[Serial de Passer] Astari dan Mamak Sandiman (1)

Dian Nugraheni

 

Seperti anak-anak kampung lainnya saat itu, waktu luang akan digunakan anak-anak untuk bermain di luar rumah. Kadang mereka berkeliaran di hutan kecil, sawah, atau kali kecil yang bening di sekitar kampung. Atau bermain pasar-pasaran, jual-jualan dengan menggunakan tetumbuhan sebagai bahan jualannya. Atau bermain lompat tali, atau sundamanda, atau bermain kelereng, dan lain-lain.

Astari sudah bosan dengan segala kegiatan itu. Sekarang dia lebih suka berdiam diri di kamar, melahap semua buku bacaan yang dipinjamnya dari Farah. Tapi bila datang pula jenuh, Astari akan keluar rumah mencari hawa segar. Kali ini, Astari main di rumah keluarga Sandiman, tetangganya. Hanya berjarak beberapa rumah dari tempat Astari tinggal.

Ada banyak hal yang menarik hati Astari hingga dia suka main ke rumah keluarga ini. Keluarga Sandiman, semula terdiri dari Pak Sandiman, seorang petani yang kala itu berusia sekita 50an. Kemudian Istrinya, Bu Sandiman, yang usianya mungkin sebaya dengan Pak Sandiman, bertubuh ramping, nyaris kurus, berwajah tirus dan sedikit pucat, serta ketiga anaknya, Mas Bejo, yang sudah dewasa, mas Jumadi, yang juga sudah cukup dewasa, dan Mbak Wanti, yang tampak di mata Astari pun, tampak sudah cukup dewasa.Ketiga anak Bu Sandiman menyebut Ibunya dengan sebutan Mamak, maka, Astari pun ikut-ikutan menyebut Mamak pada Bu Sandiman. Sedangkan kepada Pak Sandiman, Astari memanggilnya Pak Man.

Dua tahun lalu, Pak Man meninggal, ketika sebelumnya, tanpa sebab musabab yang jelas, katanya Pak Man kejang-kejang, dan pada malam kejadian itu pula, langsung Pak Man dibawa ke Rumah Sakit Umum dengan menggunakan becak yang dikemudikan sendiri oleh Mas Bejo, anaknya. Mas Bejo, sehari-hari memang bekerja narik becak, cari penumpang, untuk menyokong kehidupan keluarga Pak Sandiman. Tapi, keesokan harinya, Pak Man dipulangkan dalam keadaan tak bernyawa, katanya Dokter tak lagi bisa menolongnya. Pak Man terserang penyakit Tetanus, karena beberapa hari sebelumnya Pak Man menginjak paku berkarat, dan hanya dikasih obat merah saja.

Astari mengingat dengan sangat jelas, bagaimana Mamak menangis alang kepalang, memeluk tubuh Pak Sandiman yang ditidurkan pada sebuah dipan kayu. Dan satu lagi yang sangat diingat Astari, dalam tidur panjangnya, pada wajah Pak Sandiman tetap tersungging senyum, seperti sehari-hari ketika dia bercanda dengan Astari.

Sejak Pak Man meninggal, otomatis, hanya mas Bejo lah tulang punggung keluarga itu. Dia berusaha mencari penumpang sebanyak-banyaknya setiap hari untuk mendapatkan uang. Tapi di sela kesibukannya mencari nafkah dengan narik becak itu, masih sesekali mas Bejo berbaik hati membawa Astari, sang penumpang tunggal, gratis, menuju lapangan kota, satu putaran, kemudian diantar kembali pulang, barulah Mas Bejo narik becak yang sebenarnya.

Demikian juga Mas Jumadi, dia jadi buruh bangunan, katanya. Kerjaannya cukup keras dan menguras tenaga, kadang dia mengangkat glugu, batang kelapa, untuk dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, atau menjadi tukang batu bila ada orang yang sedang bikin bangunan rumah tembok bata.

Sedang mbak Wanti, katanya kerja di Toko milik orang China, toko yang menjual bahan-bahan alat jahit, obras, dan lain-lain. Yaa, Mbak Wanti memang suka menjahit, dan menyulam.

Tak ada satu pun dari mereka yang meneruskan langkah Pak Man bertani. Kata mereka, luas tanah sawahnya tak seberapa, hanya capek, dan panennya pun juga harus menunggu waktu yang cukup lama. Entah bagaimana nasib sawah Pak Man yang memang hanya sepetak itu, mungkin disewakan pada petani lain.

Semua keluarga Sandiman, sayang pada Astari. Bahkan bila siang hari, Mamak selesai masak, dia akan mengetuk jendela kamar Astari, menjulurkan mukanya, dan berkata, “Mamak masak bobor bayem dan goreng gereh, ikan asin..sini keluar, ke rumah Mamak, kita makan bersama..” Dan biasanya Astari pun akan menurut, rame-rame Astari makan siang dengan keluarga Sandiman, minus Pak Man tentu saja. Sehabis makan, Astari akan membantu Mbak Wanti asah-asah, mencuci piring.

Setelah itu, Astari, Mamak, dan Mbak Wanti akan duduk-duduk di beranda rumah Mamak, di mana di situ ada kandang kambing. Mamak punya 3 ekor kambing dewasa, dan 4 cempe, kambing bayi yang masih berusia beberapa bulan. Astari nyaris gemas terhadap kambing-kambing itu, kalau tidak karena bau, pastilah Astari pengen membawanya pulang satu yang masih cempe, untuk dipeluk-peluk, dan disayang-sayang seperti layaknya orang-orang menyayangi kucingnya. Tapi Astari sama sekali tak suka kucing, entah kenapa…

Pada musim hujan, Mas Bejo membuat kandang darurat di dalam dapur rumah mereka, di bagian belakang rumah itu. Baunya memang luar biasa, jadi, antara dapur dan ruang di depannya, akhirnya dibuatkan pintu yang selalu ditutup agar bau kambing tak sepenuhnya masuk ke dalam rumah.Bila musim hujan telah lewat, kembali kambing-kambing itu dikandangkan di kandangnya yang terbuat dari bambu di depan rumah, di halaman yang cukup luas.

______________________________

Siang ini, sepulang sekolah, Astari merasa sunyi, ada perasaan lengang. Sudah beberapa lama dia tidak melihat Mamak. Mamak juga tidak menjenguknya lewat jendela kamarnya. Maka Astari ke rumah Mamak. Pintu depan tertutup. Tak biasanya begitu. Astari menyeru pelan dan hati-hati sambil mengetuk pintu, “Maaak…, Mamaaak…”

Tak ada jawaban, maka Astari mencoba mendorong pintu yang tertutup, ternyata tidak terkunci.Astari berjalan pelan tanpa ribut, ruang tamu, sepi, ruang makan, nyaris mati, di meja makan pun tak ada sajian makan siang seperti biasanya, disingkapnya korden kamar Mamak, di mana biasanya, Astari pun suka tidur siang, dikeloni Mbak Wanti dan Mamak di kamar itu, tapi kini, kamar itu pun lengang.

Kemudian Astari membuka pintu antara rumah depan dengan dapur, di mana biasanya dibikin kandang kambing darurat. Astari kaget, karena kandang kambing itu sudah dibongkar, digantikan dengan sebuah bilik, kamar darurat yang dibikin dari gedeg, anyaman bambu, dan pintunya pun tanpa daun pintu, hanya dipasang korden dengan warna terang yang sudah lusuh dan pudar, tapi bersih. Sangat pelahan, Astari menyingkap kordennya, tampak tubuh Mamak terbaring di atas dipan berkasur kapuk yang sudah keras. Astari terkaget, separuh hatinya langsung ingin menangis, tanpa sebab. Astari tak tau kenapa, hanya tiba-tiba pengen nangis aja.

Didekatinya dipan Mamak. tampak Mamak terpejam dalam tidurnya. Astari duduk di kursi kayu sebelah dipan, memandang wajah dan tubuh Mamak tanpa kata, tanpa suara. Seolah dia ingin berjaga di situ, menunggu sampai Mamak terbangun. Jujur saja, Astari pengen Mamak cepat bangun, meski dia tak ingin membangunkannya.

Seperti tau bila seseorang berada di dekatnya, kemudian Mamak membuka mata, menengok pada Astari, dan tersenyum lemah, “Astari.., sudah makan belum..? Mamak masih punya kue Apem di lemari makan, ambillah, itu buat kamu. Kemana saja, kok nggak nengokin Mamak, Mamak sakit sudah hampir seminggu…”

Astari tercekat, kerongkongannya tersumbat, matanya tak kuasa menahan air mata, sambil dipeluknya tangan Mamak yang masih tetap terbaring, Astari tersedu-sedu, “Mamaaakk…, Mamak mengapa sakit..? Kemaren-kemaren Mamak nggak sakit, hanya bilang capek saja..kenapa sekarang sakiiit..?”

“Nggak tau Astari, kata Pak Mantri, Mamak sakit lever. Lever itu hati. Sakit hati..,” jawab Mamak pelan, sangat pelan. Astari tak paham apa yang dikatakan Mamak, Astari juga menduga, Mamak pun tak banyak paham apa kata Pak Mantri.

“Apa Mamak dikasih obat sama Pak Mantri, Mak..? Di mana obatnya, Astari ambilkan yaa, minum obatnya ya Mak, biar lekas sembuh..”

“Mamak sudah minum obat tadi jam 12 siang.., sini, Nduk.., jangan nangis..,” Astari semakin ngguguk, menagis hebat, ditelungkupkannya kepalanya di sebelah lengan Mamak.

“Wes, sudah, jangan nangis, sini Mamak ceritakan sesuatu..,” kata Mamak lagi.

Astari meredakan tangisnya, tapi masih terisak-isak, dia memandang Mamak dengan nelangsa, “Kenapa Mamak tidak tidur di kamar Mamak..? Kenapa Mamak tidur di bekas kandang kambing.., kamar ini masih bau kambing, Mak…, huuu…huu…,” Kembali Astari nggembor, menangis lagi.

Dilihatnya, mata Mamak pun mengurai air mata, Mamak menangis, “Katanya, penyakit Mamak ini menular, Astari, jadi Mamak dipisahkan dari rumah depan, biar Mas Bejo, Mas Jumadi dan Mbak Wanti tidak ketularan. Kamu juga, jangan dekat-dekat Mamak, nanti ketularan…”

“Sampai kapan Mamak akan sakit..? sampai kapan Mamak akan sembuh..? sampai kapan aku nggak boleh dekat-dekat Mamak..? huu…huuuu..,” protes Astari dalam tangisnya. Dilihatnya Mamak hanya menggeleng, matanya memandang kosong ke arah atap bilik.

“Kalau begitu, Astari enggak takut ketularan, Astari mau terus dekat Mamak, tiap hari sepulang sekolah Astari akan nungguin Mamak, Kakung dan Uti tak akan marah…'” kata Astari nekat.

“Jangan.., Mamak nggak mau Astari ikutan sakit..,” kata Mamak lagi.

Astari menggeleng.”Enggak, Mak, Astari nggak takut sakit…”

Kemudian saking capeknya Astari menangis, akhirnya dia mengantuk, dan Astari naik ke dipan Mamak, tidur di sebelah Mamak, memeluk tubuh Mamak, dan Astari merasa, perut Mamak sedikit membesar, tak seperti biasanya ramping dan tipis….

(bersamboeng..tubi kontinyud…)

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Kamis, 29 September 2011, jam 8.06 petang

(Teringat aku akan Mamak, dan kambing-kambingnya…)

 

Serial Astari lainnya dapat dibaca di: http://baltyra.com/tag/dian-nugraheni/

 

 

10 Comments to "[Serial de Passer] Astari dan Mamak Sandiman (1)"

  1. probo  3 October, 2011 at 22:23

    heleh…mulai deh…….PakDj……..

    ni barusan pulang nonton pertunjkan di ultah Padepokan Bagong K

  2. Dj.  3 October, 2011 at 22:15

    probo Says:
    October 3rd, 2011 at 22:08

    tak pernah bosan meski berkali-kali bacanya……
    ———————————————————————–

    Lihat bu GuCan 10000000 X juga belum bosan kok…hahahahahahaha….!!!!

  3. probo  3 October, 2011 at 22:08

    tak pernah bosan meski berkali-kali bacanya……

  4. Dj.  3 October, 2011 at 21:26

    Cerita yang sangat bagus…..
    Seperti ikutan dalam cerita ini….
    Siapa tau, satu saat cerita ini dipilemkan….
    Terimakasih mbak Dian…

  5. Kornelya  3 October, 2011 at 21:19

    Astari, dikau mempermainkan emosiku, aku ikut nangis. Jaga mamak ya nak. Salam.

  6. Lani  3 October, 2011 at 13:38

    melu sesengguk-an njur-an aku iki……tok-cer critane……lanjoooooooot

  7. [email protected]  3 October, 2011 at 10:55

    wuiiih… lanjut ceritanya….

  8. HennieTriana Oberst  3 October, 2011 at 10:38

    Ikutan menangis seperti Astari

  9. Dewi Aichi  3 October, 2011 at 08:40

    Benar, selalu menyentuh kalbu…sangat menarik gaya cerita Dian di kisah Astari

  10. J C  3 October, 2011 at 08:03

    Kisah si Astari selalu menyentuh… muanteeeeppp…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *