Alamat Palsu

Ida Cholisa

 

Sejak internet mewarnai hariku, aku dilanda rasa penasaran tak menentu. Setiap saat yang kulakukan adalah searching keberadaan seseorang yang berpuluh tahun lalu ada dalam kehidupanku. Kuketik nama akademi di mana ia menempuh studi. Kukira-kira angkatan tahun berapa ia. Kucari namanya, begitu seterusnya.

Tak pernah lelah aku mencari. Siang malam aku berselancar mencari keberadaannya. Hingga tak sengaja kudapati jejak situs alumninya. Di sana terpampang berpuluh nama, lengkap dengan nomor handphone yang tertera…

Aku berteriak. Yes, ini dia yang kucari, ini dia yang kucari….

Aku berlari mengambil hape butut. Dalam sekejap meluncurlah dua kalimat;

“Hai, kau kan Indra Priya kakak asuh yang pernah kukenal dua puluh tahun silam? Aku Lusia Maharani, adik asuhmu.”

Tiba-tiba hape berbunyi. Dari nomor yang barusan aku kirim SMS. Kak Indra! Ya, Kak Indra!

“Hallo…..,” aku membuka suara.

“Ini Lusia, betul Lusia Maharani?” suara di ujung telepon membelai telinga.

“Betul saya, Lusi, Kak….,” jawabku penuh suka cita.

“Lusi…., bagaimana kabarnya…..”

Sungguh, pertemuan via udara itu memberiku kegembiraan tiada tara. Ia kakak asuhku, Indra Priya, kini telah kutemukan setelah pencarian panjangku…

Kami saling berkirim SMS kemudian. Rindu yang menggelegak pun tertumpahkan. Cerita lama yang terkubur sekian lama pun terkuak kembali. Kerinduan itu melambungkan segenap perasaan dan gegap gempitanya hati.

Begitulah. Aku menemukan kembali mutiara yang hilang selama puluhan tahun. Mutiara yang tenggelam setelah satu windu menemaniku dalam cerita di dunia maya. Ya, kami hanya berkomunikasi melalui udara. Pada surat demi surat yang setia kami kirimkan, terpahat banyak cerita manis yang terlalu sukar untuk dilupakan…

Aku bertemu Kak Indra hanya sekali dalam hidupku, dua puluh tahun lalu. Kebersamaan penuh warna kami hanya tercipta melalui bahasa tulisan belaka. Tapi kedekatan di antara kami tak terlukiskan oleh pena atau kata. Kami saling memberi dukungan atas segenap cita-cita. Hingga kemudian kedekatan itu terpenggal setelah Kak Indra menyunting seorang perempuan. Aku pergi kemudian, sebab hatiku menyimpan lara tertahan atas cinta diam-diam yang aku pendam…

Aku melangkah pergi, meninggalkan kisah cinta Kak Indra yang memerihkan hati. Tiga tahun setelah Kak Indra menikah, aku pun melangkah ke pelaminan…

***

Dua puluh tahun sudah aku tak bertemu Kak Indra. Lelaki gagah yang kukenal sekali seumur hidupku itu kabarnya bertugas di Kalimantan. Entah mengapa hatiku masih saja menyimpan nama lelaki itu. Padahal aku tahu persis telah ada wanita lain di sisinya, dan telah ada pria lain di sisiku. Hm, cinta lama memang terkadang susah untuk dihapus. Meski kisah cintaku ini hanya cinta bertepuk sebelah tangan. Cinta sepihak di mana Kak Indra tak pernah mengetahui sisi perasaanku yang terdalam…

Bisa ditebak, kehadiran kembali Kak Indra memberiku nuansa baru. Aku seperti menemukan kembali pelangi cinta yang dahulu kerap melukis langit hatiku. Cinta tertahan yang selalu memberiku inspirasi hingga tertuang beragam cerita tentang masa lalu. Hingga kemudian tersembul kata hati yang tak mampu lagi aku pendam; aku masih menyimpan sekuntum bunga cinta untuk lelaki gagah itu, jauh di sudut hatiku.

Bunga cinta itu bersemi dengan indahnya. Hingga kemudian sebuah pesan masuk dalam inbox-ku. Dari seorang perempuan yang tidak aku kenal. Ia memperingatkan banyak hal tentang hubunganku dengan Indra Priya, yang tak lain adalah suaminya. Selanjutnya, Indra menjaga jarak denganku. Ia jarang membalas SMS-ku, dan ia katakan bahwa ia takut hubunganku dengannya akan menimbulkan syak wasangka yang tidak diinginkan.

Tapi aku tetap bertahan. Kukagumi Indra seperti biasa, mengabaikan lelaki di sampingku, dan perempuan di sampingnya.

Kukirim banyak CD yang berisi rekaman saat aku berada di atas panggung. Ya, aku Lusia Maharani, artis daerah yang mencoba langkah baru memasuki dapur rekaman. Lewat Didit anak buah Indra yang kukenal melalui dunia maya, aku banyak mengirimkan CD untuk Indra. Melalui Diditlah aku tahu bahwa Kak Indra menyukai lagu-laguku di dalam CD itu.

Sudah tiga album dangdut yang aku keluarkan. Album pertama sukses sampai ke tangan Kak Indra. Album kedua pun sama. Tapi album berikutnya aku dilanda bingung tak terkira. Didit, teman terbaik yang selama ini menjadi “kurir” tukang antar paket CD-ku ke alamat  Kak Indra tiba-tiba saja pindah tugas ke pulau Sumatra. Terus-terang aku dibuat kalang-kabut tak terkira. Bagaimana aku bisa mengirim paket CD selanjutnya?

Aku mencoba mengontak Kak Indra melalui nomor handphone. Sudah lama aku tak berkomunikasi dengannya. Rasa takut lelaki  itu pada cemburu berat istrinya menjadikan ia tak pernah lagi membalas SMS-ku. Hingga lelah aku menunggu. Hingga kebosanan menerpaku, bosan menunggu balasan SMS Kak Indra yang tak pernah lagi sudi menjawab pesan singkatku.

“Kak Indra, bagaimana kabarnya? Boleh saya minta alamat rumah Kak Indra untuk saya kirimi CD album terbaru saya? Thanks yaaa….”

Kukirim pesan singkat itu, berharap Kak Indra memberiku alamat baru. Yang kutahu dari Didit, Kak Indra juga telah berpindah tugas. Kutunggu balasannya, hingga kemudian sebuah pesan singkat masuk.

“Bukit Harapan Elok RT 02 RW 03  Banjarbaru, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.”

Kusimpan alamat itu. Berharap secepatnya aku bisa mengirimi paket CD album ketigaku, dan berharap agar Kak Indra semakin terkagum-kagum melihat karya besarku, hm…

***

Sembilan hari sudah aku mengirim paket CD kepada Mas Indra. Tapi hingga detik ini tak kudengar sanjungan atau ucapan selamat lelaki itu pada kemampuan olah vocalku. Sudahkah CD-ku ia terima? Mengapa ia sama sekali tak membuka suara?

Tepat di hari ke sepuluh, aku dikagetkan dengan suara Pak Pos di jalan depan rumahku.

“Maaf Mbak, alamat atas nama Indra Priya  kurang lengkap, paket Mbak terpaksa kami kembalikan lagi.”

Kurang lengkap? Bukankah alamat  yang kutulis sama persis  seperti yang tertera pada pesan masuk Kak Indra? Aku tak habis pikir sesudahnya. Aku mulai ragu dengan alamat baru yang ditulis oleh Kak Indra. Jangan-jangan…., ah!

Keraguan menyergap hatiku. Kutanyakan alamat baru sang komandan pada Didit sang bawahan, ia tak mau menjawab. Kucoba mengontak Indra, tetap tak ada jawaban. Akses untuk bisa mengetahui keberadaani Kak Indra ternyata luar biasa sulitnya. Kesibukannya mengemban tugas negara itu salah satu alasannya.

Hingga suatu ketika aku mendapat kesempatan untuk terbang ke  Kalimatan. Saudara sepupuku, anak Budhe dari ibuku, akan melangsungkan pernikahan. Mengetahui aku telah menelurkan beberapa album, Budhe langsung mendaulatku untuk naik ke atas panggung. Hiburan organ tunggal yang disediakan untuk para tamu undangan seketika ramai oleh tepuk tangan  begitu aku melantunkan tembang yang tengah hits di telinga penonton. Aku turun dari panggung dengan senyum tersungging. Tiba-tiba seseorang mendekatiku saat langkahku menuju kursi undangan.

“Lusia, kau sampai di sini? Lama tak kuterima album berikutmu, kau telah lupa padaku?”

Bagai disengat sekawanan lebah tubuhku bergetar dengan hebatnya. Sungguh tak pernah kuduga bahwa aku akan berjumpa ia. Kak Indra!! Aku yakin benar ia Kak Indra Priya. Garis tegas wajahnya, rahang kuatnya, dan sebaris nama yang melekat pada dada bidangnya meyakinkanku bahwa ia memang Kak Indra. Ternyata ia komandan suami saudara sepupuku, dan bersama anak buahnya ia menghadiri pesta pernikahan ini…

“Lusia? Tak kau jawab pertanyaanku?” ulangnya sambil tak lepas menatap mataku.

Sungguh, mataku liar menelanjangi wajah lelaki yang pernah kukagumi itu. Kecipak rindu memenuhi kolam hatiku. Sungguh, hatiku sedikit pun tak berubah pada lelaki gagah itu. Aku cuma heran, mengapa ia masih bisa mengenaliku. Lewat CD berisi album lagu dan goyang dangdut yang aku kirimkan itu barangkali ia mampu mengenaliku.

“Aku telah mengirimkan paket berikutnya untukmu, tapi ia kembali lagi ke tanganku. Alamat yang kau beri ternyata palsu!” jawabku ketus.

“Alamat palsu? Alamat yang mana? Aku pernah berniat  memberikan alamat ke kamu, tapi belum sempat SMS yang berisi alamat itu kukirim,  mendadak aku ada urusan lain. Saat hendak kukirim, pesan itu telah terhapus. Karena kesibukan yang amat padat maka aku lupa untuk mengirim kembali alamat itu kepadamu.”

Kak Indra meyakinkan padaku bahwa ia tak berkata bohong.

“Tapi aku telah mendapat alamat darimu, satu hari setelah aku mengirim SMS yang berisi permintaan alamat barumu. Aneh. Lantas siapa yang mengirim alamat itu padaku?” kataku dengan nada sengit.

Kak Indra memintaku untuk menunjukkan SMS yang berisi alamat itu.

“Sudah kuhapus, tapi aku masih ingat alamat itu,” kusebutkan nama alamat yang pernah terkirim di hapeku, beberapa bulan lalu.

Lelaki itu mengernyitkan keningnya.

“Aku tak pernah menulis alamat itu, Lusi. Dan itu bukan alamatku…”

Aku terperangah.

“Lantas siapa yang mengirim alamat itu memakai nomor handphone-mu? Aneh…..!” sergahku.

“Entahlah, aku sendiri tak tahu…”

Aku terdiam. Ia pun diam. Hingar bingar musik organ tunggal tak lagi menarik perhatian.

“Oooo….., kalian di sini rupanya, ya? Hm…, janjian lewat apa? Kau masih memberikan nomor hape ke wanita itu, Mas Indra? Sudah kusikat hapemu, ternyata kau masih bisa menjalin hubungan dengan perempuan itu….” berapi-api seorang  wanita melampiaskan amarah kepada kami.

“Maaf, anda siapa??” tanyaku.

“Belum tahu, ya? Aku Intan, istri Mas Indra. Kau Lusia, kan, perempuan yang selama ini menggoda suamiku? Aku tahu benar wajahmu, berulang kali kau kirim CD berisi rekaman lagu-lagumu. Tak tahu malu, punya wajah pas-pasan saja berani-beraninya mengirim kaset penuh gambar muka murahan itu. Cuih!” ia meludah tepat di depanku.

“Intan!!!” Kak Indra membentak perempuan itu yang tak lain adalah istrinya.

“Kau membelanya? Iya, kau lebih membelanya daripada membela aku, istrimu?!!”

Suasana semakin panas. Hingar-bingar musik memekakkan telinga. Kak Indra beringsut, membawa kami ke sebuah tempat sepi, jauh dari keramaian tamu undangan.

“Kau malu Mas, aibmu aku buka di depan anak buahmu?” perempuan itu masih meletupkan amarahnya. Aku diam menunduk.

“Dengar Intan, aku tak sengaja bertemu Lusi. Dia sepupu istri Dedy, anak buahku itu. Jadi, kau jangan berpikir yang tidak-tidak,” Kak Indra berusaha menjelaskan permasalahan yang sebenarnya kepada perempuan tersebut.

“Seribu alasanmu tak mampu membuatku percaya padamu!” tukas wanita itu.

“Dan kau Lusi, apa yang kau harap dari Kak Indra? Dia suamiku, dan kau juga mesti tahu diri kalau kau telah bersuami!”

Sekali lagi aku hanya diam, tak menjawab sepatah kata pun…

“Intan, lantas siapa yang mengirim alamat palsu pada Lusi? Bukankah handphone-ku telah kau ambil? Jangan salahkan aku kalau aku berprasangka bahwa kaulah pelakunya. Benar, Intan?”

Intan tertawa dan mencibir suaminya.

“Kalau ya, kenapa? Aku muak melihat kalian saling berhubungan melalui SMS. Aku kesal perempuan murahan ini sering mengirimkan paket CD, aku kesal!

“Tapi mengapa mesti kau beri ia alamat palsu? Kau tak kasihan, Intan?” Kak Indra menatap wajah pualam istrinya.

“Kasihan? Bahkan aku belum puas untuk menghajarnya. Yang kuinginkan ia mendatangi alamat palsu itu, demi bertemu denganmu, dan yang ia dapatkan adalah tanah kosong belaka dengan binatang liar yang berkeliaran di dalamnya. Dan ia akan mati dilumat binatang-binatang buas dan liar itu. Baru aku puas!’

Aku mundur selangkah. Perempuan itu semakin marah. Wajahnya mendadak bengis.

“Sekali lagi kau ganggu suamiku, tak segan-segan aku mencincangmu!!”

Ia mengancam dengan suara sangat keras. Entah mengapa, kekuatan dari mana, tiba-tiba saja aku berani membuka suara.

“Dengar, Nyonya. Aku tak mengganggu suamimu. Ia hanyalah bagian dari masa laluku. Ia cinta tersembunyiku. Maka sekarang pun aku tetap menjadi pengagum tersembunyi. Aku tak mengharapkan lebih atas suamimu, yang kuinginkan ia tahu apa yang telah kucapai selama ini. Tak lebih dari itu. Toh cinta tak harus memiliki, bukan? Kau tak bisa menahanku untuk tak menaruh hati pada suamimu, pun kau tak bisa menghalangi suamimu untuk tak mengagumi kelebihan suaraku. Kami hanya berbiacara melalui hati saja, tak lebih dari itu.”

Ia semakin murka.

“Apa pun alasannya, aku tak pernah memberimu tempat untuk berhubungan dengan suamiku. Titik!”

Wanita itu menarik tangan suaminya. Meninggalkanku yang terpaku dan termangu…

***

Aku telah meninggalkan kota Banjarmasin. Kembali aku berkutat dari satu panggung ke panggung berikutnya. Artis daerah asal Karawang macam aku ini telah banyak menggoyang kota kecilku. Dan sebentar lagi aku berencana hijrah ke kota Jakarta. Hm.

Karierku makin menanjak. Seiring berjalannya waktu, seiring membludaknya tawaran manggungku, makin sedikit ruang di kepalaku untuk menyimpan nama Kak Indra seperti beberapa waktu lalu. Kesibukanku tak terhitung. Bahkan suamiku pun turun tangan menjadi manajer pribadiku. Hingga suatu saat…

“Lusia, kapan kau mengirim kembali paket CD album terbarumu? Aku sertakan alamat lengkapku, ya?  Aku Indra, ini nomorku yang baru. I miss U, Lusia.”

Uh! Persetan dengan semua alamat itu. Tak kuhiraukan lagi SMS itu, dan aku kembali sibuk dalam show padatku yang menguras energi dan waktuku.

“Lusia, aku tunggu kiriman CD album terbarumu. Kirim ya ke alamatku?”

Aku tersenyum kecut membaca SMS yang kerap memenuhi layar hapeku. Kembali tak kuhiraukan ia. Kembali aku melantunkan suara merdu dan menggoyangkan pinggul indahku…

Saat kunikmati kesunyian dan istirahat malamku, sering aku teringat pada Kak Indra-ku. Aku masih terus mengagumi dan mengingatnya, meski tak lagi aku mengirim paket CD album baru kepadanya. Aku takut alamat yang terkirim di hapeku adalah alamat palsu. Dan aku takut yang mengirim SMS itu bukan Kak Indra-ku, melainkan istrinya yang super galak dan sadis itu…

Hm.***

 

Bogor, 2011-

 

14 Comments to "Alamat Palsu"

  1. Oscar Delta Bravo USA.  13 October, 2011 at 22:50

    Ida,daripada mubasir ituCDnya kirim dong ke Amrik,pasti deh saya mendengarkan sambil membayangkan ceritanya yang menarik,bisa ditanyakan ke JC alamatnya di Amrik,pasti bukan alamat palsu.Salam dari Orlando Daytona Beach USA

  2. Meitasari S  13 October, 2011 at 08:33

    Bagus n mengalir skali. Congratz mb ida!

  3. matahari  12 October, 2011 at 13:47

    Cerita yg sangat bagus…penyampaian nya ciamik…entah ini nyata atau fiktif..I dont care yg jelas..kayak gini sedang banyak terjadi apalagi dng adanya FB maniac…segala cinta lama bisa kembali terulang kalau org nya gak kuat nahan diri..apalagi cinta 20 -30 thn lalu justru sering kembali muncul di usia usia 40 ke 50 an…yg konon saatnya puber ke dua….kalau cinta 60 thn lalu mungkin rada susah mengulangnya krn personil nya saat ini pasti udh jompo…alias puber ke 7

  4. Ida Cholisa  12 October, 2011 at 11:31

    heheheheee….
    thanks atas komen-komennya, ya?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.