Kisah Perjalanan Anak Manusia – Cerita Kelabu Dari Indah

Ki Ageng Similikithi

 

Namanya Indah. Dia berasal dari Jawa Timur dan saat ini tinggal di Taiwan. Indah telah bekerja di pulau Formosa sana dalam lima tahun terakhir. Kami berkenalan lewat dunia maya dan kemudian sempat bertukar sapa (chat) lewat facebook. Beberapa hari lalu dalam suatu percakakapan singkat dia bertanya apakah saya bisa mendengar kisah perjalanan hidupnya. Jelas saya bersedia, dan sepakat bahwa kisahnya akan diunggah di dunia maya. Dia meminta nama dan tempat disamarkan.

Indah lahir tanggal 12 Desember 1977, dari enam bersaudara dan satu wanita dari keluarga yang berbahagia. Setelah tamat SMP di tahun 1992, dia dinikahkan dengan Tono yang notabene adalah pilihan orang tuanya. Tono usianya 9 tahun lebih tua dari Indah. Seorang pengusaha swasta, lulusan SMEA ditambah sekolah di pondok selama 5 tahun.

Indah tidak mengingkari jika waktu itu dia memang mencintai Tono, walau pun pilihan dari orang tua. Tahun 1994, lahir anak pertama laki laki. Semua berjalan wajar dan normal-normal saja. Mereka hidup sebagai pasangan muda yang bahagia. Setahun setelah melahirkan anak pertamanya, Indah memutuskan untuk mulai merantau bekerja ke luar negeri. Anak semata wayangnya diasuh oleh ibu dan bibi Tini, pembantu yang telah bekerja untuk keluarga sejak kecil. Semuanya lancar-lancar saja dan tak pernah terpikir dalam benaknya kemungkinan dampak hidup berpisah tempat bagi pasangan muda.

Dalam tahun yang sama saat Indah menikah, kakak lelakinya yang nomer dua juga kawin dengan seorang wanita, yang sebenarnya riwayat keluarganya tidak begitu bagus. Wanita itu, sebut saja Ani, adalah putri seorang germo terkemuka di kotanya. Mereka tinggal berdekatan dengan rumah Indah dan orang tuanya. Kemudian di tahun 2003, Indah melahirkan anak kedua, juga laki laki. Sesudah anaknya berusia lebih dari dua tahun, di tahun 2006, dia kembali berangkat bekerja ke Taiwan, sampai sekarang.

Di tahun 2009, kakak lelaki Indah yang nomer dua atau suami Ani tadi meninggal. Dia tak punya anak dengan Ani. Walau tidak punya anak dengan kakaknya, tetapi Indah meminta agar Ani tetap tinggal bersama keluarganya. Mereka semua bisa menerimanya tinggal bersama selama Ani tidak menikah lagi.

Sejak setahun lalu Indah dan Tono berencana pergi haji. Sebenarnya semua urusan sudah selesai, tinggal melunasi beaya haji yang masih kurang separoh dan menunggu keberangkatan. Rupanya halangan datang tanpa diduga. Di saat Indah dan Tono harus melunasi pembayaran ongkos haji, usaha Tono semakin surut dan selalu gagal membuahkan hasil. Di saat-saat sulit seperti itu kemudian Ani datang membantu. Dia mendatangkan kyai tanpa sepengetahuan Indah dan keluarga. Sang dukun menjanjikan bisa melancarkan keberhasilan usaha tetapi dengan satu syarat. Tono harus menikah lagi tanpa seorangpun tahu.

Dalam kesempitan itulah, Ani menawarkan diri untuk menjadi istrinya. Mereka nikah siri secara diam-diam pada tanggal 12 Agustus 2011, tanpa seorangpun yang tahu. Beaya pernikahan ditanggung oleh Ani semuanya. Setelah pernikahan itu, sang dukun menghilang entah kemana. Namun pada saat Lebaran 1 Syawal, Tono membuka semua rahasia dan membuat pengakuan jujur pada Indah, bahwa dia sudah menikah siri dengan Ani.

Langsung di malam pengakuan itu, kedua keluarga, keluarga Indah dan Tono, melangsungkan sidang darurat dan memutuskan untuk mengusir Ani dari rumah Indah. Namun sebelum pergi, Ani masih sempat bercerita bahwa sebelum menikahi dirinya, Tono juga sering berzina dengan pembantu yaitu bibi Tini. Ani hengkang dari rumah Indah dengan membawa dendam dan meninggalkan ancaman untuk menghancurkannya. Rumah yang semula ditempati Ani juga kemudian sudah diratakan dengan tanah oleh karena Indah tak ingin ada sisa kenangan buruk tentang Ani yang tersisa.

Tono kemudian mengaku jujur bahwa dia tidak sadar dengan pernikahan siri itu, dan semua hubungannya dengan Ani. Seperti biasa jika seorang pria ketahuan selingkuh pasti dia akan berkilah, tidak sadarlah, khilaflah, kena guna- gunalah. Seribu satu alasan bisa dicari. Namun Ratu sudah tidak peduli, dan memutuskan untuk minta cerai.

Sampai saat ini Tono masih tinggal di rumah Indah dengan harapan bahwa suatu saat Indah akan memaafkannya. Lebih lanjut Indah bertutur bahwa sebenarnya selama 19 tahun pernikahannya dengan Tono, tak sekalipun Tono berbuat salah. Dia adalah sosok suami ideal menurutnya. Tono selalu bersikap baik terhadap Indah dan keluarganya. Menurutnya, Tono sebenarnya tipe suami idaman dengan latar belakang keluarga santri yang soleh. Seperti diungkapkan di muka Tono pernah mengenyam pendidikan di pondok selama lima tahun.

Dari penuturan tersebut, ada kesan keraguan yang dalam dari Indah. Di satu pihak dia sudah mengambil keputusan untuk berpisah. Tetapi di lain pihak, dia selalu mengatakan bahwa Tono adalah suami ideal yang soleh, dari keluarga soleh. Yang menjadi tumpuan hujatan kesalahan adalah si perempuan Ani yang telah menjebak suaminya. Keluarga besarnya dan kedua anak anaknya juga tidak mau dia berpisah dengan Tono.

Silahkan anda mengemukakan komentar dan saran anda untuk Indah. Kebahagiaan adalah pilihan. Moga-moga Indah bisa membuat keputusan yang terbaik buat kebahagiaan dirinya dan anak-anaknya. Kita semua anak-anak manusia selalu berhak untuk hidup bahagia.

 

Salam damai

Ki Ageng Similikithi

Manila, 26 September 2011

 

13 Comments to "Kisah Perjalanan Anak Manusia – Cerita Kelabu Dari Indah"

  1. Kornelya  3 October, 2011 at 21:14

    Ki, suami /istri yang baik & setia bisa mengontrol perkataan dan perbuatan baik didepan maupun dibalik punggung suami/istri. Tono itu lelaki merek gombal.

  2. Ki Ageng  3 October, 2011 at 21:04

    Hidup memang penuh warna dan penuh kadang2 kepura puraan pak Dj. Terima kasih pak Dj. Setuju pak Iwan, hidup adalah pilihan. Terserah Indah mau pilih yang paling sesuai dengan suara hati dan impian ke depannya. Salam damai

  3. Dj.  3 October, 2011 at 20:33

    Hallo KI….
    Selamat Sore dari Mainz….
    Terimakasih Ki…
    Nah ya, itu semua terserah Indah, kalau mau kumpul lagi ya silahkan.

    Namanya manusia, walau sudah jadi santri atau pendeta, kalau hanya ambil titelnya saja ya percuma.
    Mau naik haji kek, mau jadi kiayi kek… selingkuh sih tetep saja, kalau imannya hanya sandiwara saja.
    Hanya TUHAN saja yang tahu….

    Salam Sejahtera dari Mainz Ki….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *