A Tribute to Livia Pavita Soelistio

Sasayu – Helsinki

 

Empatpuluh hari sudah berlalu sejak kejadian pemerkosaan dan pembunuhan Livia Pavita, mahasiswi Binus. Sasayu menulis artikel ini bukan untuk menguak kepahitan kejadian buruk yang menimpa Livia. Artikel ini bertujuan untuk mengingatkan bahwa masih ada harapan hukum bisa ditegakkan di tanah air.

Teringat 13 tahun yang lalu, saat Sasayu pertama kali berkenalan dengan Livia. Kelas 4 SD, Sasayu pindah sekolah ke salah satu SD di area Gajah Mada. Sejak saat itu hingga lulus, Sasayu selalu sekelas dengan Livia. Kesan pertama tentang Livia, anaknya pendiam dan tidak macam-macam. Mungkin karena sifat pendiamnya, Livia kurang menjadi sorotan teman-temannya. Dalam ingatan Sasayu, Livia terakhir terlihat di jenjang SMP kelas 1. Karena setelah itu Livia pindah sekolah.

Kembali ke tahun 2011, dua-tiga bulan sebelum Sasayu kembali ke tanah air Agustus lalu, Sasayu sempat ngobrol dengan Livia lewat FB, menanyakan kabar masing-masing. Pembicaraan yang singkat dan terkesan basa-basi itu ternyata adalah percakapan terakhir Sasayu dengan Livia.

Kabar hilangnya Livia pada tanggal 16 Agustus, Sasayu dengar melalui FB group alumni SD. Ironisnya, pada saat yang sama, teman-teman SD Sasayu sedang merencanakan acara kumpul-kumpul untuk reuni. Berbagai kabar simpang-siur terdengar mengenai hilangnya Livia. Ada yang bilang, diculik pacarnya, ada yang bilang diculik teman dekatnya, dsb. Sasayu menepis perasaan tidak enak yang mampir setelah membaca berita kehilangan Livia dan menenangkan diri dengan berdoa semoga Livia ditemukan dengan selamat.

Sayangnya Tuhan berkehendak lain. Lima hari kemudian diduga Livia ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di selokan di daerah Cisauk, Tangerang. Dugaan itu terbukti benar setelah jenazah diidentifikasi oleh pihak keluarga. Terlebih lagi, dari otopsi ditemukan bukti-bukti pemerkosaan. FB alumni langsung dibanjiri dengan pesan-pesan belasungkawa dan pertanyaan di mana lokasi rumah duka.

Tanggal 23 Agustus 2011, sehari sebelum Livia dikremasikan, Sasayu dan beberapa teman SD pergi melayat ke Rumah Duka Jelambar. Sedih sekali melihat keluarga Livia, terutama Mamanya Livia. Semua ibu pasti akan membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi Mamanya Livia. Sudah anak tunggal dan baru saja lulus dengan predikat Cum Laude (wisuda Livia dijadwalkan pertengahan November ini), malah dibunuh dengan keji.

Yang ironis, kita akhirnya reuni kecil pada saat kehilangan seorang teman. Salah satu yang menjadi topik diskusi adalah kejadian sebenarnya yang menimpa Livia. Semua berspekulasi tentang pelaku yang membunuh Livia. Tiba-tiba datanglah seorang wanita muda  yang ternyata dulu menjadi teman TK sebagian teman-teman Sasayu. Dari dia, kita mendapat info bahwa pihak kepolisian sudah mendapat 11 tersangka untuk diinterogasi. Dugaan kepolisian waktu itu pelakunya dua orang dan motifnya bukan perampokan, murni pemerkosaan. Dugaan ini berdasarkan perhiasan yang masih lengkap di tubuh Livia.

Karangan bunga yang memenuhi rumah duka

 

Reuni yang tragis

Dua hari (Sasayu agak takjub, cepat juga kerja Polisi di tanah air) setelah hari pelayatan, terungkaplah apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata pelakunya ada sekomplotan perampok yang berkedok supir mikrolet. Lima pelaku menyewa angkutan mikrolet untuk menangkap target untuk dirampok. Sungguh sial Livia, setelah pulang dari kampus untuk melihat nilai ujian, dia naik mikrolet palsu M24 jurusan Srengseng-Slipi dan kabarnya sudah tidak terdengar lagi.

Membaca berita tentang pelaku-pelaku tengik ini bener-bener membuat darah mendidih. Apalagi setelah membaca pasal-pasal KUHP yang akan dijatuhkan, dua pelaku diancam hukuman 4 tahun dengan jeratan Pasal 480 KUHP (penadahan bahan curian). Dua lainnya diancam hukuman 20 tahun dengan jeratan Pasal 365 ayat 3 KUHP (pencurian dan kekerasan). HALOWWWWW, 4 dan 20 tahun??!! Orang tuanya susah-susah membesarkan Livia lebih dari 20 tahun, terus diperkosa dan dibunuh gitu aja hanya untuk merampok satu Blackberry, HP Sony Ericsson dan uang Rp. 200.000.

Untungnya, tidak berapa lama, satu pelaku lagi yang menjadi pemerkosa Livia ditangkap dan dari berita terakhir empat pelaku terancam dijerat hukuman mati, karena tali yang menjadi senjata pembunuh sudah disiapkan sebelumnya. Sasayu tidak tahu perkembangan terakhir tentang kasus ini, tapi Sasayu berharap para pelaku diberi hukuman setimpal dengan perbuatan keji yang sudah dilakukan.

Untuk Livia, beristirahatlah yang tenang kamu di sana…..Rest in Peace My Friend…..

NB: Untuk para pembaca yang ingin membaca berita selengkapnya, bisa lewat link ini.

Helsinki, 28-09-2011

 

Note tambahan:

Civitas academica Binus tempat Livia kuliah mendampingi keluarga terus menerus. Pihak universitas memutuskan untuk memberikan seluruh transkrip, ijazah dan status full sarjana kepada almarhum Livia, yang sedianya akan diwisuda November 2011.

 

About Sasayu

Dari kecil passion'nya adalah makanan, bahkan sampai cicak pun dilahapnya tanpa basa-basi. Petualangannya melanglang buana, menjelajah benua Eropa mengantarnya meraih gelar dan ilmu dalam Food Technology dan Food Science. Setelah lulus dari Helsinki, kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan kerajaan kecil keluarga: PONDOL - Pondok Es Cendol, spesialis masakan Jawa Tengah yang cukup melegenda di Jakarta.

Arsip Artikel

30 Comments to "A Tribute to Livia Pavita Soelistio"

  1. Swan Liong Be  10 October, 2011 at 19:48

    Mari kita serahkan kasus ini kepada pengadilan untuk mengadilinya dan jangan melibatkan Tuhan dalam perkara ini. Ini suatu kasus kriminalitas dan seyogyanya dijatuhkan hukuman sesuai menurut pasal² hukum. Saya kurang tau berapa berat hukumannya , tapi sudah diatur hukum pidana. Yang saya tahu menurut peraturan hukum diJerman itu dibedakan antar “totschlag” (pembunuhan spontan akibat misalnya pertikaian,. hukuman antar 5 – 10 Tahun kalo nggak salah) dan “Mord” (pembunuhan berencana, hukuman seumur hidup) . Dalam kasus ini keliatannya direncana , jadi sepantesnya hukum seumur hidup dan menurut saya pribadi ini hukuman lebih berat daipada hukuman mati. Kalo hukuman seumur hidup berarti selama hidup di dapet kesempatan unutk merenungkan perbuatannya!

  2. Itsmi  10 October, 2011 at 18:21

    non sibi, mana jawabanmu….
    sudah sering kamu berikan komentar atau kata lebih tepat kamu berteriak, tapi hanya sampai disitu……

  3. Itsmi  7 October, 2011 at 16:56

    Iwan, siapa bilang si pelaku tidak ada pertanggung jawabannya…. untuk apa ada hukum ???? tapi bukan berarti, orang itu harus di hukum mati ……… atau dalam khayalanmu di neraka…… dia pembunuh tapi di belakang pembunuh dia juga manusia…. tapi kamu baru puas kalau orang itu benar benar di cincang seperti si korban bisa kembali dari kematian….. jadi apa bedahnya kamu dan si pembunuh ????????????????

    Tapi dalam pemikiranmu yang berdasarkan testamen tua kamu benar….. Tuhan itu kejam….. kata lain lebih kejam dari si pembunuh….. kata lain di bandingkan dengan saya, saya disebutkan “banci”hahahahah

  4. [email protected]  7 October, 2011 at 14:01

    dia sudah tenang disana….
    sebentar lagi menikmati iHeaven rancangan steve….

    ahh…
    janganlah bersedih…

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 October, 2011 at 13:05

    Bagi Om Itsme, enak sekali dong yang bunuh Livia…tak ada pertanggung jawaban sama sekali. Karena setelah mati, ya suidah tak ada beban. Ibarat kerja di sebuiah perusahaan, kita tak pernah diappraisal…enaknya jadi ateis.

    A … T ….E….I….S ….. ateis….

  6. Itsmi  7 October, 2011 at 13:03

    Dj, saya tau maksudmu baik tapi coba kamu analisakan lagi apa yang kamu tulis…… tidak logis…. jadi koban menjadi dua kali korban tanpa kamu bermaksud…..

  7. SU (Alamat email ini SUDAH tidak aktif)  7 October, 2011 at 13:03

    Kehilangan orang yg kita kasihi memang berat. Apalagi buat orang tua yg harus menguburkan anaknya karena kematian yg tidak wajar seperti yg dialami oleh orang tua Livia. Smg mama dan papanya Livia dapat kekuatan dlm menghadapi hari2 ini.

  8. Itsmi  7 October, 2011 at 12:57

    Alvina, creationisme itu bukan sain tapi keajaiban……

  9. Itsmi  7 October, 2011 at 12:55

    non sibi, berarti pertanyaan seperti itu kamu sudah tau jawabannya….. coba uraikan pada saya………. atau kalau anakmu tanya pada kamu, kamu akan menjawab apa ?????

  10. Dj.  6 October, 2011 at 23:56

    Puji TUHAN….!!!!
    Dj. yakin Sasayu, mengerti apa yang Dj. tulis….
    Kalau mau datang ke Mainz, kasi tau ya….
    Agar kami ada dirumah dan tidak nglayap….hahahahahaha….!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.