Derawan Menawan (2)

Adhe Mirza Hakim

 

Hari Kedua, Tanjung Redeb-Tanjung Batu-Derawan

Tepat pukul 5 pagi, pak Totok menelponku, dia sudah berada dekat losmen kami, alhamdulillah.. pak Totok orangnya baik dan suka bicara, usianya sekitar 35tahun aslinya orang Tanjung Batu, profesinya sebelum jadi sopir travel adalah nelayan. Perjalanan Tanjung Redeb – Tanjung Batu ditempuh 2,5 jam perjalanan terasa singkat, walau pemandangan yang kami temui sepanjang jalan terasa agak membosankan, hanya hamparan hutan dan bukit, kondisi jalan yang lumayan mulus walau ada beberapa bagian jalan yang berlobang dan masih dalam taraf perbaikan. Armada mobil-mobil pekerja tambang sudah hilir mudik sejak pagi hari. Kami sempat mengabadikan satu lokasi pertambangan batubara yang sempat kami lewati.

Kata pak Totok, kondisi keamanan di Berau sangat kondusif, tingkat kriminalitas sangat rendah, karena masyarakat tidak kesulitan mencari lapangan pekerjaan. Kalau mau jalan malam pun nggak apa-apa, awalnya aku mau milih menginap di Tanjung Batu, tapi berhubung dapat info perjalanan ke Tanjung Batu tidak aman kalau malam, membuat aku mengurungkan niat bermalam di Tanjung Batu, akhirnya bermalam di Tanjung Redeb.

Di Berau, yang sulit itu justru pasokan bahan bakar kendaraan. 3 tahun terakhir ini para awak angkutan umum harus banyak bersabar dengan kondisi yang serba tidak pasti ini. Di luar SPBU bahan bakar bensin bisa Rp. 8.000,-/ liter. Miris ya..kalau mendengar bahwa Berau sangat dekat dengan Balikpapan yang banyak tambang minyak mentahnya. Pak Totok sempat curhat, kalau mau menaikkan ongkos kendaraan resikonya dijauhin penumpang, akhirnya tetap bertahan dengan harga lama, walau hanya dapat untung sedikit.

Cuaca pagi itu agak mendung, semakin mendekati Tanjung Batu, langit terlihat gelap, bakal hujan besar pikirku dalam hati. Sampai juga kami di Tanjung Batu, Pelabuhan/Dermaganya cukup besar, ada kantor perwakilan olahraga berlayar disana. Dulu saat Kaltim menjadi Tuan Rumah PON, 2 tahun yang lalu, Berau sebagai daerah untuk pertandingan olahraga berlayar. Kami tidak bisa langsung menyebrang ke Derawan, karena  hujan deras. Huhuhu…alamat kesiangan dan waktu buat explore ke 3 pulau otomatis berkurang. Tapi aku tetap selalu berpikir dan berprasangka positif, bahwa Allah akan selalu memberi waktu yang terbaik buat kami agar selamat dalam perjalanan menikmati alam ciptaan-NYA. Pak Totok yang mantan nelayan, menenangkan kami, dia bilang biasanya selepas hujan lebat, laut akan teduh/tenang, tidak berombak, jadi cuacanya sangat bersahabat buat berlayar, aamiin…. Segala sesuatu indah pada waktunya.

Pak Totok, menawarkan kami untuk makan pagi di warung yang ada dekat dermaga (lupa catat nama warungnya), kata beliau warung ini paling enak dan bersih kondisinya, kami ikut saja apa saran dari local people. Aku pesan nasi goreng, cumi goreng dan kopi susu, Lida dan pak Totok pesan nasi putih biasa. Makan pagi kali ini rasanya nikmat banget, nasi goreng pake sosis, trus cumi gorengnya enak banget. Semua makan yang kubayar Rp. 45.000,-  buat ber-3, lumayan tidak mahal menurutku apalagi rasanya juga enak.

Sambil menunggu hujan reda, aku bilang ke Pak Totok, mungkin baru bisa nyebrang ke Derawan sekitar pukul 10 pagi, eh bener ternyata hujan reda pukul 10. Hihihi… Kata pak Totok koq aku bisa nebak cuaca, kata Lida, “maklum pak, ibu adhe ini tukang jalan, jadi kalo urusan nebak-nebak cuaca feelingnya bagus”, Alhamdulillah sesuatu banget ! Ternyata bukan kami saja yang sendirian ke Derawan siang itu, ada 3 orang anak muda yang tampaknya turis dari Jakarta juga, yang ingin main-main ke Derawan.

Bosan menunggu di warung, kami segera keluar menuju dermaga, hujan masih agak gerimis, kami menghabiskan waktu buat foto-foto dulu sebelum speed boat kami datang menjemput. Dermaga Tanjung Batu cukup ramai, dengan rombongan tamu-tamu dari perusahaan tambang seluruh Indonesia, yang akan melakukan kompetisi/lomba ketangkasan underwater rescue and fire challenge.

Pak Totok sempat berkisah tentang asal usul nama-nama pulau yang akan kami kunjungi itu, Pulau Derawan (Perawannya), P. Sangalaki (Lelakinya), P. Kakakan (Kakaknya) dan P. Samama (Emaknya) hehehe…lucu juga ya. Orang-orang di Pulau Derawan lumayan relijius, sebagian besar muslim, mereka sangat senang sekali kalau ada Ustadz atau Ustazah kondang dari Jakarta yang mau bertandang ke Derawan, daripada undang artis mending undang Da’i atau Kyai…(ini kata beberapa supir yang aku ajak ngobrol di dermaga Tanjung Batu, menanggapi hiburan artis-artis yang akan datang ke Derawan dalam acara Indonesian Fire and Rescue Challenge tsb) hmm…pak Ustad Uje dan mamah Dede, main ke Derawan dong. Sebelum naik boat  aku janjian sama pak Totok untuk menjemput kami lagi esok harinya saat pulang.

Jam 10.30 boat nya datang, aku sempat kaget sama boatnya yang jauh lebih kecil dari bayanganku, Hiiiiiii…koq berasa seram ya, sampai lupa mau pakai safety jacket. Untung belum jauh ke tengah laut, aku cepat-cepat pakai jacket pelampung biar tidak  scary aja. Speed boat yang kami tumpangi ukurannya kecil, kalau kata supirnya (Iskandar, namanya) boat ini bisa membawa 5 penumpang plus 1 supir. Hmmm….keknya overload deh kalo bawa 5 orang, lha aku pikir maksimal 3 penumpang cukup, aku dan Lida duduk di belakang, supirnya di depan sendirian.

Mulailah perjalanan 30 menit menyebrangi lautan menuju ke pulau Derawan. Cuaca yg masih agak mendung serta agak berangin, membuat laju speed boat kami melompat-lompat bak roller coaster di atas gelombang ombak, hihihi….asli menimbulkan sensasi adrenalin yang memuncak dan hanya bisa diatasi dengan berteriak-teriak buat mengatasi rasa takut itu. Salut sama Lida yang duduk dengan kalem dan tenang, padahal katanya dia tidak bisa berenang, tapi punya nyali naik boat di lautan lepas, hebaaat…deh temanku yang satu ini, jujur saja selama naik boat aku selalu memegang tangan Lida, hihihi….alasannya satu biar badanku yang kurus ini tidak mental jika boat harus terlompat melawan ombak lautan. Aku tidak minum antimo ataupun jamu tolak angin, sebenarnya tidak beli dan tidak perlu minum juga, tubuhku cukup kooperatif dengan kondisi cuaca di lautan, justru yang harus kuatasi itu perasaan takut dengan ombak laut.

Saat kami berada di tengah laut tiba-tiba muncul ribuan ikan-ikan kecil yang berlompatan di sisi boat kami, waah kereeen banget! Dari buku dan tulisan yang sempat aku baca, di perairan kepulauan Derawan banyak dihuni beragam jenis ikan bahkan katanya ribuan jenis, ada ikan Barakuda dan ada satu jenis ikan pari raksasa yang banyak dicari para divers yaitu “Manta Ray”, ikan ini suka seliweran di perairan Derawan, khususnya di Pulau Sangalaki. Ada juga ikan hiu (shark) hiii…sereem amat ya kalau ketemu mereka, kita juga bisa menemui ikan lumba-lumba yang sering muncul di perairan antara pulau Kakaban dan pulau Maratua.

Boat kami tiba di Derawan pukul 11 siang, deretan cottages tepi pantai yang cozy terlihat manis dari atas boat  yang kami tumpangi, hiiikkkss sayang banget aku belum bisa nginep di sana. Kami bertemu pak Taher yang sudah menanti di atas perahu nelayannya, usianya sekitar 45 tahun, wajahnya typical orang Bugis walau dia mengaku asli Bajau, sebenarnya di Pulau Derawan sebagian besar penduduknya keturunan suku Bajau, yang memang dikenal sebagai suku Pelaut. Aku dan Lida tidak sabar langsung foto-foto, hehehe…ampuun bawaan narsis susah banget hilangnya.

Setelah mengabadikan beberapa pose, kami diantar Iskandar menuju ke Homestay yang letaknya hanya 100 meter dari tepi pantai. Rumah permanen dua lantai ini ada warung kelontongan di depannya, aku intip warungnya ada freezer minuman dingin, asyik ada Teh Kotak minuman faveku.

Kami berkenalan dulu dengan ibunya pak Taher (maaf  lupa nanya nama, kami taunya itu ibunda pak Taher), aku menyerahkan sedikit oleh-oleh kepada beliau yang diterima dengan senang hati, kami dipersilahkan masuk dan melihat kamar kami, lumayan lah ada AC dan Springbed ukuran king size serta lemari pakaian yang berkaca.  Maunya sih jendela kamarnya bisa memandang laut, tapi ini yang terlihat hanya rumah penduduk setempat. Tetap bersyukur masih dapat penginapan, kami meletakkan ransel dulu di kamar, dan membawa sedikit barang dan camera buat melintas pulau-pulau. Makan siang berupa nasi kotak sudah disiapkan oleh pak Taher, pokoke kami tinggal makan. Mana mungkin mau nemu warung nasi di pulau terpencil itu, tujuan kami adalah 3 pulau, Sangalaki, Kakaban dan Maratua.

 

Pulau Sangalaki

Pukul 11.30 kami mulai mengarungi lautan kembali, Derawan – Sangalaki ditempuh selama 45 menit. Aku sempat memperhatikan Iskandar mengemudikan speed boat dengan cekatan, kalau di darat bisa diandaikan dia supir angkot yang lincah tahu cara menghindari jalan yang berlubang, di laut dia tahu cara melalui ombak dan mengendalikan laju speed boat tetap seimbang, aku cukup tenang dengan caranya membawa speed boat.

Pukul 12.15 kami tiba di Sangalaki, berhubung aku mau sholat maka Iskandar menyarankan aku untuk mengambil wudhu di rumah Jagawana (Posko Pemantau Lingkungan milik Dinas Kehutanan) yang ada di Pulau Sangalaki, ada persediaan air tawar disini, fasilitas posko ini cukup lengkap ada genset buat mengalirkan listrik, ada parabola mini keluaran Telkom, bahkan ada sinyal handphone, jejakmu tetap terpantau walau ngumpet di Sangalaki hihi.. , kabarnya beragam fasilitas di sini sebagian bantuan dari negara Jerman, yang sangat mendukung konservasi Penyu Hijau.

Pantai di pulau Sangalaki benar-benar indah, pasirnya putih bersih, kami foto-foto dulu sambil menikmati keindahan alam yang sulit aku ungkapkan biarlah lewat foto-foto yang sempat aku abadikan bisa menjadi tanda kebesaran Tuhan memberi alam Indonesia yang super duper indah!!!

Karena jadwal kami terpenggal cuaca hujan, tentu tidak bisa berlama-lama di pulau Sangalaki masih ada 2 pulau yang harus didatangi, makanya aku segera sholat jama’ qoshor dzuhur – ashar, para Jagawana di sana baik-baik semua, aku dikasih ijin sholat di kamar mereka.

Selepas sholat, aku sempat motret  rumah Jagawana yang ada foto-foto penyu hijau, karena posko Jagawana ini khusus untuk menjaga habitat penyu hijau yang banyak bertelur di Pulau Sangalaki. Pulau ini merupakan kawasan alami konservasi penyu. Setiap malamnya hampir 50 ekor penyu menuju pantai untuk bertelur, Pulau Sangalaki merupakan habitat terbesar penyu hijau di Asia Tenggara, juga termasuk pusat habitat Pari Manta di dunia (dikutip dari Brosur dinas Pariwisata Kabupaten Berau).

Berhubung kami datang pas siang hari jadi gak ketemu penyu kata mereka kalau mau ketemu penyu nanti malam, duuh mana mungkin mau malam-malam gentayangan ke Sangalaki hehe… kami tidak sempat snorkeling di Sangalaki walau menurut info yang aku dapat perairan di Pulau Sangalaki banyak terdapat terumbu karang dan beragam jenis ikan-ikan yang cantik termasuk si Manta Ray yang fenomenal itu.  Kunjungan kami ini sebatas melihat keindahan alam yang ada diatas permukaan laut saja, sedang underwater  panorama belum sempat di explore, sayang juga sih…tapi mau gimana lagi, pilihan waktu yang sempit plus mepet, bisa menjelajah ke tiga pulau utama saja sudah puas.

Sudah kubilang sejak awal, ini baru kunjungan penjajakan, besok hari aku akan bawa rombongan bodrek ke sini, baru deh siap-siap buat snorkeling, tapi kalau bakal ketemu ikan hiu, mending nggak usah deh!

Sebelum melanjutkan ke Kakaban, kami muter-muter sebentar di Pulau Sangalaki yang sepi dan berpasir putih bersih, buat motret dan menyari jejak penyu di antara pasir pantai yang lembut, kami menemukan lubang-lubang tempat penyu bertelur dan jejak penyu dewasa yang membekas di pasir pantai.

Puas muter di Sangalaki, jam sudah menunjukkan pukul 13.45 siang, yaaa harus segera ke perahu, Kakaban sudah menanti.

 

Pulau Kakaban

Perjalanan ke Kakaban sekitar 30 menit. Pukul 14.15 kami tiba, di Kakaban. Walah…kami melihat ada satu kapal pesiar yang membuang sauh agak ketengah laut karena tidak mungkin mendekati pulau yang berperairan dangkal. Oya selama di lautan kami sempat ketemu sama turis manca negara yang lagi asyik diving, mereka pakai kapal-kapal besar yang bagus, kebayang aku sama Lida, naik speed boat kecil cuma ber 2 pula. Mereka, para turis itu melambaikan tangannya pada kami, ya kami balas sambil melambaikan tangan juga.

Pulau Kakaban sudah terlihat, perairannya bening sekali tampak jelas karang-karang indah yang ada di dalam laut.  Pulau Kakaban telah ditetapkan sebagai Kawasan Warisan Dunia (World Natural Heritage Area) pada tahun 2004 oleh Unesco. Aku dan Lida turun ke pulau Kakaban, waaah berharap menemui ketenangan di sini, yang ada justru keramaian yang kami temui, banyak turis asing yang asyik snorkeling di sana. Aku sempat menyapa salah seorang turis, seorang ibu paruh baya asal Florida, US. Dia bersama rombongannya melakukan perjalanan yang lama, eh madame apa bedanya sama kami yang berada di Indonesia. Tuh…kebayang deh orang-orang asing pada semangat ke Derawan, jauh-jauh dibelain.

Kami melalui jalan yang terbuat dari kayu (jerambah) dengan kondisi naik turun karena karang yang berkontur harap hati-hati ada tangga kayu yang cukup curam sebagian malah letaknya renggang, lumayan deh buat olahraga, saat melintas jeramba kayu itu aku ketemu sama seorang aki-aki bule yang sudah gemetaran jalan sendiri, duuh jangan sampe deh aku yang jauh lebih muda kalah sama tuh aki-aki hihi…

Pulau Kakaban ini merupakan pulau karang (atol) yang berada di tengah lautan, bentuknya mirip angka 9 jika kita intip via Google Map (kata Ndah), ada banyak hewan melata di sini, seperti ular, kadal, biawak dan aneka serangga lainnya, termasuk semut rang-rang, aku tidak terpikir kuatir ketemu hewan melata apapun, yang ada hanya rasa excited dan rasa penasaran untuk melihat danau Kakaban yang indah itu. Setelah melintas jalan dan tangga kayu selama 5 menit…di antara rerimbunan pohon yang bewarna hijau, terlihat danau yang tersembunyi di dalamnya, Subhanallah….indaah banget, sumpah….aku benar-benar bersyukur diberi-NYA kesempatan untuk menikmati keindahan ini secara langsung.

Lalu aku segera menuju tepi danau untuk melihat ribuan ubur-ubur air tawar yang jinak, berenang di permukaan danau. Memotret dan memperhatikannya, gak tahan juga aku langsung ingin nyebur ke dalamnya. Sstt…nunggu agak sepi dulu, abis banyak bule dan ketemu lagi sama turis lokal yang jumpa di warung makan Tanjung Batu tadi pagi, hehehe….pizz deh! Sore itu danau Kakaban sedang full house ceritanya.

Aku nyebur dengan peralatan snorkeling meraih ubur-ubur dengan tanganku, Lida sibuk jeprat jepret motretin aku hihi…. Saat aku naik, gantian Lida yang nyebur aku yang motretin, sayang sekali kami tidak bawa camera underwater, tapi sekali lagi kami sudah bersyukur kesampaian megang ubur-ubur jinak yang tidak beracun ini. Air danau agak berasa asin…maklumlah walau dibilang ini danau air tawar tapi resapan air laut tetap berpengaruh.

Untuk diketahui letak permukaan danau ini kabarnya lebih tinggi dari permukaan laut. Ada 4 jenis ubur-ubur di dalam danau ini, seperti yang kukutip dari inflight magazine Batavia Air,  ada empat species ubur-ubur di danau Kakaban, yang pertama berwarna kecoklatan – merah muda (martigias papua), kedua coklat tua berbentuk jamur (Cassiopeia Ornata) mengambang diatas karena butuh sinar matahari. Sementara lainnya berbentuk payung transparan raksasa (Aurelia Aurita) dan terakhir sekecil ibu jari (Tripedalia Crystophora), kedua ubur-ubur yang disebut terakhir ini adalah species langka dan dilaporkan sulit dilacak. Duh nama latin ubur-ubur itu cantik-cantik ya…Aurelia (inget nama anaknya Anang dan KD, hihihi).

Aku cuma bertemu dengan 1 species tepatnya yang jenis kedua, karena hobby nya mengambang di permukaan air danau, bagi yang berani nyoba nyebur ke tengah danau dan menyelam sampai ke dasar danau bisa jadi ketemu dengan semua jenis species yang sudah aku sebutkan di atas.

Pulau Kakaban merupakan kerajaan ubur-ubur tak menyengat. Dr. Thomas Tomascik, seorang ahli kelautan berkebangsaan Kanada mengatakan bahwa pulau Kakaban merupakan surge kekayaan biologi yang ada di Indonesia. Misteri bagaimana hewan dan tumbuhan terisolasi dalam danau. Kakaban merupakan salah satu objek yang sangat diminati oleh ilmuwan untuk diungkap karena itu laut ini memang pantas menjadi konservasi alam yang harus dilindungi dan dilestarikan (dikutip dari Brosur dinas Pariwisata Kabupaten Berau).

Kami diingatkan oleh Iskandar, nggak bisa lama-lama karena harus ke Maratua, tadi nya mau snorkeling di pantai pulau Kakaban, tapi gak jadi mengingat waktu sudah pukul 15.30 wib. Oya..aku tadinya mau makan siang di Kakaban, tapi koq gak ketelan ya abis excited banget berasa kenyang duluan. Kami bergegas ke boat, Lida sepertinya agak kecewa gak bisa berenang di pantai, tapi Iskandar bilang nanti snorkelingnya di Derawan saja. Dari pulau Kakaban, rencanaku langsung ke Maratua, mau lihat Paradise Dive Resort yang bagus kata orang.

Sempat Iskandar berujar bahwa udara sepertinya bakal ada badai sore nanti, dia tidak yakin apa bisa ke Maratua, saat mendengar dia bicara seperti itu, aku agak kecewa, lha aku kan sewa boat untuk perjalanan ke 3 pulau, masa’ harus dikurangi jatah perjalanannya, hmmm….. gak mau rugi aku. Akhirnya aku bujuk secara persuasif, udah nanti aku kasih tip tambahan deh. Bawa boat nya jangan kenceng-kenceng kalo ada angin kebayang kan harus melawan ombak, kata Iskandar “jika bawa speedboat nya pelan-pelan rugi di bensin, karena akan makan banyak bahan bakar, kalau ngebut kan cukup main gas  tidak mengurangi bensin, cepat sampai pula.” Syukurlah Iskandar bersedia membawa kami ke Maratua, sambil berpesan agar kami siap jika ketemu ombak besar. Aku senyam senyum….tenang kalau ketemu ombak laju kapal dipelankan. Jika bensin nya berkurang ya beli lagi! Hehehe… Gampang banget ya aku ngomong. Padahal di pulau-pulau terpencil itu mana ada SPBU.

 

Pulau Maratua

Perjalanan ke Maratua sangat menyenangkan dugaan bakal ada badai tidak terbukti. Kami sempat bertemu lagi dengan ribuan ikan kecil-kecil yang berlompatan disisi speed boat kami, lalu ada sekelompok camar laut yang terbang bergerombol diatas laut, ternyata….dibawahnya ada sekelompok ikan lumba-lumba yang berlompatan tidak jauh dari speed boat kami, Subhanallah… “Lumba…lumba…”, teriakku dan Lida berbarengan, so amazing! aku tidak sempat memotretnya, karena lumba-lumba begitu cepat menyelam kembali ke lautan.

Setelah puas melihat atraksi lumba-lumba langsung di habitat aslinya kami meneruskan kembali perjalanan ke Maratua Island.  Sayang kami tidak menemukan si Manta Ray, kata Iskandar dia tidak mau memunculkan diri karena ada kapal besar yang masuk di Kepulauan Derawan, halah jadi ingat kapal pesiar asing yang masuk ke pulau Kakaban.

Pulau Maratua sudah terlihat, Paradise Dive Resort juga terlihat dari jauh, wuiiih indah banget, aku langsung memakai baju kaos untuk menutup baju strechku yang kuyup karena berenang di danau Kakaban, sebelumnya. Aku melihat ada beberapa anak kepiting di antara sela-sela jerambah kayu, kami naik ke resort tersebut dengan cuek, hahaha….padahal kami gak nginep di sana, iseng aja buat foto-foto apalagi Lida yang hobby nya di foto sambil loncat tinggi-tinggi aku yang motret sampai kuatir kalau jerambah kayunya roboh hihihi…

Tadinya mikir apa musti bayar buat masuk ke lokasi itu, ternyata cuek saja, gak ada yang negor kami. Kami bebas jeprat jepret sana sini, denger-denger tarif menginap di sini hitungannya per orang bukan per kamar, buseet dah…per orang dihitung Rp. 450.000,- s/d Rp. 500.000,-.

Saat kami tiba, terlihat serombongan pejabat daerah, sepertinya ada rombongan bapak-bapak polisi yang hadir di sana (keesokan harinya baru tahu apa sebab ada polisi di pulau itu). Setelah cukup motretnya, kami bergegas pulang, perjalanan dari Maratua ke Derawan makan waktu 45 menit. Alhamdulillah….keadaan “Laut Teduh”, istilah warga setempat untuk menggambarkan laut yang tenang tanpa gelombang, asliii benar-benar tenang banget seperti naik boat di atas air kolam.

Aku menikmati langit sore yang cerah dan awan yang indaah banget, rasanya naik boat sore itu bikin aku nyaman banget. Sempat boat kami berhenti di tengah jalan menghampiri satu kapal nelayan yang ukurannya jauh lebih besar dari boat kami, rupanya Iskandar mengambil satu bungkusan dari kapal itu.

Kami tanya, itu bungkusan apa, Iskandar menjawab, “Sosis” ya ampun transaksi sosis di tengah laut, aku tanya sosis itu darimana? kata iskandar, dari Malaysia, kiriman keluarga bapaknya. Memang posisi Kep Derawan, tidaklah jauh dari perairan yang berbatasan dengan Malaysia. Aku tanya lagi “enak mana, sosis dari Indonesia atau dari Malaysia ?” jawabnya “enak dari Malaysia” kata Iskandar. hmmmmm….. mungkin dia belum tahu ada sosis enak buatan Indonesia yang iklannya suka muncul di TV hehe…

Pukul 16.30 sore, kami tiba di Derawan, kami menyempatkan diri berenang dahulu sebelum pulang ke penginapan. Kami berkenalan dengan anak-anak Derawan yang lucu-lucu. Ada seorang anak laki-laki umur 3 tahun bernama Uman (Lukman) yang pandai berenang, aku amati dengan geli…ini anak hebat banget berenangnya aku saja kalah gesit renangnya, aku tanya sama kakaknya, Sari (umur 6 tahun jago renang juga), “Uman belajar renang sama siapa?”  “Belajar sendiri, langsung nyebur ke laut !” jawab Sari sambil tertawa, hahahaha….hebat anak-anak suku Bajau ini, mereka adalah suku pelaut yang tangguh.

Anak-anak Bajau ini semuanya periang dan suka tertawa, kami sempat melihat seorang bapak memanggil anaknya, kami bilang ke mereka “Hei…itu bapakmu manggil nyuruh kamu pulang!” disahutin oleh anak-anak itu “Itu bukan bapak kami!” hihi…jadi kalau bukan bapaknya mereka sah-sah saja terus berenang sampai malam menjelang.

Lantas ada seorang ibu memanggil anaknya, kami kembali bilang “Hei itu ibumu yang memanggil, hayo cepat pulang!”, mereka jawab “Itu bukan emak kami!” hahaha…..jadi kalau bukan emaknya anak-anak itu tetap terus bermain air. Akhirnya kami yang meminta anak-anak itu segera pulang ke rumah mereka dengan alasan besok mereka harus sekolah. Anak-anak itu semangat ingin mengajak kami melihat penyu bertelur di malam hari, kami menyambutnya dengan senang hati ajakan mereka. Sebelum berpisah, aku sempat meminta Lida memberikan permen Yuppie yang dia bawa buat anak-anak manis itu, Lida berpesan jangan saling rebutan, aduuh anak-anak ini rupanya hobby difoto juga ya, mereka bersemangat sekali saat aku dan Lida bergantian membidik mereka dari camera kami masing-masing.

Hari sudah mulai beranjak gelap, aku dan Lida berlarian ke arah dermaga, kami tidak ingin ketinggalan moment “Sunset di Derawan”. Dermaga yang kami datangi masih dipakai oleh nelayan setempat untuk menurunkan barang-barang sembako yang dibawa oleh kapal nelayan dari Palu, aku sempat ngobrol dengan nelayan yang membawa barang dagangan itu, “berapa lama berlayar dari Palu ke Derawan?”, “17 jam perjalanan,” jawab si nelayan. hmmmm…..mantaps deeh berlayar selama itu dengan perahu nelayan tradisional, “Lantas kalau ketemu badai gimana?” tanyaku lagi “ya terpaksa berhenti di tengah laut sampai badai reda” jawab pak nelayan kalem, haiyaaa seram banget dah!

Sunset yang kami tunggu tampak malu-malu menampilkan warna jingganya, sore itu memang agak berawan, sunset yang kami dapat tidaklah begitu sempurna sebagian tertutup awan. Tapi it’s OK yang penting ada sunset yang indah. Sayup-sayup suara adzan terdengar di kejauhan, aku dan Lida bergegas pulang ke Penginapan. Setelah mandi dan sholat, kami disuguhi roti dan susu Milo hangat, wah enak banget, pak Taher dan istrinya datang ke rumah. kami bercakap-cakap sebentar, lalu aku menyerahkan pembayaran uang penginapan dan boat yang kami sewa, biar besok pagi kami tidak perlu repot-repot mencari pak Taher.

Malam itu di Derawan ada panggung gembira, dari PT. Berau Coal, perusahaan tambang  batubara yang mengadakan event akbar “14th Indonesian Fire and Rescue Challenge”. Ada artis-artis lokal yang didatangkan dari Balikpapan dan Banjarmasin. Aku dan Lida pergi bersama keluarga Pak Taher ke lokasi panggung gembira, menikmati malam bersama warga Derawan.

Teringat teman-teman kecil kami, anak-anak Derawan yang awalnya mau mengajak kami mencari penyu bertelur di malam hari, ternyata mereka lebih tertarik menonton panggung gembira, ya..iyalah yang namanya panggung gembira tidak akan ada setiap saat, kalau penyu bertelur bisa setiap malam mereka temukan hehe…tapi buat kami justru sebaliknya.

Kami sempat melihat-lihat souvenir yang dijajakan oleh para pedagang di pulau Derawan, aku akui harganya cukup mahal, untuk 1 gantungan kunci yang sederhana berharga Rp. 10.000,- (duh kalau di Banjarmasin bisa dapat 10 gantungan kunci tuh). Aku tidak begitu tertarik untuk membeli souvenir di sini, selain standart (menurutku lho…) harganya relative mahal yang penting aku tidak mau terbebani oleh-oleh dalam tas ranselku yang beratnya sudah cukup bikin aku lemes.

Rasa lelah setelah seharian naik boat plus udara malam yang dingin sangat sukses membuat mataku mengantuk. Lupakan soal penyu, aku sudah tidak  kuat lagi buat ke pulau kapuk!!! Hihihi… Lida tetap semangat mau lihat penyu hijau, baiklah aku masuk kamar dia memilih berjalan ke arah pantai.  Saat Lida masuk ke kamar, aku masih sempat bertanya “ketemu sama si Penyu?” Lida jawab “nggak ketemu yang ada malah ketemu kepiting!” hahahaha….. kalo itu sih di restoran seafood juga banyak ditemui.

bersambung…

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

43 Comments to "Derawan Menawan (2)"

  1. adhe  26 February, 2012 at 20:15

    @Putro, baca part 3 dr tulisanku ya, diakhirnya ada bbrp tempat yg bisa aku recomend, khusus utk menginap di Tj Batu bisa saja, tp harus charter mobil sendiri malam2, kalau losmen di Tj Redeb ada yg murah hanya 70 ribu, letaknya menghadap sungai segah, samping masjid. Nama losmen dan no telp nya lupa krn teman ku yg order.

  2. putro  26 February, 2012 at 19:58

    jadi ngga mungkin ya kalo dari Ranjung Redeb sore untuk lanjut perjalanan ke Tanjung Batu? Ada rekomendasi tempat nginap di Tanjung Redeb yang nyaman?

  3. Lani  16 October, 2011 at 06:24

    DHE : aku melok gemezzzzzz ama mbak2 yg udah mejenk pake bikini diatas kapal tp takuttttttt nyebur kelaut……..hahaha…….apalagi ditambah bermanja ria…….hadooooh!

    kebon binatang dimana itu TAMAN WISATA BATU PUTU??? klu ada putu, apa ada buto? hahah……duh, ngakak2 ampe klebusssssss krn panas saat ini di KONA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.