Bom di GBIS Kepunton Solo – Menangislah Bersamaku Tuhan

Handoko Widagdo & Meitasari S

 

Saya ke gereja pagi (jam 06.00-08.00) dengan Indra istri saya, Hagai dan Vydia anak saya. Hana, anak tertua saya ke gereja jam 9 pagi karena paginya dia mengajar sekolah minggu. Christie, kakak istri saya juga ke gereja jam 9 pagi.

Saat itu jam 11.00. Saya sedang di depan komputer di lantai atas, Indra sedang memasak di lantai bawah. Tilpon berdering. Indra mengangkat tilpon. Indra histeris dan bilang: ”Whaduh…whaduh…ya Tuhan…ya Tuhan… Cik…Cik… iya saya tak bilang Ko Han…Hana piye? Hana piye….?” Suara gaduh itu membuat saya turun. Saya ikut mendengarkan tilpon di dekat istri saya. Ternyata itu tilpon dari Christie. Di tilpon dia bilang: ”Gereja di bom. Saya lihat banyak yang bergelimpangan…Hana tak tilpon gak bisa…ada yang tangannya berdarah-darah…ada yang kakinya (dia tidak lanjutkan)….Lan…ada yang mati ususnya terburai…”

Saya mencoba menenangkan istri saya. Vydia dan Hagai duduk menangis di dekat kami. Saya menginstruksikan untuk semua menghubungi Hana. Semua tilpon gagal menghubungi Hana. Kami semua panik mendengar ada bom meledak sementara Hana anak saya ada di dalam gereja.

”Vydia coba kau hubungi teman-temannya Cik Hana” saya memberi instruksi kepada Vydia. ”Me (panggilan akrab saya kepada istri) tilpon Cik Ning (teman akrab kami), mungkin dia tahu dimana Hana” saya memberi instruksi kepada istri saya.

Setelah sepuluh menit kemudian Vyida dapat berita dari temannya bahwa Hana aman dan sudah dievakuasi dari gereja. Sebentar kemudian Cik Ning juga memberitahu bahwa Hana bersama Christine anaknya sudah aman. Saya menjadi tenang. Istri saya tidak lagi histeris. Saya sempatkan naik ke lantai atas untuk menyebar informasi pengeboman gereja melalui Facebook dan mengirim melalui semua alamat yang ada di contact list saya.

Saat saya turun, istri saya kelihatan tegang karena tidak berhasil menghubungi adik saya yang juga ada di gereja tersebut bersama istri dan dua anaknya yang masih kecil. Saya minta istri saya menilpon Cik Ning untuk mencari tahu apa yang terjadi terhadap Hana. ”Hana aman dan sudah di rumah saya. Dia pulang naik sepeda motor dengan Christine. Saya minta dia untuk istirahat dulu,” kata Cik Ning. Saya bilang ke istri saya supaya Hana menunggu. Saya akan menjemputnya. Kami segera menjemput Hana dan membawanya pulang. Saat di mobil, istri adik saya tilpon bahwa mereka sekeluarga aman.

Di rumah, ada beberapa tetangga yang datang. Mereka khawatir sesuatu terjadi pada keluarga kami, karena mereka tahu bahwa gereja yang di bom adalah gereja dimana kami berjemaat. Tetangga terlihat lega ketika menyaksikan kami semua pulang dengan selamat.

Saat di mobil saya lihat Hana menangis dan tidak bisa ditanyai. Demikian pula saat di rumah. Dia menangis dan menangis. Dia terlihat shock menyaksikan pengeboman tersebut. Sampai jam 5 sore dia baru mau keluar dari kamar dan mandi. Hana sudah kelihatan tenang. Kami mengajaknya makan di luar. Kebetulan adik saya yang tadi ada di gereja juga berkunjung ke rumah. Saat setelah makan, Hana baru bisa bercerita apa yang dialaminya. Berikut adalah cerita Hana yang saya susun supaya runtut:

Om Yo (Yonathan Jaap: Pendeta) baru saja selesai mengucapkan doa berkat. Saya baru saja turun lewat tangga bersama teman saya yang akan ke administrasi. Tim musik masih menyanyikan lagu terakhir. Belum lagi lagunya sampai reffren, tiba-tiba BUMM. Saya melihat ada api dan asap menyembur di pintu keluar. Tapi saya lihat semua jemaat tidak terkejut dan tidak panik. (Saya menduga itu sound system yang meledak. Sebab beberapa waktu lalu sound system meledak dan menimbulkan asap yang banyak). Baru ketika ada yang teriak: ”Bom…Bom…ada Bom… semuanya pada berlarian. Saat itu saya melihat beberapa orang digotong dari pintu depan. Saya melihat beberapa teman saya dengan baju paduan suara ada di antara korban.

Saya mendengar Om Yulianto (pengurus guru sekolah minggu) memberi instruksi dengan microphone untuk semua jemaat meninggalkan gereja dengan segera. ”Lewat pintu samping!” Beberapa guru sekolah minggu dan pengurus gereja mengatur evakuasi jemaat dari dalam gereja.

Saya lari lewat pintu samping. Saya segera mengambil sepeda motor yang saya parkir di samping gereja. Saya ajak Christin untuk pulang ke rumahnya. Setelah sampai di rumah Christin saya menjadi takut dan bingung.

 

Kami sekeluarga berdoa:

Tuhan tolonglah para korban supaya segera mendapat kesembuhan.

Tuhan tolonglah semua jemaat GBIS Kepunton supaya terbebas dari trauma.

Tuhan ajar kami untuk mengampuni.

Tuhan semoga Engkau memberi kesempatan kepada si pelaku untuk sempat bertobat sedetik sebelum bom meledak.

 

 

Menangislah Bersamaku Tuhan

(Meitasari S)

Menangislah bersamaku, Tuhan
Karena tangisku tak cukup buat mereka mengerti
Akan jahatnya sebuah kebencian

Menangislah bersamaku, Tuhan
Karena airmata ini tak cukup buat mereka tahu
Betapa bodohnya sebuah keangkuhan semu

Menangislah bersamaku, Tuhan
Karena dendam laknat tak pernah mati
Walau korban telah dipersembahkan di altar suci

Menangislah bersamaku Tuhan
Untuk kematian HATI NURANI

Tangis tanpa suara buat korban bom Gereja GBIS Kepunton Solo
27.09.11

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

66 Comments to "Bom di GBIS Kepunton Solo – Menangislah Bersamaku Tuhan"

  1. Meitasari S  29 September, 2011 at 14:19

    Pak Han : itu yang bagus cerita pak Han, meita cuma nunut mulya aja.. ha ha ha

  2. Handoko Widagdo  29 September, 2011 at 10:33

    Thanks RM. keprihatinan Meita yang diwujudkan dalam puisi di artikel ini sungguh luar biasa dalam.

  3. RM  29 September, 2011 at 09:56

    @mas Handoko,

    ikut prihatin…n semoga para korban mendapat kesembuhan fisik n batinnya, dengan pupuk penderitaan makin menguatkan iman kpdNYA…

  4. Handoko Widagdo  29 September, 2011 at 07:44

    Sugeng enjing Nev. Selamat bekerja

  5. nevergiveupyo  29 September, 2011 at 07:27

    weleh.. nuchan yg lagi pitnyes Pak.. saya sih lagi thenguk-thenguk hehehe
    sugeng enjing..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.