Terus Terang Aku Iri Dengan Istriku

Odi Shalahuddin

 

Setelah bertahun mengompori istriku untuk menulis, akhirnya untuk kali ini aku bisa merasakan kemenangan. Sebelumnya, aku pernah berhasil mengomporinya untuk menjadi seorang penulis di satu citizen journalism, tapi baru posting tiga atau empat kali, selanjutnya berhenti. Ia lebih memilih menjadi pembaca dalam keheningan.

Pada kali ini, benar-benar kulihat ada semangatnya yang menyala. Jemarinya bisa terasa gatal sebelum menorehkan kata-kata menjadi sebuah tulisan. Sikapnya sendiri juga akan sangat terlihat gelisah.

Selain perasaan kemenangan yang memang tidak perlu untuk dirayakan, secara perlahan aku mulai merasa iri dengan istriku. Ia mulai aktif menulis. Memang bukan tulisan panjang. Bukan artikel, bukan cerpen, bukan pula puisi, melainkan status di jejaring sosial.

Loh, bukankah status itu sudah hal yang lumrah? Jangankan kita yang suka menulis, anak SMA, SMP bahkan SD saja sudah bisa menulis status. Bahkan selalu terupdate bisa lebih dari sepuluh kali dalam seharinya. Ya, ya, ya, saya tahu itu. Tapi kurasa ini beda.

Istriku menulis status dengan rasa, imajinasi dan pikirannya, serta mampu menuangkannya ke dalam rangkaian kata yang kukira akupun tak akan sanggup melakukannya. Apalagi sekarang ia menggunakan keterangan dalam tanda kurung dalam statusnya tersebut, seperti (edisi Berburu Embun, Edisi kekasih, dan sebagainya). Bolehlah aku berprasangka, ia tengah merencanakan sesuatu.

Aku sangat paham, istriku itu orang yang rewel dengan kata. Menulis sms saja ia bisa berpikir keras untuk menemukan kata yang tepat. Apalagi ketika ia menulis sebuah status yang memang dirancangnya. Maka ia akan menimbang-nimbang antara pilihan kata, manakah yang paling tepat. Kadang ia meminta pendapatku. Setelah tertuang, ia pasti akan sangat hafal dengan kata-kata yang pernah dituliskannya. Seakan meresap menjadi satu kesatuan dalam alam pikirnya.

Biar dirimu tidak penasaran, seolah-olah aku melebih-lebihkan, maka kukutip beberapa saja yang telah dituangkannya:

…akan kupastikan wangi menguar dari setiap lekuk tubuhku, kan kukenakan baju ungu muda warna kesukaanku, tak lupa kusapukan bedak warna kuning langsat agar tak pasi wajahku, kuoleskan lipstik warna pink muda agar bibirku terlihat indah saat senyum terkembang untukmu, ah..tak sabar rasanya menunggu saat itu, saat kau tawarkan ingin bertemu denganku. (edisi GENIT)

***

ada getar-getar aneh, merambat menyelusup setiap pori hatiku, terasa hangat menyelinap ke setiap relungnya. ada denyar-denyar syahdu membelengu setiap ingatanku tentangmu, terasa hadir dalam setiap tarikan nafasku. ada rasa tergugu saat tak kudengar kabar beritamu, ada hasrat membara saat tergambar elok sosokmu.. ah… semua teramu jadi satu saat kau katakan bahwa kau pun merinduiku..(edisi Semoga Bukan Mimpi)

***

…tolong kembali bisikkan kepadaku tentang bara yang senantiasa kita jaga agar tak pernah padam, bisikkanlah kepadaku tentang kesunyian yang telah kita tumbangkan, 

tentang debur-debur yang selalu saja mengiringi setiap pertemuan kita, tentang keikhlasan yang tak butuh pertanyaan, tentang kepasrahan yang tak butuh alasan. bisikkanlah kembali seluruh bahasa yang telah kutumpahkan padamu, sebab telah kusimpan seluruh bahasa tentangmu di kedalaman rinduku padamu. (edisi Kekasih)

***

Nah, bagaimana pandanganmu atas tiga contoh di atas? Itu hanya bagian kecil tatkala ia bisa membuat status semacam di atas tiga kali sehari saja, dalam berbagai edisi.

Sungguh, aku benar-benar iri dengan istriku. Ah, seandainya aku bisa menulis seperti dia, yang mencoba meresapkan segala peristiwa, menghayatinya, lalu menuangkannya dengan kehati-hatian.

Tapi masing-masing orang memang bisa berbeda. Aku sendiri, kuakui adalah orang yang selalu berboros kata. Setelah menuangkan kata-kata menjadi tulisan, setelah itu bisa sama sekali terlupa.

Ah…….

Yogyakarta, 10  Agustus 2011

 

 

13 Comments to "Terus Terang Aku Iri Dengan Istriku"

  1. Dj.  2 October, 2011 at 05:00

    Mas Odi…..
    Terimakasih….
    Dj. benar-benar salut, oleh orang-orang bisa bermain kata-kata.
    Memilih kata-kata yang indah yang jarang orang pakai dalam berbicara pin dalam men ulis.
    O….alangkah indahnya…..
    Lain dengan Dj., yang menulis , seperti orang yang bicara ceplas-ceplos saja….
    Hahahahahahahaha…..!!!
    Salam manis untuk mas Odi sekeluarga dirumah…

  2. Dewi Aichi  2 October, 2011 at 04:48

    Indah mas Odi, ngga semua punya kemampuan menyusun kata seperti itu. Parabem…selamat, siapa tau surprise..tau tau bukunya sudah terbit..ayoo teruskan….silahkan ngiri kepada istri he he..!

  3. cechgentong  2 October, 2011 at 04:18

    so sweetttt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.