Katak Hendak Menjadi Lembu

Yang Mulia Enief Adhara

 

Suatu ketika di sebuah kandang lembu ada seekor katak batu yang rupanya rajin mengamati si lembu betina yang pendiam dari balik bongkahan batu. Setiap hari si katak melihat pemilik lembu selalu memberikan makanan rumput segar, memandikan, dan mengajaknya jalan ke padang rumput hijau nan luas.

Pada suatu kesempatan, katak batu itu mendekati si lembu betina yang sedang makan. Katanya dengan nada sinis, “Hai, lembu. Enak sekali hidupmu. Setiap hari kau selalu mendapat perhatian dari manusia dan juga selalu dikasih makan. Kau selalu dirawat dan diajak jalan-jalan di padang rumput hijau. Semua itu apa karena badanmu yang besar?”

Si lembu betina tak menjawab, ia terus makan dan makan. Sambil sesekali kepalanya menggeleng kiri kanan mengusir lalat-lalat yang mengerubungi makanannya. Karena si lembu betina tak juga menjawab, maka katak batu itu menghardiknya lagi. Kali ini dengan nada suara lebih keras lagi. “Hai…lembu dungu. Kalau hanya karena badanmu yang besar, kau mendapat perhatian manusia maka aku pun mampu menyamai besar tubuhmu. Nih…lihatlah!”

Si katak batu itu lalu segera memperagakan diri di hadapan lembu betina. Katak batu itu menggelembungkan badannya. Bermula dari perut, kemudian leher, kaki, dan seterusnya. Perut katak batu itu sedikit demi sedikit membesar, dan kemudian terlihat begitu besar. Namun setelah membesarkan perut dan leher, rupanya badannya tak juga bisa menyamai lembu. Si katak batu sangat penasaran, karena badannya belum juga mampu menyamai besarnya lembu itu. Perutnya terus digelembungkan lagi dan lagi… Akibatnya perut itu meletus. Isi perut berhamburan ke mana-mana. Si katak batu itu pun mati dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

Melihat katak batu yang malang itu telah mati, si lembu betina pun tak mampu menahan kesedihan. Tapi ia juga tak bisa berbuat banyak. Si lembu betina itu tahu bahwa dirinya tak memiliki kuasa apa pun atas hidup.

***

Kata orang bijak, kerendahan hati adalah prinsip dasar orang beriman kepada Yang Maha Kuasa Sang Pencipta alam semesta. Dari kerendahan hati itulah munculnya ketulusan dan pengakuan diri, bahwa manusia hanyalah seonggok daging tak berdaya atau debu halus di hadapan Sang Khalik.

Sementara kesombongan adalah upaya penyangkalan diri manusia atas ketidakberdayaan raga dan spiritual di hadapan Yang Ilahi. Kesombongan menjadi semacam kompensasi psikologis untuk menutupi ketidakmampuan diri, yang kadang tersimpan dalam dunia alam bawah sadar. Kesombongan diri seseorang muncul, biasanya bertujuan agar diakui eksistensinya. Terutama di lingkungan sosialnya. Kesombongan dan keangkuhan merupakan saudara kembar.

Seorang psikolog terkenal asal Austria Alfred Adler (1870-1937) mengatakan, bahwa kesombongan itu pada dasarnya merupakan sikap mengutamakan diri sendiri. Adler menyebutnya sebagai self centered. Semuanya berpusat pada diri sendiri. Kalangan orang beriman alim ulama memposisikan egoisme sebagai awal dari dosa. Egosentrisme menjadi akar dari dosa. Manusia terjerumus ke dalam dunia hitam kelam karena terlalu mengagungkan ke-aku-annya. Aku merasa paling benar, paling bersih, paling hebat, paling suci, paling berkuasa, dan berbagai predikat superlatif lainnya. Peperangan, kerusuhan, kriminalitas, aniaya, dan kesengsaraan acapkali bermula dari sana.

Kerendahan hati dan kesombongan berjalan seiring dalam dunia yang sama, meski berbeda kharakter dan motivasi dasarnya. Tapi kadang, kesombongan bersembunyi di balik ‘kerendahan hati’ sehingga menjadi seolah-olah rendah hati. Padahal jauh di lubuk hati, ingin dipuji dan diakui ke-ego-annya. Sejatinya, kerendahan hati akan terus bertahan. Sementara kesombongan akan terkuak bersama perjalanan sang waktu.

Apa itu kerendahan hati dan mengapa manusia harus rendah hati? Mengapa orang tak boleh sombong?

Seorang guru kebijaksanaan yang juga seorang sufi dari timur menggambarkan kerendahan hati itu dalam simbol anak kecil. Anak adalah lambang ketulusan hati, ketidakberdayaan, dan kejujuran. Tingkat ketulusan, kepolosan anak kecil dan kejujurannya tak bisa disangkal lagi. Begitu tulus, jujur, dan bersihnya pribadi anak-anak, hingga para cerdik pandai menyebut anak-anak bagai tabularasa. Suatu lembar kertas putih bersih yang apa pun bisa ditorehkan di sana. Menurut sang guru, hanya manusia yang memiliki level kesucian, ketulusan, kepasrahan, dan kejujuran seperti anak kecil itulah yang pantas berhubungan dekat dan berada dalam pangkuan Sang Khalik.

Ketidak berdayaan anak kecil, kata sang guru, adalah lambang ketidakmampuan manusiawi yang akan malahirkan kepasrahan diri secara total tanpa syarat kepada Sang Pencipta. “Lihatlah, betapa anak kecil itu hidupnya sangat bergantung sepenuhnya pada orangtuanya, ibu dan ayahnya. Begitu pula seharusnya manusia di hadapan Sang Pencipta,” kata sang guru pada suatu kesempatan.

Menurut sang guru kebijaksanaan yang juga sufi itu, sebenarnya tak ada dasar dan alasan apa pun bagi manusia untuk menyombongkan diri. Fakta ilmiah menyatakan bahwa manusia adalah bagian kecil dari makhluk hidup yang ada di atas bumi. Hidup manusia berdampingan dengan makhluk hidup lainnya dan saling bergantung. Manusia tak mungkin hidup sendiri. Ketergantungan manusia sangat tinggi pada kehidupan lain di sekitarnya. Bumi tempat manusia hidup pun, jika dibandingkan dengan planet-planet lain dalam susunan tata surya, hanyalah bagian kecil dari semesta raya.

“Jika bumi saja hanyalah bagian kecil atau bahkan hanya merupakan debu kosmis di alam semesta raya yang mahaluas, lalu bagaimana dengan manusia? Nah, sekarang bayangkanlah bagaimana agungnya Sang Pencipta alam semesta itu. Masihkah manusia bisa membusungkan dada tentang dirinya di hadapan Sang Pencipta?” kata sang guru.

Setiap saat manusia dalam berbagai kepercayaan dan keyakinannya yang amat beragam diberikan kesempatan untuk berintrospeksi, melalui bermacam-macam peristiwa dan acara keagamaan. Tujuannya refleksi diri ke dalam batin masing-masing. Masih pantaskah menyombongkan diri di hadapan orang lain dan terlebih-lebih di hadapan Yang Maha Kuasa? Mungkin ada baiknya, mulai detik ini kita mulai meneliti diri, apakah kita sudah rendah hati dan tidak sombong?

 

12 Comments to "Katak Hendak Menjadi Lembu"

  1. nevergiveupyo  18 October, 2011 at 11:52

    terimakasih YMEA atas ajakannya. penelitian ini nggak perlu pake metode yang rumit-rumit kan?

  2. Dewi Aichi  17 October, 2011 at 07:59

    Buto ngamuk….komen ngebut dibabat kabeh…..aku we le moco rung rampung je…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.