Apartemen Tiga Pria Muda di Amsterdam

Nunuk Pulandari

 

Mereka bertiga teman satu perkuliahan. Ketiganya menjadi lulusan Fakultas Hukum. Pengacara/pengacara muda adalah titel yang mereka sandang saat ini. Dua dari mereka bekerja sebagai Pengacara pada salah satu kantor “Advocatenkantoren”. Satu dari mereka menjadi manager di salah satu supermarket besar di Belanda.

Foto 1. Tiga pengacara muda penghuni sebuah apartemen di Amsterdam

Dalam paling tidak dua tahun terakhir mereka bertiga sepakat untuk tinggal di satu apartemen yang sama. Di Amsterdam. Sejak awal mereka bersepakat bahwa ketika mereka sudah selesai dengan studienya dan masing/masing telah mendapatkan pekerjaan maka ketiganya akan keluar bersama dari apartemen yang mereka sewa. Dan peristiwa keluarnya mereka bertiga telah disepakati akan terjadi pada tanggal 1 Oktober 2011.

Sehubungan dengan selesainya `kontrak` tinggal bersama ini, beberapa minggu yang lalu konco ngajeng dan saya harus memindahkan sebuah meja makan dari apartemen ini kerumah di Zoetermeer. Ini terjadi karena salah satu dari ketiga pria muda ini adalah pacarnya anak konco ngajeng… Si pemilik meja makan, yang sesungguhnya lebih mirip meja baca besar… Ha, ha, haa. Menurut cerita pemiliknya meja makan ini dia warisi dari kakeknya.

Untuk mencari apartemen ini memang tidaklah  terlalu sukar  karena terletak di jalan yang cukup hidup dan tidak jauh dari salah satu pusat kota.   Hanya untuk mencari  nomor nya yang tepat perlu dua kali mengelilingi jalan `kompleks` yang ada. Memang agak sukar menemukan nomornya, karena apartemen ini berada di satu kompleks yang cukup besar. Dan penomoran apartemennya tidak mudah dilihat dari mobil yang melaju.

Sebuah apartemen yang cukup besar dan nampaknya masih cukup baru. Setelah saya mendengar berapa harga sewanya .. Wouuuwww,  ternyata  cukup mahal. Justru karena harga sewa ini,  tentunya bisa ditebak mengapa mereka bertiga tinggal bersama di apartemen itu. Agar tidak penasaran, harga sewa per bulannya sebesar E 2100. Jadi setiap orang harus membayar E 700 per bulannya. Plus tentunya masih harus membayar  biaya listrik, gas, air dll, dll.

Foto 2. Dapur dengan ketiga penghuninya

Sebuah apartemen dengan fasilitas tiga kamar tidur, satu ruang tamu besar yang juga berbagi bersama dengan kamar makan, memang cukup besar untuk dihuni bertiga. Dalam appartemen ini masih ada satu dapur  yang cukup besar, yang juga bisa merangkap sebagai ruang makan keluarga. Di depan dapur ada satu balkon. Tentu ada kamar mandi dengan dua toiletten. Dan ada tiga kamar tidur yang masing/masingnya memang cukup besar.

Dalam foto 3, Nampak penataan ruang duduk, khas para pria Belanda dengan meja gelasnya. Di bawah meja gelas ini terlihat beberapa majalah yang tertata dalam tumpukan yang cukup  rapih dan bersih.

Foto 3. Ruang duduk yang khas anak muda…

Di bawah meja terdapat berbagai majalah yang khas milik pria puda. Dari mulai majalah tentang permotoran, majalah tentang film, majalah tentang sport, dlll. Dalam foto nampak majalah-majalah yang cukup populer..

Foto 4. Beberapa majalah yang tertangkap camera saya.

Di bawah ini terlihat dua dari tiga kamar tidur. Penataan kamar tidur khas pria muda yang sudah mulai dikosongkan oleh para penghuninya. Karena super sibuk dengan berbagai kegiatannya maka beberapa barang sudah dipindahkan sedikit-demi sedikit. . Yang jelas peralatan elektronik seperti computer dan embel-embelnya tersedia di dalam kamar tersebut.

Foto 5. Dua dari 3 kamar tidur yang masih dihuni

Yang menarik perhatian ketika  pertama kali saya  memasuki apartemen itu adalah banyaknya “poster” dari reklame film yang diberikan pigura dan bergantungan di hampir semua sisi dindingnya. Sebagai hiasan dinding memang kehadirannya nampak cukup menyolok dan tentunya cukup uniek dan sekaligus juga cukup trendy..

Foto 6. Dua dari beberapa poster yang menghiasi dinding apartemen itu.

Dalam ruang duduk yang juga  tidak luput dari penglihatan saya,  adanya meja dengan berbagai jenis minuman keras di atasnya… Suatu kebiasaan yang tidak bisa dipungkiri lagi dan tersedia di hampir semua rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari di Belanda. Yang berbeda dalam hal ini mungkin hanya keanekaragaman jenis dan merk yang bisa terbaca di label luar botol yang tersedia. Yang dalam hal ini untuk memilikinya tentunya juga dipengaruhi oleh isi dompet pemiliknya.

Foto 7. Beberapa jenis minuman yang tersedia di atas meja di salah satu sudut ruang duduk

Salah satu kebiasaan saya kalau bertamu, maaf, adalah melihat dengan sekilas dan cepat apakah di ruang duduk itu terdapat buku-buku atau bahan bacaan lainnya. Tidak menjadi masalah apakah buku itu berserakan di karpetnya, di bawah meja atau tersimpan rapih di lemari bukunya. Yang penting adanya buku di ruangan  dimana kegiatan sehari-hari berputar. Rasanya kalau saya masuk suatu ruang duduk keluarga tidak melihat buku dan atau bahan bacaan , walaupun ruangannya tertata rapih kok aneeeehhh… Untuk saya terasa seperti suatu ruangan yang mati..Dalam keadaan ini lalu saya berpikir:” Apa saja yang  mereka kerjakan dalam acara duduk-duduknya”….Achhh, mungkin ini tidak menarik untuk teman-teman yang lain..

Di bawah ini saya sertakan sebuah lemari buku  kecil dengan berbagai macam bukunya yang masih tertinggal di ruang tamu itu.  Sesungguhnya ketika konco ngajeng dan saya  akan memindahkan “meja makan” itu, keadaan dalam apartemen sudah banyak yang diboyong kerumah / tempat tinggal baru dari ketiga pria muda itu. Karena itu keadaan rumah sudah mulai kosong….

Foto 8. Lemari buku kecil dengan poster film 007.

 

Kalau teman-teman melihat keadan dan kebersihan serta kerapihan kamar duduk, ruang dapur dan kamar mandi / toiletten yang ada, pasti teman-teman tidak akan menduga bahwa apartemen itu dihuni oleh tiga pria muda yang super sibuk. Tidak tampak adanya handdoek  dan waslap  yang tercecer di kamar mandi. Semua dalam keadaan rapih dan bersih.

Foto 9. Keadaan kamar mandi yang sangat rapih dan terjaga kebersihannya

Meskipun untuk menangani kebersihan di apartemen itu mereka bertiga dibantu oleh seorang werkster. Tetapi  untuk perawatan selanjutnya tentunya kerja sama dan saling tepo sliro sangat memegang peran penting. Dari keadaan yang terlihat , dari cara mereka berbicara, dari cara mereka bertindak menurut saya mereka termasuk para pria yang masih menjujung tinggi hal-hal yang berhubungan dengan  kebersihan dan kerapihan…Dan juga dalam hal norma dan nilai kehidupan….Achhhh, tentunya mereka sejak kecil sudah terbiasa dengan keadaan ini.

Keluar dari kamar mandi, di gang saya masih melihat  rek-rek cucian yang sedang dipenuhi pakaian basah yang baru dicuci. Pakaian dalam yang disampirkan dengan rapi… Rupanya meraka juga sudah mahir dalam hal cuci mencuci pakaian… Mereka harus melakukannya sendiri… Tetapi memang , sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang sukar untuk dikerjakan asalkan kita mau berusaha dan mau melakukannya…

Foto 10.  Rek-rek pengering pakaian yang terisi dengan rapih.

Teman-teman, menurut saya tinggal bersama dalam satu apartemen atau dalam tempat tinggal lainnya bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang perlu penyesuaian dan timbang rasa. Dari semuanya diperlukan toleransi, saling mengerti dan tepo sliro yang tinggi untuk terjaminnya suatu kenyamanan dan keharmonisan suasana.

Juga dalam hal pengangkatan meja makan yang ada, nampak sekali betapa mereka bertiga sangat kompak dalam bekerja sama. Dalam pengaturan tahapan pemindahan meja makan ini,  masing-masing bisa dan mau mendengarkan dan menerima pendapat orang lain.. Perlu teman-teman ketahui, meja makan itu harus dipindahkan dari lantai tiga yang liftnya ternyata tidak cukup besar untuk memuatnya. Jadi kerja sama itu teruji lewat meja makan yang terikat semacam tali yang digunakan sebagai penggerek dari lantai 3,  ke lantai dasar melalui balkon. Mereka bekerja sama mengangkat dan menurunkan lalu menaikkannya ke “aanhangwagen” (semacam bagian belakang pick up)  yang tergandeng di mobil kami.

Foto 11.  Mereka sedang sibuk memasang tali untuk menurunkan meja dari lantai tiga ke lantar dasar.

Setelah konco ngajeng dan Bianca turun ke lantai dasar untuk menerima meja itu, yang juga dibantu oleh salah seorang tetangga dari lantai dasar, meja secara perlahan diturunkan. Tanpa mengalami kesukaran meja makan dapat diterima dengan utuh di lantai dasar….. Hartelijk dank, poro pria muda nan menawan para gadis jelita….

Teman-teman, sesungguhnya kami memang bisa menyewa semacam mesin pengerek… Tetapi untuk apa kami harus mengeluarkan uang kalau kami bisa melakukannya tanpa menyewa mesin derek itu…

Saat ini meja telah terpampang dengan nyamannya di rumah Zoetermeer. Dan kalau teman-teman  suatu hari mungkin masih sempat  berkunjung kerumah Zoetermeer tentu akan teringat kembali pada cerita tentang 3 pria muda ini,  dengan hanya melihat dan mengenalinya lewat meja makan besar itu. Semoga…..

Salam dan tot weer schrijven. Nu2k

 

64 Comments to "Apartemen Tiga Pria Muda di Amsterdam"

  1. nu2k  4 October, 2011 at 17:54

    Jeng memang rumah di Bandung ada penunggunya… Wong ayu dengan rambut sepinggang dan berbaju merah…. Hanya matanya yang mengerikan kata alm ayah yang pernah melihatnya… Kalau saya hanya mendengar suara2 dan kelebatan yang kalau disusuli nggak ada apa2nya….kus, kus, kus…Slaap lekker en tot andere keer, nu2k

  2. nu2k  4 October, 2011 at 17:51

    Mas Reca, achhhh.. Nggak perlu harus yang sama khan. Memang kalau bisa tentunya lebih nyaman. Tapi semuanya khan tidak harus mutlak sama… Kalau bisa direlativeren, mengapa tidak…
    Weekend kemarin saya menjemput 3 calon Doktor dr Indonesia yang akan menginap di rumah. Mereka tinggal di perumahan resmi para mahasiswa dr berbagai tingkat dan disiplin yang menurut saya AGAK kelewat sederhana…Tapi, ternyata masih banyak teman lainnya yang tinggal sama2… Jadi sangat relatief sekali kok …Maaf terlambat membalasnya….Gr en werkt ze, Nu2k

  3. Reca Ence Ar  2 October, 2011 at 21:05

    Waduuuh, kalau kesana saya harus nyari temen 4 lagi neeh, biar patungannya agak ringan, hehehehe
    Artikel yang sangat menarik
    …….
    Selamat malam mba Nu2k
    Salam sejahtera selalu

  4. Lani  2 October, 2011 at 12:33

    56 MBAK NUK : omah guedeeeeeeee……..bayanganku memedenikan…….wokeh lelembut nya ya mbak????? aku wedi nek kamar gede turu dewean……..aku ktk kost di Semarang, klu sekamar dewean kamarku cilik………klu gede sll berdua……tp ini rumah kost bangunan modern, bukan model londo zaman omah kuno……nah nek iki aku wedi mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.