Senja di Tepi Laut Merah

Faizal Ichall

 

Aku menyaksikan senja menggoda matahari sehingga awan merona dan tersipu malu di atas pegunungan Mesir. Angin malam membelai lembut helai helai air di atas laut merah, menciptakan kecerian kecil di dalam tenangnya ombak saat saling mengejar dan berlomba menuju pantai. Cahaya-cahaya kuning kecil mulai menyala satu persatu di sebrang sana, seperti deretan lilin yang berjajar rapi di sepanjang garis pantai, sebuah ritual rutin dalam menghadapi malam.

Perlahan kegelapan merangkak menutupi atap semesta, seperti laut merah yang mulai berubah warna menjadi hitam yang seakan ikut memeriahkan datangnya malam, sementara hembusan angin terasa seperti kurang sopan saat senja ditelan malam, menampar pipi dan mengacak acak rambutku, seolah sengaja mencoba mengusir ku untuk segera pergi dari pantai ini.

Aku berjalan gontai dengan ditemani pasir pantai di celah-celah jari kaki ku, berjalan menjauhi pantai, semakin menjauh dan terus menjauh, tetapi kelelahan mengingatkan ku, aku tak pernah benar-benar pergi meninggalkan pantai karena kemanapun aku melangkah tetap kutemui pasir-pasir di atas jalanku.

Senja di tepi laut merah itu hanya sesaat saja kusaksikan kehadirannya, tetapi selalu ada dan berulang di dalam hari hariku, seperti sebuah kerinduan yang datang tentang kehidupanku di seberang benua ini, di sana.

Dan waktu adalah sebuah kesombongan semesta, dia hadir dan ada tanpa rasa simpati dan empati, dia terus bergulir, dari detik menjadi menit, menjadi jam, menjadi hari, bulan, tahun tanpa pernah mau mengerti tentang sebuah rasa dari kesedihan, kesenangan, kemarahan, kekecewaan, kerinduan, kebahagian dan lain segalanya dari apa yang dirasakan dari orang yang mengisinya.

Waktu yang ada di depan belum bisa dipastikan, tetapi sebagai waktu dia akan datang dengan segala kejutannya, sementara waktu yang di belakang adalah pemberian semesta tentang apa yang didapat di hari ini, walau sebelumnya hari ini adalah hari esok bagi hari kemarin.

Lalu kapan senjaku tiba, meninggalkan siang yang panas untuk menemui malam yang hening, menatap semesta dalam ketenangan, ditemani rembulan yang menawan dan menyaksikan bintang tumbuh dan besar dalam cahaya.

Terbitnya matahari di kala pagi sama indahnya dengan terbenamnya matahari di kala senja, awal dan akhir yang indah dari matahari di dalam waktu, seperti sebuah kelahiran dan kematian yang indah di dalam kehidupan.

 

Salam

-Ic*

 

6 Comments to "Senja di Tepi Laut Merah"

  1. J C  2 October, 2011 at 21:40

    Menurut pengalamanku, di mana saja, yang namanya saat matahari terbit dan terbenam selalu indah adanya…entah di gunung, pantai atau bahkan di perkotaan dengan pencakar langit menjulang di mana-mana, tetap indah adanya…

  2. Dj.  2 October, 2011 at 05:15

    SEmua ciptaan TUHAN, indah adanya….!!!

  3. Linda Cheang  1 October, 2011 at 18:32

    indah sinar merah mentari. hepi wiken, deh

  4. RM  1 October, 2011 at 09:54

    berbahagialah bagi mereka yg mengagumi keindahan alam n punya kesempatan u/menikmatinya..happy weeekend all….

  5. Handoko Widagdo  1 October, 2011 at 08:09

    Waktu adalah Bethara Kala

  6. nevergiveupyo  1 October, 2011 at 07:33

    prosa yang puitis ya.. padahal tak kira tadi itu liputan perjalanan di mesir… tapi menarik kok trims..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.