Saya Bukan Pujangga

Yeni Suryasusanti

 

Sejak SMP saya mencintai dunia tarik suara. Bukan karena gemerlap panggungnya, namun murni karena bagi saya untuk bisa menghayati setiap lagu adalah luar biasa.

Beberapa lagu bisa membuat saya “tenggelam” di dalamnya – entah itu lagu bertema jatuh cinta maupun lagu bertema patah hati – meskipun saat itu saya tidak sedang jatuh cinta ataupun patah hati :)

Saya bisa menyelami semua rasa yang ada pada lagu yang menjadi favorit saya – bahkan bisa meneteskan air mata saat menyanyikan syairnya – tetapi saya tidak bisa menuliskannya. Mekipun pernah menghasilkan cukup banyak tulisan dan puisi dari kehidupan saya sehari-hari, namun sulit bagi saya untuk menghasilkan tulisan dari sebuah kondisi buatan. Saya selalu kembali menjadi diri saya sendiri.

Kemarin, seorang sahabat – Nadia Paritrana – menautkan link lagu ke Facebook saya. Jujur, lagu itu belum pernah saya dengar sebelumnya heheheh….

Namun segera saya googling syairnya untuk bisa mendalami rasa yang tercipta…

 

John Legend – Someday

As days go by and fade to nights
I still question why you left
I wonder how it didn’t work out
but now you’re gone and memories all I have for now
but no it’s not over 
we’ll get older we’ll get over
we’ll live to see the day that I hope for
come back to me I still believe that

we’ll get it right again
we’ll come back to life again
we won’t say another goodbye again
you’ll live forever with me

someday, someday, we’ll be together
someday, someday, we’ll be together

I heard someday might be today
mysteries of destinies they are somehow
and are someway for all we know 
they come tomorrow for today 
my eyes are open, my arms are raised for your embrace 
my hands are here to mend what is broken 
to feel again the warmth of your face

I believe there is more to life
oh I love you much more than life
and still I believe I can change your mind
revive what is dying inside

and someday, someday, we’ll be together
someday, someday, we’ll be together
someday, someday, we’ll be together
we’ll be together, we’ll be together
someday…

 

Mencoba mengasah kemampuan menulis saya, saya mencoba membuat sebuah puisi yang hadir dari rasa yang tercipta ketika saya melantunkan lagu dan menyanyikan syairnya.

Idealnya, jika saya seorang pujangga sejati, maka tulisan yang akan tercipta adalah rasa cinta yang luar biasa, rasa pedih dan tidak rela akibat berpisah dengan kekasih tercinta, bahkan rasa patah hati dan penggambaran sulitnya untuk bisa berbahagia tanpanya.

Namun hasil tulisan saya tidaklah demikian…

Setiap kali kita bertemu
aku semakin jatuh cinta kepadamu
setiap kali kita bersama
waktu seakan berhenti untuk kita berdua

Bersamamu aku merasa luar biasa
bersamamu aku merasa dipuja
Bersamamu aku merasa dicinta
bersamamu aku merasa bahagia

Tak berani terus berandai
karena kenyataan terus melambai
jika pun mimpi tak akan sampai
biarlah kenangan tetap terangkai

Mari kita jalani hidup kita
dengan ikhtiar maksimal untuk semua
agar meskipun kita tak bisa bersama
kita tetap bisa merasa bahagia :)

 

Ending dari puisi di atas tercipta karena pernah pada suatu masa seseorang bertanya kepada saya, “Apa yang bisa aku lakukan agar kamu bahagia?”

Dan saya hanya tersenyum sambil berkata, “Kamu tidak usah khawatir tentang aku. Karena aku memilih untuk berbahagia di setiap langkahku. Apapun masalah yang aku hadapi, apapun kehilangan yang pernah dan mungkin akan terjadi, aku memilih untuk menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya…”

Akhirnya saya menyadari, bahwa sejatinya memang saya bukan pujangga. Karena sulit bagi saya untuk melepaskan diri dari realita dan nilai-nilai kehidupan yang ada dalam diri saya :)

 

Jakarta, 9 Oktober 2011

Yeni Suryasusanti

 

7 Comments to "Saya Bukan Pujangga"

  1. Yeni Suryasusanti  17 October, 2011 at 10:30

    @ Linda : hehhehe…. inilah yg disebut amatir mbak…
    @ Oom DJ : I’m definitely not a GOD hehehhe…. kalo yang pujangga tuh yg bikin puisi tentang seluruh kehidupan, nggak hanya tema yang disukai aja kali ya…
    @ HW : aku juga senang berkenalan denganmu
    @ Iwan, JC : heheheh… sama dong kita

  2. J C  17 October, 2011 at 07:42

    Yeni, aku juga bukan lho, beneran…hehe…

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  15 October, 2011 at 23:08

    Saya juga bukan sastrawan….

  4. Handoko Widagdo  15 October, 2011 at 16:09

    Engkau bukan pujangga karena engkau adalah Yeni Suryasusanti. Dan aku tak peduli apakah dikau pujangga atau bukan. Karena ku lebih senang berkenalan dengan Yeni Suryasusanti saja.

  5. Dj.  15 October, 2011 at 12:51

    Mbak Yeni….
    Nah sekarang sudah Dj. baca dan didalam otak Dj….ada suara…Waaaaw…. kalau yang begini bukan Pujangga.
    Terus yang pujanga, yang bagaimana ya…..???
    Teruuuuus…. posisi Dj. dimana ya….????
    Puji TUHAN….!!!
    Setiap orang memang dikaruniai talenta masing-masing yang berbeda-beda….
    Jadi Dj. tidak iri, Dj. juga punya talenta yang lain…..
    Bayangkan kalau semua orang talentanya sama semua, semua pujangga.
    Terus kalau ada orang sakit, apa cukup dikasi syair saja, pasti tidak kan…???

    Nah kalau satu orang saja dan tau semuanya, pasti dia pikir dia tuhan…
    Hahahahahahahaha…..!!!
    Puji TUHAN….!!! Tidak ada orang ( manusia ) yang sempurna.
    Tidak ada gading yang tak retak….!!!
    Salam manis dari Mainz….

  6. Dj.  15 October, 2011 at 12:38

    Dj. juga bukan….
    Kok Linda pagi-pagi sudah bertamu dirumah orang…???
    Hahahahahahaha….!!!

  7. Linda Cheang  15 October, 2011 at 11:27

    Bagus Mbak Yeni bisa menulis puisi setelah diinspirasi dari lirik lagu. apalagi pusisi yang ada cinta-cintaan.

    Kalau saya yang menulis puisi, bisa bubar tuh, jagad dunia persilatan sastra. hahaha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.