Dilema Mbak Londri

Wesiati Setyaningsih

 

Karena tidak ada pembantu lagi dan saya enggak bakal ada waktu menyetrika baju, ibu saya mencari orang yang bisa menyetrika. Istilah di tempat saya, pocokan. Jadi kerjanya saat dibutuhkan saja, lalu pulang. Tidak menginap.

Mbak ini sebenarnya namanya mbak Ni, tapi Izza menyebutnya mbak Londri, dari kata laundry. Akhirnya kami serumah memanggil dia mbak Londri.

Mbak Londri ini sudah berkeluarga dengan anak satu, laki-laki. Suaminya adalah laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Tidak pernah memberi dia uang bulanan, pergi pagi pulang besoknya, sering membentak-bentak, belum lagi suka menggoda perempuan lain, lengkaplah pokoknya. Tiap kali dia datang, biasanya ibu menunggui dia duduk di belakangnya. Kebetulan tempat menyetrika di sekitar ruang makan. Pada saat itulah mbak Londri curhat habis-habisan pada ibu saya. Siang pulang kantor tak jarang saya menyaksikan ini semua. Ibu saya sedang memberikan nasehat-nasehatnya untuk mbak Londri.

Sampai suatu sore, saya seringkali pulang kantor agak sore, ibu saya berkata pada saya begitu saya masuk rumah,

“Mbak Londri tadi dijemput suaminya,”

Kami bertanya-tanya kenapa, karena seumur-umur suaminya tidak pernah menjemput dia dari kerja. Ibu berkata begitu sambil memberesi baju-baju yang sudah diseterika dan merapikan yang belum sempat diseterika.

Besoknya kami tau ternyata suami mbak Londri selingkuh dengan seorang pembantu rumah tangga dan sekarang pembantu itu hamil 6 bulan. Ini sebuah klimaks dan sebenarnya kami malah berharap masalah ini bisa membuat mbak Londri memiliki alasan untuk melepaskan diri dari suaminya. Tapi ternyata tidak semudah itu.

Dari ibu, saya mendengar kalau suami mbak Londri minta tanda tangan dari untuk menikah lagi. Saya hampir tidak pernah bertemu lama dengan mbak Londri akhir-akhir ini, jadi semua berita tentang dia saya dengar dari ibu saya. Kata ibu karena mbak Londri tidak mau tanda tangan maka suaminya menikah siri dengan pacarnya itu.

Sore tadi kebetulan saya bertemu mbak Londri. Dia masih belum selesai menyeterika ketika saya pulang. Jadi saya tanya keadaan dia. Saya bilang kalau saya sudah mendengar semua dari ibu. Dia segera curhat semuanya. Dia bekerja pada beberapa orang, jadi dia curhat juga pada orang-orang tempat dia bekerja. Beberapa orang menyarankan untuk bercerai saja. Tapi ada juga yang mengatakan, keenakan suaminya kalau mbak Londri minta cerai, karena itu berarti dia yang harus mengeluarkan biaya untuk cerai. Dan pendapat ini yang malahan dipegang oleh mbak Londri. Dia bilang,

“Keenakan dia dong mbak kalau saya minta cerai,”

Saya bingung. Keenakan bagaimana? Kan selama ini hidup dia sudah menderita karena suaminya, mestinya ini menjadi kesempatan bagi dia untuk berpisah dari suaminya. Tapi mbak Londri malah berpikir lain. Dia berpikir keenakan suaminya karena dia tak perlu mengeluarkan biaya untuk menceraikan istrinya karena istrinya yang menggugat berarti dia yang harus mengeluarkan biaya. Dan juga, suaminya nanti bisa menikah dengan mudah karena dia sudah bercerai dari suaminya.

Dengan bingung saya bilang,

“Lhah kan sekarang juga dia sudah nikah lagi?”

Dia terdiam. Seperti tersadar tapi juga bingung.

Saya maklum. Urusan perceraian kadang seperti saat perut melilit dan ingin buang angin, padahal sedang di tengah keramaian orang banyak. Mau ditahan, kok angin sudah mau keluar. Mau dikeluarin saja, kok malu sama orang banyak. Jangan-jangan nanti bunyi dan baunya minta ampun hingga bikin orang lain terganggu.

Maka pelan-pelan saya memberitahu, tak perlu memikirkan apa yang harus ditanggung suaminya. Tapi bagaimana kehidupan dia selanjutnya, itu yang lebih penting dan harus dia pikirkan. Dengan bimbang mbak Londri memutuskan untuk meminta petunjuk dari Tuhan dulu sampai ada petunjuk yang benar-benar kuat di hatinya.

Akhirnya saya bilang, kalau sudah ada jawaban yang mantap, ikuti saja. Tak perlu mengikuti apa kata orang. Ikuti saja kata hati, karena itu petunjuk langsung dariNYA .

Sungguh dari mbak Londri saya jadi berpikir, kadang-kadang karena marah pada orang lain, kita sungguh ingin membuat hidup orang itu menjadi sulit. Padahal gara-gara ingin membuat sulit hidup orang lain, bukannya hidup orang lain yang sulit, tapi justru hidup kita sendiri yang makin sulit.

Semoga mbak Londri segera menemukan jawaban di hatinya… amin..

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

30 Comments to "Dilema Mbak Londri"

  1. Linda Cheang  1 October, 2011 at 05:00

    ya, ada yang aneh juga buat nalar kita, tapi itu keputusan orang, kita nggak bisa ikutan mencampuri….

  2. wesiati  30 September, 2011 at 11:58

    benar. tiap kali saya sarankan cerai aja, dia bilang, “keenakan dia to mbak… bisa langsung enak2an nikah lagi kalau saya urus cerainya. lagi nanti saya yang bayar biaya cerainya”. bingung. lah kan memang suaminya sudah nikah. lagian, keluar uang untuk cerai tapi habis itu tidak lagi mengalami financial lost dan opportunity lost, kan itu lebih indah. kemerdekaan memang butuh perjuangan kok. daripada punya suami tapi makan hati? mending makan bakso dah…. tapi saya sudah janji setelah ini saya akan diam aja. bikin capek. biar dia putuskan sendiri. hidup dia sendiri kok. kalo saya terlalu ikut campur nanti malah salah…

  3. Nuchan  30 September, 2011 at 11:31

    Nia, kayaknya lagu jaman dulu itu belum berubah yah…Wanita dijajah pria sejak dulu….Dalam bayangan saya apa jadinya kalau dulu Kartini tidak mendorong para wanita untuk sekolah yah? Jadilah kita para wanita ini menjadi budak dan obyek pemuas kaum lelaki yg biadab dan brengsek kayak suami si mbak Londri ini yah….
    Kayaknya mbak Londri itu perlu diketok kepalanya biar nga berkarat hahhahhaha
    (Heran yah lelaki brengsek begitu nga usah dipertahankan yah…ditendang aja ke laut…nga usah diirislah ngabisin energi doank…mendingan kasih senyum manis dan minta tanda tangan buat cerai deh …bereskan…maaf ya bukan kamu doank pria di jagat raya ini hehhehehhee)

  4. Sumonggo  30 September, 2011 at 09:50

    Wah mau mampir ke sini …. medeni … ada potong-potong, grawut-grawut ……..
    Semoga Mbak Londri memperoleh jalan terbaik

  5. wesiati  30 September, 2011 at 00:28

    hahaha….. bukan apa2. saya sih males kalo suruh merespon dengan model krawus, grawut, atau ngiris. mending cerai, selesai. ga ada urusan lagi sama dia dan gemblekannya. start a new life. lha wong ngeliat orangnya aja ogah kok, apalagi ngiris orangnya. eman2 pisaunya…..wkwkkw….piss….

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 September, 2011 at 00:13

    Strijka aja muka suaminya. Kalau perlu kasih bonus, strijka alat kelaminnya. Ini jelas bukan solusi dan tak boleh ditiru oleh orang waras.

  7. Lani  29 September, 2011 at 22:17

    aku tetep se7777777 dgn 22 aki buto……walaupun sipentulis mengatakan “engga setuju” heheh semua bolah-boleh saja…..se77777 dan kontrak tdk se777777……..tp yg jelas tdk bs ditolerir blassssss……….laki2 suami mbak londriiiiii………pokok-e ora wis……..

    selain itu nanti sipengasah piso, gergaji, parut dst……….jd ndak laku……..nek perlu bedil pisan……glodakkkkk barrrrrr…….bunuh dulu urusan belakangan itu kata pepatah lo ya…….penerapannya ya hrs dipikir maybe ribuan kali……..heheh……..mohon dipersori esuk2 sing nang Kona udah kumatttttttt………….hehehe pissssssssss…..salam TUMPUK

  8. Sasayu  29 September, 2011 at 21:57

    Cinta memang membutakan…ckckckckkck…apa mungkin karena Sasayu belum jatuh cinta sepertinya, tapi amit2 ga mau kalo sampe cinta kyk begini, malah jadi guoblokkkk….

  9. J C  29 September, 2011 at 21:14

    Mbak Wesiati, jangan kaget, di Baltyra para Baltyrawatinya memang begitu itu, bengis, ganas, kejam, telengas, kalau urusan begini ini, makanya potong memotong, iris mengiris, kaplok mengaplok, kruwes mengkruwes, grawut menggrawut, sudah menjadi keahlian dan ciri khas para Baltyrawati… lihat saja semua komennya: “potong”, “iris”, “buang ke laut” dan sejenisnya lah… jadi lepas si mbak Londri berperan langsung tak langsung sampai suaminya bisa begitu, sudah tidak penting lagi…

  10. wesiati  29 September, 2011 at 21:01

    well, saya kok enggak setuju bahwa suaminya salah 100 %. mbak londri kok ya mau digituin? apapun yang datang dalam hidup kita itu kehendak kita kok. jadi mestinya semua itu kita yang milih sendiri… bukan salah siapa2 kalau hidup kita jadi macet dan enggak karuan. mestinya melihat ke dalam aja…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.