Lelaki Keempat

Endah Raharjo

 

Rasanya raga dan jiwaku belum sepenuhnya menyatu saat suamiku meletakkan empat buah amplop ukuran kuarto di atas meja marmer bulat hijau, persis di depanku. Kuamati saja empat amplop merah bata yang pasti dibuat secara khusus oleh tangan almarhum Ibu. Dari kertasnya bisa terlihat kalau isinya pasti berharga. Selain tertulis namaku, setiap amplop juga diberi nomer, satu sampai empat, dengan tulisan tangan Ibu yang indah.

“Kata Mbak Riri, isinya bisa dilihat kapan aja kalau kamu udah siap.” Suamiku duduk di sampingku, menunggu reaksiku. Mbak Riri adalah notaris sekaligus sahabat keluarga yang mengurus warisan orangtuaku. Ibuku, yang baru meninggal tiga hari lalu, mempercayakan banyak urusan hukum pada Mbak Riri, termasuk menitipkan empat buah amplop itu. Kata Mbak Riri, Ibu berpesan agar setelah beliau meninggal amplop-amplop itu harus segera diserahkan padaku, secepatnya, untuk kulihat isinya. Tapi aku boleh melihatnya kapan saja, terserah mauku.

Surat pengantar dari Mbak Riri sudah kubaca. Begitu pula surat pendek dari Ibu untukku yang ia tulis enam tahun lalu, menyertai empat amplop itu. Kata beliau dalam suratnya, empat amplop itu harus kubuka secara berurutan sesuai nomernya.

“Lusi, kalau belum siap sebaiknya lain kali aja.” Suamiku beringsut mendekat dan menyentuh lembut pundakku.

“Aku udah siap. Memangnya dari amplop itu akan keluar apa kalau kubuka?” Aku mencoba bercanda.

“Oke. Kamu mau aku di sini atau….”

“Aku mau sendirian aja. Di sini.”

“Oke.” Setelah mengecup pipi kananku, suamiku meninggalkanku sendirian di ruang baca. “Aku di kamar, ya. Nonton ini….” Diraihnya sebuah DVD bajakan dari rak, film-nya Samuel L. Jackson, Unthinkable, yang dibelinya seminggu lalu tapi belum sempat ditonton.

**

Agak gemetaran tanganku membuka amplop pertama. Sebelumnya sempat terpikir untuk membukanya secara terbalik, mulai nomer empat dulu, atau secara acak saja, tapi pikiran konyol itu tidak kuturuti. Aku sudah terlampau sering tidak menuruti Ibu semasa hidupnya. Aku tak mau melakukannya kali ini, ketika jasad Ibu mungkin masih utuh, terbaring sendirian di kesenyapan liang kuburnya.

Pelan-pelan kutengok isinya. Beberapa lembar kertas warna biru muda. Kertas yang mahal dan indah. Kutarik lembar-lembar kertas itu. Terbaca tulisan tangan Ibu. “Lelaki Pertama,” begitu judulnya. Kubaca pelan isinya. Ah. Ternyata cerita singkat tentang ayahnya, kakekku. Cerita-cerita yang selama ini tidak kuketahui. Ada yang sedih, lucu, konyol, aneh dan hebat. Kakekku memang lelaki hebat, begitu kesimpulanku setelah selesai kubaca kalimat terakhir. Aku berterima kasih pada Ibu karena telah menuliskan cerita ini. Kalau tidak, maka beberapa hal yang selama ini sering menjadi pertanyaan di benakku akan tak terjawab hingga akhir hayatku.

Kuteguk separuh isi gelas yang tadi disediakan suamiku. Pelan-pelan kuletakkan lagi gelas itu di atas meja, agak jauh dari tumpukan amplop. Tanganku meraih amplop kedua. Rasa isengku untuk langsung membuka amplop keempat kutahan sekuat tenaga.

Kupotong salah satu sisi amplop dengan gunting kecil bergagang plastik ungu. Terlihat ujung atasnya, beberapa lembar kertas hijau muda. Cepat-cepat saja kutarik keluar semua. Yang ini judulnya “Lelaki Kedua”. Cerita tentang suaminya, ayahku. Hmmm… aneh juga rupanya kisah cinta orangtuaku ini. Dari tulisan Ibu itu aku baru tahu kalau mereka menikah hanya dalam waktu tiga minggu setelah pertama bertemu.

Menurutku cerita tentang Ayah yang ditulis Ibu itu tidak ada yang baru. Begitulah Ayah, sederhana, baik hati, penyabar, pendiam dan pekerja keras. Sayangnya tubuh Ayah lemah sehingga mudah sakit. Mungkin karena itu maka Ayah meninggal ketika masih sangat muda. Usianya terhenti sampai 52 tahun saja. Ayah tidak sempat melihat cucu pertamanya yang kala itu masih ada di dalam kandunganku.

Kupandangi foto-foto eksklusif Ayah yang tersimpan juga di dalam amplop itu. Biarpun tubuhnya kurus, Ayah tampan dengan mata bulat besar, alis tebal dan rambut ikal. Andai aku mewarisi mata, alis dan rambut Ayah, pasti wajahku akan lebih cantik. Sambil memandangi foto-foto lama itu, kupikir-pikir wajahku tidak mirip siapapun, tidak Ibu, tidak Ayah. Mungkin aku mirip nenek dari Ayah yang tak pernah kulihat karena saat aku lahir, beliau sudah berpulang. Ayah juga tidak punya foto nenek karena mereka orang desa yang tidak pernah berfoto.

Kucium salah satu foto Ayah sebelum mengembalikan semuanya ke dalam amplop.

Mataku beralih ke amplop ketiga. “Siapa yang ada di dalam amplop ini?” bisikku pada diri sendiri sambil menimang-nimang amplop itu. Dengan cepat kugunting salah satu ujungnya dan kutarik isinya. Tiga lembar kertas putih bersih.

Ya, Tuhan. Rupanya aku hampir punya adik lelaki. Oh. Ibu hamil lagi saat aku masih berumur dua bulan. Oh. Kata dokter, kandungan Ibu belum kuat sehingga janinnya tidak bisa berkembang dan meninggal lima bulan kemudian, ketika itu aku baru tujuh bulan. Oh. Tak terasa airmataku merembes menyusuri pipiku. Oh. Jadi seharusnya aku punya adik lelaki. Oh. Aku ternyata bukan anak tunggal.

“Mas Danuuuu…! Mas Danuuuuu…!”

Suamiku membuka pintu dan kurang dari sedetik ia sudah ada di depanku. Lembar-lembar kertas putih itu kuacungkan. “Aku punya adik lelaki. Aku punya adik lelaki!” Suaraku berlomba keluar dengan tetes-tetes airmataku.

“Tapi dia meninggal dalam kandungan….” Dengan lemas kuletakkan tiga lembar kertas itu ke atas meja.

“Ohhh….” Hanya itu yang keluar dari mulutnya, lalu dipeluknya tubuh kakuku.

“Sudah lama sekali, Lusi. Sudah lama sekali,” bisik suamiku setelah kami terdiam beberapa lama. “Tidak ada yang perlu disesali. Tidak ada yang perlu ditangisi. Mungkin justru mereka kini sedang bertiga di surga. Siapa tahu?” Kata-kata suamiku terdengar tulus walau terdengar sedikit lucu.

“Aku mau menyelesaikan semua.” Kuhela nafas sepanjang yang aku mampu lalu kehembuskan pelan-pelan melalui hidungku.

“Perlu aku temani atau…?”

Aku menggeleng. Dengan ragu-ragu suamiku melangkah menjauh, masuk kembali ke kamar. Kali ini pintu ia biarkan terbuka. Mungkin untuk berjaga-jaga kalau-kalau amplop keempat membuatku menangis lagi. Ah! Kubuang pikian burukku. Apa sih yang pernah diperbuat Ibu di masa lalu?

Hati-hati sekali kubuka amplop terakhir itu. Ketika kutarik, lembaran-lembaran kertas merah muda itu dalam posisi terbalik, sehingga hanya halaman kosong yang kulihat, tapi aku yakin judulnya pasti “Lelaki Keempat”.

Benar dugaanku. Detak jantungku terasa lebih cepat ketika kubaca paragraf pertama, sebuah pengantar tentang kisah cinta Ibu sebelum bertemu Ayah. Paragraf kedua tentang lelaki yang disebut sebagai cinta-sejatinya…. Kemudian paragraf ketiga… keempat… kelima….

“Mas Danuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…!” Kuat sekali jeritanku, sekuat semburan darah yang terpompa keluar jantung membanjiri nadiku. Empat lembar kertas merah muda itu bertebaran di atas tubuhku yang lunglai dan pelan-pelan rebah ke atas sofa karena aku kehilangan kesadaranku.

**

Beberapa jam kemudian, kudapati diriku terbujur di atas tempat tidur. Ketika kubuka mata, kulihat suami dan tiga anakku mengelilingiku. Si bungsu tergolek di sampingku sambil mengelus-elus boneka katak, yang sulung duduk di kursi berdempetan dengan ayahnya di samping tempat tidur, dekat dengan kepalaku, sementara anak kami yang nomer dua berada di ujung tempat tidur sambil memijit-mijit dua telapak kakiku. Empat pasang mata memandangku.

“Lusi, siapapun ayahmu, kami akan selalu mencintaimu,” suara lembut suamiku bagai mengelus telingaku yang basah oleh lelehan airmata.

 

**

 

14 Comments to "Lelaki Keempat"

  1. Endah Raharjo  5 October, 2011 at 19:33

    100 untuk Elnino! Bravo! Ini salah satu perspektif yg saya pakai untuk melihat hubungan lelaki-perempuan yg sering memposisikan perempuan sbg pihak yang selalu mengalah, lembut dan menerima si lelaki. Di lingkungan saya, sering saya temui lelaki baik yang mencintai perempuan apapun kondisinya…

    Salam untuk semua

  2. Endah Raharjo  5 October, 2011 at 19:31

    Hai Paspampres… silakan asyik2-an Mbak Nunuk: ini 100% fiksi. makasih atas doanya, semoga Mbak Nunuk dan keluarga sehat dan sejahtera
    @Lani: wuahahahahahahaaa… kalau Lani maunya sampai berapa? Sa’ kodi gelem po? Kuwi 20 lhooo… iso klenger mengko… kowoh2 ))
    @Cordiaz: thanks… kapan2 bikin cerita misteri lelaki keduapuluh *lirik Lani*

  3. Endah Raharjo  5 October, 2011 at 19:27

    Halo teman2: JC, Linda, Kornelya, Dewi… apa kabar? Ini bukan perselingkuhan Lusi sdh menjadi janin sebelum Ibu menikah… Hai Hennie dan Paknekanya… salam kenal kayaknya belum pernah saling sapa di sini ya…

  4. elnino  5 October, 2011 at 13:40

    ‘Ayah’ yang selama ini dikenal Lusi sebagai ayah kandungnya, mestinya seorang yg berhati mulia. Yang dalam hitungan 3 minggu setelah berkenalan, bersedia menikah dg ibunya… Kemungkinan saat menikah, ibu Lusi dalam keadaan mengandung Lusi, buah cintanya bersama laki2 ke-4.
    Betul begitukah, Endah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.