Ababil, 18 Tahun Sudah Membayar Pajak

Alexa – Jakarta

 

Tangan mungilnya menggenggam uang Rp. 1.2 juta terdiri dari pecahan Rp. 50 ribuan, mulutnya sibuk berhitung, “Rp. 200 ribu buat Ibu, Rp. 100 ribu buat Bu De Peh, Rp. 100 ribu buat sponsorin perpisahan kelas, Rp. 200 ribu buat  beli obat peninggi badan …”..Yah, duitku tinggal Rp.600 ribu, belum buat kasih kado Kristin (note: adiknya), pas aku ulangtahun kemarin kan Kristin kasih cake AH yang Rp. 150 ribu hasil tabungan uang sakunya se bulan jadi paling tidak aku harus kasih kado senilai itu, lanjutnya.

Demikian si Bocah menghitung gaji pertamanya dan kemudian dia menghela napas dan melanjutkan dengan memelas, “Gajiku tersisa  Rp. 450 ribu saja, uang sakuku jangan distop dulu ya.” Dan aku hanya bisa mengangguk-angguk sembari tersenyum.

Demikianlah sekilas dialogku dengan si Bocah yang baru saja menerima gaji pertamanya. Si Bocah adalah anak asuh yang tinggal denganku sejak dia masih bayidan saat ini  pada usia 18 tahun baru saja menikmati gaji pertama hasil kerjanya. Belum lagi menggenggam ijazahnya SMKnya dia sudah bekerja di sebuah perusahaan kurir multinasional sebagai Scanner Girl yang bertugas dalam filling dokumentasi Accounting Dept. perusahaan itu yang diwujudkan dalam bentuk digital (discanning).  Awal dia bekerja karena kebetulan ada lowongan pekerjaan itu di kantor adikku dan ditawarkan padanya. Pekerjaan itu sifatnya temporer dan hanya berlaku 3 bulan yang kupikir baik juga buat melatih kemandiriannya sembari menunggu saat kuliah.

Proses rekruitmen yang dijalaninya cukup mendatangkan kegelian tersendiri, waktu itu dia dihadapkan pada 3 orang dari Accounting Departemen Head sebagai End User jasanya – Dept. Head, Manager dan Supervisor…

Dept. Head, “Sampai dimana kemampuan kamu mempergunakan Excel?”, Yah itu kan makanan saya sehari-hari, katanya dengan PD secara dia bersekolah di SMK IT. Dept Head, “Dari skala 4 s/d 8, berapa kamu menilai kemampuan mempergunakan V (Vertical) Look Up dan H (Horisontal) Look Up?“. Kembali dengan PD dia menjawab,  “Perfect 8, Pak”. Belakangan di rumah dia menyesalkan jawaban over confidence-nya, “Adoow, ntar gimana ya kalau kerjaannya banyak di bidang itu.”

Beberapa jawaban polosnya sempat bikin geli para pewawancara, antara lain saat ditanyakan kaitannya denganku dan kenapa dia tidak tinggal di rumah ortunya, “Sebenarnya kita gak ada hubungan darah. Kan waktu aku masih bayi, sempet nginap di rumah Mbah Uti (panggilannya ke alm. Ibuku), eh pas Bapak dah bisa nyewa kamar sendiri – aku diminta buat tetap nemenin Mbah Uti. Pas Mbah Uti meninggal gantian deh De Veena yang ngurus aku.” (Note: De itu singkatan dari panggilan Bu De).

Para pewawancara sudah jatuh hati dengan kepolosannya dan  kembali menanyakan, “Seandainya kamu diterima dan kemudian kontrak 3 bulannya selesai, mau enggak diperpanjang?”. Wah enggak tau ya Pak secara kan saya belum tau senang enggak kerja di sini.

“Nah sekarang gantian, kamu ada pertanyaan gak?”  Seandainya saya sudah selesai kuliah nanti, bisa enggak saya kerja di sini? “Dept. Headnya langsung meminjam jawabannya, “Wah enggak tau ya, secara itu kan paling enggak 4 tahun lagi.” Akhirnya wawancara selesai dan si Bocah berpamitan sembari mencium tangan ketiga pewawancaranya yang disambut dengan kaget dan geli oleh mereka.

Team berunding karena ada kandidat lain yang tidak kalah cemerlangnya, seorang ABG sebaya yang bersekolah di SMU Highclass dan saat datang wawancara memakai satu set pakaian office look rok mini komplit dengan highheels dan kuku panjang berwarnanya sementara si Bocah saat wawancara mengenakan baju batik ala vintage oleh-oleh dariku. Si ABG lain itu saat ditelpon untuk melengkapi dokumen sedang berlibur ke Singapore, “Wah Pak, kalo kita ambil anak itu jangan-jangan dia lemot kerjanya karena takut kukunya patah.” Maka akhirnya mereka memilih si Bocah.

Demikianlah hari-hari kemudian dilalui si Bocah bekerja di perusahaan yang berkantor di salah satu gedung yang ada di Sudirman.  Para pewawancara sudah main tebak-tebakan sebelumnya, “Jangan-jangan dia ntar cium tangan tiap kali mau pulang. Jangan-jangan kita dipanggil Oom dan Tante ma dia.” Dan memang demikianlah keadaannya hingga saat ini dia selalu cium tangan mereka sebelum pulang, panggilannya ke para seniornya diajari oleh adikku. “Gimana kamu betah engga kerja di sana?“, tanyaku. “Aneh aja rasanya..temanku tua-tua, enggak ada yang seumuran mana mereka serius-serius kerjanya. Eh pas maksi di luar yang diomongin masih soal kerjaan. Mana dokumen yang harus aku scan itu banyak banget, kalau tumpukan dokumen dah tipis eh dikasih lagi.”

Jawabnya yang bikin aku ketawa sembari menjelaskan masalah dunia kerja. Tapi keluhannya tidak berlangsung lama karena dia segera bisa memberikan warna yang kocak di antara teman-teman kerjanya, dengan tekun dia mengerjakan tugasnya tapi telinganya dipasang pada siaga 1 sehingga dia mendengarkan percakapan yang terjadi di antara teman-teman kerjanya. Jika sampai di rumah, dia langsung telpon teman-teman kerja yang sudah berusia 25 tahun ke atas dan menggoda mereka, “Sayaaang, aku capek kalau kamu gini terus,”katanya menirukan ucapan salah seorang temannya yang sedang telponan dengan pacarnya.

Kembali ke acara hitung-hitungan gaji itu, dia menyayangkan gajinya yang tidak diterima full, “Ya memang begitu, harus dipotong pajak,” jelasku. Dan saat dia memberikan sebagian gajinya bagi Ibu dan Bu De Peh yang merupakan kakak ibunya yang bekerja di tempatku, mereka sempat meneteskan airmata. Kartu NPWP yang dimilikinya dipinjam oleh Ortunya dan dengan bangga dipamerkan pada para tetangganya. Ibunya menelpon dan menanyakan bolehkan uangnya buat beli sepatu… dan dia cuman geleng-geleng menjawab, “Ibu, itu duit kan dah punya Ibu…jadi terserah mau dipakai buat apa.”

Kemarin itu ternyata Bapaknya dengan mengendarai motor  ke kantornya dan memandang dengan takjub dari kejauhan  gedung tempat anaknya bekerja.

September, si Bocah akan memulai kuliahnya – kontrak akan berakhir dan Dept. Head yang puas dengan kerjanya meminta dia menyambung kontraknya…”Kamu kan bisa kuliah pulang ngantor.” Aduh, sanggup enggak ya aku, tanyanya.

———-

18 tahun tak terasa berjalan begitu cepat, rasanya baru kemarin itu Ibuku menimang-nimang dia

 

24 Comments to "Ababil, 18 Tahun Sudah Membayar Pajak"

  1. tantripranash  19 October, 2011 at 21:53

    ahhh … dari awal tulisan sampai akhir ga bisa berhenti baca … dan di akhir tulisan ada yg basah di ujung mataku …. salam untuk ababilmu yaa Mbak …

  2. Dwi Setijo Widodo  19 October, 2011 at 14:33

    Cerita yang sangat menyentuh! *dua jempol!!!

  3. J C  18 October, 2011 at 13:47

    Lani, si Alexa bingung bales kowe, karena levelmu sudah melesat melebihi yang lain…apalagi misi khususmu ke “selatan” itu lho…jiiiiiaaaaannn…

  4. Lani  18 October, 2011 at 13:26

    14 XA : balas email kok bingung mulai saka endi?????? ini bukan kamu banget kkkkkkk………hayooooo ditunggu balasannya

  5. Dewi Aichi  18 October, 2011 at 06:26

    BU Deeeeeeeee….met pagi bu Deeeeeeeee…..nih Dian Sastro datang bu Deeeeeeeee……abis bayar pajak juga..!

  6. nevergiveupyo  18 October, 2011 at 04:58

    itulah yg saya binun… kok isa ta?? (knp nggak boleh isa ta??)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.