Kata Siapa Orang Mati Tidak Membawa Harta

Cechgentong

 

Kisah ini benar-benar terjadi dan saya mengalaminya sekitar 8 tahun yang lalu.

Suatu hari saya kedatangan seorang teman dengan wajah pucat pasi dan kelihatan ketakutan sekali. Dari wajahnya saya yakin kalau dia punya masalah yang pelik. Dan ternyata benar juga.

Setelah saya suruh untuk menenangkan pikiran dan memberikan segelas teh manis hangat, akhirnya dia bisa bicara lancar.

Barusan saja teman dan seorang saudaranya diinterogasi di kantor polisi gara-gara membawa mayat tetangganya. Nah lho, kasus apalagi nih pikir saya.

Mayat itu adalah tetangganya yang meninggal dunia di tempat kontrakan 3 hari yang lalu. Tetangganya adalah orang miskin yang tidak punya sanak saudara di Jakarta dan hanya orang-orang di sekitar lingkungannya yang dianggap saudara. Kebetulan lokasi kontrakan teman saya dan almarhum adalah bersebelahan serta mereka berada dalam lingkungan kumuh di suatu wilayah Jakarta Barat.

Kehidupan mereka sangat minim, miskin, sehari-hari mereka mencari rejeki dengan menjadi pengemis, pengamen, asongan dan lain-lain. Memang kata teman saya bahwa tetangganya ini sudah kelihatan sakit sebelumnya dan selalu diam menyendiri. Teman saya yang selalu menunggu dan merawat almarhum sampai ajalnya. Sepengetahuan teman, almarhum mempunyai saudara di Tegal dan ini dibuktikan dengan pernah adanya kedatangan seorang famili almarhum sekitar 1 bulan yang lalu dan sempat memberi alamat di Tegal walaupun tanpa no telepon.

Karena mereka tinggal di daerah ilegal yang tidak jelas status kependudukannya dan tidak adanya sistem RT/RW maka mereka bersepakat membawa almarhum dikuburkan ke kampung halamannya di Tegal sesuai dengan alamat KTP almarhum dan alamat yang pernah ditinggalkan seorang familinya.

Tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana membawa almarhum ke Tegal. Setelah mereka bertanya-tanya dan mencari mobil ambulance. Akhirnya diperoleh informasi ongkos mobil ambulance plus petinya adalah Rp 2 juta. Menurut mereka uang 2 juta itu besar sekali wong untuk makan saja sudah susah apalagi untuk hal yang lain. Setelah berembug dan dengan sukarela mengumpulkan uang ternyata hanya diperoleh uang sekitar Rp 540 ribu.

Akhirnya disepakati untuk membawa mayat dengan mengunakan bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) jurusan Tegal. Nah ini lucunya.

Dengan menggunakan topi, memberi pakaian yang rapi didampingi oleh teman dan tetangganya yang lain, dibawalah si mayat ke Pulo Gadung pada malam hari dengan menggunakan bus AC dengan tempat duduk 2-3. Jadi si mayat ditaruh di tengah-tengah. Nekat sekali! Dan jangan tanya bagaimana mengangkut mayatnya ke bus yaitu dengan menaruh tangan mayat ke masing-masing bahu teman dan tetangganya. Dan kalau ditanya, kok diam aja tuh orang, mereka akan menjawab sedang sakit, sedang mabuk, sedang tidur dan seribu alasan lainnya. Luar biasa.

Selama perjalanan mereka aman-aman saja. Sesampainya di Terminal Tegal inilah masalah timbul yaitu ketika mereka menurunkan mayat dan memanggil tukang becak untuk mengantarkan mereka ke alamat yang dituju. Salah seorang tukang becak melihat keanehan yaitu kok kaki si mayat seperti diseret-seret dan curiga itu pasti mayat sehingga melaporkan kejadian itu pada petugas keamanan yang kebetulan juga ada seorang polisi.

Ketika sedang tawar menawar dengan tukang becak yang lain akhirnya teman dan tetangganya beserta mayat ditangkap dan di bawa ke pos keamanan.terminal dan dilanjutkan ke kantor polisi.

Di kantor polisi diceritakan semua yang terjadi dan alasan membawa mayat dengan menggunakan bus serta menunjukkan KTP dan alamat famili almarhum. Setelah dicek ke alamat KTP dan alamat yang famili almarhum diberikan akhirnya polisi dapat menghadirkan famili almarhum untuk membuktikan bahwa jasad yang dibawa itu memang jasad saudaranya.

Tetapi lucunya bukan langsung dikuburkan malah oleh polisi mayat tersebut dibawa kembali ke Jakarta beserta teman, tetangganya dan saudara almarhum untuk membuktikan kebenaran berikutnya. Sampai di Jakarta seluruh warga lingkungan kumuh tadi menjadi kaget dan heran kok dibawa lagi. Setelah dikumpulkan warga semua dan mendapatkan penjelasan dari warga mengenai alasan ekonomi yang mengakibatkan mayat dibawa dengan bus AKAP. Akhirnya polisi mengerti dan warga disuruh membuat pernyataan bahwa mayat almarhum memang warga di situ dan meninggal karena sakit.

Kemudian oleh polisi bersama warga dilakukan kembali proses penanganan mayat sesuai dengan agamanya. Karena mayat beragama Islam akhirnya dilakukan seperti pada rukun Mayat yaitu dimandikan, dikafankan, di sholatkan dan dikuburkan. karena saudara almarhum menginginkan dikubur di kampung dengan alasan mudah, murah, dan memenuhi amanat yang meninggal. Sebetulnya sih karena di Jakarta biaya penguburan mahal bagi mereka, setiap tahun ada pajaknya dan juga repot kalau mau ziarah. Kalau di kampung tidak perlu bayar, tidak ada pajaknya, mudah ziarahnya dan masyarakatnya juga bergotong royong. Akhirnya mayat dibawa lagi ke Tegal setelah ada surat pengantar dari Kepolisian, Rumah Sakit/Puskesmas, Kelurahan setempat untuk dimakamkan.

Setelah saya mendengarkan seluruh cerita dan sempat teman mengatakan bahwa tidak benar orang mati tidak membawa harta. Dengan yakinnya, teman mengatakan Orang Mati Membawa Harta, buktinya karena kemiskinan membuat orang mati jadi susah untuk dimakamkan karena tidak punya uang, harus hutang untuk biaya pemakaman, biaya selamatan dan membayar mobil ambulance bagi yang ingin dimakamkan ke luar kota seperti kejadian di atas walaupun ada ambulance gratis tetapi tetap butuh uang untuk uang rokok supirnya, makan-makan di jalan dan lain-lain.

Coba kalau punya harta, pasti dimakamkan dengan layak dan lokasi yang baik, mau selamatan tidak menyusahkan keluarga yang ditinggalkan sehingga tidak perlu hutang, tidak perlu berurusan dengan polisi, mudah mengurus surat kematian dari Rumah Sakit, Kelurahan tanpa perlu memikirkan darimana biayanya karena semua biaya-biaya telah ditutup dengan harta kekayaan yang ditinggalkan . Begitu penjelasan teman saya dengan entengnya dan wajah yang sudah segar kembali.

Benar juga yaa “Uang Memang Bukan Segala-galanya tetapi Segala-galanya Butuh Uang”

 

27 Comments to "Kata Siapa Orang Mati Tidak Membawa Harta"

  1. cechgentong  1 October, 2011 at 22:30

    Pak DJ, lagi nggak punya duit so suguhannya teh manis aja hahaha

  2. Dj.  30 September, 2011 at 21:04

    Cechgentong……
    Yang tragis lagi, kalau almarhum punya utang, bagaimana tuh……????
    Kalimat ini bagus….

    >>>>>Setelah saya suruh untuk menenangkan pikiran dan memberikan segelas teh manis hangat, akhirnya dia bisa bicara lancar. <<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<

    Kok tidak disuguhi pisang goreng Cech….
    Kan dia lapar…… kasihan atuh…!!!!

  3. cechgentong  30 September, 2011 at 15:24

    Pak ISK, tragis ya

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 September, 2011 at 00:27

    Ingat kejadian di awal 1990an di Gorontalo, kampungku (masuk berita rubrik Indonesiana majalah TEMPO). Kasusnya sama, tak ada uang untuk mengangkut mayat. Cuma ini beda. Mayat dinaikan ke ojek. Malam lagi dan jauh. Gorontalo pula, yg kepadatan penduduknya rendah (luasnya 100 x Jakarta, penduduknya sebanyak Kelurahan Mampang Prapatan).

  5. cechgentong  29 September, 2011 at 16:46

    Hilda, terima kasih atas apresiasinya

  6. cechgentong  29 September, 2011 at 16:41

    Lani, akur ya toss ahhhh

  7. Hilda  29 September, 2011 at 15:33

    aduh aku kok tadinya ketawa tapi jadi miris juga rasanya….karena sedih sekali ya, udah meninggal aja orang mati masih meninggalkan amanat utk dimakamkan dng selayaknya….
    bener2 salut utk tetangga2 orang yg tlh meninggal tersebut krn mempunyai rasa kemanusiaan yg sangat tinggi, mau2nya mereka bergotong royong utk mengumpulkan dana yg tdk sedikit dan membawa jasad itu ke kampung halamannya…

    saya angkat jempol utk tetangga2nya yg baik hati meskpun kekurangan mereka membuktikan bhw kita bisa menolong dng segala kekurangan kita, dan salut utk tulisannya yg sangat humanis

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *