Kemenyan

Chandra Sasadara

 

Tidak ada pertanda gaib seperti yang sering dialami dan diceritakan oleh banyak orang bahwa kejadian luar biasa selalu ditandai dengan hal-hal ganjil. Kalau sore itu langit dipenuhi mendung pekat disertai angin kencang bukan lagi menjadi kejadian luar biasa. Hari-hari sebelumnya langit juga menunjukkan warna yang sama, mendung pekat, angin kencang dan sesaat kemudian hujan lebat mengguyur bumi. Sore itu aku memang gelisah, tapi tidak sedikitpun terpikir bahwa kegelisahanku ada hubungannya dengan cuaca di penghujung tahun.

Enam tahun sudah aku digelisahkan oleh pertanyaan ibu sebelum nafasnya yang terakhir, tapi kegelisahanku di sore itu seperti mencapai puncaknya. Ibu seperti sengaja menitipkan pertanyaan untuk dijawab oleh bapak yang telah meningalkan rumah, ya bapak. Bapak meninggalkan rumah delapan tahun yang lalu, beberapa hari setelah ibu datang dari tanah suci. Kegelisahan yang menyesakkan dada membuat aku tidak bisa lagi membedakan antara kepentingan mendapatkan jawaban pertanyaan ibu dan rasa penasaranku dibalik misteri jawaban yang akan diberikan oleh bapak kelak setelah aku berhasil menemuinya.

Mengapa ibu yang aku kenal halus dan taat beribadah begitu berkepentingan  meninggalkan pertanyaan yang ia tahu pasti tidak akan mendapat jawaban dari bapak di penghujung hidupnya. Bukankah ibu yang sering mengajarkan bahwa saat menjelang kematian, seseorang tidak boleh lagi terikat urusan dunia. Bukankah ia yang selalu menceritakan bahwa sekaratul maut adalah saat yang paling genting bagi manusia. Mengapa justru ia mempersulit diri sendiri dengan menggantung pertanyaan di saat yang ia anggap wingit dalam hidupnya.

Kadang aku harus menghibur diri agar tidak terus berpikir buruk tentang nasib ibu setelah meninggalkan kehidupan fana ini. Mungkin ibu sudah tidak berkepentingan dengan jawaban bapak mengingat keyakinannya tentang kematian. Ibu mungkin hanya ingin menasehati anak-anaknya dengan mengajukkan pertanyaan yang katanya hanya bapak yang bisa menjawab. Aku berharap semoga dugaanku benar, sebagai anak aku tentu ingin kesalehan ibu mendapat balasan dari Tuhan.

***

“Ibumu harus pergi haji,” kata bapak tiba-tiba ketika kami berkumpul di depan televisi malam itu. Saat itu kami hanya menduga bahwa bapak hanya mencandai ibu yang sedang serius menyimak pemberitaan tentang masalah pemondokan jamaah haji Indonesia di Makkah. Malam berikutnya bapak mengulangi lagi pernyataannya, meskipun dengan kalimat yang berbeda tapi menegaskan maksud yang sama. “Tolong besok carikan informasi pendaftaran haji untuk ibumu,” kata bapak pendek. Kali ini kami mengganggap bapak tidak sedang bercanda. Seperti biasa kakak mulai bertanya macam-macam sedangkan ibu diam seperti orang yang tidak tertarik dengan tawaran pergi haji.

Aku sendiri mulai tidak nyaman duduk di ruang itu karena kakak mulai berdebat sengit dengan bapak soal keberangkatan ibu untuk pergi haji. Kakak tidak setuju kalau hanya ibu saja yang berangkat haji sedangkan bapak tidak ikut. Kakak tetap bergeming agar pendaftaran haji untuk ibu ditunda dulu sebelum uangnya cukup untuk keberangkatan bapak dan ibu. Mereka seperti lupa bahwa fokus utama diskusi itu adalah tentang orang yang sedang ada di depanya. Mengapa tidak langsung tanya kepada ibu, apa ibu tidak pantas untuk ikut mengambil keputusan yang berhubungan dengan dirinya sendiri.

Menurut penjelasan bapak, akan lama kalau harus menunggu sampai uangnya cukup untuk pergi haji berdua. Bapak juga menegaskan bahwa menghajikan ibu lebih dulu merupakan janji yang diucapkan saat menikahi ibu, seandainya uang yang mereka dimiliki belum cukup untuk berangkat berdua. Kakak yang seorang sarjana itu seperti tidak pernah kehabisan kata untuk menolak agar ide menghajikan ibu seorang diri dibatalkan saja. Aku sendiri belum pernah melihat kakak begitu kuat menolak ide bapak, tidak biasanya ia seperti itu. Saat itu aku mulai tidak senang dengan kakak, mengapa ia seperti tidak suka kalau ibu pergi haji. Sebagai anak bukankah kita bangga punya ibu yang telah menuaikan rukun agamanya yang terakhir.

Pagi sekali kakak memanggilku ke kamar, aku menduga ini pasti ada hubungnya dengan usaha kakak untuk menolak ide bapak. Aku sudah bersiap tidak memberikan dukungan kakak seandainya ia meminta dukunganku untuk membatalkan pendaftaran haji buat ibu. Ternyata dugaanku salah, kakak hanya meminta aku untuk mendengarkan ceritanya. Menurut kakak ide agar ibu pergi haji sebenarnya bukan dari bapak tapi dari seorang ustadz yang masih terhitung kerabat bapak. Kakak secara tidak sengaja mendengar percakapan mereka di ruang tamu sesaat setelah pulang kerja. “Apakah saat itu ibu tidak ikut dalam pembicaraan mereka,” tanyaku saat itu. Menurut kakak saat itu ibu tidak di rumah, ia sedang mengambil daging agar bisa cepat direbus untuk jualan empal besok.

Menurut kakak, bapak awalnya hanya mengeluh kepada ustadz itu. Bapak merasa gagal dalam membina ibu soal agama setelah hidup bersama selama puluhan tahun. Banyak usaha yang telah dilakukan bapak agar ibu meningalkan kebiasaan yang telah dilakukanya sejak ia menjadi penari topeng dulu, salah satunya adalah mendorong ibu mengikuti pengajian setiap malam kamis di rumah ustadz. Bahkan bapak pernah pesan khusus kepada ustadz agar dalam pengajian membahas tema tentang kemusrikan, perihal menyekutukan Tuhan. Bapak berharap pengajian  itu bisa mengubah kebiasaan ibu membakar kemenyan di halaman rumah setiap kamis malam. Sebagai kepala keluarga, bapak merasa gagal menghindarkan ibu dari perbuatan dosa paling besar itu. Dosa yang menurut keyakinan bapak tidak akan diampuni Tuhan.

“Setega itukah bapak kepada ibu, menuduh ibu menyekutukan Tuhan hanya karena membakar kemenyan,” tanyaku memotong cerita kakak. Kakak bergeming, melanjutkan ceritanya yang dinggap belum selesai. Menurut kakak, bapak seperti orang yang sedang menanggung beban berat berhubungan dengan kebiasaan ibu. Percakapannya dengan ustadz terdengar serak, seperti orang sedang menangis. Ustadz juga kedengaran ragu-ragu untuk memberikan nasehat kepada bapak, kemudian meluncur ide dari mulut ustadz agar ibu dihajikan saja. Menurut ustadz, kalau ibu bisa pergi haji akan mendapat nilai lebih. Selain menjalankan rukun agama yang menjadi kewajiban bagi pemeluknya, diharapkan  ibu dapat belajar dari kebiasaan orang-orang di tanah suci memperlakukan kuburan, peninggalan nabi bahkan Rumah Tuhan tanpa asap kemenyan. Di akhir percakapan mereka, ustadz sempat menegaskan bahwa ibu akan melupakan kebiasan membakar kemenyan setelah pulang dari tanah suci, karena di sana tidak ada ritual bakar kemenyan.

Menurut kakak, itu cara yang berlebihan untuk memberikan pelajaran kepada ibu. Kalau bapak tidak setuju dengan kebiasaan ibu mengapa baru sekarang setelah mereka hidup puluhan tahun dan memiliki dua orang anak yang telah dewasa. Bukankah bapak tahu bahwa kebiasaan itu telah dilakukan ibu sejak masih gadis ketika menjadi penari topeng dulu. Menurut kakak, bapak bisa cari cara lain agar ibu meninggalkan kebiasan itu tanpa harus meminta ibu pergi sendiri ke tanah suci. Kakak seperti takut akan terjadi sesuatu pada ibu saat di tanah suci. Menurut aku, kekhawatiran kakak itu berlebihan. Ibu bukan perempuan yang lemah, ia kuat dan tidak pernah mengeluh. Belum pernah aku melihat ibu sakit, meskipun setiap malam merebus daging sampai larut, bangun tidur paling pagi untuk menyiapkan empal dan menunggu dagangan sampai sore hari. Bagi aku yang penting ibu bisa pergi haji dan pulang dari tanah suci dalam keadaan sehat, tidak penting apakah ibu akan meninggalkan kebiasaannya membakar kemenyan atau tidak.

***

Bukan hanya bapak yang tidak suka melihat ibu membakar kemenyan setiap kamis malam itu, sebenarnya aku dan kakak juga merasa terganggu dengan kebiasaan ibu. Setiap aku bertanya alasan ibu melakukan hal itu, ibu seperti menghindar untuk memberikan jawaban. Entah mengapa ketika aku menemami ibu merebus daging malam itu, tanpa aku tanya ibu menjelaskan kebiasanya membakar kemenyan itu. Penjelasan ibu malam itu seperti tidak sedang membela kebiasannya yang tidak disukai bapak, mengalir seolah-olah ia yakin betul dengan apa yang dilakukan selama ini.

Menurut ibu, manusia di alam ini tidak hidup sendirian, agar tidak bersinggungan dengan jenis kehidupan lainnya manusia harus menjaga keseimbangan alam. Kemenyan yang ibu bakar itu hanya memberi tanda bahwa ada kehidupan tidak kasat mata yang tidak boleh dilanggar hak hidupnya oleh manusia. Biarkan mereka dengan cara hidupnya, karena begitulah yang telah menjadi kepastian hidup mereka. Mereka juga butuh ketenangan seperti manusia sampai saatnya tiba bersama semua kehidupan menghadap Tuhan pada hari yang telah ditentukan. Sebelum mengakhiri cerita, ibu berpesan agar tidak mengganggu, tidak mengusik apalagi meminta pertolongan pada mereka.

Aku tidak tahu pasti, apakah penjelasan seperti itu pernah disampaikan oleh ibu kepada bapak atau tidak. Kalau penjelasan itu sudah pernah disampaikan mengapa bapak masih tidak suka dengan kebiasaan itu, bukankah tidak ada niat ibu untuk menyekutukan Tuhan. Bukankah ritual itu dilakukan ibu untuk mengingatkan bahwa kita tidak perlu melanggar batas dalam berhubungan dengan makluk Tuhan lainnya. Bukankah bapak tahu bahwa ibu adalah perempuan yang tidak putus puasa di siang hari dan menyebut nama Tuhan ratusan kali di malam hari. Aku menduga sebenarnya bapak tidak bermasalah dengan kebiasaan ibu, bapak hanya malu dengan kawan-kawannya di pengajian ustadz yang baru diikutinya itu.

Aku masih ingat bagaimana kakak bertengkar hebat dengan bapak soal gentong yang dibeli ibu seminggu sebelum berangkat ke tanah suci. Ibu berpesan agar setelah ia berangkat nanti gentong yang dibeli itu diisi air, diletakkan di bawah payung di depan rumah lengkap dengan gayung dan gelas. Ibu juga berpesan supaya kakak tidak lupa meletakkan bunga tiga warna dan sejumput kemenyan di dalam cobek di samping kanan gentong, ibu mengingatkan supaya bunga dan kemenyan itu diganti setiap kamis sore.

Pagi itu kakak bermaksud melaksanakan pesan ibu tapi dicegah bapak, menurut bapak melaksanakan pesan ibu itu tidak ada gunanya dan hanya akan menimbulkan fitnah. Seperti biasa kakak tidak akan berhenti sebelum mengajukan pertanyaan yang membuat bapak naik pitam.

“Apa ruginya melaksanakan pesan ibu yang sedang beribadah di tanah suci? bukankah gentong itu kita letakkan di depan rumah tidak untuk disembah?”

“Fitnah apa yang akan ditimbulkan kalau ternyata air dalam gentong itu bisa dimanfaatkan orang lain untuk menghilangkan dahaga?”

“ Mengapa bapak tidak bisa berdamai dengan perbedaan, bukankah bapak orang paling tahu urusan agama dibanding kita semua?”

Akhirnya kakak menghentikan pertanyaanya setelah mengatakan bahwa ia hanya menjalankan perintah ibu, kalau bapak ingin tahu alasanya silahkan tanyakan kepada ibu setelah pulang dari tanah suci.

***

Lamunanku pecah setelah mendengar tangis anakku yang baru berumur tiga bulan. Aku baru sadar ternyata hujan di luar saat itu telah reda, angin tidak lagi mendengung, harum kemuning yang sedang berbunga bercampur bau tanah basah di depan rumah seperti sengaja mengistirahatkan kegelisahanku. “Assalamualaikum,” belum sempat aku sadari siapa yang bertamu malam itu, istriku yang sejak tadi menidurkan bayinya telah mewakiliku untuk menjawab salam orang yang berdiri di depan pintu. Aku seperti tidak asing dengan suara salam itu, betul kakak datang. Sejak ibu meninggal dunia, kakak memang memilih bekerja di kota lain. Hanya aku yang mendiami rumah warisan ibu, terakhir aku bertemu kakak saat pernikahanku.

“Apakah kamu masih membakar kemenyan?.” Itu pertanyaan pertama kakak setelah tidak bertemu selama dua tahun. Aku memang akhirnya meneruskan kebiasaan membakar kemenyan setelah ibu meningggal dunia. Selain rumah aku juga mewarisi dua gentong kemenyan dari ibu, menurut ibu kemenyan tersebut merupakan sisa kekayaan kakek yang diwariskan kepada ibu. Ibu menambahkan bahwa selain kain batik, kemenyan merupakan tanda kekayaan orang zaman dulu yang mudah ditukar dengan kebutuhan harian ketika menghadapi masa sulit.

Aku merasa tidak perlu menjawab pertanyaan kakak itu. Pikiranku sedang mempertimbangkan untuk mengajukan pertanyaan ibu kepada kakak. Rasanya tidak perlu menunggu sampai ketemu bapak, meskipun ibu mengatakan bahwa hanya bapak yang bisa menjawab pertanyaannya. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba datang keyakinan bahwa kakak sudah tahu jawaban terhadap pertanyaan ibu. Aku menunggu sampai kakak meminum jahe yang dihidangkan istriku. Kelihatannya kakak habis menangis, matanya bengkak. Mengapa ia datang sendiri. Apakah ia datang karena lari dari rumah setelah bertengkar dengan suaminya.

Aku tidak berani memastikan dugaanku tersebut dengan cara bertanya langsung soal rumah tangganya. Biarlah, kakak mewarisi keuletan ibu, pasti ia dapat menyelesaikan persoalannya. Lagi pula aku lebih berkepentingan untuk mendapat jawaban atas pertanyaan ibu.

“Apakah kakak dan keponakanku baik-baik?.” Itu pertanyaan pertama yang aku ajukkan kepada kakak untuk memecah kebisuan. Kakak hanya tersenyum sambil mengambil gelas berisi jahe hangat di depannya. Aku baru sadar ternyata sejak tadi pandangan mata kakak tidak pernah lepas dari gentong warisan ibu yang berisi kemenyan di sudut ruang tamu. Ada apa rupanya dengan kemenyan itu, jangan-jangan ia juga sering bertengkar dengan suaminya karena punya kebiasaan membakar kemenyan seperti ibu.

“Aku tidak membakar kemenyan seperti ibu.” Meluncur kalimat dari mulut kakak seperti sengaja ditujukkan untuk menjawab dugaanku terhadap dirinya. Kami diam, aku sendiri sibuk mengumpulkan tenaga dan keberanian untuk bertanya. Kakak masih belum berpaling dari gentong kemenyan warisan ibu. Aku masih diliputi keraguan, sebab aku tahu tabiat kakak, ia bukan orang yang mudah memberikan jawaban. Ia lebih terlatih bertanya dari pada menjawab, pertanyaan yang ditujukan kepadanya lebih sering dijadikan pijakan untuk bertanya balik dari pada memberikan jawaban.

“Apakah kakak tahu mengapa bapak meninggalkan ibu?.” Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulutku, seolah aku punya kekuatan yang datang dari ibu. Itulah pertanyaan yang selama enam tahun mengambang tanpa jawaban dan sekarang tiba-tiba pertanyaan itu aku tanyakan kepada orang yang belum tentu tahu jawabanya. Kalau kakak tidak menjawab pertanyaan itu, entah kapan aku bisa ketemu bapak untuk langsung bertanya mengapa bapak meninggalkan ibu hingga akhir hayatnya. Apakah sekarang bapak tahu bahwa ibu telah meninggal dunia enam tahun lalu atau jangan-jangan bapak juga telah meninggalkan kami semua.

“Mengapa kamu tidak tanyakan apakah aku sudah ketemu bapak atau belum?.”

“ Mengapa kamu seperti orang yang tidak menghendaki kehadiran bapak lagi?.”

“ Apa kamu pikir bapak telah mati?.”

Aku ganti diam seribu kata, seperti yang aku duga sebelumnya bahwa pertanyaanku hanya akan memancing kakak untuk bertanya lebih banyak. Meskipun begitu aku tindak menyangka kalau  kakak akan menyudutkanku dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

“Bukankah pertanyaan itu hanya bisa dijawab bapak,” tegasnya. Pertanyaan terkahir kakak itu menyadarkan aku, jangan-jangan kakak datang bersama bapak.

Belum sempat aku tanyakan apakah kakak datang bersama bapak, ucapan salam yang aku kenal sejak kecil itu tiba-tiba terdengar lagi. Itu salam bapak, tanpa aku sadari bapak sudah berdiri di depan pintu dituntun suami kakak. Rupanya mereka datang bertiga, sejak tadi bapak dan suami kakak menunggu di depan rumah. Aku tidak bisa mengatakan apapun bahkan sekedar untuk menjawab salam bapak atau menanyakan mengapa bapak tidak langsung masuk rumah. Buru-buru aku tubruk tubuh bapak untuk mendapat pelukannya. Bapak masih berdiri mematung setelah melepas pelukanku. Kelihatan lebih tua, lebih kurus dan jenggotnya dibiarkan menggantung panjang. Entah mengapa wajah dan sorot mata bapak terus diarahkan ke gentong kemenyan ibu. Apakah bapak sedang mengenang ibu atau sedang menyesali keberadaan gentong kemenyan itu.

Entah dorongan apa yang merasuki pikiranku, aku memutuskan untuk tidak bertanya kepada bapak. Aku tidak perlu mendapat jawaban langsung dari mulut bapak. Sorot mata bapak ke arah gentong kemenyan itu cukup menjelaskan pertanyaan ibu dan penasaranku selama ini. Kami semua diam, menunggu bapak mengatakan sesuatu. Bapak belum mengubah posisi duduknya setelah menarik kursi agar lebih dekat dengan gentong, wajahnya terlihat membeku dan sesekali mulutnya membaca kalimat yang samar. Rupanya hari sudah menjelang pagi, bacaan Al Qur’an melalui pengeras suara masjid mulai terdengar samar-samar di kejauhan. Udara pagi mulai berasa menusuk kulit, tapi pandangan bapak masih belum berpaling dari gentong kemenyan warisan ibu itu.

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Chandra Sasadara! Make yourself at home dan dinantikan artikel-artikel Anda yang lain ya…

Terima kasih kepada pak Handoko yang mengenalkan Chandra Sasadara sehingga makin meramaikan warna tulisan di Baltyra ini…

 

 

32 Comments to "Kemenyan"

  1. Chadra Sasadara  18 April, 2012 at 10:24

    dear yyk : beberapa komentator juga bertanya kelanjutan ceritanya. aku justru bertanya, betulkan cerita itu perlu lanjutan??

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *