Mie Ayam Oetara

Faizal Ichall

 

Kadang aku kagum dengan mereka yang berjualan keliling (tukang bakso, mie ayam, bubur dll) walaupun telah puluhan tahun, wajah mereka tetap sama, tak pernah ada perubahan yang mencolok di wajahnya, untuk ini apakah mereka punya ramuan ajaib agar tetap awet muda, atau mungkin mereka rajin pergi ke salon dan gym, aku gak tahu pasti, tapi beberapa pedagang yang aku kenal dari mulai kelas 4 SD sampai sekarang wajah dan fisiknya masih sama.

Ada satu pedagang keliling yang akrab dengan aku dan teman-teman di lingkungan rumah kami, usahanya adalah berjualan Mie Ayam, jam operasionalnya setelah adzan Isya sampai ia merasa ngantuk dan jenuh, atau sampai tidak ada orang yang bisa diajak bicara barulah ia pulang ke rumahnya.

Cara berdagangnya termasuk unik, karena dia biasa memarkirkan gerobaknya di tempat kami nongkrong, setelah itu dia akan berkeliling komplek perumahan kami sambil memukulkan kotak kayu sebesar batu asahan yang di coak pada salah satu sisinya agar menimbulkan bunyi.

Ketika ada yang membeli, pasti dia akan kembali ke gerobaknya untuk memasak, kemudian mengantarkannya ke rumah atau ketempat dimana orang tersebut memesan, sehingga seolah full service excellent sengaja dia hadirkan dalam marketnya.

Gerobaknya adalah salah satu ciri khasnya, karena gerobaknya sangatlah besar sekali, malah oleh kami itu disebut sebagai pos ronda berjalan, bayangkan saja lebar gerobaknya hampir menutupi setengah jalan untuk umumnya sebuah jalan pada komplek perumahan, jadi ketika ada mobil yang yang akan melewati jalan itu, otomatis dia harus memindahkan gerobaknya. Pada siang hari gerobaknya biasa ia tempatkan di sawah, karena saat siang gerobak itu beralih fungsi menjadi saung atau pondokan di sawah…hehe (yang ini bercanda).

Nama aslinya adalah Riman, ada yang memanggil dengan Rimen, Eddi Pangsit atau Cing Pay. Untuk usianya aku tidak tahu persis, tapi yang pasti dia sudah berumur, karena itu terbukti dari aku mengenalnya sejak masih anak-anak sampai aku memiliki anak, dan sekarangpun dia masih terlihat segar dan gagah. Dia selalu berpenampilan rapi, menggunakan kemeja yang selalu dimasukan, celana katun begi dan sepatu dragonfly(sepatu capung yang dipakai untuk olah raga), jadi menimbulkan kesan elegant+sporty terhadap fashion nya, jika dianggap lumrah pun mungkin dia akan menggunakan jas dan dasi.

Kedekatannya dengan kami membuat kami sedikit kurang ajar terhadap dia, karena dia sering menjadi korban kejahilan-kejahilan kami, tapi yang kusuka darinya adalah selain humoris dia pun orang yang sabar dan pengertian (itu terbukti dengan adanya sistem kredit dalam penjualnya pada kami hehe bisa ngutang maksudnya).

Kejahilan kami pun bervariasi; Pernah kami memindahkan gerobaknya ke blok sebelah, setelah itu kami tinggalkan dan kemudian kami pulang ke rumah masing-masing, atau saat dia mengambil mangkuk kotor di beberapa rumah, kami sengaja menyembunyikan ember untuk mencuci mangkuknya, yang lebih parah adalah kami suka merubah setting-an tempat untuk bumbu minyak yang disimpannya dalam botol, yang kami lakukan adalah memindahkan posisinya satu sama lain, karena Eddy bekerja pada kebiasaan sehingga tata letak adalah andalan untuk proses kerjanya.

Tapi di antara semua kejahilan yang kami lakukan, ada satu ultimatum yang dia umumkan, bahwa dia akan marah besar jika ada yang berani menyembunyikan saringan untuk mengambil mie dalam rebusan, ketika di tanya alasannya, dia bilang ” et dah, pake nanya emangnya ngapa, lu pikir aja, gimana gua mau ngambil tu emi, masa kudu gua kobok, panas lah tangan gua, bisa-bisa gagal tu emi gua jual, sapa juga nyang mau makan mie nyang udah benyenyeh kematengan “. Untuk yang ini kami tidak berani melakukannya, di samping bisa menyebabkan kerugian materi hal inipun telah dijadikan warning oleh nya. Tetapi kejahilan kami semua dapat diterima dan dianggap gurauan oleh Eddi (walau keterlaluan). Tidak ada sifat dendam, benci dan kasar kepada kami sampai saat ini, dia memiliki kepribadian yang baik.

Dia selalu membawa 3 buah gelas dalam gerobaknya, gelas tersebut bukan untuk minum para pembeli mie-nya, tetapi untuk menyeduh kopi sachet yang biasa dibeli oleh anak-anak dari warung, untuk hal ini dia cerdik, untuk keperluan penyajian dia sengaja menyediakannya, seperti air panas dan gelas, tetapi untuk kopinya kami-lah yang harus membeli.

Dari hal ini kami pun seperti mendapat ide, maka jika kami lapar ketika begadang dan tak memiliki cukup uang untuk membeli Mie Ayam, kami akan membeli mie instan dan numpang masak di gerobaknya.

Tapi dasar tukang dagang dia lebih pandai dalam berhitung, anak-anak di haruskan membayar Rp. 2000/mangkuk dengan iming-iming semua sudah termasuk daging cincang (walaupun tidak fair), sawi, bumbu dan saus + sambal, jadi jika ditotal dengan pembelian mie instan + acecories dari Mie Ayam Eddi semua jadi Rp. 3000, ya masih lebih murah dibanding dari harga semangkuk Mie-nya yang seharga Rp. 5000,-.

Ya gerobak tersebut secara tak langsung adalah dapur umumnya  kami, kadang juga sebagai tempat menjalin cinta dan lokasi tebar pesona pada lawan jenis , karena biasanya cewek-cewek sengaja datang langsung membeli mie ke gerobak Eddi (walau sudah ada layanan service hypermarket dari Eddi), dan sudah tentu mereka sengaja menungguinya disitu hingga mie-nya siap, nah disaat menunggu itulah mereka biasanya butuh di rayu oleh cowok-cowok keren macem kami (ehm!).

Jika pada hari tertentu Eddi Pangsit tidak datang (biasanya malem Minggu), itu disebabkan dia harus menghadiri hajatan sebuah acara pernikahan atau khitanan, bukan karena Eddi termasuk salah satu undangan di sana, tetapi dia akan mangkal dan berjualan pada acara itu, sebab biasanya ada acara hiburan seperti layar tancap atau dangdutan.

Di masa bersekolah, aku yakin Eddi Pangsit sangat menyukai dan mahir terhadap Matematika, itu terlihat dari seringnya dia corat-coret di kertas dengan menuliskan angka-angka, yang biasa dilakukannya adalah menghitung biaya belanja produksi, kadang meng-audit hitungan siang tadi atau merumuskan kode buntut TOGEL (tapi ini yang paling sering dilakukannya)…hehehe.

Riman atau Rimen atau Eddi atau Cing Pay adalah salah satu legenda di lingkungan kami, kebersamaan selama puluhan tahun menjadikannya sebagai salah satu bagian keluarga di lingkungan kami, siapa yang tidak mengenalnya, dari mulai orang tua kami, kakak-kakak kami, adik-adik kami, saat ini pun sebagian dari anak-anak kami juga sudah mengenalnya. Salam untuk mu.

Tips untuk membeli Mie Ayam Eddi;

  • Jangan pernah membeli diatas jam 11 malam, biasanya ayam cincangnya sudah habis, apa anda mau makan mie ayam tanpa ayam.
  • Jangan melayani obrolannya ketika dia sedang membuat mie, itu akan mengacaukan rasa mie yang sedang dibuatnya.
  • Jika ingin mengutang, pastikan rona wajahnya dalam keadaan senang saat itu.
  • Jangan pernah menceritakan mimpi anda padanya, karena dia akan beranggapan itu kode alam untuk rumusan TOGEL nya. Hal ini juga dapat mengacaukan konsentrasinya.
  • Jangan meninggalkan pesanan anda sebelum anda memastikan bahwa Edi lah yang akan membuatnya.

Salam.

-Ic*

 

15 Comments to "Mie Ayam Oetara"

  1. Reca Ence Ar  18 October, 2011 at 21:18

    Mas Faizal……..kapan neeh makan bareeeennng
    hehehehehe

  2. [email protected]  17 October, 2011 at 10:06

    Ahahahaha… menarik sekali nih…
    sama juga kaya di deket rumah dan sekolah waktu dulu… soto gereja & siomaynya….

  3. Adhe  17 October, 2011 at 09:27

    @mba DA, iyaaa sorry salah alamat judule hehehehe,,,sangking mirip. thanks mba DA ‘n JC….faham ya…

  4. J C  17 October, 2011 at 07:47

    Keisengan masa remaja ya ini?

  5. Dewi Aichi  17 October, 2011 at 06:42

    Mas Faizal…tipsnya lucu ha ha….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.