Temanku di Pulau Derawan

Lida

 

Suku Bajau adalah suku bangsa yang tanah asalnya Kepulauan Sulu, Filipina Selatan. Suku ini merupakan suku nomaden yang hidup di atas laut, sehingga disebut gipsi laut. Suku Bajau menggunakan bahasa Sama-Bajau. Suku Bajau sejak ratusan tahun yang lalu sudah menyebar ke negeri Sabah dan berbagai wilayah Indonesia. Suku Bajau juga merupakan anak negeri di Sabah.

Suku-suku di Kalimantan diperkirakan bermigrasi dari arah utara (Filipina) pada zaman prasejarah. Suku Bajau yang Muslim ini merupakan gelombang terakhir migrasi dari arah utara Kalimantan yang memasuki pesisir Kalimantan Timur hingga Kalimantan Selatan dan menduduki pulau-pulau sekitarnya, lebih dahulu daripada kedatangan suku-suku Muslim dari rumpun Bugis yaitu suku Bugis, suku Makassar, suku Mandar. (Wikipedia)

Keberanian yang saya perlukan dalam traveling kali ini, sebab seharian di laut dengan life jacket yang gak lengkap, naik boat ketemu ombak yang besar. Yang pasti waktu di laut saya tidak takut dan tidak muntah gara-gara senang bertemu dengan banyak hal yang belum aku ketemukan di daratan

 Aku mempunyai teman baru, mereka adalah anak-anak suku Bajau di Pulau Derawan.

Satu hal yang kusuka dalam travelling kali ini adalah berinteraksi dengan anak-anak setempat. Setelah seharian berkeliling ke Sangalaki, Kakaban dan Maratua aku kembali ke Derawan. Berhubung tadi cuaca agak jelek terpaksa berenang cuma buat pegang ubur-ubur di danau Kakaban. Makanya sesampai di Derawan dan melihat anak-anak kecil pada renang, aku pun ikutan bersama mereka. Mereka senang ketika bertemu dengan orang baru.

Berpose sama mereka..halah pada narsis juga…

Namanya siapa kak? Tanya mereka kepada saya. Dan saya pun memperkenalkan diri saya dan juga mereka. Tapi sampai sekarang saya cuma ingat Uman sama Sari. Uman adalah nama panggilan dari Lukman anak yang berumur 3 tahun yang berani bermain di pinggir laut, sedangkan Sari adalah kakaknya.

Sambil berenang mereka meminjam guggle saya, dan mereka pun memakai bergantian. Waktu saya pinjamkan itu guggle saya kasih peringatan kepada mereka tidak boleh bertengkar dan harus bergantian. Mereka menertawakan saya yang tidak bisa berenang, tapi saya dengan cueknya bertanya pada mereka bagaimana caranya bisa bergaya terbalik dan merekapun mengajari. Mereka bercerita tentang penyu yang bisa dinaiki, dan bergaya ala penyu ketika di pinggir pantai. Mereka pun bercerita boko (penyu) kalau malam naik sekitar jam 10 malam, dan mengajak saya untuk melihatnya (sayang tidak jadi melihat dengan mereka karena ada pertunjukan yang diselenggarakan panitia IFRC 2011).

 

Ayo bergaya…

Teman-teman aku anak kelas 3 SD, satu anak TK dan satu belum sekolah. Ketika ada seorang ibu memanggil salah satu dari mereka untuk pulang dan aku suruh mereka untuk pulang mreka menjawab itu bukan mamak aku atau itu bukan bapak aku. Haduh kalau bukan orang tua mereka sendiri yang memanggil mereka tidak mau pulang kerumah.

Ketika saya kembali ke homestay, dan ketika melihat saya mereka datang menghampiri saya. Ketika bertemu waktu nonton kegiatan IFRC, mereka pun menyapa saya. Bertemu di sekolahan, jalanan mereka masih mengingat dengan baik, dan dimana saja ketika bertemu mereka akan menyapa, dan bercerita kepada teman mereka bahwa kita kemarin bermain dan berfoto.

Aku masih ingat akan pertanyaan dan jawaban mereka yang bikin saya ketewa dan terharu.

Aku : Kalian kelas berapa dan sekolah dimana?

Mereka : Aku klas 3, dia juga, aku masih TK, dan adikku belum sekolah. Sekolah kita di darat (beneran aku ketawa waktu mereka jawab di darat, ya iyalah masak sekolah di laut)

Yang cowok temanku yang di TK

Dua teman aku anak kelas 3 SD (temannya dah pada senam dia baru datang)

Ini percakapan ketika mereka setelah melihat foto dari HP saya.

Mereka : Nanti fotonya dikirim ya

Aku : dikirim pakai apa?

Mereka : pakai becak (aku pun tertawa kembali), dan mereka pun bilang kirim ke sapa gitu pada gak jelas. Asli aku pun ingin mencetak foto-foto mereka dan mengirimnya.

Mereka adalah anak-anak yang berani untuk bertanya, ketika teman saya kasih ide buat kasih permen dan mereka dengar. Mereka langsung meminta mana permennya tanpa basa basi. Dan akupun mengasih mereka permen dan menyuruh mereka membagi tanpa rebutan dan bertengkar dan itu berhasil.

Mereka : kapan kakak pulang?

Aku : besok pagi aku harus pulang

Mereka : kemana? Dan kapan kembali?

Aku : Jakarta (gak bisa jawab kapan kembali…hiks)

Oh ya waktu saya suruh mereka pulang ke rumah dan saya berpamitan untuk melihat sunset, ini percakapannya.

Aku : udah ya saya mau ke dermaga melihat sunset

Mereka : apa itu sunset (saya lupa mereka masih klas 3 SD)

Aku : melihat matahari tenggelam, kalau sunrise melihat matahari terbit

Mereka : ohh begitu yaa, dan mereka pun menghapal apa itu sunset dan apa itu sunrise

 

Ini pertanyaan terakhir dari teman aku yang TK ketika berpapasan waktu menuju pinggir pantai buat naik boat

Dia : pulang kemana kah? Tanjung Batu?

Aku : Jakarta

Dia : dimana itu?

Aku : jauh di sana, dari Tanjung Batu harus ke Tanjung Redep dan masih jauh lagi. Ayoo kamu ikut tapi dengan berenang ya. dan dia cuma tersenyum.

 

Ah, kenapa kemarin tidak membawa Donal Bebek buat mereka ya, kenapa cuma sebentar bertemu dengan mereka. Ini pelajaran buat saya kalau pergi ke daerah pulau terluar di Indonesia saya harus bawa majalah atau buku biar bisa berbagi dengan mereka.

Andai temanku gak bilang mereka anak suku Bajau, mungkin aku tidak mengerti apa itu suku Bajau. Kayaknya sekarang harus banyak membaca tentang kekayaan negeri sendiri.

Terima kasih buat penulis Baltyra yang mengajak jalan bareng ke sana (cerita selengkapnya dia yang nulis).

Foto : Pribadi, diambil dari kamera OS Android pakai apps kamera 360

 

17 Comments to "Temanku di Pulau Derawan"

  1. lida  28 February, 2012 at 18:57

    Fahri : semoga suatu saat kamu bisa mengunjungi mereka

  2. fahri  12 February, 2012 at 22:41

    Salam. Catatan perjalanan yang cukup menarik. Saya rasa terharu dengan gambaran masyarakat Bajau di Pulau Derawan. Semoga suatu hari nanti saya berpeluang untuk datang ke sana dan berkenalan dengan mereka.

    Salam dari Fahri
    Komuniti Bajau Pantai Timur Sabah, Malaysia

  3. lida  10 October, 2011 at 09:34

    Mbak DA, anak e bapak sama ibu e dewe2 yaaa

  4. Dewi Aichi  5 October, 2011 at 09:03

    Jemb..wuah…itu anakmu semua ya wkwkwk..! Terima kasih laopran ciamiknya Lida….seneng sekali aku melihat anak-anak yang posenya natural….tanpa pengarah gaya…..

  5. Lida  5 October, 2011 at 08:36

    Pak sumonggo : iyaaa, selalu berkesan
    Pak han : saya gak ketemu ma ikan pari
    Kak sasha : aku juga gak tau kenapa aku gak takut.
    Cikdhe : ini dia penulis baltyra yg disana nampang pakai kaos baltyra. Hehehhe
    Buto : akeh plang, plang resort, plang rumah disewakan. Hehhehehe
    Mbak linda : jalan kesana mbak bagus lho
    Mbak hennie : iya pinginya begiru
    Pak han : kita gak nginap diresort soalnya penuh ada acara ifrc itu

  6. Lida  5 October, 2011 at 08:30

    Pak Dj : mudah2 an anak asuhnya mau melanjutkan sekolah

  7. Dj.  4 October, 2011 at 22:32

    Mbak Lida…
    Terimakasih untuk ceritanya…..
    Sangat senang membacanya, apalagi ada dialog dengan mereka….
    Tadi siang Dj. dikagetkan dengan telpojn dari kaka di semarang.
    Karena satu anak asuh Dj. yang baru tamat SD., dia tidak mau melanjutkan sekolah.
    Kata kaka Dj., dia malah mau kerja saja….
    Lha mana mungkin anak lulus SD mau kerja dan kalaupun ada kerjaan, bisa kerja apa….???
    Tadi disawah, Dj. sempat pusing…..
    Mudah-mudahan dia mau melanjutkan sekolahnya….

    Salam manis dari Mainz dan ditunggu cerita berikutanya ya….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.