Saat Terakhir Sang Pahlawan

Faizal Ichall

 

Sudah 3 bulan aku terbebas dari rutinitas pekerjaan ku, bagi seorang TKW hal ini sangat menggembirakan karena aku diberikan hadiah liburan di suatu kota dan disewakan hotel untuk tempatku bermalam.

Majikanku sangat baik, dia memberikan hadiah ini atas suatu jasa yang kulakukan pada anak lelaki pertamanya, ya balas budi atas suatu jasa, aku telah membunuhnya sewaktu ia masih tidur, kulakukan itu karena dia telah memperkosaku berkali-kali bersama teman-temannya.

Hahaha…, cukup setimpal bukan untuk keadilan yang selalu dibungkam? Setelah 3 bulan mendekam dalam penjara ini, malaikat pencabut nyawa berbaik hati padaku, 2 minggu kemarin, ia memberikan rahasia tanggal kematian ku, lengkap dengan gambarannya.

Hihihi…, menyeramkan memang gambaran kematianku itu, bayangkan aku harus dipancung dengan ditonton banyak orang di tempat terbuka.

Tetapi sebagai seorang perempuan desa untuk hal ini aku bisa apa? Aku membayangkan seandainya aku diijinkan untuk pulang terlebih dahulu sekedar berpamitan kepada setiap orang yang aku kenal, tentu desaku akan banjir air mata dan pastinya ada keanehan tersendiri dalam rumahku, ya sanak famili, kerabat, juga sahabat dan teman akan datang untuk melayatku yang masih hidup, hmm… Kira-kira bendera dengan warna apa yang harus kutaruh di depan rumah, karena tidak mungkin kalau ya berwarna kuning.

Bapak pernah meminta tolong kepada orang orang di kantor pemerintahan, tetapi dasar bapak ku yang lugu yang hanya mengandalkan satu temannya yang menurutnya orang penting sebab menjabat sebagai kepala dusun di kampung kami, hasilnya bapak malah pusing sendiri, karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

Aku hanya bisa pasrah saja saat ini, berusaha membuat kebaikan, berpikir positif di sisa-sisa hidupku, karena siapa lagi yang bisa membantu dan menolongku, paling tidak memberikan keadilan buat orang sepertiku.

Tadinya aku berpikir bahwa hanya pesugihan saja yang memerlukan tumbal sebagai syarat bersekutu dengan iblis agar keinginannya tercapai, tetapi ternyata untuk menyelamatkan hubungan antar negara juga memerlukan tumbal atau mungkin lebih ke masalah devisa?

Tetapi kalian tidak usah menjadi sedih atas hal ini, karena aku bangga atas kenyataan ini, jadi lengkaplah sebutan untuk para tenaga kerja yang bekerja di luar negri adalah sebagai pahlawan devisa, karena kata guru SD ku yang namanya pahlawan adalah orang yang gugur untuk membela negaranya.

Walau mungkin photoku tidak akan di tempelkan di ruang kelas SD seperti Pattimura, P. Diponogoro, atau lainnya, setidaknya televisi dan surat kabar akan memberitakannya walau hanya semusim.

Aku dan beberapa orang teman lainnya yang bernasib serupa denganku berpikir betapa adilnya negri ini, karena nyawa dibayar pula dengan nyawa, tetapi keadilan untuk siapa? Kami atau mereka? Sedang jika mereka yang membunuh kami seperti beberapa kejadian yang terjadi, apakah mereka mendapat keistimewaan seperti apa yang kami peroleh?

Sudahlah tak usah dipikirkan, karena tidak ada gunanya pula, karena ini terus menerus berulang, biar Tuhan saja yang memberikan keadilan yang kuharapkan dengan mencabut nyawaku secara cepat dan halus.

 

10 Comments to "Saat Terakhir Sang Pahlawan"

  1. Mawar09  19 October, 2011 at 01:44

    Ngenes bacanya. Rintihan hati yg tidak didengar para pejabat yg dibayar dengan uang darah mereka. Ngga tahu mau tulis apa lagi !!

    Pam-Pam : aku vote kamu deh kalau mau mencalonkan diri jadi presiden nanti!!! kan katanya mau tembak semua koruptor dan membenahi negara !!! he….he…..

  2. [email protected]  17 October, 2011 at 08:59

    halah…. pemerintah indonesia diharapkan…
    tunggu gue jadi presiden…. baru bisa maju nih negara

  3. J C  17 October, 2011 at 07:43

    Waduh, narasi yang menyentak…

  4. Dj.  15 October, 2011 at 23:00

    Swan Liong Be Says:
    October 15th, 2011 at 16:37

    Na ya, Djoko, mau kasi komentar apa, kenyataannya memang memprihatinkan dan contoh atas kemunafikan pemerintah atau penjabat Indonesia. Disatu pihak memuji para TKI/TKW sebagai pahlawan devisa untuk negara (menyedihkan kan, kalo “pahlawan devisa” harus direkrut dari TKW!) tapi dilain pihak mereka dilecehkan oleh petugas² dan malah diperas. Saya punya kesan kalo negara² dimana hukuman mati ini dijatuhkan juga tidak punya rasa respek terhadap pemerintahan Indonesia.
    ——————————————————————————————
    Liong…..
    Selamat Malam dari Mainz….
    Ini ada cerita dari teman di belanda….
    Kebetulan pesawat ke Indonesia, transit di….
    Nah disitu banya TKW yang tidak ngerti dan kebingungan dengan suasanan di air port…
    Jelas mereka memang sedikit kaduh karena kepanikan….
    Teman Dj. ini, melihat rombongan yang lain, yaitu rombongan keluarga pemimpin rakyat kita.
    Nah rombongan keluarga terhormat ini, malah nyuruh teman Dj. agar mereka jangan terlalu gaduh, bikin malu saja….
    Teman Dj. ini orangnya sedikit tegas ( orang batak ), dia malah marah sama rombongan yang terhormat ini.
    Anda-anda ini kan digaji oleh uang mereka, ya sudah sepatutnya kalau anda yang menolong mereka.
    Mendengar kata-kata teman Dj. ini, mereka satu-persatu pergi meninggalkan teman Dj.
    Hahahahahahahaha….!!!
    Aneh kan…uangnya mereka mau, tapi kerjaannya, mereka suruh orang lain untuk mengerjakannya….
    Kasihan memang….
    Weinen könte ich…weinen….!!!!

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  15 October, 2011 at 22:51

    Saya tidak tahu harus berkomentar ap…. menyedihkan…

  6. HennieTriana Oberst  15 October, 2011 at 16:48

    Pemerintah Indonesia bangga dengan “pahlawan devisa” ini, yang penting mereka bisa dapat duit.
    Bagaimana nasib para pahlawan tadi, itu urusan lain. Masalah yang sepertinya entah kapan selesainya.

  7. Swan Liong Be  15 October, 2011 at 16:37

    Na ya, Djoko, mau kasi komentar apa, kenyataannya memang memprihatinkan dan contoh atas kemunafikan pemerintah atau penjabat Indonesia. Disatu pihak memuji para TKI/TKW sebagai pahlawan devisa untuk negara (menyedihkan kan, kalo “pahlawan devisa” harus direkrut dari TKW!) tapi dilain pihak mereka dilecehkan oleh petugas² dan malah diperas. Saya punya kesan kalo negara² dimana hukuman mati ini dijatuhkan juga tidak punya rasa respek terhadap pemerintahan Indonesia.

  8. Handoko Widagdo  15 October, 2011 at 16:28

    Biarlah fotomu terpampang di dadaku. Aku bangga akan dikau.

  9. Dj.  15 October, 2011 at 13:02

    Wadooooh….
    Sudah 41 yang nengok, kok ya belum ada yang kasi komentar…
    Apa pada takut dengan ceritanya ya….???
    Mas Faizal….
    Terimakasih dan memang menyedihkan….
    Bahkan sangat sulit untuk turut berkomentar, untuk kebenaran atau keadilan….
    Semoga TUHAN yang akan memberikan jalan yang baik.
    Pengadilanm adalah ditangan hukum.
    Kita tidak bisa mengadili sendiri, tapi hal ini mudah untuk dibicarakan, tapi sulit bagi yang mengalaminya.

    Salam Damai dari Mainz…

  10. Dj.  15 October, 2011 at 12:37

    Lho kok masih koosong…???
    Kulonuwun….!!!!
    Ngga ada satu orangpun dirumah ini….????

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.