Jongkok atau Duduk?

Josh Chen – Global Citizen

 

Bagaimana anda buang hajat? Dengan jongkok atau duduk? Maksudnya toilet jongkok atau toilet duduk? Atau jangan-jangan sambil berdiri? Atau malahan jongkok di toilet duduk? Mungkin banyak dari anda yang tidak sadar atau tidak memerhatikan lagi apakah buang hajatnya duduk atau jongkok. Aktivitas rutin tiap hari, entah pagi, siang, sore atau malam ini berlangsung sejak kita masih bayi sampai berkalang tanah.

Saking otomatisnya, orang tidak memikirkannya lagi apalagi mendiskusikannya, dan malah mungkin bagi sebagian orang hal ini dianggap menjijikkan dan tidak sepantasnya dibahas.

Saya percaya di perkotaan, sebagian besar urusan “human garbage collection” ini modelnya adalah toilet duduk, walaupun masih ada juga sebagian masyarakat yang dengan toilet jongkok. Malah sebagian kelompok masyarakat lebih memilih toilet jongkok daripada yang duduk karena menurut mereka kalau dengan toilet duduk, malah tidak keluar-keluar dan tidak nyaman sama sekali. Salah satu contohnya adalah pengemudi keluarga kami yang lebih suka dengan yang jongkok.

Kadang anda menemui di tempat-tempat umum, bisa di mall, di airport, di kampus, di mana saja, toilet duduk yang kotor belepotan bekas sepatu/sandal atau tapak kaki malah. Lho kok bisa? Ternyata, bisa kita bayangkan toilet duduk tsb digunakan tidak sesuai peruntukannya yaitu untuk buang hajat dengan cara duduk, melainkan tetap dengan cara jongkok memanjat dudukan toilet.

Padahal cara ini sangat berbahaya dan bisa mencelakakan diri sendiri karena toilet duduk tidak dirancang untuk menyangga beban tubuh di titik sempit seluas kaki berpijak. Dan lagi konstruksi dan luasan bagian toilet duduk yang dipijak sempit dan menggantung di udara. Berbeda dengan konstruksi toilet jongkok yang memang dirancang untuk menyangga beban tubuh di dua titik kiri dan kanan tempat pijakan kaki dan langsung kontak dengan permukaan lantai.

Apalagi sekarang ini di perkotaan dan sebagian pedesaan makin banyak toilet duduk yang dianggap modern dibandingkan toilet jongkok yang dianggap kuno, kampungan, dsb. Benarkah demikian?

Sudah beberapa kali di Baltyra menampilkan artikel tentang toilet dan banyak sekali stigma negatif tentang pertoiletan ini di China. Dalam Budaya Tionghoa, buang hajat ternyata menduduki tempat yang sangat fundamental, krusial, dan esensial. Bagi yang pernah nonton film The Last Emperor, ingatkah saudara bahwa di bagian awal film itu ada adegan seorang mengambil sebuah piring yang diberikan oleh seorang sida-sida, orang itu kemudian melihat isi piring itu lalu mendekatkan ke hidungnya dan mengendusnya beberapa kali lalu keluarlah kalimat, “Tidak boleh makan tahu malam ini.”

Piring itu berisi kotoran/tinja si kaisar cilik Pu Yi dan orang yang mengendus kotoran ini adalah tabib pribadi sang kaisar. Dalam ilmu pengobatan Tionghoa, tinja merupakan alat untuk mendiagnosa kondisi si pasien; bentuknya, warnanya, volumenya, serta baunya. Bagaimana dengan cara membuangnya?

Pejongkok Melakukannya Lebih Baik

Perhatikanlah alam dan anda akan melihat bahwa semua binatang berjongkok untuk membuang hajat. Bahkan “nenek moyang” terdekat kita, primata, berjongkok hingga kedua lutut mereka menempel ke dada saat ‘kebelet’. Tapi mungkin yang tidak anda sadari adalah hingga hari ini kebanyakan manusia masih membuang hajat dalam cara alami ini, khususnya di Asia, Afrika, dan Timur Tengah.

Hanya di Barat yang sudah terindustri, di mana toilet modern diciptakan, orang ‘duduk’ untuk membuang hajat seperti mereka duduk untuk makan. Sepertinya penderita sembelit sampai sembelit kronis, wasir serta berbagai masalah pencernaan lebih banyak terjadi di dunia barat. Mungkin secara antropologis dan morfologis kelompok Kaukasian mengalami kesulitan berjongkok dibandingkan dengan orang-orang Asia.

Saya sendiri banyak menemui orang-orang Kaukasian tidak bisa jongkok dan tidak bisa duduk bersila. Selama ini saya menemui persentase yang bisa jongkok dan bersila lebih sedikit dibanding yang bisa. Bahkan ipar saya sendiri pun tidak bisa jongkok dan bersila.

Sewaktu duduk di toilet, bagian ujung bawah usus besar yang menurun, membutuhkan upaya pergerakan otot yang sangat besar untuk mengosongkan isi perut. Tekanan dari upaya ini (mengeden) dapat memecahkan atau menyumbat pembuluh-pembuluh rambut halus yang mengisi anal sphincter, menyebabkan terbentuknya hemorrhoids di sana.

Namun sebaliknya ketika berjongkok, usus besar meluruskan dirinya secara alami dengan dubur dan anus, yang dalam posisi jongkok terbuka secara penuh dan tanpa memerlukan upaya. Dengan cara ini, tidak perlu mengeden untuk membuang kotoran. Anda akan membuang lebih banyak kotoran dalam satu kali jongkok ketimbang yang dapat anda buang dalam satu kali duduk. Karena saat berjongkok kedua sisi pantat terbuka lebar, maka lebih sedikit kotoran yang menempel. Ini menghemat pengeluaran anda untuk kertas toilet juga.

Gerakan pengosongan isi perut begitu cepat, efisien, tanpa upaya, serta kotorannya banyak dalam postur ini sehingga begitu mulai melakukannya, anda tidak lagi menyiksa perut anda seperti yang terjadi dalam posisi duduk.

 

Jika Anda menderita sembelit kronis

Tip-tip berikut ini akan membuat berjongkok jauh lebih bermanfaat bagi anda. Jika anda menderita gas kronis dan sembelit, simpanlah bola besi atau batu bundar licin di dekat ranjang anda. Hal pertama yang dilakukan sebelum bangun, gulirkan batu berat itu di sekitar daerah perut anda searah alur usus besar, yaitu dari sudut kanan bawah ke atas rusuk, lalu geser ke arah kiri melintasi usus besar atas, dan turun ke bawah ke arah dubur. Ini adalah satu metode hebat untuk mengeluarkan kantung-kantung gas, mengendurkan tinja yang terpampat, dan merangsang otot-otot perut untuk bergerak sebelum kunjungan pertama anda ke toilet.

Metode lain untuk meringankan sembelit kronis adalah menggunakan jemari anda untuk memijat dengan lembut daerah lunak antara anus dan ujung kolom spinal (coccyx). Ini secara langsung merangsang usus besar dan membantu perut yang lemah untuk membuang secara lebih bersih. Di samping itu, praktikkan latihan anal sphincter dengan mengontraksi dan merilekskan sphincter secara ritmis beberapa kali sehari. Latihan ini merangsang kelenjar-kelenjar di anus untuk mengeluarkan pelumas alami, yang akan sangat membantu pergerakan tinja kering. Latihan ini juga membilas darah kotor dari anal sphincter, sehingga mencegah terbentuknya hemorrhoids.

Yang terakhir, manakala anda merasa butuh pencahar terlepas dari semua upaya tersebut di atas, awalilah dengan makanan yang berfungsi sebagai pencahar dan baru sebagai upaya terakhir mencoba obat pencahar herbal yang lembut bersama dengan sedosis larutan psyllium seed husk. Jangan pernah gunakan obat pencahar kimia komersil: obat-obat tersebut dengan cepat menciptakan ketergantungan kronis pada rangsangan sintetis isi perut, yang hanya memperparah sembelit menjadi suatu kondisi yang kronis.

Jika mengikuti saran-saran sederhana ini bersama dengan nutrisi yang tepat, anda tidak akan pernah lagi menderita sembelit kronis serta semua penyakit toxemia penyerta yang disebabkannya. Usus besar yang bersih dan tidak terhambat merupakan salah satu pra-syarat terpenting dari jalan kesehatan dan panjang umur.

Seperti yang ditulis oleh Ko Hung, seorang pakar alkimia dan penulis Taois yang banyak karya tulisnya:

Insan-insan yang beraspirasi untuk berumur panjang

harus menjaga bersih perut mereka;
Insan-insan yang ingin menunda kematian
harus menjaga perut mereka bebas hambatan.
Kontraksi-Kontraksi Anal Sphincter (Latihan dari Bab 4)

Teknik: Ini dapat dilatih saat berdiri, duduk, tiduran, ataupun kala berjalan. Tariklah nafas dan tahanlah nafas sebentar, sementara melakukan serangkaian cepat kontraksi anal sphincter yang dalam. Tahanlah kontraksi terakhir dengan rapat selama beberapa detik, lalu kendurkan sphincters sepenuhnya saat anda membuang nafas. Ketika paru-paru kosong, lakukan lagi satu kontraksi yang dalam lalu lepaskan sebelum mulai menarik nafas berikutnya. Lakukan ini dua-tiga kali. Dalam posisi tidur, anda bisa mengarahkan rangsangan kontraksi-kontraksi secara langsung ke usus besar dengan melakukan mereka dengan menempelkan kedua lutut ke dada sambil dipeluk kedua lengan.

Manfaat: Membuang gas beracun dan mencegah sembelit. Mengolah diafragma urogenital serta memberikan pijatan prostat yang luar biasa bagi pria. Mencegah hemorrhoids dengan membilas keluar darah kotor dari anal sphincters dan otot-otot terkait serta menghilangkan energi dan stagnasi darah dari tempat vital ini.

Membantu pria mengendalikan kanal urogenital untuk mengendalikan ejakulasi serta membantu wanita memperoleh kendali sukarela atas ‘Otot-Otot Cinta’. Mencegah prolapsenya dubur dan rahim. Bagi wanita hamil, ini adalah cara baik untuk menyiapkan otot-otot dan tendon panggul untuk melahirkan. Praktikkan latihan ini secara sering sepanjang hari, dengan atau tanpa pernafasan yang dalam.

Jika anda ingin memelajari lebih lanjut masalah olah latihan ala Tao ini, silakan mampir ke referensi di bawah ini.

Selanjutnya, anda memilih jongkok atau duduk? It’s your choice…

(http://en.wikipedia.org/wiki/File:Pedestal-squat-toilet.jpg)

 

Sumber:

Artikel oleh Jimmy Lominto di http://web.budaya-tionghoa.net/iptek/pengobatan/773-budaya-buang-hajat-jongkok-atau-duduk-pejongkok-melakukannya-lebih-baik dikutip dan diterjemahkan dari buku “The Tao of Health, Sex, & Longevity karya seorang Taois bule, Daniel P.Reid yang tinggal Phoenix Mountain, Peitou, Taiwan.

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

148 Comments to "Jongkok atau Duduk?"

  1. mpek Dul  20 October, 2011 at 04:20

    Raja mana didunia ini yang jongkok menduduki tachtanya sendiri? Mpek kira tidak ada. Tachta agung itu untuk diduduki, dan bukan dijongkoki pake cakar2 kita, apalagi kal opake teklek, salah2 potnya bisa retak dan menusuk knalpot berharga kita kan berabe? Knalpot kita kan dipake untuk seumur hidoop bukan? Lha mpek kan udah tua, lutut2 susah dilipat mana bisa jongkok, lagipula kan tidak nikmat kalau jongkok lama2.
    Setahu mpek selama mengelilingi dunia bek-pek, itu hanya satu ruangan bertachta yang paling bagus didunia yang pernah mpek lihat yaitu di tempat perhentian bus umum di down town Nagasaki. Bersih, harum baunya, ada pemanasnya, baik dinding maupun lantainya mengkilap, meski tidak ada penjaganya karena semua itu pake komputer, ruangannya ada pemanasnya, tachtanya juga ada penyemprotnya air hangat 35 derajad C. ada cairan didinding untuk dipakai sebagai desinfectan hygienis, seperti kalau di kapal cruise mau makan juga cakar2 kita harus diletakkan dibawah alat yang meneteskan cairan untuk menjaga hygienis. Jadi jelaslah ada hubungan antar makan dan kamar berteduh yang memakai tachta dari porselein itu.
    Ada pemasukkan dan ada pengeluaran, logis. Tapi… memang orang2 Jepang itu bersih2, disiplin, tentu saja ada pengaruhnya.
    Setiap kali sesudah kamar ini dipakai, maka alat pembersih otomatis berjalan. Kamar disemprot dgn uap panas dan dikeringkan dgn AC, semua lewat detektor full automatis dalam waktu kurang dari 10 menit sudah siap menyambut pendatang baru. Jadi tidak ada cakar2 yang pegang ini dan itu atau senggol ini dan itu. Semua handsfree istilah. Tinggal masuk…, selebihnya nggak mpek uraikan disini, ntar dikira mpek porno… Jadi kalau duduk di tachta ini rasanya nggak jijik dan bersih.
    Yang paling jorok? Waduh wadooh, nggk usah dibicarakan, Indonesia dan Thailand, Vietnam, China itu termasuk. Wakakakakakak wa-ak wa-ak, istilah the machine gun from Kona tante Lani,
    Kalau di Indon biasa jongkok ditepi kali, dibeberapa negara jangan berani coba, apalagi didaerah Amazona di Amerika Latin, sebab salah2 bokong amblas, dicaplok buaya dari belakang, apalagi kalo habis makan pete dan jengkol, sebab kesukaan mereka. Bisa juga jadi sasaran tembakan polisi dgn peluru karet. Sebab itulah kita harus hemat dgn tachta yang disediakan, biar bagaimanapun lebih comfortable dari jongkok dipinggir kali atau di hutan (ya, ya, kalo bek pek jalan2 keliling dunia ya mesti harus bisa dan berani hidup primitive. Satu setel pakaian dipake 4 hari, luar dalam dibolak balik, kalo nggak gitu ya bek-pek nya bisa satu kwintal, bongkok memanggulnya.
    Home sweet home, right? Salam dari mpek yang lagi buat rencana mau bek pek tahun depan kalo sudah spring, sebab mau nikmati salju kalau winter di Eropa, sekalian istirahat simpan tenaga buat jalan ratusan kilometer nanti.

  2. J C  17 October, 2011 at 19:55

    PamPam: sekarang sudah sadar ya? terus? Duduk atau jongkok?

  3. [email protected]  17 October, 2011 at 15:44

    Lho… kok gak sadar ada artikel ini yooo….

  4. J C  17 October, 2011 at 14:47

    Juwita: memang sih, terserah dikau, mau jongkok, duduk, duduk sambil jongkok, setengah jongkok setengah duduk, lari-lari, terserah wis…toilet, toiletmu kok…

  5. Juwita  17 October, 2011 at 14:37

    Jongkok atau duduk sebenarnya bukan pilihan lahh.. Tergantung sarananya… Kalo pas buat jongkok masa iya mau diduduki? Kalo pas buat duduk, masa iya mau dijongkoki? Nah kalo nemu toilet yang bisa diduduki dan/atau dijongkoki, silakan lah ganti2 posisi… Jiaaannnn… Mbuh ah..

  6. nevergiveupyo  17 October, 2011 at 12:45

    weleh.. nek nganggo difoto barang yo malah pornoaksi mengko oom…
    itu [email protected]@tnya yang nempel di dudukan kloset… jadi posisi duduk tapi ya gitu tadi..sudah..lakukan saja ndak mungkin kejengkang kok (kan belakangnya ada tampungan air yg bisa buat sende-sende.. bersandar

  7. J C  17 October, 2011 at 12:41

    Nev: aku kok gak bisa membayangkan Nev, tulung lain kali bawa cermin terus difoto ya…biar dapat gambaran jelas. Sek, sek, “anunya nempel di kloset” ini kamsudnya gimana?

  8. nevergiveupyo  17 October, 2011 at 12:37

    ohya, saya biasanya duduk tapi kaki diangkat..ditaruh di bibir kloset.. jadi mirip jongkok tapi anunya nempel di kloset..
    dijamin nggak menyalahi ketentuan deh

  9. J C  14 October, 2011 at 18:12

    Kang Anoew: mungkin yang bener Lani jongkok di toilet duduk, sambil megang dingklik atau pegangan dingklik atau nyunggi dingklik…(nyunggi = menaruh sesuatu di atas kepala)…halah mbuh…nanti kita tanya Lani saja…

  10. anoew  14 October, 2011 at 18:08

    Kosik tho Kang, lha sekarang mana yang benar… Lani jongkok di atas dingklik yang ditaruh di atas toilet duduk, atau Lani duduk di toilet duduk sambil jongkok??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.