[Serial de Passer] Astari dan Mamak Sandiman (2)

Dian Nugraheni

 

Siang itu, kembali Astari menunggui Mamak di biliknya. Kali ini Astari sudah bisa menguasai diri. Tiap saat, diaberdoa agar Mamak cepat sembuh. Mamak tersenyum ketika melihat Astari datang, matanya yang sayu terlihat sedikit hidup karena bersinar.

“Rene, kemari, Nduk, Cah Ayu…,” kata Mamak.

Segera Astari menelungkupkan kepalanya ke dipan, sambil memeluk tangan kanan Mamak. Mamak mengelus kepala Astari dengan tangan kirinya. “Mugo-mugo.., besuk gede uripmu mulyo, ya Nduk… semoga, nanti kalau dewasa hidupmu senang ya, Nduk…'” kata Mamak. Astari semakin erat memeluk tangan Mamak. Astari tak ingin memeluk tubuh Mamak, Astari khawatir Mamak kesakitan dengan pelukannya, meski Astari tak tau persis, di bagian tubuh Mamak yang mana yang sakit, dan Astari tak ingin bertanya.

Kemudian mereka berbincang, sedikit bercanda, ketika kemudian Mamak bilang, “Nduk.., Astari.., kamu tau Pak Mardjan kan, yang suka bertamu kemari itu..?”

Astari mengangguk, “Iya, Mak, kenapa..?”

“Kata Pak Mardjan, Pak Mardjan suka sama Mamak, dia mau menikah sama Mamak, sekarang dia lagi ke Surabaya, katanya sedang disambat bikin rumah saudaranya, dan dia akan mendapat bayaran untuk itu. Pak Mardjan bilang, kalau sudah selesai, dia akan pulang, ngajak Mamak ke pasar, ke Toko Mas Prahu, mau belikan cincin emas buat Mamak..,” kata Mamak sedikit panjang, tapi sangat lirih dan diselingi jeda, menarik nafas di sela-sela penuturannya.

“Mamak suka sama Pak Mardjan..? Yaa, kalau suka, bolehlah Mamak menikah sama dia. Apakah Mamak juga akan didandani kayak mantennya Mbak Sri kemaren dulu itu, Mak ? Pakai bunga, pakai sanggul, dan dahinya digambar- gambar hitam ?” tanya Astari berlagak seperti orang dewasa yang sedang berdiskusi.

“Haaah.., ya enggak Astari. Paling pergi ke Pengulu aja, kan sudah tua, malu lah…,” kata Mamak. Astari suka, ketika Mamak berkata demikian, wajahnya sedikit berseri, nampak benar Mamak senang hatinya.

Kemudian Astari memegang jari jemari tangan Mamak yang makin kurus, dibayangkannya sebentuk cincin melingkar di jari manis Mamak. Astari tersenyum gembira. Da akan duduk menjadi pengipas manten Mamak nantinya, ingin benar Astari melakukannya…

Demikianlah, setiap hari tanpa absen, Astari selalu menyempatkan diri menunggui Mamak sampai Maghrib tiba, sampai Mas Bejo, Mas Jumadi dan Mbak Wanti kembali dari masing-masing kesibukannya, atau sampai Mbah Lukito Putri, Utinya datang menjemputnya, barulah Astari akan pulang.

Tak terasa, dua bulan sudah berlalu, ketika Astari siang itu menjenguk Mamak, Mamak tampak semakin pucat, perut Mamak semakin membesar, dan tetap Astari tak mampu bertanya soal ini. Dan ketika Astari memeluk tangan Mamak, Mamak berbisik, “Astari, rasanya Mamak sakit sekali.., Mamak nggak tahan, mungkin Mamak akan mati..”

Tubuh Astari menegang, dipeluknya tangan Mamak semakin erat, menyimpan sendiri tangisnya yang siap menyeruak, tapi Astari tetap membendungnya, agar Mamak tak tambah sedih.

“Mak, Mamak nggak boleh mati, nanti aku sama siapa kalau ke rumah Mamak, kalau Mas Bejo, Mas Jumadi dan Mbak Wanti pas nggak di rumah..?” tanya Astari.

Mamak terdiam sesaat, wajahnya seperti menahan rasa sakit, “Yaa, Astari nunggu Mbak wanti pulang kalau mau main ke sini. Jangan lupa carikan daun nangka yaaa, kasih makan kambing-kambingmu itu..,” Mamak menyebut kambing-kambingnya itu, seolah juga kambing-kambing milik Astari.

“Astari, sini dekat Mamak, Mamak mau bilang…,” kata Mamak.

Astari mendekat, dan dengan khusuk memandangi wajah Mamak, “apa Mak..?”

“Mamak pengen ketemu Pak Mardjan, pengen diajak jalan-jalan ke pasar, ke Toko Mas Prahu beli cincin..,” kata Mamak lirih.

Astari berpikir keras dan cepat, “apa ada alamatnya di Surabaya, Mak..? Nanti Astari bikin surat, kasih perangko, Astari poskan di kotak pos dekat sekolah Astari, biar Pak Mardjan cepat pulang..”

“Tidak ada alamatnya, Nduk..Mamak tidak tau, dan Pak Mardjan juga nggak ninggali alamat rumah saudaranya yang di Surabaya itu.

“Apa Mamak tau rumah Pak Mardjan di sini.., Astari bisa ke sana, Mak, nanti Astari tanyakan sama keluarganya, mungkin ada yang tau alamatnya..,” kata Astari lagi.

“Rumah Pak Mardjan itu jauh, tidak di kampung kita, rumahnya di Loano, ke arah kota Magelang sana, jauh, Astari, dan Mamak juga nggak tau persis, hanya pak Mardjan bilang begitu. Pak Mardjan itu dulu kan teman semasa mudanya Pak Man..,” begitu kata Mamak lagi.

Astari putus asa, rasanya tak tega terus berbincang dengan Mamak. Kelihatannya, Mamak sudah susah untuk bicara. Atau mungkin Mamak merasa sakit yang luar biasa. Astari tak tau harus berbuat apa. Juga tidak berani bertanya pada anak-anak Mamak. Jangankan soal Pak Mardjan, soal sakitnya Mamak saja, nampaknya, mereka sudah pasrah, mereka juga tak tau harus bagaimana, membawa Mamak mondok ke rumah sakit juga, kata Mas Bejo, “Tak ada cukup uang, Astari…, yaa, sudah nasib Mamak begitu, mau apa lagi…” Astari bertambah buntu pikirannya, tak tau harus bertanya pada siapa.

_____________________________________________

Besoknya, seperti hari-hari yang lalu, Astari kembali menengok Mamak. Kali ini Astari menggenggam uang logam seratusan perak, tiga buah.Dengan wajah tersenyum berseri, Astari mendekati dipan Mamak, “Mak.., lihat apa yang kubawa.., aku punya uang seratusan perak tiga buah, masih kempling, Mak, masih kemilau. Satu buah, aku dapat dari Kakung, satu buah dari Mbah Nyonyah, satu buah dari Mbah Sis, kemaren waktu Lebaran. Apakah ini bisa buat beli cincin emas yang paling kecil, Mak..?”

Mamak tertawa lirih, dan suara Mamak terdengar sedikit cadel, tidak jelas terdengar, “Nduuuk…, beli emas itu uangnya ribu-ribuan.., itu nggak cukup…”

Astari memandangi ketiga uang seratusan perak di tangannya, “Atau uang ini Mamak simpan, nanti kalau sudah ada yang nambahin, kita ke pasar sendiri saja, Mak, beli cincin buat Mamak.”

Mamak menggeleng lemah, ” simpan dalam celenganmu dulu…”

Astari mengangguk, dan memasukkan uangnya ke kantong bajunya. Kemudian dia merayu Mamak agar mau disuapin bubur nasi yang sudah disediakan mbak Wanti sebelum berangkat kerja, tapi Mamak menolak, menggeleng…

______________________________________________

Ini hari Jumat, siang sepulang sekolah, Astari segera saja menjenguk Mamak, seperi biasanya, dia duduk dekat- dekat dengan Mamak, mengharapkan senyum Mamak, mengharapkan ada perkembangan baik sehubungan dengan kesembuhan Mamak. Tapi harapan Astari tinggalah harapan, Mamak hanya memandangnya sejenak, dan berkata satu kalimat, tetap dalam suara yang cadel tak jelas, “Mamak pengen dibelikan cincin emas…” Kali ini sudah tidak menyebut nama Pak Mardjan.

Astari gemas dalam sedihnya, Astari terlalu marah karena bingung, dia merasa terlalu kecil dan juga tidak kaya. Andai saja aku besar, andai saja aku sudah kerja dan punya uang, pastilah aku belikan Mamak sebuah cincin emas, begitu pikirnya. “Mak, tunggu sampai Astari sedikit besar yaa, nanti Astari kerja, pasti Astari belikan cincin Emas.., jangan sedih Mak.., pasti itu.., juga mungkin Mamak suka gelang, kalung..? Pasti Astari belikan, Mak..!!” kata Astari lantang berbaur dengan emosi yang tak tertahan.

“Mau kan, Mamak nunggu Astari besar..?” kata Astari lagi.

“Mak..? Maaak..? Mamaaak…!!” seru Astari.

Mamak diam saja, matanya mengatup. Astari reflek menciumi pipi Mamak yang tirus dan pucat, “Mamaaak, bangun Maaaak…Melek matanya, Mak…, Mamaaak…!” kata Astari sambil memegang tangan Mamak. Tapi Mamak tetap diam.

Kemudian Astari menangis keras, menghambur keluar rumah Mamak, dan memanggil-manggil nama Mas Bejo, Mas Jumadi, dan Mbak Wanti, yang ketiganya tak ada di rumah, bahkan nama Mbah Kakung dan Utinya. Kontan saja para tetangga berdatangan, dan mereka segera bermusyawarah untuk memanggil dokter, dan datanglah satu-satunya dokter di lingkungan itu, bernama Dokter Tikno. Dan kemudian mereka segera tau, bahwa Mamak Sandiman telah tertidur. Dokter Tikno bilang, “kita tidak akan tau, kapan Mak Sandiman akan bangun lagi, atau mungkin, tidak akan kembali bangun…” Mamak tertidur sampai entah kapan, koma.

Meski Mamak sudah tertidur tanpa bangun, Astari tetap menengok dan menungguinya. Kali ini semua anaknya, Mas Bejo, Mas Jumadi, dan Mbak Wanti, ada bersama Astari. Astari merasa lebih senang hatinya, karena, tak satu pun anak-anak Mamak yang pergi bekerja. Juga Mbah Utinya selalu pulang gasik dari pasar, seperlu untuk ikutan menunggui Mak Sandiman yang tengah tertidur panjang.

Sesekali ada juga tetangga yang menjenguknya, hanya sebentaran, mungkin takut ketularan penyakit Mamak, tapi Astari tetap tak peduli. Astari duduk di samping dipan Mamak, memandangi wajah Mamak yang kian memucat, hidung Mamak tampak lebih mancung, nafasnya sedikit bersuara. Wajah Mamak mengekspresikan seperti sebuah wajah yang sedang bertanya jawab tanpa suara di alam tidurnya, entah dengan siapa. Astari mengharapkan Mamak cepat bangun. Astari ingin melihat Mamak tersenyum.

_________________________________

Senin siang, tiga hari setelah Mamak Sandiman tertidur, koma, sepulang sekolah, Astari segera saja merasa seluruh tubuhnya luruh, di depan rumah Mamak ramai orang memasang kursi-kursi layaknya akan banyak tamu. Mbah Kakung juga di rumah, tidak pergi ke pasar. Kakungnya bahkan langsung memanggilnya, “Astari, kemari, Nduk…”

“Ya, Kung.., kenapa rumah Mamak ramai orang..? Apakah.., apakah.., Mamak.., huuu….” tangis Astari pecah. Mbah Kakungnya segera memeluknya. Beliau tau, betapa dekat hati Astari dengan keluarga Mak Sandiman.

“Ya, Astari, Mak Sandiman telah meninggal. Sana makan dulu, kemudian pakai baju terbaikmu, kita jenguk Mak Sandiman untuk terakhir kalinya, Utimu sudah di rumah Mamak untuk bantu siap-siap, jangan menangis…,” kata Mbah Kakungnya.

Kemudian Astari segera makan siang sambil menangis, tanpa merasakan apa yang dimakannya, cuci muka, berganti baju terbaiknya, baju Lebaran yang beberapa bulan lalu dihadiahkan Farah buatnya, dan digandeng Mbah Lukito Kakung, dia datang memberi penghormatan terakhir kepada Mamaknya.

Tak mampu Astari menahan tangis, dia sungguh tetap sedih, kenapa Mamak harus sakit, kenapa Mamak ditaruh di bekas kandang kambing, kenapa Pak Mardjan tidak juga datang untuk membelikan cincin emas buat Mamak, kenapa Astari tak jadi menjadi pengipas manten buat Mamak ketika menikah dengan Pak Mardjan nantinya, dan kenapa uangnya hanya tigaratus perak saja, tak cukup buat membelikan cincin emas untuk Mamak…

Inikah kiranya, firasat, intuisi, atas rasa sunyi dan lengang di hati Astari kurang lebih dua bulan yang lalu ketika tiba-tiba dia teringat Mamak, dan dia bergerak menuju rumah Mamak, ternyata Mamaknya sakit, dan sekarang, ternyata Mamaknya pergi dalam sunyi. Semua yang disayangi Astari, satu demi satu menghilang pergi, tak boleh terlalu lama bersamanya…. Benarkah demikian..?

Salam Berlalu Dalam Sunyi…

 

(Nantikan terus serial de Passer ini, kisah Astari selanjutnya akan banyak dihiasi dengan senyum, tawa konyol, dan ekspresi-ekspresi lain yang lebih tegas dan menyenangkan…semoga, InsyaAllah…)

 

Virginia,

Dian Nugraheni
Sabtu, 8 Oktober 2011, jam 5.44 sore
(Diriku sedang bertanya…dan bertanya…he2…)

 

9 Comments to "[Serial de Passer] Astari dan Mamak Sandiman (2)"

  1. Dian Nugraheni  18 December, 2011 at 03:50

    Teman-teman…, maaf baru nongol..(alasannya pasti sama…, sibuk..he2..sibuk memburuhkan diri enam hari seminggu memang luar biasa menyita waktu..), yaa…, InsyaAllah Astari ke depan lebih ceria.., smoga hal2 menyedihkan ketika Astari kecil bsa membekalinya menuju sesuatu yang lebih tegar…makasih banyak semuanya yaa..

  2. elnino  10 October, 2011 at 08:49

    Ah. Astari…selalu mengharu biru. Semoga ke depan hidup Astari semakin ceria. Menunggu, kapan Astari kembali bertemu bunda tercinta

  3. probo  9 October, 2011 at 20:30

    Nantikan terus serial de Passer ini, kisah Astari selanjutnya akan banyak dihiasi dengan senyum, tawa konyol,
    dan ekspresi-ekspresi lain yang lebih tegas dan menyenangkan…semoga, InsyaAllah…)

    semoga tidak mbeling dan sudrun kayak temanku di sini hehehehe

  4. J C  9 October, 2011 at 20:20

    Wah, kisah Astari selalu menghentak kalbu…mengalir penuh ayunan emosi. Astari selalu berhasil mengandaskan perasaan ke titik yang paling manusiawi pembacanya…

  5. Dj.  9 October, 2011 at 15:46

    Mbak Dian….
    Terimakasih untuk cerita Astari yang mengingatkan kepergian ibu Dj….

    Dj. dapat telpon yang membertakan ibu sudah tidak ada harapan, jadi meminta agar Dj. ,erelakan dan kalau mau pulang, pasti sudah terlambat dikebumikan.
    Tapi Dj. tetap berangkat dan 2 hari kemudian, karena Frankfurt Jakarta sudah makan waktu 1 hari dan tidak dapat penerbangan ke Surabaya.
    Puji TUHAN….!!! Dj. tidak terlambat, bahkan saat Dj. sampai, kaka Dj. berbicara kepada ibu yang sudah tertidur.
    Bu…ini Djoko, datang dari Jerman, e….taunya ibu buka mata, walau dengan suara sangat lemah, tapi bisa berbicara. Saat ibu lihat gelang emas yang Dj. pakai, maka dimintanya dan Dj. kasikan dan Dj. pakaikan di pergelangan ibu…
    Kaka-kaka Dj. semua tertawa dan satu persatau bilang…Ibu ki ono-ono wae ( ini ini ada-ada saja )…
    Taunya cuma kangen sama anaknya yang jauh….
    Kata-kata ibu yang teraljir sangat Dj. kenang…. Walau Alm. ibu Dj. seorang Hajah, tapi Alm. minta agar Dj. berdoa…. Djok, dongakno marang Gusti Yesus, ben ibu waras yo….
    Habis itu, gelang Dj. dikembalikan, Alm. hanya bilang, iki gelang kok abot banget ( ini gelang sangat berat )
    Dj. tidak bisa lama menunggui ibu dan saat Dj. kembali ke Mainz, ibu tetap sehat.
    Kaka-kaka Dj. semua pada tertawa, padahal sudah disiapkan mobil jenazah dan para pelayat yang akan ikuta mengiring jenazah dari Surabaya ke Semarang sudah terdaftar, taunya ibu sehat kembali.
    1 Tahun kemudian ibu meningal dunia dan Dj. dapat kabar setelah ibu dikebumikan….
    Walau sangat sedih, tapi Dj. sudah relakan dan bahkan sangat bersyukur, karena setahun sebelumnya, masih bisa melihat dan bercakap-cakap….

    Salam Sejahtera dari Mainz…

  6. HennieTriana Oberst  9 October, 2011 at 12:06

    Sedih…

  7. Mu Ammar  9 October, 2011 at 10:14

    huhuuuuuuuuu, ikut mewek deh…

  8. [email protected]  9 October, 2011 at 09:14

    LANJOOOOTTT…. hayo2…. seru cerita si astari

  9. probo  9 October, 2011 at 08:22

    hore…minggon bareng Astari…baca ah!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *