Buku Kehidupanku (5): Dito Anakku

Meitasari S

 

Dito adalah anak pertamaku. Aku bangga padanya. Nama lengkapnya adalah Dimeitrianus Aninditya Pratama. Aku mengambil nama itu karena aku mempunyai harapan Dito akan menjadi anak yang putih hatinya. Dito tumbuh menjadi anak yang cerdas dan manis. Di Sekolah Dasar prestasinya sangat cemerlang. Namun menjadi pelajaran buatku, ada hal yang salah dalam pola belajarnya. Hal ini kuketahui saat ujian akhir, nilainya tidak memuaskan. Tidak sesuai dengan kemampuan yang ia miliki.

Belakangan kutahu bahwa aku salah dalam menerapkan pola belajar. Aku selalu memanjakannya dengan cara membacakan atau bercerita jika dia menghadapi ulangan. Ternyata hal ini berdampak ia malas membaca soal. Saat kuevaluasi hasil ujiannya ku cocokkan nomer demi nomor ketahuan bahwa dia tidak membaca soal hingga titik. Ya, aku terlalu memanjakannya.

Prestasi Dito terus menurun dari SMP hingga SMA, walau dalam hati kupikir ah tak apa, toh ia bersekolah di sekolah favorit. Sampai akhirnya ia tidak naik kelas di kelas satu SMA. Dia cukup shock, tapi jauh hari aku sudah mengingatkan dia akan pola belajar dia yang terlalu santai. Aku tak marah, walau sesungguhnya aku kecewa padanya. Karena bagiku belajar bukan hanya melulu tentang kesuksesan. Belajar juga tentang sebuah kegagalan. Dan Dito saat itu sedang menghadapinya. Aku tak boleh membuatnya semakin terpuruk, aku akan menopang dia. Kuhibur dia,

”Kak, tak apa kegagalan adalah sebuah sukses yang tertunda. Percayalah, Tuhan mempunyai rencana yang indah untukmu. Kamu, akan mempunyai teman yang lebih banyak, dan juga belajar lebih matang. Sekarang, bagaimana kamu melangkah ke depan. Pikirkanlah! Kamu tak mampu belajar di sekolah ini, atau belajarmu kurang maksimal. Renungkan malam ini. Jika kamu merasa tidak mampu, kita pindah sekolah dengan catatan naik, atau kamu mau tetap disini mengulang lagi. Ibu tunggu jawabannya besok pagi.”

Keesokan paginya, aku cukup bernafas lega. Karena aku tak melihat wajahnya yang murung. Syukurlah, kataku dalam hati. Dito menghampiri aku, katanya,

“Bu, biarlah aku mengulang lagi di sana. Aku akan belajar lebih keras lagi.”

Aku menghela nafas. Di satu sisi aku bangga, dia tidak memilih jalan pintas. Dia memilih untuk menjalani proses hidupnya. Walau harus menanggung malu. Ya, banyak teman-temannya tak percaya. Karena Dito anak yang sangat cemerlang dahulu. Namun, di sisi lain aku harus menyiapkan jawaban atas pertanyaan yang tentu saja mengganggu menurutku. Dan pastinya masalah biaya juga membuat aku cukup berhitung, berarti kerugian satu tahun untukku. Tak apa. Aku percaya bahwa Tuhan telah menyediakan solusi bagi segala perkara dalam hidupku.

Sampai akhirnya saat kelulusan yang dinanti-nanti. Aku tenang-tenang saja. Aku cukup percaya bahwa Dito pasti mampu. Dan benar saja, ia lulus. Masalah berikutnya adalah masalah kuliah. Masalah biaya cukup membuat ku mengambil kalkulator. Karena dengan 4 anak yang semua bersekolah di sekolah swasta favorit, pasti menguras dompet juga. Tapi sekali lagi aku mempercayakan segala perkara pada Tuhan. Dan suatu pagi, ia menghampiriku sambil melompat-lompat kegirangan. Aku terbengong-bengong. Lalu setelah tenang, ia menunjukkan padaku SMS dari Universitas Gajahmada, yang memberikan ucapan selamat bahwa ia diterima. Pecah juga airmata bahagiaku. Aku bangga padamu, nak, batinku. Terimakasih Tuhan, semua indah pada waktunya.

Pengalaman memanjakan dalam urusan belajar membuatku waspada. Hingga aku berencana mengajari dia tentang kerasnya kehidupan. Saat liburan semester ini, Dito libur panjang hampir 3 bulan lamanya. Inilah kesempatan untuk mendidiknya. Kebetulan ada saudara menikah di Jakarta. Terimakasih Tuhan rencanaku telah KAU dukung.

Adikku bekerja di Jakarta. Ia bekerja di bidang yang kebetulan sedang dipelajari Dito, yaitu komunikasi. Kebetulan pula, Dito pernah memenangkan festival film di sekolahnya. Ia mendapat penghargaan untuk kategori iklan film. Prestasi yang cukup membanggakan.

Rencanaku mulus berjalan. Adikku setuju kutitipi Dito. Dia sudah menghubungi temannya. Terimakasih Tuhan, teman adikku ternyata juga setuju dan mendukung. Dia bersedia mengajari Dito. Selalu saja ada tangan-tangan Tuhan yang membantuku mewujudkan impian-impian kita.

Saat pulang Semarang tiba. Aku tahu Dito gelisah. Berkali-kali ia bertanya,

“Bu, aku di Jakarta sampai kapan? Berapa lama? Apa yang harus kukerjakan?. Aku tahu, ia khawatir hidup di Jakarta yang katanya kejam. Macet dimana-mana yang bikin pusing. Apalagi dia tak tahu jalan. Aku hanya menjawab,

“Kita lihat saja nanti.”

Sebelum masuk kereta aku berkata padanya,

“Kak, mungkin kamu menganggap ibu kejam, membiarkanmu sendiri di kota sebesar ini. Tapi percayalah, ibu sedang mengasahmu menjadi manusia yang siap dan tangguh menghadapi segala tantangan. “

Dito hanya tersenyum kecut, mendengar kata-kataku. Saatnya kereta berangkat menuju Semarang. Dito sudah dijemput suami adikku. Yah…, siapkan hatimu nak, bisikku dalam hati. Dia melambaikan tangan dengan tatapan dan senyum yang nampak khawatir. Ah, biarlah….Malaikat pelindung akan menjagamu, nak.

Keesokan harinya, aku chatting dengan adikku. Dan bertanya padanya, keadaan Dito. Aku bertanya padanya, pengarahan dan bekal apa yang sudah disampaikan pada Dito. Adikku hanya tertawa dan berkata, tidak ada. Aku hanya menunjukkan cara pulang naik angkot saja. Tadi kuantar dia ke tempat temanku dan sudah kuberi uang saku Rp.20.000,00 juga dia kusuruh bawa uang Rp.50.000,00. Hah…..????

Ternyata adikku lebih kejam dari ibunya. Tega sekali dia keponakannya dilepas begitu saja. Lalu aku berpesan macam-macam pada adikku. Kukatakan bahwa Dito adalah anak yang cukup ringkih, cepat capai, pendiam, pasrah dan menerima tanpa pernah menuntut apa-apa, bla bla bla…. Adikku tertawa saja. Biarlah kalau ada apa-apa kan dia pasti bicara. Ternyata ibunya tak tega juga…. Ha ha ha…

Ini adalah hari kedua ia belajar. Kata adikku, ia sedang belajar menjadi event organizer. Dia akan diajak berkeliling hingga larut malam, dan kemarin di hari pertamanya, ia kembali ke rumah pukul Sembilan malam. Naik angkot pula. Belum makan malam pula. Ha ha ha….Ujian yang cukup berat juga dihari pertama. Tak apa, belajarlah, nak…. Ibu mendoakanmu. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Selamat belajar HIDUP, anakku….

25 Juli 2011

Terimakasih buat Tante Gendit n Mas Dimas, Om Priyo, Mama Vivien dan semua saja yang sudah menjadi kepanjangan tangan Tuhan untuk Dito

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

61 Comments to "Buku Kehidupanku (5): Dito Anakku"

  1. Mawar09  18 October, 2011 at 23:25

    Meita: artikel yang bagus, senang bacanya. Terima kasih ya sudah berbagi disini, salam buat keluarga dan juga kota Semarang.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.