Derawan Menawan (1)

Adhe Mirza Hakim

 

Dear Baltyrans….

Kali ini aku mau mengajak jalan-jalan ke Derawan, buat para Traveler nama “Derawan” merupakan lokasi wisata yang “Wajib” dikunjungi.  Pertama kali tahu tentang Derawan, tahun 2008 silam, terinspirasi kisah perjalanan backpacker paling nge-TOP di Indonesia, Trinity, lewat bukunya Naked Traveler #1, dalam buku itu dituliskan perjalanan ke Danau Kakaban yang penuh dengan Jelly Fish (Ubur-ubur) jinak yang tidak menyengat, danau yang berada di satu pulau dikelilingi atol (karang) yang berada di tengah lautan, telah ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2004 sebagai “World Natural Heritage Area”.

Di dunia tempat seperti itu hanya ada di 2 tempat, 1. Pulau Kakaban, Derawan (Kalimantan Timur) dan 2. Palau (http://baltyra.com/2011/10/11/republik-palau/), tapi menurut Trinity paling bagus yang di Kakaban, katanya berenang di danau Kakaban seperti berenang dalam kolam cendol, hihihi….nggak kebayang deh dingin-dingin empuk. Pertengahan tahun 2010 yang lalu, kembali aku diingatkan tentang mimpi ke Derawan, lewat inflight Magazine yang dikeluarkan oleh Batavia Air, di situ ditulis tentang perjalanan ke Derawan jauh lebih mudah via Berau, aku sampai meminta majalah tersebut ke Pramugarinya buat kusimpan, ya… suatu saat aku harus sampai di sana.

*Sekedar info yang aku kutip baik dari blog maupun buku, perjalanan ke Derawan bisa ditempuh melalui tiga cara :

  1. Jakarta – Tarakan (Pesawat 2,5 jam penerbangan) Tarakan – Derawan (speed boat 3 – 4 jam).
  2. Jakarta – Samarinda (Pesawat 2 jam penerbangan) Samarinda – Berau (naik mobil selama 14 jam) Berau (Tanjung Redeb) – Tanjung Batu (2,5 jam dengan mobil), Tanjung Batu – Derawan (speed boat 30 menit).
  3. Jakarta – Balikpapan (2 jam penerbangan), Balikpapan – Berau (30 menit penerbangan), Berau (Tanjung Redeb) – Tanjung Batu (2,5 jam dengan mobil), Tanjung Batu – Derawan (speed boat 30 menit).
  • Bisa juga dari Tanjung Batu – Derawan, pakai speed boat selama 2 jam, ini lebih praktis hanya budget nya sedikit lebih mahal, setahuku sekali jalan tarif speed boat Rp. 1.000.000,-  (PP Rp. 2 juta, blum lagi ongkos boat dari Derawan putar-putar ke 3 pulau besar, yang mencapai Rp. 1,5 juta), jika budget jalan-jalannya unlimited atau ada yang kasih gratisan no problem hehe……
  • Sekedar saran, sorry bukan sok ngajarin yaa… bagi teman yang tidak terbiasa naik speed boat dengan kecepatan tinggi dalam waktu yang lama, sebaiknya pilih opsi no. 3 saja, karena naik speed boat Tanjung Batu – Derawan hanya dalam kisaran 30 menit tidak sampai berjam-jam. Effek samping yang dikuatirkan, bisa muntah-muntah alias mabok laut sebaiknya minum antimo/jamu tolak angin sebelum berangkat, dan bagi yang tidak kuat menahan buang air kecil bisa masalah nie…mau pipis di laut ??? hahahaha…. Silahkan saja…
  • Maskapai Penerbangan yang menuju Berau ada 4 yaitu : Batavia Air, Sriwijaya Air, Trigana Air dan Kalstar Air.

Mimpi ke Derawan aku simpan selama 3 tahun, bahkan sempat aku chat dengan sobat-sobat, bertanya apa mereka sudah pernah ke Derawan, ternyata tak satupun pernah ke sana, padahal  salah satu temanku bermukim di Balikpapan, saat kutanya kenapa koq gak tertarik mengunjungi Derawan, alasannya simple, pergi wisata ke Derawan biaya tour nya sama besar dengan wisata ke negeri tetangga, dengan alasan gengsi mereka lebih suka jalan-jalan ke luar negeri dari pada ke Derawan, hikksss…menyedihkan sekali mendengarnya.

Padahal para turis asing bela-belain pergi ke Derawan, lha ini orang Indonesia malah gak faham letak Derawan itu dimana. Aku memaklumi soal selera jalan-jalan setiap orang, ingat kita tidak bisa menyamakan selera, karena sifatnya personal sekali, tidak mungkin memaksakan gaya traveler yang suka ke alam lepas dengan gaya jalan-jalan kaum urban metropolis yang lebih nyaman keluyuran keluar masuk mal-mal di kota-kota besar. Aku punya teman yang hoby traveling ke luar negeri tapi yang dituju pusat-pusat perbelanjaannya saja, hmmm…. Nggak aku banget dah! Sorry to say kalo aku ini rada norak, pernah aku nyasar alias tersesat di dalam mal. Hahaha….

Penantian ke Derawan menemui titik terang, di akhir September yang lalu aku harus ke Banjarmasin untuk satu keperluan, aku ingat dengan mimpiku, jika sudah menjejakkan kaki ke Kalimantan, destinasi ke Danau Kakaban, harus ikut disambangi. Mengingat saat ini sedang nge-trend traveling ala Flashpacking, makna simple nya, gaya jalan-jalan serba kilat, hihihi….ini arti versi AMH aja.

Berhubung yang suka flashpacking itu rata-rata anak muda dan para lajang, tentu tidak ada masalah dalam mengatur waktu traveling. Sedikit berbeda dengan diriku yang statusnya emak-emak, mengatur perjalanan yang singkat benar-benar suatu keharusan, mengingat weekendays harus sudah di rumah bersama anak-anak. Jadi aku menamai gaya travelingku kali ini Flashpacking ala Emak !

Jadi buat emak-emak, aku ingatkan jangan kuatir pergi traveling ke tempat-tempat indah di Indonesia, asal dapat ijin dari suami dan siap dengan informasi serta contacy person di tempat tujuan.  Waktu yang aku perlukan untuk kunjungan ke Banjarmasin dan Derawan cukup 4 hari saja (berangkat hari Selasa dan pulang hari Jum’at, rada crazy kalau dipikir-pikir, karena hari Sabtu harus sudah di rumah kembali, maklum namanya juga Emak !), anggap saja waktu traveling kali ini buat survey lokasi dulu, jika okay…aku akan kembali dengan membawa pasukan bodrek, hihihi….

Kunjunganku ke Derawan memakai rute Banjarmasin – Balikpapan – Berau (semua dengan pesawat), sudah kujelaskan di atas, rute dari Banjarmasin itu kuputuskan untuk efisiensi waktu semata, kalau harus balik ke Jakarta dulu benar-benar tidak praktis. Catatan tentang flashpacking di Banjarmasin akan aku buat dalam tulisan terpisah.

Ingat dengan pesan Trinity, Browsing before Traveling, ini wajib dilakukan, berpergian ke tempat-tempat indah di penjuru Indonesia saat ini sangatlah mudah, tinggal click internet, tanya ke mang Google, ketik kata “Derawan” maka segera muncul beragam situs dan blog-blog pribadi yang memuat perjalanan para traveler ke Derawan, lengkap dengan contact person plus nomor telepon mereka, berikut alamat penginapan dan rumah makan yang bisa dikunjungi, nah….mudah bukan???

Aku masuk ke Blog milik Indah Saja  http://ndahsaja.wordpress.com  (thanks Ndah, info dari blog mu bermanfaat buatku) dalam blog ini cukup lengkap memuat informasi yang aku perlukan, aku langsung menghubungi salah satu nomer telpon yang diberikan, milihnya secara random/acak saja. Aku mencoba menanyakan tawaran paket tour yang disediakan, ternyata harganya cukup mahal jika harus aku tanggung sendiri, ya iyalah….murah kalau perginya ramai-ramai, harga bisa patungan bayarnya, masalahnya… aku tidak punya group tukang jalan yang bisa diajak patungan, selain itu kepergianku yang dikaitkan dengan urusan pekerjaan, dilakukan di hari kerja, bukan hari libur. Lengkap sudah…harga mahal dan tidak punya teman jalan pula! Langsung teringat apa kata temanku yang di Balikpapan, bahwa harga paket tournya sama seperti paket tour ke Luar Negeri.

Walau menemui sedikit “tantangan” dari segi budget, aku tidak kehabisan akal, aku cari lagi nomor telpon yang lain, kali ini aku tidak mau pake jasa tour agent, gaya mandiri traveling sudah merasuki diriku sejak keranjingan baca bukunya Trinity, thanks ya sista… gara-gara baca buku-bukumu, aku jadi makin tertantang untuk memilih jalan-jalan ke penjuru Nusantara yang indah ini. Aku menghubungi satu nomer telpon nama contact person Pak Taher (di akhir tulisan aku tulis semua nomor-nomor contact person yang bisa dihubungi), beliau ini khusus mengurus jasa transportasi laut khususnya persewaan perahu, aku perlu informasikan, jasa persewaan perahu ini termasuk biaya yang besar, kalau soal penginapan cukup bervariasi harganya tergantung kemampuan dan selera masing-masing orang.

Tapi khusus jasa persewaan perahu ini tidak bisa milih mau yang murah karena harga bensin yang mahal membuat kita harus faham kenapa budget di bagian ini terasa agak berat. Aku tidak punya pilihan lain, tetap harus bayar sendirian, kalau tetap nekad mau pergi saat itu. Sempat sih nelpon tour agent, untuk bergabung dalam group yang sudah mereka persiapkan, tapi waktu nya tidak matching dengan jadwalku.

Dalam blog Ndah, disebutkan harga persewaan perahu untuk mengelilingi ke 3 pulau favorite di kep Derawan yaitu Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban dan Pulau Maratua, antaraRp.1.200.000,- s/d Rp. 1.500.000,- ( harga di tahun 2010 lho..), itu persewaan dari pulau Derawan, sedang aku minta jemput naik Perahu dari Tanjung Batu, tentu beda harganya. Setelah agak alot tawar menawar lewat telepon, disepakati harga Rp. 1.800.000,- lengkap dijemput dan diantar pulang sampai ke Tanjung Batu kembali. Aku menilai harga sewa boat ini reasonable, mengingat harga bensin di Derawan bisa mencapai Rp. 8.000/liter (info dari Pak Taher), sediih yaaa…. para pelaku bisnis Pariwisata di Derawan khususnya awak angkutan umum darat dan lautan, harus bersabar dengan kondisi keterbatasan bahan bakar serta harga yang jauh lebih mahal dari harga resmi. Di Derawan tidak ada SPBU, jika beli bensin harus di Tanjung Batu, itupun sering kehabisan jatah.

Satu kesalahan fatal yang aku lakukan dalam trip kali ini, tidak melakukan reservasi hotel/penginapan jauh hari, padahal aku menghubungi pak Taher 2 minggu sebelum keberangkatan, termasuk pesan tiket pesawat. Aku pikir perjalananku kali ini dilakukan pada hari kerja, bukan weekendays atau hari libur, ternyata….dugaanku meleset!

Aku baru memesan hotel 2 hari sebelum keberangkatanku, ternyata hotel semua fully booked, ada event besar di Derawan, PT. Berau Coal mengadakan “14th IFRC – Indonesian Fire and Rescue Challenge dari tanggal 16 – 27 September 2011” antar perusahaan-perusahaan tambang yang ada di Indonesia,  duuh….keinget aku sempat ngetawain tamu yang gak dapat kamar saat trip ke Bromo kemarin, huhu…kini kejadian itu menimpa diriku, akhirnya aku harus rela nginep di “Homestay” milik orang tua pak Taher, lumayan deh daripada homeless hehehe… harga yang ditawarkan untuk kamar dengan fasilitas tempat tidur Springbed ukuran King Size plus AC serta dapat minum dan snack di malam hari plus sarapan pagi cukup membayar Rp. 200.000/hari, pak Taher juga membantu urusan transportasi dari Tanjung Redeb ke Tanjung Batu PP, beliau merekomendasikan pak Totok untuk mengantar kami sekaligus menjemput kembali.

Biasanya kalau naik mobil dihitung  Rp. 50.000./orang, tapi di saat Derawan sedang kebanjiran tamu kali ini, jasa angkutan umum ambil kesempatan narik jasa borongan. Mereka minta bayaran Rp.400.000/sekali jalan, untuk waktu tempuh perjalanan selama 2,5 jam, aku bilang mahal amat, kalau di tempatku sewa mobil dengan harga segitu bisa seharian pakai.  Pak Totok memberi kami harga special, Rp.500.000, buat antar jemput PP antara Tanjung Redeb – Tanjung Batu. Jadi total biaya Akomodasi plus Transportasi Rp. 2.500.000,- di luar jajan dan makan-makan, tapi cost makan ini tidak begitu mahal.

Setelah fix harga paket tour ala independen yang aku urus sendiri, beda jauh dengan yang ditawarkan tour agent, hanya untuk sewa boat saja bisa mencapai Rp. 4.500.000,- itu blum termasuk hotel dan transportasi darat. Yah….di satu sisi naluri emak-emak yang hobby nawar memang sedikit menguntungkan, khusus untuk tiket pesawat harga yang aku dapat cukup standart mengingat harga tiket tidak murah, Penerbangan Banjarmasin – Balikpapan – Berau – Balikpapan – Jakarta, tiket yang harus aku bayar seharga Rp. 2.200.000,- (seharga tiket Jakarta – Balikpapan – Berau – Balikpapan – Jakarta). Aku dapat harga sebesar itu saat booking tiket 2 minggu sebelum jadwal keberangkatan. Soal harga tiket ini tidak terlalu aku pikirkan karena ada yang bayarin hehehe…. Jadi aku tinggal pesan, ini sisi untungnya kalau trip sisipan, menyelipkan acara jalan-jalan dalam urusan pekerjaan, hmmm….bagusnya ketemu mitra kerja yang sangat kooperatif.

Berhubung terbiasa traveling bawa rombongan bodrek, saat jalan sendiri berasa sepi, aku mikir siapa yang bisa menemaniku jalan-jalan kali ini, yang pasti harus perempuan, aku milih yang single aja, kalau sesama emak-emak agak ribet exit permit sama pasangannya belum lagi kalau anak-anaknya tidak mau berpisah dengan emaknya. Ada beberapa teman yang aku hubungi tidak bisa ikut karena kesibukan, maklum deh…lha wong rencana trip dadakan model kek aku ini hanya bisa jalan kalau punya jiwa nekat, ikut gaya Trinity, yang penting berangkat urusan selanjutnya lihat saja di lapangan, hehehe… tapi aku kan tidak nekad 100%, buktinya aku sudah mempersiapkan itinerary secara detail.

Akhirnya aku ingat dengan satu nama, cewe tomboy masih single dan hobby traveling juga, aku mengenalnya 2 tahun lalu lewat komunitas citizen journalism, lalu berlanjut kopdar, dia pernah main ke kotaku. Dia baru saja pulang jalan-jalan ke Karimun Jawa, lalu di status jejaring social dia nulis “Mau explore Indonesia”, ini dia…calon tandemku. Aku langsung telpon dia, “Lida, kamu masih punya cuti kerja kah?” maklum dia ini orang kantoran, “Masih ada, emang kenapa Cikdhe ?” dia balik tanya, “Mau ke Derawan nggak?”, “Mau…” jawab Lida antusias, “Tapi hanya 3 hari 2 malam, jadwal kita hari Rabu berangkat dan pulang kembali hari Jum’at”, jelasku.

Lida minta waktu untuk konfirmasi ke pihak kantornya, karena harus ambil cuti 3 hari. Syukurlah Lida dapat ijin, kami lalu sepakat mengurus tiket penerbangan (Lida thanks ya sudah bersedia menemaniku bahkan bersedia bayar tiket pesawat sendiri), untuk urusan tiket pesawat aku serahkan pada Lida, aku tinggal bayar via atm. Berhubung aku ada urusan di Banjarmasin, tidak praktis kalau harus kembali ke Jakarta, Lida mencarikan penerbangan Banjarmasin–Balikpapan-Berau untuk keberangkatanku, sedang Lida langsung dari Jakarta-Balipapan-Berau, kami berjanji akan bertemu di Tanjung Redeb, Berau. Pokoknya aku dan Lida saling kontak via telpon untuk mengatur itinerary, khususnya  saat kami tiba di Berau nanti.

Trip dengan waktu singkat hanya 4 hari (Banjarmasin, Balikpapan, Berau, Derawan) seharusnya tidak perlu bawa banyak pakaian, tapi yang namanya emak-emak, bawa ransel yang ukuran 30 l, rasanya berat banget, padahal isinya sudah dibuat minimalis banget! Baju hanya bawa 4 setel (kemeja 2, kaos 2), celana panjang bawa 2, baju buat renang, jilbab, mukena+sajadah (bahan parasut bisa dilipat sampai kecil banget!), buku bacaan buat di jalan, Camera+aneka chargers, kertas-kertas kerja, plus…sedikit oleh-oleh buat teman, kerabat dan contact person, sebenarnya yang terakhir ini nggak perlu lah…tapi demi menjaga hubungan relasi yang baik, kita lebih baik memberi daripada diberi. Toh beratnya kalau pergi saja, pulang nanti kan kosong, (hahaha…teori, gimana kalau pulangnya beli oleh-oleh dari sana?). Pilihanku untuk memakai ransel demi kepraktisan semata, kalau bawa trolley bag agak ribet jika kita mau lari-larian misalnya nguber pesawat, hihihihi….

Aku meminta pada Lida untuk membawa sedikit snacks/makanan ringan, mengingat harga-harga di lokasi wisata biasanya jauh lebih mahal. Lagian kalau nggak nemu warung di jalan atau di laut kan bisa ada sediaan makanan, yang harus diingat juga, di Derawan tidak ada ATM, jadi aku sudah menyiapkan semua pembayaran dalam bentuk uang cash, secukupnya sih… dari budget Rp. 2,5 juta aku siapkan Rp. 3 juta, yah siapa tahu harus kasih uang tip dan mau jajan makanan kecil. Kalau kata sobatku, dengan budget segitu tidak bisa dibilang backpackers, hihihi….itu namanya traveler, what ever they said – lah…. yang penting bisa jalan-jalan.

Sedikit  catatan, mengingat jadwal trip yang hanya 1 hari untuk mengelilingi 3 pulau sekaligus, tidak bisa berharap banyak untuk diving dan snorkeling, jika ingin melakukan kedua aktivitas water sport tersebut minimal stay 4 hari 3 malam di Derawan. Ada sedikit kekhawatiran jika cuaca buruk tiba-tiba datang, maka alamat bisa jutek seharian tidak bisa kemana-mana, aku sempat bertanya pada pak Taher bagaimana kondisi cuaca di Derawan apakah sedang musim hujan angin, jawabnya simple banget…cuaca di Derawan tidak bisa diprediksi, alamak…. Kalau sudah seperti ini, satu kata yang harus dilakukan….berdo’alah pada Tuhanmu, semoga diberi rizki udara yang cerah agar travelingmu bisa berjalan sukses, hehehe…

Setelah semua confirm petualangan di Derawan dimulai…..dibaca yuuuk….

 

Hari Pertama, Banjarmasin-Balikpapan-Berau

Penerbangan Banjarmasin – Balikpapan pukul 14 wita, aku harus transit selama 3,5 jam di Balikpapan, penerbangan ke Berau baru boarding pada pukul 18.45 Wita, seharusnya aku bisa keliling kota Balikpapan, tapi karena sendiri dan baru pertama kali pula, aku tidak mau ambil resiko ketinggalan pesawat kalau harus keluar bandara, jadi aku habiskan waktu menunggu di bandara sambil baca buku dan membalas pesan-pesan via bbm. Lida sudah tiba di Berau jam 14 siang, dia naik pesawat pagi langsung Jakarta – Balikpapan – Berau,  maunya sih berbarengan berangkatnya tapi karena aku ada keperluan yang berbeda, jadilah kami beda jalur saat berangkat ke Berau.

Jam di tanganku menunjukkan pukul 19.30 malam, saat pesawat Sriwijaya Air mendarat dengan mulus walau landasan pacu agak pendek, bandara Kalimarau (Tanjung Redeb, Berau) terlihat sepi walau bangunannya tampak megah, koq gelap ya..? Rupanya itu bandara yang baru dibangun, sedang bandara yang lama jauh lebih kecil, kami diangkut dengan satu bus menuju bandara lama.

Aku langsung keluar bandara, menanti mobil jemputan, yang kutunggu akhirnya tiba juga, lumayan deh nunggunya, Lida tidak ikut menjemput, hanya pak supir dari perusahaan tambang yang diminta tolong pak Gatot (temannya Lida) untuk menjemputku. Aku ajak ngobrol pak supir, bertanya asalnya dari mana, asli Berau kata dia, tapi parahnya dia tidak tahu Derawan itu seperti apa?! Hahaha….duuuh nelongso amat, orang Berau tapi belum pernah pergi ke Derawan.

Tanjung Redeb adalah kota kecil, untuk mencari losmen yang kami sewa tidak lah susah, setelah ketemu losmennya, pak supir langsung kembali ke base camp nya. Letak penginapan kecil yang dipilih oleh Lida tepat berada di depan sungai Segah yang membelah kota Tanjung Redeb. Sungai Segah termasuk sungai yang sangat lebar, terlihat kapal-kapal pengangkut batu bara berlabuh di tengah-tengah sungai yang tenang itu.

Di Berau banyak terdapat tambang batubara, jika kita lihat dari udara (aku mengintip dari jendela pesawat saat mau landing) tampak area penambangan batubara terhampar luas. Hasil tambang inilah yang menjadi devisa utama Kabupaten Berau, selain itu pemasukan dari bisnis pariwisata di Berau khususnya Kecamatan kepulauan Derawan, menjadi salah satu andalan Kabupaten Berau untuk dikenal secara luas baik di tingkat nasional maupun internasional. Ingat Indonesia bukan hanya Bali tapi ada juga Derawan di Kalimantan Timur.

Losmen yang tidak ada namanya ini cukup murah sewanya Rp. 88.000,-/malam. Sederhana kondisinya, ada 2 dipan, kipas angin dan kamar mandi di dalam, air pam nya agak keruh, mau bagus ada tuh Hotel Bumi Segah, tapi semalam tarifnya paling murah Rp. 450.000,-/mlm. Setelah beberes sebentar, aku mau sholat, karena kamar losmen agak kecil, Lida usul sholat di masjid yang ada di samping losmen. Pergi lah kami ke masjid itu, eh taunya itu masjid dikunci, so aku sholat di pelatarannya saja, masjid ini bangunannya gede lho, bahkan dilengkapi fasilitas mobil jenazah, sumbangan dari perusahaan tambang batubara yang ada di Berau.

Lepas sholat, kami memutuskan mau cari makan malam, berjalan menyusuri jalan di kota kecil ini seperti melontarkan aku ke kota kelahiranku Palembang di tahun 70-an. Rumah-rumah kayu yang sederhana, tapi walau rumahnya biasa-biasa saja, mereka punya mobil-mobil yang bagus punya, sepertinya tidak melihat mobil-mobil jelek di kota ini, bahkan motor-motornya saja bagus.

Efek devisa tambang memang cukup signifikan buat masyarakat kota kecil ini, banyak perantau dari pulau Jawa yang memilih mengadu nasib di kota ini (aku satu pesawat dengan rombongan pekerja tambang, para lelaki yang usianya masih cukup muda antara 18-25 tahun). Ibu pemilik warung nasi yang kami datangi malam itu, asalnya dari Surabaya, kami membeli mie rebus dan mie goreng buat makan malam sama teh manis anget plus sebungkus kerupuk, kami harus bayar Rp. 35.000,- , hmm… lumayan mahal ya, jadi inget aku pernah sarapan pagi di Tegal, nasi ayam plus kopi susu buat  ber 3 orang, hanya Rp. 27.000,- . Tapi aku harus maklum, ini kan IBT (Indonesia Bagian Tengah) dimana kebanyakan bahan makanan harus didatangkan dari P.Jawa, tentu ada biaya transportasi kan…

Setelah makan malam sederhana itu, kami pulang kembali ke Losmen, malam itu udara cerah, sayang banget kalau harus melewatkan malam tanpa menikmati bintang dan rembulan di tepian sungai Segah, bawaannya koq mendadak mellow… sambil mendengar lagu-lagu “Kahitna” lewat my playlist, kalau mau sedikit meriah bisa dengerin lagunya Ayu Ting-ting yang lagi nge-TOP saat ini “Alamat Palsu” hehehe… bagus nie lagu buat yang lagi nyasar di jalan. Udara malam cepat membuat mataku ngantuk, kami berdua kembali ke losmen, sambil menghidupkan alarm di HP ku, biar tidak telat bangun karena besok setelah sholat subuh harus ke Tanjung Batu, untuk memulai petualangan mengelilingi Derawan yang Indah. Sebelumnya aku sudah menelpon pak Totok untuk memastikan dia sudah siap menjemput kami pukul 5 pagi.

bersambung…

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

48 Comments to "Derawan Menawan (1)"

  1. Putri Awliani Mardia  28 July, 2012 at 22:32

    mba,, boleh minta CP nya pak taher gak??
    mohon di balas ya mba..
    makasih

  2. Adhe  3 November, 2011 at 11:08

    @Aji……bacca parrt 3 dari tulisan ini ddi Baltyyra juga. Tttrims.

  3. aji  3 November, 2011 at 08:25

    Derawan…. semoga Maret tahun depan jadi kesana… Need info untuk CP pak Taher nih.. :p Rencana rute saya Jkt-Balikpapan-Berau–Tanjung Batu–Derawan. Butuh saran nih dan CP akomodasi + transportnya. Rencana 5 hari.

  4. mochtar  20 October, 2011 at 15:51

    pictures please, we used to be there many times. its remind my memories all

  5. Adhe  16 October, 2011 at 06:06

    Buat JC thanks ya…sudah meralat tulisan Filipina-nya hehe…

  6. Adhe  15 October, 2011 at 07:42

    @cik Lani…..naik boat itu sebenarnya kurang nyaman tapi mau gimana lagi, kalau nggak naik speed boat nggak bisa lihat pulau2 cantik itu hehehe….ya trima nasib deh.

    @mba Mawar, makasih yaa,,,sudah sempatin baca artikel ini.

    Kepada para pembaca yang terhormat…..mohon maaf, aku mau mengkoreksi kesalahan yang tercantum dalam artikel ini :
    1. Palau itu bukan di Filipina tetapi berada di Rep. Palau….(baca artikel mpek Dul di Baltyra juga, makasih ya mpek Dul, trus makasih juga dengan mba Trinity yang mengingatkan via inbox FB).
    2. Rute Penerbangan Jakarta – Samarinda sampai saat ini belum ada yg direct/langsung, masih melalui Balikpapan. (trims pak PH sudah bantuin koreksi).

    Tabik…
    AMH

  7. Mawar09  14 October, 2011 at 21:39

    Adhe: terima kasih ya sudah di ajak jalan2 ke Derawan. Kelihatan asyik ya, mungkin aku belum berani kesana karena takut naik speed boat, apalagi kalau lama. Ditunggu ya lanjutannya.

  8. Lani  13 October, 2011 at 12:35

    DERAWAN bak surga diawan…….cm baca perjalanannya kok jd ciut diati……..apalagi naik speedboat mana tahaaaaaan bakal muntah2…….jd ingat ktk mengikuti sunset dinner cruise yg cm muterin Kailua Bay udah pusing2……pdhal disediakan makanan……….tp ndak bs kemakan, krn perut spt diremes-remes……..rugi ndak makan……..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.