau pernah melihat anyaman “cross & stitch” atau “kristik” bila di-Indonesia-kan, kurang lebih membuat polanya adalah seperti itu. Ini salah satu contoh lain membuat motif burung. Berdampingan dan simetris antara satu dan yang lain.

    Semoga informasinya makin menambah pengetahuan kita semua betapa kaya dan tingginya budaya yang dimiliki Indonesia.

    Salam dari Maumere.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *