Minum-minum

Josh Chen – Global Citizen

 

“Ini lho, aku lagi nyesep wine, tapi kok gak ngantuk-ngantuk”

“Wah, gayaaaa…biasanya nyesep gagang tebu, sekarang bilangnya nyesep wine…”

 

Itulah penggalan komunikasi di antara dua anggota milis yang dinamakan “milis nyampah”.

Setelah itu cerita-cerita tentang minum-minum keluar semua. Ada yang suka tequila, ada yang suka margarita, ada yang suka white wine, cabernet sauvignon, ada yang penting minum lah, tidak tahu jenis apa yang diminum.

Perkenalan pertama saya dengan alkohol adalah ketika masih kecil umur mungkin sekitar belasan tahun. Tiap tahun di keluarga kami ada tradisi sembahyangan di waktu-waktu tertentu sepanjang tahun. Salah satunya adalah waktu Tahun Baru Imlek. Di sini sembahyangan dengan sajian makanan berlimpah dan ada arak putih dalam sloki kecil.

Pada waktu selesai sembahyangan, Papa dan Mama akan menuangkan kembali arak putih ke dalam botol penyimpanan untuk nantinya diminum sedikit-sedikit anggota keluarga yang dewasa. Karena ingin tahu, saya akan “membersihkan” sisa-sisa arak putih yang masih beberapa tetes ke dalam satu sloki, dan setelah terkumpul cukup banyak, saya meminumnya. Sensasinya cukup menyengat di mulut, tenggorokan dan mata. Beberapa tahun berikutnya, saya masih saja “menenggak” arak putih dengan cara seperti itu.

Sampai kemudian kelas 3 SMA, pada waktu kumpul-kumpul sekelas, kami membeli minuman alkohol lokal Mansion House dan dicampurkan ke dalam es krim. Dalam beberapa kali kesempatan acara kumpul-kumpul, campuran es krim dan Mansion House adalah favorit kami.

Di pertengahan masa kuliah, terjadi lagi kontak saya dengan alkohol. Dalam kuliah kerja lapangan ke Jawa Timur, jurusan kami mengunjungi salah satu pabrik beer dan diberikan tester sepuasnya di pabrik tsb. Salah satu teman baik (sampai sekarang kami masih bersahabat) dengan sedikit jumawa bilang kalau beer tidak ada apa-apanya, dia masih kuat minum yang kadar alkoholnya lebih tinggi. Karena keisengan mahasiswa, akhirnya kami bertaruh kalau dia bisa menghabiskan setengah botol minuman produksi lokal (lupa entah dry gin entah wiski lokal), dan kemudian berjalan lurus sepanjang 100 m, dia akan memenangkan Rp. 100.000.

Tantangan bersambut! Disepakati taruhan akan dilaksanakan di Bali, tempat tujuan wisata kami setelah dari kunjungan pabrik-pabrik. Di Bali dibelilah satu botol kecil minuman lokal tsb. Di hari terakhir di Bali sembari menunggu ferry yang antreannya luar biasa panjang, taruhan pun dieksekusi.

Teman tsb dengan penuh keyakinan menenggak isi botol tsb setengahnya. Menunggu sebentar dan kemudian berjalan sepanjang 100 meter. Mungkin karena belum bereaksi, teman tsb memenangkan taruhan. Selang beberapa saat, mulailah reaksinya muncul. Dengan sedikit cekikikan, si teman itu tanpa ragu sedikitpun menghabiskan sisa setengah botol. Kami semua terkejut dan hanya berhasil “menyelamatkan” sedikit isi botol sebelum semua ditenggaknya.

Dan kacaulah suasana. Si teman tsb mulai meracau, cekikikan dan ketawa ketiwi sendiri. Kalimat apapun dari siapapun serasa begitu lucu baginya sehingga bisa membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Habislah sudah dia digoda teman-teman yang lain. Dan puncaknya adalah:

“Iki piye tho, nunggu ferry kok suwe men?” (ini bagaimana, nunggu ferry lama benar)

“Nek kesuwen mending aku renang wae” (kalau kelamaan aku renang saja)

Teman yang lain:

“Lho piye tho, iki Selat Bali lho” (gimana sih, ini Selat Bali)

“Ah, enteeeengggg, wong aku biasa renang bolak-balik ning Marina 20x” (Marina, kolam renang di Semarang)

Yang lain lagi:

“Lah, khan adem tho bengi-bengi renang” (khan dingin, malam-malam renang)

“Gak adem lah, khan iso nganggo jaket” (tidak dingin lah, khan bisa pakai jaket)

Teman-teman yang lain tidak sanggup lagi tertawa. Ekspresi dan dialognya makin kacau. Kemudian si teman tsb muntah di pinggiran, masuk ke bus dan tertidur pulas.

Malam itu juga kami menyeberang kembali ke Pulau Jawa. Pagi harinya kami sampai berhenti di salah satu rumah makan untuk sarapan. Si teman tsb ternyata masih menyimpan sisa-sisa alkohol semalam. Sepanjang pagi ketika dia berbicara – bahkan dengan dosen sekalipun – masih saja cekikikan dan ketawa-ketiwi sendiri.

Sungguh pengalaman tak terlupakan. Bahkan ketika terakhir saya dan teman itu ketemu di salah satu mall di Serpong ketika dia berlibur bersama keluarga, kisah itu masih saja diingatnya dan kami tertawa lepas bersama.

Waktu menempuh studi lanjut di Eropa, alkohol menjadi bagian keseharian di sana. Yang paling umum adalah beer. White wine dan red wine juga sudah menjadi biasa karena tidak pernah absen ketika ada acara dinner bersama teman-teman.

Beberapa minuman beralkohol yang menjadi favorit saya:

Caipirinha

Yang sangat-sangat berkesan dan tak terlupakan adalah ketika saya mendapat kesempatan ke Brazil bersama kampus dalam rangka studi banding. Di Brazil itulah pertama kali saya merasakan CAIPIRINHA (bacanya: kai-pirinya). Minuman khas Brazil, segar dan asik sekali. Caipirinha dikenalkan oleh salah seorang kolega kami dari University of Sao Paulo dalam acara malam keakraban antara universitas kami dan USP.

Semenjak mengenalnya, di tiap acara di hari-hari selanjutnya, saya selalu pesan caipirinha!

Menurut Wikipedia:

Caipirinha is Brazil’s national cocktail, made with cachaça (sugar cane rum), sugar and lime Cachaça is Brazil’s most common distilled alcoholic beverage. Both rum and cachaça are made from sugarcane-derived products. Specifically with cachaça, the alcohol results from the fermentation of sugarcane juice that is afterwards distilled.

Dari: http://www.formenteratravel.com/blog/history-and-caipirinha-recipe/1104/

The caipirinha is a Brazilian cocktail of São Paulo contains rum, lime, sugar and ice.

Cachaça is the main ingredient, is a spirit unique to Brazil and is obtained through the distillation of sugar cane. The history of its production goes back to the sixteenth century. During this time, the remains of cachaça production is delivered to the slaves who took it to withstand long hours of work mixed with various fruit juices such as orange, lemon, passion fruit and lime but the most popular was which is mixed with lime peel. Over time they developed different versions of the same up to the current recipe.

In 2003 the government of Lula instituted as official Brazilian traditional drink.

Yang perlu diperhatikan ketika minum caipirinha ini adalah jangan meminumnya dengan menenggak sekaligus. Karena rasanya yang segar, tidak terasa sama sekali bahwa minuman ini mengandung alkohol sedikitnya 40%. Rasa manis dan segar didapatkan dari perasan jeruk nipis dan gula pasir yang cukup generous. Yang membuat “pukulan” cukup keras di kepala jika kita menenggaknya adalah kasasa – minuman dari sari tebu yang difermentasi.

Jika caipirinha dicecap pelahan, teguk demi teguk, tidak akan menyebabkan mabuk atau “pukulan” di kepala, justru akan menyegarkan badan. Besok paginya bangun tidur, di badan sungguh terasa nyaman. Tapi jika karena terlena rasanya yang nikmat segar, seseorang menenggaknya dengan cepat, sloki demi sloki akan mengalir tak terasa yang dijamin akan mengakibatkan mabuknya orang tsb.

 

Baileys dan Kahlua

Dua minuman ini bisa dikatakan “sama dan sebangun”, yaitu minuman yang bahan utamanya adalah kopi yang dijadikan liquor. Rasanya luar biasa nikmat. Dalam mulut tidak terkesan sama sekali bahwa Baileys dan Kahlua ini adalah minuman dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Rasa dan aroma kopi yang kuat menyergap indera pengecap kita waktu dicecap dengan sedikit es batu.

 

DOM Bénédictine

Perkenalan dengan liquor ini terjadi pada waktu istri melahirkan anak pertama di tahun 2002. Kami masih di Medan ketika itu. Beberapa teman menghadiahkan minuman ini dengan berbagai macam tips bagaimana minumnya dan resep-resep masakan dengan DOM Bénédictine yang dipercaya sebagian masyarakat Tionghoa akan cepat memulihkan kondisi ibu pasca melahirkan. Saya pun ikut mencicipi minuman ini dan ternyata memang enak sekali.

Ternyata sebagian masyarakat Tionghoa (di Sumatera Utara umumnya) bahwa DOM Bénédictine adalah minuman berkhasiat yang membantu pemulihan kondisi ibu yang baru melahirkan. Penasaran, saya memelajarinya lebih lanjut dan mendapati bahwa ternyata DOM Bénédictine ini dibuat dari berbagai jenis rempah dan herbal yang total berjumlah 27 macam. Proses pembuatan yang rumit dan panjang membuatnya disebut sebagai elixir alias “ramuan berkhasiat”. Dari proses awal sampai dengan di dalam botol, dibutuhkan waktu selama DUA TAHUN!

Sejarah panjangnya dapat ditarik dari tahun 1501, seorang biarawan yang bernama Dom Bernardo Vincelli dari Abbey of Fécamp, Normandy, Perancis membuat minuman ini pertama kali. Entah bagaimana, resep minuman ini hilang dan tigaratus tahun kemudian – tahun 1863 – baru ditemukan kembali oleh Alexandre Le Grand – seorang pedagang dan kolektor religious art.

Dan apa sebenarnya arti DOM? Ternyata DOM adalah semacam sebutan untuk biarawan/paderi di masa itu Deo Optimo Maximo – For Our Best, Greatest God. Dalam satu sloki minuman exotic ternyata terkandung pujian terhadap kebesaranNYA…

 

Sonnema Berenburg

Perkenalan dengan minuman ini terjadi di tahun 1999 sewaktu kuliah di pedalaman Negeri Kincir Angin. Di satu hari di musim gugur, adik saya, calon suami dan sahabat calon suami mengajak saya untuk berlayar di Friesland. Pertama saya bingung kok bisa berlayar di Friesland. Ternyata si teman tsb memiliki perahu yang memang untuk sailing menyusuri danau-danau kecil yang tersebar di provinsi Friesland.

Singkat cerita petualangan berlayar menyusuri danau-danau di Friesland sungguh mengesankan. Mobil ditinggal di kota kecil di mana perahu ditambatkan. Berlayar mengikuti bertiupnya angin, jam makan siang bisa berhenti di mana saja, bisa di desa-desa kecil di pinggir salah satu danau, bisa di tengah hamparan padang rumput tak berujung. Jika di padang rumput, kami mengeluarkan peralatan masak, langsung memasak dan makan di situ, sungguh luar biasa nikmat rasa makanan yang kita makan.

Malam hari menjelang, kapal kami pinggirkan, tambatkan di mana saja, tenda kami dirikan, dan kembali masak memasak untuk makan malam, kemudian tidur dalam sleeping bag. Jika tidak terlalu dingin, saya tidur beratapkan langit bertabur bintang, jika udara musim gugur sedikit menggigit, saya tidur di dalam tenda.

Pada kesempatan inilah calon suami adik dan teman baiknya mengenalkan saya kepada Sonnema Berenburg ini. Mereka berdua yang asli Friesland dengan bangga mengenalkan minuman khas Friesland ini.

Menurut Wikipedia: Beerenburg (Frisian: Bearenburch) is a Dutch drink, made by adding herbs to jenever, with about 30% alcohol. The original Beerenburg was made in the mid-19th century with a secret mixture of spices of the Amsterdam spice merchant Hendrik Beerenburg, to whom it owes its name. Soon local Beerenburg varieties emerged, each with its own recipe. These were, however, not allowed to use the name Beerenburg, which is why there are variations on the spelling, such as Berenburg and Berenburger.

Minuman ini juga dibuat dari berbagai jenis herbal yang masing-masing pembuatnya klaim yang paling istimewa dan resep rahasia turun temurun. Rasa minuman ini nikmat dan hangat di badan, dengan catatan tidak diminum model meminum beer, karena dijamin akan tumbang dengan sukses dengan “pukulan” alkohol yang minimal 30%.

Ada satu lagi yang dalam diskusi milis nyampah, si Mbah Gandalf mengenalkan satu minuman bernama Cointreau yang katanya sueger, uenak…sayangnya saya belum pernah mencobanya.

Dan ada juga collector item dari Tiongkok yang harganya bisa mencapai miliar rupiah:

Sebagai penutup, saya lampirkan juga “resep ciamik tur gampang” (resep asik dan gampang) ala Dewi Aichi:

Vodka,setengah liter ditambah susu kental manis satu kaleng, ditambah es krim 1 kilogram, di blender bareng, kasih es batu….ini namanya espanhola.

Resep ke dua, red wine 1.5 liter ditambah 2 kaleng susu kental manis, blender, warnanya kan jadi ungu muda. Rasanya hmmmmm…nikmat sekali.

Silakan dicoba (terus terang saya belum coba), resiko nggeblak (tumbang), mabuk, silakan klaim langsung si pemberi resep…

 

Keterangan:

Sebagian foto adalah kontribusi dari Mbah Gandalf.

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

128 Comments to "Minum-minum"

  1. Dewi Aichi  22 February, 2017 at 17:46

    wow..artikel 2011 jik dibukak pintu komen, ….lainnya dibukak juga dong…..asik2 nih….komen2 masa lalu haha…

  2. Dewi Aichi  22 February, 2017 at 17:45

    Pernah membawa teman-teman wartawan Jawa Pos, menikmati caipirinha…widihhhhhhh…gara-gara yang punya bar diliput, kami tidak disuruh bayar haha…

  3. stefanny  22 February, 2017 at 14:15

    mau tanya.. beli dom
    dimana ya??

  4. CF  21 January, 2013 at 16:20

    pemrmisi mas. ada info mau beli cointreu yg kecil di mana ya klo di kota medan,

  5. Sierli  1 December, 2011 at 11:21

    Aku minum bier aja udah mabok, apalagi minum2an yg ada di list nya om JC..whuaaaa…ngejengkang.com

  6. Sierli  1 December, 2011 at 11:20

    Sasayu, beli DOM nya kita patungan yuuk..whuahhahaa….

  7. Lani  25 October, 2011 at 05:44

    AKI BUTO : bukannya air tape ketan kandungan alcohol nya tinggi????? wah, aku minum itu langsung kliyengan njeglekkkkk…..krungkep njur ngathang2……..muter ndonya-ne/berputar dunianya………..

  8. Lani  25 October, 2011 at 05:42

    105 MAWAR : beer mmg baunya kayak air kencing jaran kkkkkk………

    tp ada tuh olok2 apa lagu ya????? bir temu lawak lambe njedir koyo luwak wahahahaha……..nulis sambil kemekelen…….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *