Satu Bab Yang Hampir Selesai – Hingga Fajar Esok Hari (2)

Leo Sastrawijaya

 

Artikel sebelumnya:

Satu Bab Yang Hampir Selesai – Hingga Fajar Esok Hari (1)

Setelah kami masing-masing membersihkan badan, ia memberikan kepadaku sebuah piyama warna merah muda. Ia hanya mengenakan baju tidur dari sutra tipis, membuat seluruh komposisi tubuhnya yang anggun menjadi nampak bagai siluet seksi. Apalagi di tengah temaram lampu apartemennya yang romantis. Dalam kesendirian kami berdua sungguh sulit untuk tidak mengatakan betapa di balik keangkuhan wanita ini, ia sesungguhnya seseorang yang tengah sakit.

Kekuasaan yang berlebih, ketidaksiapan jiwanya untuk menerima tanggung jawab besar menjadi seorang CEO sebuah perusahaan joint venture berskala nasional, sungguh telah membuatnya terkurung oleh sangkar emas yang dibangunnya sendiri. Mungkin tanpa sadar. Dia kesepian dan tidak memiliki cukup kemampuan untuk mengekspresikan dirinya secara lebih utuh sebagai seorang manusia, seorang wanita. Dia telah terbelenggu oleh sesuatu yang kelewat dihayatinya, image.

Kawan pernahkah kamu merasa demikian kelelahan saat sepanjang hidupmu merasa harus mengeluarkan tenaga lebih untuk menjaga sesuatu yang bernama image, imej? Dara matang di dekatku terengah-engah oleh kelelahan itu, sayangnya dia ngotot untuk tetap di situ, entah oleh karena alasan apa? Ia memiliki lebih dari cukup kapasitas intelektual untuk memahaminya, menganalisa dan mengambil kesimpulan dan bertindak kukira. Tetapi ah, aku mungkin telah terlalu menyederhanakan nilai manusia. Manusia memang kompleks. Batas-batas kekuatan seseorang bisa saja berdiri berimpit dengan batas-batas kerapuhannya. Aku lupa bahwa manusia memang mahkluk penuh potensi sebagaimana yang telah kukatakan di depan. Kita punya potensi untuk menang sekaligus kalah pada saat bersamaan.

Dari dalam bola matanya yang kosong, aku melihat nanar mata serigala yang kesepian. Tetapi ia bahkan tidak berani mengekspresikan gairah tersebut dengan lebih bebas dan terbuka, bahkan ketika kami telah berdua dan aku adalah gigolo yang telah dia sewa dengan harga mahal. Ia nampaknya bahkan masih mempertimbangkan ‘nilai’ diri sebagai leader, pemimpin bahkan untuk sesuatu yang bersifat sangat mendasar dan insani.

Aku sengaja menjaga sikap, tidak agresip dan menunggu. Walau dalam konteks berbeda berdekatan sangat intim dengan seorang wanita bukan merupakan pengalaman baru bagiku. Mengalir dan membiarkannya sampai di ujung mungkin merupakan pilihan paling bagus buatku. Tentu sembari mempelajari semuanya dengan lebih teliti. Tidaklah, rasanya tidak mungkin aku menyebutnya sebagai munafik. Sungguh aku tidak merasa memiliki hak untuk membuat penilaian seperti itu. Tugasku barangkali hanya membantu serigala itu keluar dari kerangkengnya lalu berusaha menjinakkan sebisaku……

Dengan ‘klienku’ pertama ini aku sungguh ingin tahu lebih dalam, bukan karena alasan professional melulu. Nyatanya aku kesepian, merana dan merasa demikian sakit karena perjalanan hidup dan kehilangan Ira. Aku yakin perempuan luar biasa ini juga tersakiti, walau mungkin dalam kadar sakit dan alasan kesakitan yang berbeda. Bagaimana jika seseorang ketika hanya berdua dengan lawan jenis yang telah dia ‘beli’ , ia  masih ‘tidak berani’ mengekspresikan kehendak purbanya? Kehendak yang berdenyut dalam jiwa siapapun yang sehat jiwa raganya. Sementara pada sisi lain ia memiliki kekuasaan atas rentang kendali sangat besar. Tentu dalam konteks itu dia telah dengan sangat berhasil mengalahkan semua tantangannya.   Kini mengapa dia menjadi nampak begitu kaku dan tanpa tenaga? Sementara aku melihat hasrat menyala yang terpasung di matanya. Seorang yang sakit bukan?

Asmara Maharani, setelah mengajakku menemani nonton sebuah acara kuis luar negeri, ia kemudian menyajikan secangkir teh hijau yang kurasa nikmat sekali. Merasa terlalu tinggikah untuk mulai mengambil inisiatif kemesraan?  Apakah anda terlanjur menganggap hasrat purba ini sebagai sesuatu yang kotor, sesuatu yang kumuh, slum ? Sementara dorongan naluriah itu terus ada, menggedor, memangil-manggilmu sehingga  membuat dirimu merasa terperangkap di dalamnya, kamu kini meringkuk didalam sebuah inner trap. Dan terus membangun perangkap itu lebih besar dan kuat dengan ego dan prespektif kekuasaanmu.

Tetapi kamu memang sudah sangat terlatih untuk menguasai diri, aku hanya melihat sekali-kali saja kamu kehilangan kendali atas tindakanmu, sisanya terkontrol dengan sempurna. Apakah ini tidak terlalu melelahkanmu? Lihatlah betapa kaku dan kikuknya dirimu, sementara  kamu berada dalam istana kekuasaanmu dengan semua hak dan kekuasaan mutlak berada dalam genggamanmu. Ya, tidak aneh jika kemudian kamu tidak bisa menemukan pasangan hidup. Atau mungkin kamu menganggap itu tidak perlu dan melulu membikin persoalan jadi ribet?  Mohon ma’afkan aku karena aku memang biasa berfikir spontan dan tidak terlalu mau berpikir panjang.

Kekikukan dan kekakuan mendera kami selama lebih dari tiga jam, dia mengatasi situasi tersebut dengan mengajakku berbicara banyak, topik-topiknya datar, canggung dan tidak nyambung. Sementara aku masih saja mengikuti alur yang kini tengah dia rintis. Semua yang dipresentasikan saat ini nampak menjadi seperti sebuah fragmen. Sebuah fragmen pendek kukira dan aku belajar menikmatinya. Untungnya aku punya bakat untuk menikmati apa yang bahkan aku tidak tahu.

Sudah jam sembilan lewat ketika dia memintaku untuk memijit badannya yang katanya pegal-pegal.

‘Dimana?’

‘Di kamar dong, tapi jangan kurang ajar ya?’

Kurang ajar? Oh, aneh sekali. Lalu aku kamu ajak ke sini untuk apa? Tetapi lihatlah akan kuperlihatkan bahwa dirimu yang harus banyak belajar untuk hal yang satu ini. Agar kelak hidup bisa kamu jalani lebih wajar, down to earth.

Di atas ranjang mewah dia tergolek pasrah, aku mulai memijitnya dari daerah kaki. Astaga, kakinya begitu halus dan lebih jenjang dari kesan pertamaku.

‘Kamu pintar memijat.’

‘Apa menurut embak aku punya potensi menjadi pengusaha panti pijat?’

‘Ya kupikir begitu. Dan kamu pasti hanya akan mengarahkan panti pijatmu menjadi panti pijat plus-plus.’

Aku tertawa, ini humor pertamanya setelah berjam-jam kami ngobrol panjang lebar. Kamu adalah es yang mulai cair, dan kamu segera akan mencair sempurna. Tidak tahu apakah pernah ada pelayanmu yang mampu membuat dirimu mencair ? Mungkin mereka hanya mampu membuatmu menjadi balok es yang retak-retak saja dan segera saja dirimu kembali menjadi balok es utuh saat malam berakhir. Dan esoknya dirimu telah membeku menjadi lebih keras barangkali. Atau….kamu adalah sejenis cairan yang segera akan kembali beku bahkan saat berada dalam suhu kamar ? Sungguh celaka bila begitu.

Kalian mungkin mengira bahwa permintaannya untuk memijat diriku adalah caranya untuk minta dilayani. Menurutku tidak. Permintaannya lebih merupakan caranya menutupi kekakuan, ketidak tahuan untuk memanfaatkan ‘barang’ yang dibelinya yaitu aku. Langkah ini bagiku merupakan refleksi dari keangkuhannya, sekalipun hasrat mendasarnya telah menjerit memohon untuk dipenuhi. Ia hanya ingin memberi kesan bahwa dia bukanlah sejenis wanita yang ‘lemah’. Wanita ternyata bisa menjadi sangat rumit ya ? Bolehkah kusimpulkan bahwa di puncak kesuksesannya dia ternyata sama sakitnya dengan diriku………

Kupikir inilah saatnya aku mulai menunaikan tugas pelayanan yang menjadi tanggung jawabku ; Membuka kandang serigala dengan hati-hati!

Tetapi ketika tanganku mulai kuarahkan untuk melakukannya tiba-tiba kelebatan bayangan Ira mengisi seluruh rongga pikiranku, menerawang, memandangku tanpa harapan. Akupun mencium aroma sepi, sesepi dan sesunyi hutan-hutan pinus di lereng Gunung Slamet. Maafkan aku sayang, kumohon maafkan aku………..

Kemudian aku melihat serombongan burung belibis langka terbang melintas cakrawala dengan sekujur tubuh penuh luka. Saat sepasang mata Mbak Asmara menjadi merah membara layaknya serigala menemukan mangsa aku lamat-lamat mendengar letusan senjata, kurasakan pelurunya menembus ulu hatiku. Dengan darah dan luka aku tertatih melewati malam dalam sakit dan derita tiada tara……….Aku tidak berharap masih bisa melihat matahari esok hari. Biarlah kegelapan mengakhiriku hingga titik ini saja…….

Dan malam itu tidak kunjung sampai fajar. Malam kurasa berdenyut sangat pelan bumi seperti kehilangan tenaga untuk melakukan rotasi.

*****

‘Sudah bangun Dik ?’

Aku tergagap, dalam selimut tebal, tubuhku tidak mengenakan apapun, aku pandangi dadaku tidak ada luka apapun. Sementara wangi semerbak menusuk hidung membangkitkan fantasi tentang Firdaus, inikah alam itu ? Inikah alam itu ? Lalu dimana Ira-ku ? Di mana dia, dimana bidadari kecilku buah kasihku dengannya. Sudah seberapa besar dirinya, seberapa cantikkah dia ? Bapak selalu merindukanmu Nak, sama seperti bapak selalu merindukan ibumu.

Tapi firdaus itu entah di mana. Tidak di sini. Aku kini terkurung di apartemen mewah, sementara malam masih legam menyelimuti bumi, dan kusadari di sampingku adalah Mbak Asmara, matanya nanar, senyumnya membara penuh arti, dalam selimut yang sama dia mencoba merapat kearahku, ketika tubuhnya menyentuhku aku menyadari bahwa dia sepertiku juga kini tidak mengenakan sepotong kainpun…..Ya Tuhan apa yang telah kami lakukan? Aku memang tukang gonta ganti pacar, tetapi aku belum pernah melakukan hal seperti ini kecuali dengan istriku Ira.

Ia memandangku seperti seorang anak yang melihat segelas es krim Baskin Robin, penuh keinginan untuk menyantap. Dan matanya nanar layaknya mata seekor serigala kelaparan melihat sekerat daging segar. Saat ini sungguh aku tidak berdaya, polos laksana bayi. Masih juga tidak berdaya saat tangannya bergerak mengelus bagian tertentu tubuhku. Seluruh sistim dalam tubuhku seperti lumpuh mati dan aku tidak berdaya menguasainya. Inikah raga yang berdenyut tanpa jiwa?

“Kamu seorang perawan rupanya……” Katanya dengan desahan penuh dahaga. Di mataku saat ini, kulihat lidah Mbak Asmara menjulur panjang siap menjilati seluruh tubuhku untuk kemudian menelanku dalam sekali telan. Tangannya seperti tidak terkendali merayapi setiap bagian tubuhku, desahannya terasa bagai semburan nafas api seekor naga yang membakar dan melepuhkanku. Ia benar-benar serigala kelaparan yang baru saja keluar dari kerangkengnya, jiwanya liar matanya mengancamku. Sialnya akulah orang yang telah mengeluarkan monster itu dari kerangkengnya. Sebaliknya aku tidak memiliki kuasa sedikitpun untuk menempatkan kembali ke tempatnya.

Aku merasa kesakitan yang sama seperti di awal malam, aku merasa nyeri tiada tara. Luka yang sama sekali belum terbalutkan, kini terluka lagi dan darah mengucur menggenangi sekujur tubuhku. Jiwaku melolong betapa sakitnya, betapa kelunya. Tetapi malam tidak mau berkompromi dan tetap berjalan lambat sehingga serigala ini tetap saja begitu buas memotong-motong ragaku kerat demi kerat. Dari setiap tetes darah yang mengalir dari luka-lukaku aku mendengar dengus kepuasan darinya.

Tetapi aku tidak tahu mengapa ? Ketika tiba-tiba tanganku nan penuh darah dan luka bergerak juga ke arahnya, membelai helai demi helai rambut sebahu pemangsaku yang kini tengah berpesta pora menikmati ragaku. Tangannya yang kurasa penuh dengan kuku-kuku tajam menangkap tanganku, meremas meninggalkan rasa ngilu dan membimbing tanganku mencapai setiap titik dalam dirinya yang kurasa kini bagai rimba raya nan gelap dan penuh dengan jebakan mematikan.

’’Kamu mengingatkanku kepada seseorang ’’ Katanya setengah mendesah dengan kilatan penuh dendam.

‘’ Seseorang yang ingin kamu cabik-cabik ?’’

‘’ Iya. Seseorang yang telah mencabik dan menyakitiku.”

“ Dan karenanya kamu ingin menyakitiku juga.”

“Aku merasakan kesakitanmu, aku menyukainya. Kamu akan terbiasa dengan rasa sakit itu. Seperti aku juga….”

“ Kamu ingin mengajariku bab tentang sakit ? Aku telah melewati bab yang paling menyakitkan dalam hidup. “

“ Oh iya?”

“ Iya”

“Tetapi kesakitan yang kutimbulkan akan membuatmu ketagihan. Percaya saja….Kamu akan ketagihan.”

Aku memendangi wajahnya, kurasa aku masih melihat sisa-sisa darahku di antara dua bibirnya. Entah bagaimana ekspresiku. Yang aku tahu, seluruh energiku tersedot entah kemana saat ini. Aku lunglai. Sementara sorot matanya masih saja tetap dalam tingkat kebuasan yang sama. Mata seekor serigala yang lapar.

“ Meski kamu seorang duda, tetapi kamu adalah seorang perawan beberapa jam lalu……Kamu tahu aku menikmati rasa putus asa dan kesakitanmu.” Katanya penuh kemenangan.

‘Kamu tahu kamu sejenis perawan yang kucari.’ Sambungnya.

Aku tertunduk, layu, sekarat. Apa yang kumiliki memang telah terenggutkan, begitu nyeri rasanya. Aku menjadi bisa merasakan betapa perih hati orang-orang yang telah terenggutkan kehormatannya secara paksa, siapapun dia, lelaki maupun perempuan, untuk kehormatan apapun yang telah terenggutkan. Tidak peduli dari mana dan oleh karena apa keterpaksaan itu harus terjadi.

Malam mengalir begitu pelan, kelam dan terasa menekan. Sementara dengus nafas Mbak Asmara terus saja datang bergelora dengan intensitas energi yang kian besar seiring lingsirnya puncak malam. Rembulan sepotong nampak mencoba mengintip dari gorden ungu muda jendelanya. Ia terus melolong, mendengus, mencabik, menelan kerat demi kerat sisa dagingku. Kurasakan kini aku bukanlah manusia utuh lagi, aku hanya seekor Zombie, yang bangkit dari kubur saat sepotong rembulan muncul dari balik awan.

‘Roy…..?’

‘Ya, mbak.’

‘Kamu tidak menikmatiku sayang?’

Aku terdiam, harus kujawab apa pertanyaanya yang konfrontatip itu.

‘Saya tidak memiliki posisi untuk menilai……..Saya pelayan.’

‘Ha, ha, ha, ha……..’

Ah, sungguh. Tawa dari sepasang bibir menarik itu mengapa terasa demikian menakutkanku, bulu kudukku merinding.

‘Kamu cowok perkasa secara biologis, tetapi munafik dan malu-malu………Atau kamu memang memble di jiwa ?’

Nada sinis jelas terdengar pada nada suaranya. Tak tahukah kamu dengan apa yang terjadi denganku kini? Aku terkoyak. Aku terluka. Setelah malam ini selesai, maka aku adalah sampah………

Look at me sweetie……… Kamu pria paling manis yang pernah tidur di ranjang ini…..Tetapi kamu sungguh-sungguh pria muda yang rapuh. Can you be stronger …….? Mungkin kamu bisa memaksaku untuk menikahimu……”

Ooooh, perlakuan apa lagi kini. Nafasmu menderu, matamu nanar, senyummu penuh dendam dan tanganmu tiada henti menjamah tubuhku. Lalu kamu menawarkan sebuah lembaga sakral bernama perkawinan?  Sungguh menyebalkan. Sialan benar. Sejenak emosiku memuncak, perih tubuhku mengingatkanku pada realitas deritaku, dan dia masih coba menginjakku.

‘Kamu marah ya………? Marah……. Ayo marahlah…….. Aku penasaran ingin melihatmu bila marah. Anak manis, raja tanpa mahkota.’

Kali ini senyumnya sungguh liar, nakal dan sangat konfrontatif.  Emosiku terlecut aku menariknya melumat habis bibir manis tetapi menyakitkan itu. Jika aku telah dalam proses sekarat maka biar kupercepat sekalian proses itu. Ia mendengus, menggeram, melayani perlawananku, taringnya menyerigai buas, kuku-kuku tajam keluar dari kantung-kantungnya. Aku tidak ingin merasa sakit lagi, meski aku tahu luka di sekujur tubuhku sama sekali belum kering, anyir darah terasa begitu menyengat. Kucengkeram dia, kutundukan mata liarnya dengan mata penuh amarahku, kulawan sayatan kuku-kukunya dengan belaian mematikanku.

Beberapa kali kudengar lolong benuh birahi keluar dari dari mulutnya, mengingatkanku pada lolong anjing liar di kampungku saat birahi memuncak di musim kawin setiap akhir tahun. Kini aku menyergap langsung di puncak-puncak kekuatannya. Aku harus melumpuhkannya agar aku bisa bertahan melewati malam meski dengan menanggung perih tak tertahankan.

‘Auuuuffff………’ Ia mendesah begitu rupa. Sebagian demi sebagian aku telah berhasil menjinakkan dia. Kupikir seekor singa jantanpun bisa dijinakkan oleh pawangnya. Maka seharusnya aku bisa menjinakkan serigala betina ini. Betapapun bahayanya langkah yang harus kutempuh. Sebagai seorang lelaki, bagaimanapun juga masih lebih terhormat bila harus mati saat melawan daripada mati dalam kepasrahan.

Begitulah malam ini yang mengalir begitu pelan kulewati dengan pertarungan penuh darah. Aku bertahan dengan melumpuhkan setiap titik kekuatannya. Kujinakkan dia dengan segenap perjuangan, dengan hilangnya kerat demi kerat  kehormatanku. Ketika semburat fajar menyingsing di ufuk timur, ia akhirnya menyerah dengan lenguh kepasrahan…… Aku masukan lagi serigala itu jauh kedalam kerangkeng jiwanya. Dan luka-lukaku membeku perlahan.

Ketika terang tanah sempurna mengganti malam, aku tertatih meninggalkan apartemen tersebut, dengan penuh sakit, sebagai pria tanpa kehormatan apapun lagi. Sebagai seorang pelacur………… Aku menampik ketika dia menyodoriku pintu kerangkeng untuk membukanya lagi malam nanti. Rasa sakit masih terasa sempurna merajamku, sehingga permohonannya nan pasrah terpaksa tak aku hiraukan.  Siang ini aku ingin sembunyi di kamarku, malu kepada matahari yang sinarnya tulus membelai jagat raya.

Ketika dia menatapku dari balik kaca jendela, aku melihat kepiluan nan buas, kekudusan yang sakit. Maha dewi yang terkhianati. Aku tidak tahu iblis mana yang telah mencengkeram dan melukainya, sehingga dendamnya tidak kunjung usai dan aku adalah satu dari sekian banyak lainnya yang harus merelakan tubuhku tercabik dan jiwaku tersakiti oleh dendam dan amarahnya.

Dan yang lebih  menakutkanku adalah bila kata-katanya tadi benar; bahwa aku akan menjadi ketagihan oleh rasa sakit itu……………

 

11 Comments to "Satu Bab Yang Hampir Selesai – Hingga Fajar Esok Hari (2)"

  1. J C  29 July, 2013 at 10:22

    Baca ulang yang ini juga dahsyat!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.