Menulis Cerita

Wesiati Setyaningsih

 

Dua hari ini aku mengikuti workshop literasi media. Penjelasan tentang literasi media kurang lebih adalah sadar tentang apa yang kita tonton di media. Baik itu iklan maupun acara-acaranya. Sering kali kita tidak sadar apa yang kita tonton. Iklan yang telah mempengaruhi standar kita tentang wanita cantik, lelaki yang tampan, orang yang cerdas atau orang sukses, sering kali tidak kita sadari.

Begitu banyak perempuan yang tidak sadar bahwa mereka merasa tidak cantik hanya karena mereka tidak memiliki ciri-ciri fisik seperti model yang ada di iklan. Siapa bilang setiap orang harus memiliki ciri-ciri fisik yang sama dengan para model iklan? Setiap orang memiliki ciri-cirinya sendiri. Tuhan menciptakan setiap manusia lengkap dengan ciri-ciri mereka sendiri yang tidak mungkin dimiliki orang lain. Tapi iklan sudah membuat kita memiliki satu standar tertentu untuk menilai diri kita.

Begitu juga sinetron-sinetron yang mengabaikan logika penonton. Sungguh tidak menghargai logika realita yang ada. Seorang dokter pribadi bisa menjadi dokter semua penyakit. Padahal di jaman yang makin maju ini, dunia ilmu semakin spesifik. Bahkan kedokteran anak pun bisa terbagi menjadi berberapa cabang ilmu. Tapi di sinetron seorang dokter bisa seperti dukun yang mampu mengatasi semua penyakit. Ini sungguh mengabaikan logika realita.

Kesadaran untuk membedakan mana yang baik dan yang tidak di televisi ini yang mungkin dimaksud dengan tema workshop : literasi media. Apa yang sudah didapat di workshop ini harus ditulis dalam bentuk dongeng atau cerita anak. Setiap peserta yang terdiri dari 10 orang harus menulis satu cerita. Kalau hari pertama diisi dengan apa itu literasi media, maka hari kedua setiap peserta harus menampilkan tulisannya. Lalu teman-teman yang lain memberikan komentar.

Ini yang tidak mudah. Aku agak malu menunjukkan tulisanku. Aku belum piawai menulis cerita anak atau dongeng. But the show must go on. Bagaimana lagi? Aku sudah ‘nyemplung’ ke sini. Butuh sebuah rasa percaya diri untuk menunjukkan tulisan yang langsung dikomentari. Apalagi aku mendapat giliran pertama.

Aku kemudian mendapat masukan yang bagus dari teman-teman. Bagaimanapun setiap orang selalu bisa menulis. Tapi seorang penulis sangat butuh masukan dari orang lain untuk menguji apakah tulisannya mudah dipahami, juga apakah alur ceritanya logis atau tidak. Ini sangat penting. Tidak jarang kalau sedang menulis, kita hanya menggunakan logika kita sendiri. Tak jarang kita tiba-tiba membuat solusi yang membuat cerita jadi mudah dan segera berakhir. Padahal untuk pembaca, cerita jadi tidak logis dan tidak pas.

Setelah giliranku, satu persatu teman-teman lain mendapat gilirannya. Aku tak lagi kecil hati karena sebagus apapun tulisan itu, tetap saja ada hal-hal yang bisa diperbagus lagi. Apalagi kami semua menulis dengan terburu-buru. Ide yang muncul segera ditulis. Tanpa pengendapan yang cukup, karena satu tulisan harus diselesaikan semalam. Jadi ‘share’ seperti ini memang sangat penting.

Begitulah. Akhirnya memang aku harus berani membuka lebih membuka diri untuk menunjukkan tulisanku pada orang lain. Kritikan dan masukan harus diterima dengan besar hati. Keterbukaan memang mendewasakan dan bisa membuat kita bisa menjadi semakin baik. Tertutup atas kritikan dan masukan hanya menjadikan kita tidak akan maju kemana-mana.

 

lespi, 8 oktober 2011

bersama mas budi, mas harris, pak sigit, mbak ina, prima, mas wiwien, babahe, pak mulyanah, mas doni, pak ajang dan mbak latree.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Menulis Cerita"

  1. Linda Cheang  13 October, 2011 at 14:35

    menulis, ya, menulis saja. gitu ajah, koq, repot? hehehe

  2. Dj.  13 October, 2011 at 00:59

    Terimakasih mbak Wesiati….

    Sampai sekarang Dj. belun juga bisa nulis…
    Baru bisa mengoret-oret saja…..
    Tapi untuk nonton yang lucu-lucu, tanpa banyak mikir… Itu Dj. sangat senang…
    Sejenak pikiran bisa relax….

    Salam Sejahtera dari Mainz…

  3. Reca Ence Ar  12 October, 2011 at 22:05

    Pelajaran penting malam ini
    makasih mba Wesiati, ditunggu hasil workshop hari ke 2

    salam semangat selalu

  4. Handoko Widagdo  12 October, 2011 at 12:53

    SAWI adalah sayuran yang paling banyak dipakai dalam cerita berbahasa Jawa. SAWIjining dina…

  5. nu2k  12 October, 2011 at 12:24

    Mbak Wesiasih, 2 hari mengikuti workshop literasi media tanpa didasari dan dibarengi dengan pengetahuan yang cukup dari para pengikutnya, hasilnya saya kira tidak banyak… Mudah-mudahan dalam waktu yang singkat tayangan anda di hari kedua workshop bisa tersajikan di Baltyra untuk pembaca semua…..Murni hasil tulisan dalam hari kedua ya… ha, ha, haaa… Selamat mempraktekkan hasil workshopnya…. werkt ze en dag dag nu2k

  6. [email protected]  12 October, 2011 at 11:43

    jadi tulisannya akan dipamerkan di baltyra jg….??

    ditunggu….

  7. J C  12 October, 2011 at 09:56

    Mbak Wesiati, menurut aku, para penggemar sinetron memang sudah meletakkan logikanya ke samping dulu sebelum nonton. No offense bagi penggemar sinetron ya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *