Menanti Pernikahan Agung

Probo Harjanti

 

Bulan Oktober ini keraton Yogyakarta mempunyai hajat. Putri bungsu Sultan HB X akan menikah dengan pria dari seberang lautan. Tulisan ini tidak akan membahas tentang calon pengantin tersebut. Hanya sedikit mengajak pembaca Baltyra untuk menengok upacara adat istana tersebut.

Hanya mengajak melihat betapa perempuan-perempuan keraton, baik abdi dalem mau pun sentana (kerabat) istana tetap gesit dan ceria dalam busana tradisional. Saya ajak melihat betapa luwesnya mereka semua dalam balutan tradisi. Tak teerkecuali wartawan, mereka  pun harus mengenakan busana adat (pranakan untuk kaum laki-laki) dan tanpa alas kaki (nyeker men)  kalau mau meliput acara-acara adat keraton, sedang yang perempuan memakai kemben atau kebaya, meski menggeondong tas punggung dan atau menenteng kamera yang tidak ringan. Para abdi dalem panginceng-inceng ini (istilah suami saya untuk fotografer) tetap semagat, meski harus menyewa dulu, begitu pun abdi dalem juru warto (ini agak resmi…maksudnya wartawan).

Yang berbeda dari pernikahan kali ini adalah resepsi bakal digelar di pendapa Dalem Kepatihan, atau di pendapa kantor gubernur  (pemerintah RI meminjam salah satu bangunan milik keraton untuk kegiatan pemerintahan, yang lain masih banyak yang dipinjam juga). Sebagaimana pernikahan keraton pada masa silam. Nantinya pengantin GKR (Gusti Kanjeng Ratu) Bandoro atau Jeng Reni dan KPG Yudanegara (Ahmad Ubaidillah)atau akan kirab dengan kereta kencana, dari alun-alun menjuju jalan Ahmad Yani (Malioboro). Kalau kirab mubeng beteng (mengelilingi beteng keraton adalah ‘hak’ putri sulung GKR Pembayun).

Bedaya Sangaskara adalah salah satu yang akan disajikan pada upacara pernikahan keraton. Bedaya Wiwaha Sangaskara, disebut juga Bedaya Manten. Berbeda dengan kabanyakan bedaya yang dibawakan 9 atau 7 (untuk bedaya sapta, sapta artinya 7), bedaya Sangaskara dibawakan 6 penari. Kostum yang dikenakan dua macam, dua sebagai tokoh manten, memakai kain dodot  dengan paes ageng, sebagaimana layaknya pengantin keraton, sedang yang lain tidak. Bedaya ini merupakan ciptaan Sultan Hamengku Buwana IX. Menggambarkan prosesi upacara penganten, dari persiapan sampai upacara panggih. Di dalam bedaya ini terdapat penggambaran saat calon pengantin berdandan (di dalam tari disebut muryani busana), lalu ada adegan melempar sirih, dan lain-lain.

Foto-foto by: Effy WP

 

 

73 Comments to "Menanti Pernikahan Agung"

  1. Dj.  17 October, 2011 at 02:13

    probo Says:
    October 16th, 2011 at 19:44

    nek AGENG SANGEtT…gedhene sepira PakDj?

    nanti malah pada takut…..piye to?
    ————————————————————————

    Bu GuCan…..
    Sugeng Dalu sakin Mainz…

    Lha menawi ingkang ageng sanget….
    Lha injih sanget agengipun….!!!

    Wonten manten yang bade sare….
    Ingkan rayi, matur, menawi, kagunganipun alit, mboten wonten isinipun…
    Kakang mas ngendiko…
    Mboten nopo-nopo tho jeng….
    Sami mawon, kagungan kangmas injih kados bayi…..

    Sampun wantosipun bade sare, kang rayi semaput….!!!
    Lha kang roko, radi bingug…., wonten nopo niki….???
    Menawi kan rayi sampun wngu, radin nesu….
    Wonten nopo tho jeng….??? ( tanglet kang roko )
    Kang Rayi : Kangmas ngapusi, jarene koyo bayi….???
    Kang Roko : Lho kok ngapusi, pripun tho jeng….???
    Lha bayi kan 42 Cm. bobotipun 2,8 Kg….

    Hahahahahahahahahahahaha…..!!!!
    Nyuwun sewu….
    Pareng….

  2. Lani  17 October, 2011 at 00:58

    MBAK PROBO : bener banget itu karung goni……..wulet tp klu gatel ditanggung dewe…….

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  16 October, 2011 at 23:54

    mBak Probo, andai orang tertinggi hadir dalam pesta agung itu, wajib diberi gelar tuh… Mangkubabakul.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)