Sang Presiden

Ida Cholisa

 

Tadinya aku seorang guru. Jebolan sebuah universitas negeri ternama di sebuah tempat. Eit, perkenalkan dulu. Namaku Tinta. Tinta Biru. Nyentrik, kan?

Well, kuperkenalkan lebih jauh siapa diriku. Aku guru honorer di sebuah sekolah dasar. Tahu sendirilah berapa sih gaji guru honorer? SD pula, di desa terpencil pula! Bolehlah kalian tak percaya kalau buat beli bedak dan gincu saja aku mesti berpikir sekian kali. Pendapatanku tak seberapa meeeeen…..

Itulah sebabnya, aku pingin jadi presiden. Gila, ya? Seorang guru honorer di tempat terpencil bercita-cita jadi presiden? Aku tak peduli kalian mau bicara apa. Yang penting aku ingin jadi presiden. Thok till! Jika ada yang menawariku tuk jadi istri presiden, aku pun nggak mau. Aku maunya jadi presiden. Wakil presiden pun aku ogah. Apalagi menteri atau pembantu presiden. Gak lah yauw!

Mimpiku menjadi presiden berawal ketika aku mendapat kesempatan bertemu petinggi negara di ibukota. Yup, aku lupa kasih tahu di mana negara tempat tinggalku. Nama negaraku Indanusa. Saat itu aku meraih juara pertama lomba menulis tingkat nasional. Sebuah kesempatan emas aku bisa berjabat tangan dengan mendiknas dan sang Presiden. Hm, terhuyung-huyung rasanya, saking senangnya!

Kau tahu bagaimana rasanya bersalaman dengan para petinggi negara? Ada keharuan dan kebanggaan menyeruak di dalam dada. Wuiss…., tak terlukiskan kata-kata. Terlebih ketika aku mendapat kesempatan mengikuti jamuan negara. Hohoi….., malang melintang hatiku. cenat-canut perasaanku, deg-degan jantungku. Keren abis, sumpah.

Aku sering bermimpi menjadi presiden, akhirnya. Dalam benakku, seorang presiden adalah maharaja yang semua bawahan akan tunduk pada perkataannya. Ah, aku mungkin bak pungguk rindukan bulan, ya? Siapa juga yang akan memilihku menjadi presiden. Punya partai pun tidak. Punya modal, pun tidak. Relasi? Apalagi. Lha wong aku ini cuma perempuan biasa, pekerjaan pun biasa saja, pun dari kalangan yang juga biasa. So, bagaimana mungkin aku berkhayal ingin menjadi presiden?

Tapi itulah aku. Tak ada yang mampu menghalangi niat dan keinginanku.

Begitulah. Singkat cerita, aku berhasil menduduki singgasana presiden. Tanpa modal apa-apa. Tanpa pelicin apa-apa. Bahkan tanpa dukungan siapa-siapa, Naiknya aku ke kursi kepresidenan bagaikan dalam mimpi saja. Tiba-tiba aku telah berada di istana negara. Tiba-tiba telah berderet manusia yang memintaku untuk menunjuk mereka; siapa yang pantas di antara mereka untuk menjadi pembantuku dalam menjalankan tugas negara. Tak mudah ternyata menentukan pilihan. Selama dalam proses memilih itu, telingaku dipenuhi bisikan dari banyak pembisik. Mataku dihujani kerlip berlian dan kilau intan. Kepalaku dicekoki titipan-titipan; pilih aku saja, maka kamu akan begini, pilih diriku saja, maka kekuasaanmu akan begini…

Ah. Pusing aku. Tawar-menawar sempat mereka ajukan. Tapi aku sang presiden baru, tak bergeming sedikit pun oleh berbagai tawaran atau perjanjian kesepakatan itu. Aku mempunyai hak mutlak untuk menunjuk para bawahanku. Aku harus mengikuti hati nuraniku, bukan termakan oleh bujuk dan rayu. Dan okelah, setelah melalui seleksi yang ketat, berhasillah aku menentukan para pembantu baruku. Hm, sebuah proses seleksi yang ketat menurutku.

Parminto, kawan masa kecilku, yang kini menjadi juragan tempe berhasil kuangkat menjadi menteri perdagangan. Dirman Sukarman, seorang teknisi komputer aku angkat menjadi menteri teknologi dan informasi. Supriyatun, perempuan tangguh yang selama ini mengabdikan diri menjadi relawan anak jalanan, aku angkat menjadi menteri sosial. Bedjo Sukiryo, Tariyah, Denok dan beberapa nama lain turut menjadi daftar nama menteri yang menduduki jabatan di era pemerintahanku.

Tak ada kolusi. Pun nepotisme. Aku menjalankan roda pemerintahan dengan sangat baik. Setidaknya itu menurut perkiraanku. Dan semua kuawali dengan proses pemilihan aparatur negara yang bersih dan jujur. Swear. Dan hebatnya, aku tak perlu upacara pelantikan yang “wah” bagi semua pembantuku. Semua berlangsung sangat sederhana. Tak ada yang namanya protokoler. Semua berjalan biasa saja. So pasti, tak ada uang rakyat yang dihambur-hamburkan hanya untuk acara kenegaraan. Tak ada.

Kinerja. Itu yang kutekankan benar pada para bawahanku. Kukatakan pada mereka bahwa jabatan bukan alat pengeruk kekayaan, bukan cangkul untuk menggali kemakmuran. Kukatakan pada mereka bahwa jabatan adalah jembatan untuk menggapai kemaslahatan, kebaikan dan kemajuan bersama. Jabatan adalah ladang amal, begitu kusampaikan pada mereka. Dan syukurlah, mereka tahu benar soal itu.

Kepada mendiknas Husin Qomar, lelaki umur 35 tahunan yang dahulu kukenal sebagai guru teladan, kuminta ia untuk membuat sekolah gratis bagi para murid. Semua warga masyarakat, tanpa kecuali, bisa menikmati pendidikan gratis ini. Tetapi untuk masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas, aku mewajibkan mereka untuk menjadi penyokong dana pendidikan yang mana sumbangan mereka akan dikelola secara khusus dan transparan. Masyarakat miskin tak ada yang tak mampu menikmati bangku sekolah. Untuk semua warga masyarakat aku mencanangkan wajib belajar. Tak ada alasan untuk tak bisa sekolah. Negaraku harus maju. Warga negaraku harus berilmu. Aku tak mau negeriku yang kaya-raya ini dipenuhi manusia-manusia bodoh. Aku ingin negeriku diwarnai masyarakat yang melek ilmu. Sebab dengan ilmulah mereka akan dapat membangun negeri ini menjadi lebih maju dan berkembang lagi.

“Maaf Bu Presiden, bagaimana dengan para pengajarnya?” Husin Qomar bertanya kepadaku.

“What’s wrong?” Aku pura-pura tak mengerti arah pembicaraannya.

“Maksud saya, bagaimana dengan kesejahteraannya?”

Aku tertawa.

“Hai man, aku akan menaikkan gajinya sepuluh kali lipat dari gaji semula! Kau tahu alasannya?”

Ia menggeleng.

“Pertama, agar tingkat kesejahteraan guru meningkat. Kedua, agar tak ada guru yang “nyambi” bekerja di tempat lain. Ketiga, tentu saja agar kualitas pendidikan semakin baik.”

Husin Qomar mengangguk-angguk. Gebrakan baru pun ia lakukan. Sistem pendidikan ia benahi, kedisiplinan dan apapun yang berkaitan dengan dunia pendidikan dengan segera ia rombak dan ia tingkatkan. Hasilnya, benar-benar mencengang! Dalam waktu singkat Indanusa, negeriku yang kaya-raya, berubah menjadi negeri nan maju dan hebat tiada tara. Banyak sekolah dari negara lain yang melakukan studi banding dengan sekolah-sekolah yang ada di negaraku. Mereka berdecak kagum melihat perkembangan pendidikan yang sangat signifikan dan kemajuan yang diperlihatkan oleh sekolah-sekolahku.

“Bu Presiden, bukankah Ibu akan menerima tamu dari luar negeri? Apakah tidak ada penyambutan khusus atau upacara kenegaraan untuk menyambut para tamu itu?”

Aku memandang tajam sang menteriku.

“Bulkankah aku pernah bilang tak pernah ada acara ceremonial pun upacara kenegaraan? Santai saja menghadapi setiap tamu yang datang ke negara kita. You musti sadar, rakyat kita butuh kerja keras kita, bukan suguhan acara ceremonial yang menguras uang mereka. Uang pajak adalah uang mereka. Aku tak mau berdiri di atas duka maupun derita.

 

8 Comments to "Sang Presiden"

  1. Ida Cholisa  3 October, 2011 at 19:49

    Hai Mbak Dewi Murniiii………., ini kan tulisan yang belum selesai, belum ada endingnya, koq diaruh di sini? heheheeee….., tulisdan yang terlupakan, hahaa…., thanks ya, jadi inget lagi nih, tar kuterusin lagi ya tulisan yg masih mengambang ini?
    Buat para komentator, thanks a lot yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………..

  2. Sumonggo  30 September, 2011 at 09:52

    Kalau presidennya Tinta Biru, para menteri tidak akan pernah mendapat rapor merah, tidak ada reshuffle, semua naik kelas

  3. Dj.  30 September, 2011 at 02:53

    Di Jerman…..
    Ketua / kepala pesekutuan, perkumpulan bahkan Club, itupun disebut “president”.
    Contohnya, president club bola Bayer München. de el el…
    Salam,

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 September, 2011 at 00:19

    Lebih baik jadi presiden honorer. Digaji berdasarkan keputusan. Atau nggak presiden paruh waktu, seperti presiden kita sekarang. Profesi: Penyayi. Karir: Presiden.

  5. Sasayu  29 September, 2011 at 21:57

    Seandainya…ooh…seandainya…

  6. J C  29 September, 2011 at 14:45

    Hhhhmmm….bener-bener negeri Utopia yang ada begini ini…

  7. [email protected]  29 September, 2011 at 11:38

    Ahahahahahaha….
    kayanya perlu dibikin lomba bikin cerita…. “Andai diriku menjadi seorang presiden”…..

    ruame pastinya….

  8. Handoko Widagdo  29 September, 2011 at 11:23

    Saya larang dikau jadi presiden. Sebab nanti dikau jadikan semua pegawai negeri menjadi pegawai honorer

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.