Kisah Cinta Yang Beku

Yang Mulia Enief Adhara

 

Di sini jangan berfikiran sempit, cinta yang ada dalam notes ini bersifat universal, antara dua orang. Bisa kepada partner, orang tua, anak, sahabat atau teman. Bagi gw berurusan dengan seseorang secara intend suka nggak suka pasti harus dengan hati, perasaan kita dituntut untuk saling seimbang hingga segala kendala atau perbedaan dapat diperkecil.

Namun cinta itu tak mudah, karena sikap ego dari manusia kerap membuat perjalanan cinta itu tak selalu indah. Benturan ego tiap manusia yang terlibat membuat cinta pelan-pelan bergeser ke posisi yang rapuh. Ego justru menduduki posisi yang kokoh. Lantar apa iya cinta itu dapat hidup? Bila ego terus ‘menekan’ cinta bagai pembunuh berdarah dingin?

Cinta tidak dapat mati, cari saja pemakaman cinta, gw jamin gak ada dimanapun di planet ini. Namun cinta bisa dialihkan, bisa digeser. Terjadinya pengalihan cinta bukan terjadi tanpa sebab. Yang peringkat satu adalah dari awal memang cinta tidak ada di antara dua orang yang terkait. Emosi sesaat saat mengenal membuat mereka berfikir telah hadir kecocokan di antara mereka, padahal itu hanya temporary saja.

Yang gw akan bicarakan tentu cinta yang memang ada namun harus memudar karena suatu kondisi yang tidak kondusif. Saat kita mencintai seseorang maka segala daya kita lakukan untuk ‘menjaga’. Cara menjaga tiap orang berbeda, misalnya memberi ingat, merawat, mengawasi dan sejenisnya. Dan kadang saat cinta dari kita mulai mengerjakan peranannya, belum tentu diterima oleh orang yang kita maksud, Tentu saja peranan cinta di sini benar-benar dalam porsi yang benar. Ada juga ‘peranan’ yang dijalankan namun lebih ke ‘penguasaan’ karena takut orang yang dimaksud memindahkan cintanya.

Gw mengikuti arah cinta yang gw punya, melarang ini itu karena orang yang gw maksud memang dalam kondisi tak lagi ‘aman’. Anehnya signal cinta itu tak diterima, ego orang itu memaksa cintanya berada dalam ruang tertutup dan tersembunyi. Tiap terjadi ‘pengingatan’ pihak yang satu justru berontak. Merasa hidupnya dibuat tak nyaman. Namun saat masukan itu dihentikan, dia makin tak terkendali hingga dirinya sendiri yang susah.

Cinta gw tak rela melihat itu, kembali dialog dilakukan …. tiap saat dan tiap saat juga, ego dia berusaha mengusir cinta kita. Sedemikian butakah? Hingga cinta gw tak terlihat olehnya? Oleh mereka? Namun saat gw berfikir dia atau mereka tak lagi mencintai gw rasanya berlebihan, karena banyak juga hal-hal baik yang berhasil terdeteksi oleh cinta gw. Namun ego mereka lebih dominan,akibatnya cinta terus ditekan, dikurung bahkan diusir dari hati kita masing-masing.

Namun cinta gw tak pernah beralih, dia tetep di sana, namum membeku. Tak bisa dialihkan namun tak bisa juga terus berada di bawah serangan ego yang bagai pembunuh berdarah dingin. Ya cinta gw tak gw alihkan secara frontal. cinta itu tetap ada namun membeku. Cinta gw pelan pelan berbisik pada hati gw, kadang mencintai seseorang tak akan bisa berjalan indah sesuai harapan, salah satu virus yang menjadi musuh cinta adalah ego yang lebih dominan.

Jadi rasanya dengan membekukan cinta gw pada orang-orang yang ego setidaknya memberi kesempatan cinta yang gw punya untuk memberi xtra pada hati gw. Walau kadang hati gw bertanya pada cinta, mengapa orang-orang yang seharusnya bisa saling mencinta justru mau dikalahkan ego? Dan gw gak tau, membekukan cinta gw pada satu dua orang (cinta itu sebanyak orang yang ada di hati kita) adalah cara yang terbaik? I don’t know …..

 

 

7 Comments to "Kisah Cinta Yang Beku"

  1. Dj.  4 October, 2011 at 22:44

    Bung Anief….
    Terimakasih…..satu argumentasi yang unik tentang cinta….

    Maaf, satu pertanyaan….
    ” gw ” itu nama orang atau apa….???
    Dj. kok baca beberapa kali ada “gw” nya…
    Maklum baru lihat kali ini…
    Salam,

  2. Linda Cheang  4 October, 2011 at 15:31

    kalau keburu beku, ya, cairkan, donk…

  3. J C  4 October, 2011 at 11:57

    Waduh, kok bisa jadi beku ya?

  4. T.Moken (perempuan)  4 October, 2011 at 11:51

    Berikanlah ruang dan waktu agar cinta dapat mengalahkan ego seseorang yang kita cintai. Jika tidak demikian maka ego yang kuat selalu tetap muncul dipermukaan dan semakin memperkeruh suasana.

  5. Handoko Widagdo  4 October, 2011 at 10:16

    Pak Sumonngo mau jualan alat jemuran cinta ya?

  6. Sumonggo  4 October, 2011 at 09:48

    Kalau beku begitu mesti dijemur, tapi jangan terlalu lama …. nanti gosong seperti Tumpuk Artati, ha ha ……

  7. nu2k  4 October, 2011 at 09:10

    Nomor satu dulu, gr. Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.