Kembang Pepaya

Sanie B. Kuncoro

 

Cerpen ini merupakan penutup sebuah Parade Cerpen hasil karya sahabat Lan Fang, Fandrik Ahmad, Wina Bojonegoro dan Musa Hasyim yang telah dirangkum Mas Doan Widhiandono untuk ditampilkan di harian Jawa Pos.

Betapa cerpen memiliki kekuatan tak terduga sebagai tiang belarasa atas nama solidaritas sesama.

 

*****

                  

Kau berdiri di bawah cahaya lampu mercuri. Semburat warna kuningnya, menyiramkan terang pada tubuhmu seutuhnya. Maka berpasang-pasang mata yang melintas di jalan itu niscaya akan menangkap sosokmu. Entah menatapmu dengan sungguh sejak di kejauhan, mungkin mengalihkan pandang dengan segera,  atau mengabaikan dan bahkan menganggapmu seolah tak ada.

Bisa jadi bagi mereka, kau tak ubahnya serupa bekas bungkus permen, atau sehelai daun kering. Mungkin pula seolah tisu bekas yang tergeletak sembarangan karena ulah seseorang yang tak bertanggung jawab, yang alpa menempatkanmu di keranjang sampah.  Kotak sampah, itulah tempatmu yang sesungguhnya bagi mereka. Gerumbulan benda-benda tak terpakai, terbuang pada wadah tertentu, demi tak mencemari benda lainnya.

Nah bagi mata yang tak melepaskanmu, akan disertai dengan berbagai ekspresi. Paling kerap adalah gairah yang liar, menelusuri utara selatan lekukmu, menjelajahi sejauh timur dari barat keseluruhan wilayah kulit tubuhmu. Tahap selanjutnya akan kau temukan dua kemungkinan. Pertama, gairah yang menyurut, untuk kemudian meninggalkanmu dengan segera. Seringkali disertai dengan isyarat berkesan meremehkan, yang sungguh selalu menyakitkan hatimu. Seolah membenturkanmu pada kesadaran tentang keberadaanmu sebagai sampah yang tercecer dari lokalisasi yang seharusnya. Kemungkinan kedua, adalah tatapan yang makin liar. Seolah terjulur lidah-lidah nafsu hendak menelanmu dengan segera, dalam kunyahan yang tergesa. Tatapan jenis ini, tentu saja tetap mengingatkanmu tentang ceceran sampah itu, bahkan sejatinya makin meneguhkan perumpamaan itu.

Namun yang ini kau terima dengan pemakluman, karena akan membawamu pada transaksi selanjutnya. Kesepakatan tentang sebuah barter. Kau berikan milikmu, untuk memenuhi sebuah keinginan atas nama pemenuhan biologis birahi. Lalu kau dapatkan imbalannya, yang secara teknis juga memenuhi beberapa keinginanmu. Yakni keinginanmu mengurangi rasa lapar, keinginan mengirim uang ke kampung bagi Simbok, keharusan membayar biaya listrik, kewajiban mengangsur utang ini itu.

 

Terhela napas panjangmu. Seolah ingin meredakan gelisahmu, setiap kali ingatan tentang kewajiban ini itu mendatangimu. Sudahlah.

Kau sandarkan tubuh pada tiang listrik. Dingin besi menyentuhmu, menambahkan rasa anyep udara dini hari yang nyaris menggigilkanmu. Ingin kau kenakan jaket, hingga terhalau gerak angin yang menyelusup  melalui celah di antara kancing baju yang terbuka di dadamu. Keinginan yang belum saatnya  kau penuhi sekarang. Bila jaket itu membungkusmu maka akan tersamar pula aset andalanmu. Sungguh kau tahu, di situlah gairah pelangganmu bermuara.

Tak mungkin pula kau sampirkan selendang, demi menghangatkanmu, karena itu akan menutupi kilau kulit pundakmu. Mesti kau jaga pundak itu berpendar, menjadi serupa cahaya neon, bagi para laron yang akan bergegas menghampirimu. Maka mesti kau abaikan gigil yang menjalarimu. Atau lebih memilih menjadikannya sebagai sesuatu yang menemanimu menunggu calon pelanggan yang berikutnya menghampirimu. Mungkin satu transaksi lagi cukuplah.

Kau sedang berpikir untuk menurunkan harga bagi pembeli terakhirmu malam ini, saat terlihat sebuah becak merapat pada pohon Trembesi di kejauhan. Seketika surut niatmu menunggu pembeli terakhir. Mungkin padam adalah penamaan yang lebih tepat karena kemudian dengan tanpa berpikir ulang kau kenakan jaket dan melangkah cepat menuju becak itu. Tarikan nafasmu terasa lega saat balutan jaket menghangatkanmu.

Wis, meh mulih saiki (sudahkah, mau pulang sekarang)?” Tanya tukang becak itu menyambutmu.

Paling wis ora payu maneh, (rasanya tak akan laku lagi) sudah lewat dini hari, yang tersisa hanya pemabuk berkeliaran. Ayo mulih wae,” jawabmu.

“Sebaiknya begitu. Tiwas rugi meladeni orang mabuk, biasane lali bayar.”

Tukang becak itu merendahkan ujung mulut becaknya, demi memudahkanmu untuk naik dan menjangkau jok dudukan.

Segera setelah kau duduk, becak meluncur tanpa tergesa. Kayuhan bertenaga itu menyamankan hatimu, menumbuhkan rasa terjaga dalam dirimu.

Kau ingat dengan baik, awal mula menjadikan becak itu sebagai pengantarmu. Ada garukan ketika itu, membuat kau dan teman-teman komunitasmu lari tunggang langgang tak tentu arah. Saat masuk pada sebuah gang, entah darimana datangnya, becak itu mendadak berada di dekatmu, seolah menyongsongmu.

“Naik, cepat,” seru pengemudinya padamu.

Tanpa hendak berpikir ulang kau ikuti saran serupa perintah itu. Segera becak meluncur cepat, dengan tergesa pula kau sampirkan selendang sebagai kerudung. Menghapus pemulas mata dan bibir di wajah, sekali usap dengan tissu basah, tersamarlah sudah. Tak ada lagi yang berlanjut mengejarmu. Lalu begitu saja kau telah tiba di depan pintu kompleks rumah petakmu. Terperanjat menyadari bahwa kau bahkan belum sempat memberitahu arah tujuanmu.

“Kok wis ngerti aku tinggal disini?” kau bertanya.

“Kamarku di ujung dekat sumur,” jawab penolong itu sembari memberi celah cahaya bulan menerangi. Membuatmu melihat sebuah wajah yang tak asing. Kau terkejut dan malu hati pada saat yang sama. Menyadari betapa abai pada tetangga sekitarmu, apalagi pada seorang tukang becak.

Begitulah mulanya, sehingga kemudian kau menjadikannya sebagai pengantar tetapmu.

*

Suatu hari kau temukan dahan pepaya itu di sudut pekarangan. Agaknya dahan itu patah dari cabangnya dan terbuang percuma. Di ujung dahan bergerumbul putik-putik kembang warna hijau muda, yang belum sempat mengembang. Kau seret dahan itu menuju pulang. Kau ingat Simbok, yang hanya membutuhkan bawang dan lombok hijau untuk menjadikan bakal kembang ini menjadi oseng-oseng yang sedap.

Tak ingin kau lahap sendirian oseng itu, dengan selembar daun jati bekas bungkus tempe , kau bungkus oseng itu bagi tukang becak pengantarmu.

“Mengingatkan pada simbok,” katanya menerima pemberianmu.

“Ya, ini masakan kampung,” katamu mengiyakan, sembari berpikir bahwa ternyata suasana kampung memiliki kenangan yang serupa bagi beberapa orang. Bahwa santapan sehari-hari pada umumnya berasal dari tumbuhan di pekarangan sendiri. Kembang turi, daun papaya dan jantung bunga pisang hanyalah beberapa di antaranya.

Rasane dadi kepengin mulih (serasa ingin pulang).”

Kalimat itu terucap dengan nada mengambang, serupa dengan harapan yang tersirat. Kemampul tanpa kepastian.

Tercekat dirimu seketika.

Pulang. Keberanian apa yang ada padamu untuk berpikir tentang pulang?  Bahkan nyaris tak ada nyalimu untuk menyimpannya sebagai sekedar harapan. Pulang bagi orang kampung tak lepas dari oleh-oleh. Status PSK yang melekatimu sungguh bukan oleh-oleh yang layak dibawa pulang.

Kau berbalik dengan segera. Memilih kembali ke kamar petakmu, sebelum tukang becak itu menangkap gundah hatimu. Padahal sesungguhnya ingin kau dengar apa pendapatnya tentang oseng racikanmu. Kau selalu kawatir pada takaran garamnya, yang seringkali agak berlebihan.

*

Malam telah jauh, bergeser menuju pagi. Itulah yang  bernama dini hari. Saat udara malam bergerak turun mengendap, untuk kemudian rebah di daun dan rerumputan sebagai embun. Kau lingkarkan selendang, seolah menghalau embun yang bergegas menghampirimu. Lambat langkahmu menuju pohon Trembesi di perempatan, menuju becak yang telah menunggu entah sejak kapan.

Ora payu blas (Tidak laku sama sekali),” katamu lesu serayu menempatkan diri di jok becak.

“Namanya rejeki tidak harus datang setiap hari. Inilah pasang surut kehidupan,” perlahan suara tukang becak itu menaggapimu, seolah berusaha menenangkan. Tapi alih-alih tenang, kalimat itu justru serupa lelatu yang menyulut kepedihanmu.

“Tapi rasa lapar tidak mengalami pasang surut, selalu datang setiap hari,”sergahmu.

“Dijalani sajalah.”

Rasane kesel jalani urip, kepengen leren (rasanya lelah menjalani hidup, ingin berhenti).”

Laju becak berhenti tiba-tiba. Sang pengemudi turun dari sadel dan lurus menghadapimu.

“Maksudmu ingin berhenti dari hidup yang seperti ini, atau hidup yang sesungguhnya?”

“Embuh, entahlah,” jawabmu mengambang putus asa, “Pokoknya aku ingin berhenti.”

“Berapa mereka membayarmu?”

“Untuk apa bertanya, kau akan menyewaku?” mendadak tersulut perasaanmu oleh ketersinggungan yg tajam.

“Berapa?”

Wanimu piro (berapa kau berani)?” kau balik bertanya, bukan hanya dengan nada menantang, tapi lebih oleh rasa marah yang mendadak menggumpal memenuhi benakmu.

“Bagaimana kalau kubayar dengan lamaran?”

“Apa katamu?”

“Marilah pulang bersamaku. Setiap hari aku mengantarmu, tapi sejatinya tak kuingin kau berada di sana ataupun di rumah petak itu. Aku ingin membawamu pulang pada rumah yang sebenarnya. Kupunya sepetak ladang dan pacul. Itu mas kawinnya. Apakah cukup?”

Kau tercekat seketika. Antara percaya dan tiada.

Pahit kau sadari betapa tak berharganya dirimu berhadapan dengan sebuah lamaran, Tersadari kini, darimanapun berasal, lamaran adalah sebuah permohonan demi suatu ikatan yang suci, meski itu dari seorang tukang becak sekalipun.

“Aku ini mung sampah,” kau bergumam tak bernyali.

“Kembang pepaya itu awalnya juga sampah, patah dari dahannya dan terabaikan di sudut pekarangan, sebelum kau mengolahnya menjadi oseng-oseng yang sedap.”

“Apakah yakin bisa mengolahku menjadi istri yang baik?”

“Yakin, harapanku sahaja.”

“Katakan.”

“Hidangkan selalu oseng kembang pepaya.”

“Hanya itu?”

“Temani aku saat makan, entah duduk di depan atau disebelahku.”

Kau ingat dahan pepaya yang patah itu. Terabaikan tak berarti di sudut pekarangan. Putik-putik kembang di ujung dahan itu, niscaya akan melayu sia-sia sebelum petang. Siapa lebih beruntung daripada siapa? Kau yang beruntung mendapatkan bahan lauk oseng-oseng, ataukah kembang itu yang tak layu sia-sia, melainkan menjadi hidangan yang berarti?

Saling berarti satu sama lain, itulah jawab yang menghampirimu.

Merebak kelopak matamu, oleh karena sesuatu yang menghangatkan hatimu. Pohon pepaya, berbunga dan berbuah tak kenal musim. Mampu bertumbuh di manapun, entah di musim penghujan atau pancaroba. Sanggup pula bertahan pada kemarau panjang. Maka kau yakin akan selalu menemukan putik-putik kembangnya setiap saat, dan menghidangkan baginya serupa kasih yang akan kalian miliki setiap hari.

Kau terisak kemudian. Membayangkan bahwa kau akan menuju pulang, tak terlupa membawa oleh-oleh untuk Simbok : sebuah pinangan untuk direstui.

*****

Cerpen ini dimuat pada harian JAWA POS edisi 14 Agustus 2011

 

17 Comments to "Kembang Pepaya"

  1. elnino  19 October, 2011 at 14:56

    Setuju JC, cerpennya keren sekali!!
    Sampah tidak selamanya sampah di tangan orang yang tepat…
    Aku juga suka banget oseng bunga pepaya. Sepiring bisa abis sendiri. Nggragas ya bu Gucan? Yoben ah..

  2. anoew  19 October, 2011 at 14:24

    hahaha Paspam… ternyata betul, komeng ini cukup sampai disini hahah

  3. [email protected]  17 October, 2011 at 10:01

    mwahahahahaa….. kan anoew…. detail sekali…

    pantesan si buto gak komeng… kan gak suka yang segepok2 kaya pepaya

  4. J C  17 October, 2011 at 07:47

    Keren sekali ini cerpen…

  5. anoew  17 October, 2011 at 06:51

    Wah, jatuh cinta karena daun pepaya… Hm, pepayanya sendiri kayak apa ya kok sampai bisa membuat abang becak itu terjatuh.. Besar? Kecil? Sedang? Montok? Aaah pepaya…

  6. probo  16 October, 2011 at 22:38

    termasuk ngragas nggak ya suka oseng kembang kates…plus bonggolnya yang muda?

  7. nevergiveupyo  16 October, 2011 at 22:03

    enak tuh..pahit2 bermanfaat… menjauhkan dari gigitan nyamuk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *